"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Antara Darah dan Doa
Angin hutan yang lembap di fajar 2026 ini membawa aroma tanah basah dan mesiu. Tian berdiri membeku, titik merah dari laser helikopter Aristha tampak menari-nari di jantungnya. Di depannya, Adrian pria yang telah menghancurkan hidupnya kini tampak seperti tikus kecil yang menggigil. Tas perak berisi data Aristha didekapnya seolah benda itu bisa membeli nyawanya kembali.
"Tarik pelatuknya, Tian. Jadilah pembunuh, dan istrimu akan melihat fajar besok pagi sebagai wanita bebas," suara Aristha bergema dari helikopter, dingin dan tanpa jiwa.
Tian mencengkeram gagang pistolnya. Jari telunjuknya sudah berada di atas pelatuk. Seluruh sel di tubuhnya berteriak untuk menariknya. Bukankah Adrian pantas mati? Bukankah pria ini yang meracuni Mega, yang membakar rumah ibunya, yang memaksanya menjadi buronan?
"Tian... tolong... aku punya uang... aku bisa berikan semuanya padamu..." ratap Adrian dengan suara parau. Air mata ketakutan mengalir di pipinya yang kotor.
Tian melangkah maju, bayangannya memanjang di bawah sorot lampu helikopter. Ia menatap layar ponselnya yang diletakkan di tanah; grafik detak jantung Mega masih berkedip biru. Namun, ada sesuatu yang mengusik jiwanya. Ia teringat bisikan Mega di rumah sakit: "Jangan biarkan kebencian mengubahmu menjadi orang yang tidak kukenal, Mas."
Jika ia menembak Adrian dalam kondisi tak berdaya seperti ini, Tian akan menyelamatkan nyawa Mega, tapi ia akan membunuh "Tian" yang dicintai Mega. Ia akan pulang sebagai orang asing.
"Kau ingin aku menjadi pembunuh agar kau punya bukti untuk memeras perasaanku seumur hidup, kan Aristha?" teriak Tian ke arah helikopter. "Kau ingin aku menjadi anjing peliharaanmu yang tangannya berlumuran darah!"
"Kau punya sepuluh detik, Tian. Sembilan... delapan..."
Adrian memejamkan mata, pasrah pada maut. Tian mengangkat senjatanya, membidik tepat di antara kedua mata Adrian. Namun, di detik terakhir, Tian mengalihkan moncong senjatanya.
Duar! Duar!
Bukan kepala Adrian yang hancur, melainkan pemancar sinyal satelit di tas perak milik Adrian dan kamera pengintai yang terpasang di pohon dekat mereka.
"Apa yang kau lakukan?!" Adrian berteriak histeris.
Tian menerjang Adrian, bukan untuk membunuhnya, tapi untuk merebut tas perak itu dan menyeretnya masuk ke bawah akar pohon raksasa yang sangat lebat, menghindari sorot lampu helikopter.
"Dengarkan aku, Bajingan!" desis Tian sambil mencekik kerah baju Adrian. "Aristha tidak akan membiarkanmu hidup walau aku tidak membunuhmu. Satu-satunya caramu selamat adalah bekerja sama denganku. Berikan aku kode enkripsi data ini, sekarang!"
Di dalam kegelapan akar pohon, Tian bisa merasakan getaran tanah akibat baling-baling helikopter yang merendah. Aristha mulai marah. Melalui pengeras suara, suara tenang itu berubah menjadi ancaman yang menggetarkan hutan.
"Kau telah memilih kematian untuk istrimu, Tian. Selamat tinggal, Mega."
Tian mematung. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia melihat layar ponselnya. Lampu indikator biru di sana mulai berubah menjadi ungu, menandakan hitung mundur peledakan sensor tekanan telah dimulai. Enam puluh detik menuju kehancuran total di lantai empat rumah sakit.
"ADRIAN! KODE ENKRIPSINYA! SEKARANG ATAU KITA MATI BERSAMA DI SINI!" raung Tian sambil menghantamkan punggung Adrian ke batang pohon.
Adrian, yang menyadari bahwa Aristha juga ingin melenyapkannya, gemetar hebat. Ia membuka tas perak itu dengan sidik jarinya yang bersimbah darah. "Kodenya... kodenya adalah tanggal lahir Mega... dia menggunakan itu untuk menghinamu, Tian! 12-05-98!"
Tian dengan cepat mengetikkan angka itu ke dalam perangkat komunikasinya yang terhubung dengan Jenderal Yudha secara rahasia melalui jalur Paman Hasan.
"Pak Yudha! Masukkan kode 120598 ke sistem pemutus arus di bawah ranjang! Sekarang!" teriak Tian ke alat komunikasinya.
Di rumah sakit, Jenderal Yudha dan tim penjinak bom bertaruh nyawa. Waktu di layar bom menunjukkan angka 00:03. Dengan tangan gemetar, teknisi memasukkan kode tersebut.
00:02...
00:01...
Lampu merah di bom itu padam. Senyap. Seluruh tim penjinak bom jatuh terduduk, bermandikan keringat dingin. Mega selamat. Bom itu telah dilumpuhkan.
Namun di hutan, pertempuran baru saja dimulai. Aristha, yang menyadari kodenya telah ditembus, memerintahkan helikopter untuk menembakkan roket ke arah posisi Tian.
"Lari!" teriak Tian.
Ia menarik Adrian keluar tepat sebelum sebuah ledakan besar menghanguskan pohon raksasa tempat mereka bersembunyi. Tian terlempar akibat gelombang panas, namun ia segera bangkit. Ia melihat Adrian tertimbun dahan pohon, kakinya terjepit.
"Tian... tolong aku..." Adrian merintih.
Tian menatap musuh bebuyutannya itu. Ia bisa saja meninggalkannya terbakar di sana. Itu adalah hukuman yang adil. Namun, Tian teringat bahwa Adrian adalah kunci untuk menyeret Aristha ke pengadilan. Tanpa saksi hidup, Aristha akan tetap menjadi hantu yang tak tersentuh.
Dengan kekuatan yang lahir dari tekad untuk mengakhiri lingkaran setan ini, Tian mengangkat dahan besar itu. Ia memanggul Adrian di bahunya, meskipun bahunya sendiri masih terluka akibat peluru.
"Aku menyelamatkanmu bukan karena aku memaafkanmu," bisik Tian dengan suara yang penuh kewibawaan. "Tapi karena aku ingin kau melihat bagaimana aku menghancurkan tuanmu, dan bagaimana aku membawa Mega pulang ke rumah yang tidak akan pernah bisa kau sentuh lagi."
Tian berlari menembus kobaran api hutan, menuju titik evakuasi yang sudah disiapkan Paman Hasan. Di langit, helikopter Aristha mulai menjauh, menyadari bahwa pasukan udara Mabes Polri mulai mendekat.
Tian sampai di pinggir jalan raya saat fajar benar-benar menyingsing. Sebuah ambulans dengan kawalan ketat Jenderal Yudha sudah menunggu. Namun, saat Tian hendak meletakkan Adrian di brankar, sebuah tembakan sniper dari jarak jauh menembus kaca ambulans dan mengenai tepat di dada Adrian. Adrian tersedak darah, menatap Tian dengan mata membelalak, lalu membisikkan kata-kata terakhir yang membuat darah Tian membeku: "Aristha... dia tidak memasang satu bom, Tian... Cari... di bawah kulit... ibumu..." Tian berbalik dengan panik, menyadari bahwa sementara ia menyelamatkan Mega, ancaman maut kini berpindah ke wanita yang telah melahirkannya.