Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 11
BERTINDAK PERLAHAN
Elizabeth Taylor— bukan, tapi Elizabeth Holloway yang kini menatap dirinya di cermin. Ia seperti dan merasa tak berdaya melihat dirinya saat ini. Di dalam kamar mandi yang cukup luas, Eliza tak langsung keluar, dia lebih betah di sana daripada harus keluar.
“Aku harus menjaga kehormatan keluarga mu? Tentu saja.” Ucapnya miris seraya tersenyum kecil.
.
.
.
Selang beberapa jam berlalu, tepatnya setelah matahari terbit. Eliza berbaring di atas kasur empuknya yang sama saja seperti kasur berduri baginya. Dia tak akan melupakan bagaimana Luis semalam dan permainan apa saja yang sudah pria itu lakukan bersama wanita lain.
“Apa kau hanya akan berbaring? Kau sudah melupakan peraturannya?” ujar Luis yang mengenakan kemeja putih belum dikancing.
Elizabeth bangkit tanpa senyuman. Dia mendekat ke suaminya dan membantunya mengancingkan kemeja. “Aku pikir kau tidak membutuhkan ku, setelah perbuatan mu.”
“Sekarang aku semakin yakin, kau sangat sulit ditaklukkan.” Kata Luis menatap datar sata mata mereka bertemu.
Eliza hanya diam dan membantunya mengenakan dasi, vest serta jas. Sampai akhirnya Luis menyentuh pipi Eliza yang terluka karena ulahnya. Hendak berpaling, Luis memaksa dan langsung menangkup wajah cantik nan malang istrinya itu.
“Jadilah istri yang penurut, melihatmu pertama kali, aku langsung menginginkan mu! Dan aku tidak suka kau membangkang ataupun melupakan aturan.” Jelas Luis yang benar-benar mengikis hati Eliza, dimana wanita itu menahan air matanya.
“Aku akan kembali secepat mungkin dari kantor, setelah itu kita bisa makan malam di luar. Hanya kita berdua!” kata Luis, tersenyum kecil lalu mencium kening Eliza sebelum melepaskannya dan hendak ke arah pintu, sampai dia berhenti dan berbalik. “Dan tutupi lukamu, atau orang lain akan mengira, istri Holloway sudah gila.”
Ucapan Luis barusan sungguh membuat jantung Eliza berdegup kencang. Bukankah itu sudah menandakan jelas, bahwa melawan Luis tidaklah mudah.
Dan untuk itu, dia tidak akan tinggal diam.
“Dia belum keluar dari kamar?” tanya Esperance kepada seorang pelayan yang berada di dekat dapur.
“Belum, Nyonya.”
Wanita tua dengan dress warna krem serta syal kecil di lehernya itu terdiam sembari menarik napas dalam-dalam. Sampai akhirnya ia teringat akan semalam.
“Aku dengar semalam Luis lepas kendali lagi.” Ujar Soraya yang tiba-tiba muncul.
“Kata siapa?”
Soraya memutar bola matanya. “Cili!”
“Mungkin saja.”
Wanita berambut panjang nan pirang itu menatap ibunya sedikit berkerut alis. “Apa ada masalah yang membuat Luis marah?”
Sungguh, Esperance tak ingin mengingat lagi, namun dia tak bisa diam saja. “Ini hanya soal kecil. Tentang bisnis dan... Vale.”
Soraya terkejut mendengar nama pria itu. Tentu, keluarga Holloway semua mengenalnya dan mereka tak ingin lagi berurusan dengan Vale setelah kejadian di masal lampau.
“Yang benar saja.” Gumam Soraya hingga mata mereka seketika tertuju ke arah datangnya Elizabeth. Wanita cantik dan anggun yang baru saja keluar kamar setelah berhasil menutupi luka-luka memarnya dengan bedak dan foundation.
Baik Soraya maupun ibunya— keduanya memperhatikan Elizabeth yang nampak baik-baik saja, ya... Mungkin karena mereka tidak melihat adanya luka. Tapi Cili, pelayan yang suka menguping dan ingin tahu itu, dia berada di dapur dan tengah mengintip seperti biasa. “Pasti dia sudah menutupinya.” Gumam Cili dengan yakin.
“Kau tidak bekerja, Cili?”
Seketika sebuah teguran dari kepala pelayan yang merupakan seorang pria tua. Cili langsung berdiri tegap. “Tentu, Feracrus! Aku sedang bekerja, permisi.” Kata Cili yang mau tak mau harus pergi dan bekerja.
Elizabeth menatap ke ibu mertuanya, lalu tersenyum tipis. “Maaf aku terlambat bangun.”
“Lain kali bangun lebih awal, seorang Holloway bukanlah pemalas. Dan iya, aku akan pergi ke mall bersama Soraya, jangan berbuat yang aneh-aneh jika kau tidak ingin terjadi hal buruk lainnya, Eliza.” Jelas Esperance.
“Ya.”
Seolah tengah memperhatikan detail. Esperance menyentuh pipi dan dagu menantunya. “Kau memang cantik. Pergilah, dan bantu para pelayan yang lain. Mungkin mereka butuh bantuan, kau bisa membantunya kan.”
Eliza terdiam, dan kembali tersenyum.
“Apa aku boleh meminjam telepon? Aku tidak melihat adanya telepon seluler di sini. Aku ingin menelepon keluargaku.” Ujar Eliza dengan senyuman hampir tak terlihat.
Esperance dan Soraya menatapnya kembali dan menghentikan langkah mereka.
“Kau sudah meminta izin kepada Luis?” tanya Esperance dengan entengnya.
“Aku hanya ingin menelepon keluargaku, apa itu perlu meminta izin?”
Seketika wanita tua itu tertawa kecil, berbeda dengan Soraya yang masih diam dan hanya menyeringai.
“Gadis yang lugu dan sopan! Sayangku... Semua di rumah ini ada aturannya, setelah kejadian di sini dan setelah kau membuat suami mu marah, kau ingin menelepon keluargamu? Untuk apa? Mengadu? itu hanya akan menambah masalah dengan Luis.” Jelas Esperance yang memang ada benarnya juga.
“Tapi aku tidak— ”
“Bersikaplah tenang dan diam. Aku mencoba melindungi mu dari amarah putraku, sayang! Oh astaga...” Esperance berbalik dan berjalan pergi seraya tertawa kecil hingga menarik napas dalam-dalam.
Sementara Elizabeth hanya terdiam dengan curiga. Kenapa menelepon keluarganya juga sangat sulit. Ponsel? Dia tidak membawa ponselnya, tidak sempat.
Tak ingin seperti wanita bodoh, Elizabeth mulai bertindak sendiri. Dia mencoba mencari-cari keberadaan ponsel seluler di seluruh ruangan, namun tak menemukannya. Sampai dia lagi dan lagi melewati ruangan yang sama. Ruangan berdebu dan terkunci rapat.
Ia dapat melihat lagi foto keluarga, salah satunya sosok pria tampan bermata tajam penuh ketegasan.
Eliza akui, pria di dalam bingkai foto besar itu sangatlah tampan bak pria yang ada di fiksi dan dongeng. Entahlah, brewok dan kumis yang tipis hampir tak terlihat, serta mata silver yang indah.
“Anda butuh sesuatu Nyonya?”
Eliza terlonjak kaget mendengar suara cempreng Cili. Pelayan yang suka menguping itu, kini berdiri di samping Eliza. “Atau mungkin Anda ingin bertanya sesuatu yang membuat Anda penasaran? Aku bisa memberitahu, tapi harus jauh dari cctv.” Kata Cili yang tersenyum licik seraya membuka mata lebar memberikan isyarat bahwa cctv di sana selalu aktif dan akan diperiksa setiap saat oleh Luis Holloway.
Elizabeth memperhatikan kepergian Cili yang sesekali menoleh, seolah wanita itu benar-benar ingin memberitahu sesuatu yang membuatnya penasaran.
Tentu, tanpa menunggu lama, Eliza bergegas mengikutinya dari belakang dan tetap bersikap tenang.
Tepatnya di ruang lain yang berada di samping halaman belakang. Cili dan Eliza berdiri dan sana dengan kehati-hatian, terutama untuk Cili sendiri yang mulan mengambil sebuah kain lap dan berpura-pura membersihkan meja di sana.
“Apa para pelayan juga sama takutnya seperti mu?” tanya Eliza.
Cili menatap Eliza dengan mata lebarnya. “Tentu saja, Nyonya. Berurusan dengan tuan Luis hanya akan membuat nyawa melayang.” Ujar Cili sambil bergerak membersihkan meja dan berbicara dengan hati-hati.
Eliza ingat, bagaimana Luis membunuh pelayan yang tak sengaja menjatuhkan sendok.
...°°°...
Guyssss, sekedar basa-basi aja antara kita yaaa... Mungkin diantara kalian ada yang Surabaya, aku membuka selling food!!! Pentol kriwil kuah pedas, mungkin ada yang berminat bisa mampir dan chat di Ig zea91701 atau di Facebook Seje Dewe (panda) ^^
Udah itu aja.... dan semoga kalian suka dengan ceritanya yaaaaaa
Thanks and See Ya ^•^
its too little to late Dude..
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl