NovelToon NovelToon
LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.

Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.

Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.

Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.

Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Pekerjaan

Seminggu di Jakarta.

Tujuh hari Lestari tinggal di kontrakan Bu Siti. Tujuh hari dia mencoba beradaptasi dengan kehidupan baru.

Jakarta beda banget dari Bandung. Rame. Bising. Cepet. Orang-orang pada buru-buru, nggak ada yang senyum, nggak ada yang sapa-sapa.

Tapi... setidaknya di sini aman. Nggak ada Dyon. Nggak ada Wulandari. Nggak ada Seruni.

Antoni mulai ceria lagi—dia main sama anak-anak tetangga di gang, ketawa-ketawa, lari-lari. Senyum nya yang selama ini jarang muncul sekarang sering kelihatan.

Tapi Lestari... Lestari nggak bisa santai.

Karena uang nya makin tipis.

Lima ratus ribu dari Bu Ratih—sekarang tinggal tiga ratus ribu. Seratus ribu buat ongkos bus kemarin. Seratus ribu buat beli beras, lauk, sabun, kebutuhan sehari-hari seminggu ini.

Tiga ratus ribu.

Nggak cukup buat bertahan lama.

Lestari harus cari kerja. Sekarang.

 

Senin pagi. Hari pertama Lestari keliling Jakarta cari kerja.

Dia pake baju paling rapi yang dia punya—daster bersih warna cokelat muda, kerudung putih yang udah agak kucel. Nggak ada baju bagus. Nggak ada sepatu bagus. Cuma sandal jepit lusuh.

"Ibu mau ke mana?" tanya Antoni waktu Lestari mau keluar.

"Ibu mau cari kerja, Nak. Kamu di rumah sama Tante Siti ya. Jangan nakal."

"Oke, Bu. Ibu hati-hati..."

Lestari cium kepala Antoni. Keluar rumah.

Bu Siti udah kasih tau beberapa tempat yang mungkin buka lowongan—warung makan di deket pasar, toko kelontong di ujung gang, laundry kiloan di seberang jalan.

Lestari jalan ke warung makan dulu. Warung Padang kecil—ada etalase kaca berisi rendang, ayam, sayur.

Masuk. "Permisi... saya mau nanya, ada lowongan kerja nggak?"

Ibu pemilik warung—perempuan gemuk, pake jilbab warna hijau—ngeliat Lestari dari atas sampe bawah.

"Lowongan apa?"

"Apa aja, Bu. Cuci piring, beberes, apa aja. Saya bisa kerja keras."

"Kamu pernah kerja di warung makan?"

"Belum, Bu. Tapi saya bisa belajar cepet—"

"Maaf ya, Mbak. Kita butuh yang udah pengalaman. Soalnya warung kita rame, nggak sempet ngajarin dari nol."

"Tapi Bu, saya janji saya belajar cepet—"

"Maaf ya, Mbak. Coba cari di tempat lain."

Penolakan pertama.

Lestari keluar dari warung—dada nya sesak dikit. Tapi dia nggak nyerah.

Kedua—toko kelontong. Pemilik nya bapak-bapak tua.

"Pak, ada lowongan kerja?"

"Kamu mau jaga toko?"

"Iya, Pak. Saya bisa—"

"Kamu punya anak?"

"Ada, Pak. Anak satu—"

"Wah, ribet nanti. Anak kecil suka rewel. Nanti malah ganggu kerja. Maaf ya, saya cari yang single aja."

Penolakan kedua.

Ketiga—laundry kiloan. Empat—warung kopi. Lima—minimarket. Enam—toko baju.

Semua nolak.

Alasan nya macem-macem.

"Nggak punya pengalaman."

"Punya anak kecil."

"Pendidikan cuma SMP."

"Terlalu kurus, nggak kuat kerja berat."

"Udah ada yang diterima."

Penolakan. Penolakan. Penolakan.

 

Sore itu—sekitar jam empat—Lestari duduk di taman kecil deket stasiun.

Kaki nya pegel banget. Jalan seharian keliling Jakarta—naik angkot sana sini, turun, jalan kaki, naik lagi. Telapak kaki nya lecet—sandal jepit nya tipis banget, nggak ada bantalan.

Perut nya lapar. Dari pagi cuma makan roti tawar satu lembar—sisa sarapan Antoni. Siang nggak makan—ngirit uang.

Sekarang laper parah. Tapi uang nya cuma cukup buat ongkos pulang.

Lestari duduk di bangku taman—bangku besi yang catnya udah berkarat. Nunduk. Tangan nutup muka.

"Kenapa... kenapa susah banget cari kerja... aku... aku udah coba ke mana-mana... tapi semua nolak..."

Air mata nya keluar. Netes ke telapak tangan.

"Uang ku tinggal dikit... kalau nggak dapet kerja minggu ini... gimana aku bayar makan... gimana aku bayar kontrakan bulan depan..."

Nangis pelan. Bahu nya getar.

"Antoni... Antoni sering tanya kapan kita makan enak lagi... aku cuma bisa senyum... padahal aku sendiri nggak tau kapan bisa kasih dia makan enak..."

Di samping nya lewat ibu-ibu bawa belanjaan—ngeliat Lestari nangis sekilas, terus jalan lagi. Nggak peduli.

Lestari ngelap air mata pake ujung kerudung. "Aku... aku nggak boleh nyerah... aku harus kuat... demi Antoni..."

Ponsel nya bunyi—getar di kantong daster.

Lestari keluarin—telpon masuk dari Bu Siti.

Diangkat. "Halo, Tante?"

"Lestari, kamu di mana sekarang?"

"Aku... aku lagi di taman deket stasiun... habis keliling cari kerja..."

"Dapet?"

"Belum, Tante... semua nolak..." Suara Lestari bergetar—hampir nangis lagi.

"Udah, pulang dulu. Tante ada kabar bagus buat kamu."

"Kabar apa, Tante?"

"Pulang dulu. Nanti Tante cerita."

Telpon ditutup.

Lestari berdiri—langkahnya berat. Naik angkot. Pulang ke kontrakan.

 

Sampe rumah—sekitar jam lima sore—Antoni lagi main kelereng di depan rumah sama anak tetangga.

"IBU!" Antoni langsung lari—peluk kaki Lestari. "Ibu udah pulang! Ibu dapet kerja?"

Lestari senyum getir—mengelus kepala Antoni. "Belum, Nak. Tapi Ibu besok cari lagi."

"Ibu pasti bisa! Ibu paling hebat!" Antoni senyum lebar—senyum yang... yang bikin dada Lestari nyesek.

Anak ini percaya banget sama Ibu nya. Padahal Ibu nya... Ibu nya nggak tau bisa apa.

Masuk rumah. Bu Siti lagi duduk di ruang tamu—lagi mengupas bawang buat masak makan malem.

"Tante..." Lestari duduk di samping Bu Siti. "Tante bilang ada kabar bagus?"

Bu Siti senyum. "Iya. Tante punya temen—Mbak Endah. Dia kerja jadi asisten rumah tangga di rumah keluarga kaya. Tadi dia telpon Tante—katanya majikan nya lagi cari asisten rumah tangga baru. Yang lama resign karena mau nikah."

Lestari mata nya berbinar. "Serius, Tante?"

"Serius. Gaji nya lumayan. Tiga juta per bulan. Kerjaan nya standar—beberes rumah, masak, nyuci. Nggak susah kok."

Tiga juta.

Tiga juta sebulan.

Itu... itu udah lebih dari cukup buat hidup.

"Aku... aku mau, Tante! Aku mau kerja apapun asal Antoni bisa makan!"

Bu Siti senyum—tapi senyum nya agak... ragu.

"Tapi Nak, Tante kasih tau dulu ya. Keluarga ini... majikan nya galak. Nyonya nya—Nyonya Vanesa—orangnya perfeksionis. Kalau ada yang salah dikit aja, langsung marah. Makanya asisten rumah tangga nya jarang yang betah. Paling lama cuma enam bulan, terus resign."

Lestari menelan ludah. "Galak gimana, Tante?"

"Ya... suka ngomel keras. Suka nuntut ini itu. Standar nya tinggi. Tapi—" Bu Siti pegang tangan Lestari—"dia nggak mukul. Nggak nyakitin secara fisik. Cuma... cerewet aja."

Cerewet.

Dibanding Dyon yang mukul, Wulandari yang hina-hina, Seruni yang ngeledek...

Cerewet mah nggak ada apa-apa nya.

"Aku mau, Tante. Aku nggak masalah sama majikan yang galak. Yang penting aku bisa kerja, bisa dapet gaji, bisa kasih makan Antoni."

Bu Siti ngangguk puas. "Bagus. Besok Tante anter kamu ke sana. Rumah nya di daerah Menteng. Rumah gede. Keluarga pengusaha besar—keluarga Nattakusuma. Kamu tau nggak?"

Lestari menggeleng. "Nggak tau, Tante. Aku nggak ngerti keluarga kaya-kaya di Jakarta..."

"Ya udah, nggak papa. Yang penting kamu dateng, interview, kalau diterima ya syukur. Kalau nggak ya cari lagi."

"Baik, Tante. Makasih banyak ya, Tante... Tante udah bantuin aku terus..."

"Sama-sama, Nak. Tante cuma pengen kamu sama Antoni hidup layak. Udah cukup kalian menderita."

 

Malam itu—Lestari nggak bisa tidur.

Dia berbaring di kasur—Antoni udah tidur nyenyak di samping nya.

Pikiran nya penuh.

Besok. Besok dia bakal interview. Interview pertama nya seumur hidup.

"Gimana ya... gimana caranya biar diterima... aku nggak punya pengalaman... aku cuma lulusan SMP... aku... aku takut ditolak lagi..."

Tapi—

"Tapi aku harus coba. Aku nggak boleh nyerah sebelum coba."

Dia ngeliat Antoni yang tidur—muka nya tenang, napas nya teratur.

"Demi kamu, Nak. Demi kamu, Ibu bakal coba apapun."

Lestari merem. Coba tidur.

Besok hari penting.

Hari yang mungkin—cuma mungkin—bakal mengubah hidup mereka.

Ke arah yang lebih baik.

Atau... malah jadi cobaan baru.

Lestari nggak tau.

Tapi dia harus coba.

Karena nggak coba... nggak akan pernah tau.

 

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap, teruntuk Lestari wanita kuat dan tentunya Author hebat di balik setiap lembarannya 👍🙏
Mentari_Senja: mkasih udh slalu stay di ceritaku, Kak☺
total 1 replies
checangel_
Dan tentunya penuh kejutan 🤭
checangel_
/Good/
Dri Andri
yon urang gelud lah... ajg parah lord dyon... anak balita aja di tampar... anak setan... bapaknya apa ? aaaaaakakakkakaakakak
checangel_
Karena Dyon adalah suamimu, firasatmu sebagai istri selalu tepat dan akurat Lestarai 😇
Mentari_Senja: ikatan batin seorang istri😌
total 1 replies
checangel_
Wah, Antoni hebat bisa juggling bola/Applaud/, Aunty bangga padamu /Smile/
Mentari_Senja: mkasih Aunty🤭
total 1 replies
checangel_
Kok berasa komedi ya, saat Ibu Wulandari muncul, komedinya ngeri² gimana gitu/Facepalm/🤭, Astaghfirullah maafkan Reader ini ya Ibu Wulandari 🤧
checangel_: Entahlah/Silent/
total 4 replies
checangel_
Anak lelaki memang harus dekat dengan Ibunya, baru deh yang kedua Ayahnya 😇
checangel_
Mau aku kasih tahu rahasia nggak, anak sekecil itu jika sudah mendapat tekanan keras (berupa tamparan, teriakan, bahkan Ibunya tersakiti) dari Ayahnya, saat dewasa anak itu akan benci dengan apa yang pernah dialaminya sedari kecil, TAPI .... kebencian itu bukanlah solusinya, karena pada akhirnya kebenaran yang berpihak 👍
checangel_: /Good/
total 2 replies
checangel_
Kenapa ditampar anak sekecil itu?/Sob/ Dyon kamu itu ya /Drowsy/
checangel_: /Facepalm/
total 4 replies
checangel_
Lestari, kamu Ibu hebat🤧
checangel_
Andriano hadir disaat yang tepat, bukan begitu Lestari, Dyon hempaskan. Astaghfirullah/Facepalm/
Mentari_Senja: main hempaskan aja, Dyon jga manusia, hanya saja dia salah jalur🤣🤣
total 1 replies
checangel_
Dyon kamu itu ya!!!/Grimace/, banyak² istighfar yuk sebelum terlambat 🤧
checangel_
Tenang, ada Allah yang selalu bersamamu😇
Mentari_Senja: dan ada author yg slalu ada di cerita ini🤭
total 1 replies
checangel_
Tapi kita juga tak tahu, apakah mereka yang tersenyum di luar sana beneran tersenyum atau hanyalah pura², karena dibalik senyum tak semua orang tersenyum 🤭/Facepalm/
Mentari_Senja: karena manusia terlalu pandai berpura2
total 1 replies
checangel_
Lestari, you are strong woman🤧
checangel_
Apalagi ni? Ibu Wulandari berulah lagi🤧
Mentari_Senja: emang suka bikin ulah kak😩
total 1 replies
checangel_
Ibu Wulandari terjuket /Facepalm/
Mentari_Senja: untung aja bukan terjungkit😩
total 1 replies
Dri Andri
anjay ududna Sampurna mill.. beliin aja petasan biar mulut nya hancur😁
Dri Andri: sampurna kretek murah
total 3 replies
Dri Andri
agak laen nih dyon

lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!