Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian yang Tidak Pernah Direncanakan
Hujan turun tanpa peringatan.
Bukan gerimis yang lembut, melainkan hujan deras yang membuat jalanan Milan berkilau seperti cermin retak. Carmela berdiri di bawah kanopi hotel kecil itu, mantel menutupi tubuhnya, jemarinya menggenggam ponsel dengan erat.
Alamat di kartu Lorenzo masih terngiang di kepalanya.
Ia tidak berniat datang.
Tidak sepenuhnya.
Namun ia juga tahu—diam di satu tempat terlalu lama adalah kesalahan.
Mobil hitam berhenti di seberang jalan. Bukan mobil yang sama dengan pengawalnya. Terlalu biasa. Terlalu bersih.
Naluri Carmela berteriak.
Ia melangkah mundur.
Dan saat itulah suara yang paling ia kenali—yang paling ia rindukan dan takuti—memanggil namanya.
“Carmela.”
Ia menoleh.
Matteo berdiri beberapa meter darinya, tanpa jas, hanya mantel gelap yang basah oleh hujan. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras, matanya—Tuhan—matanya menatapnya seolah ia adalah sesuatu yang hampir hilang.
“Kau tidak seharusnya di sini,” kata Carmela, suaranya bergetar meski ia berusaha tegar.
“Aku tahu,” jawab Matteo. “Tapi aku tidak akan membiarkanmu sendirian.”
“Matteo, ini jebakan.”
“Aku juga tahu.”
Ia mendekat cepat. Terlalu cepat. Carmela refleks menggenggam lengannya.
“Jangan—”
Terlambat.
Pintu mobil hitam itu terbuka.
Dua pria turun bersamaan.
“Sekarang,” kata Matteo tajam.
Ia menarik Carmela ke arahnya, berlari menembus hujan, menyusuri gang sempit di samping hotel. Teriakan terdengar di belakang mereka. Langkah kaki menghantam genangan air.
Pelarian itu tidak anggun.
Ia kasar. Licin. Penuh napas tersengal.
Carmela hampir tergelincir, tapi Matteo menangkapnya, lengannya mengunci tubuhnya ke dadanya.
“Maaf,” gumam Matteo cepat. “Aku seharusnya—”
“Tidak sekarang,” potong Carmela. “Lari.”
Mereka berbelok tajam, menuruni tangga darurat menuju terowongan parkir tua. Matteo mendorong pintu besi, menguncinya dari dalam.
Gelap.
Hanya suara hujan yang teredam dan napas mereka yang saling bertabrakan.
Matteo menempelkan dahi ke pintu, senjatanya terangkat, tubuhnya tegang seperti busur.
Carmela berdiri di belakangnya, dadanya naik turun, tangannya masih mencengkeram mantel Matteo—tak sadar, tak ingin melepaskan.
Untuk beberapa detik, dunia hanya berisi mereka.
Kemudian langkah kaki di luar berhenti.
Suara pria berbicara pelan.
Lalu pergi.
Keheningan jatuh berat.
Matteo menurunkan senjatanya perlahan.
Ia berbalik.
Dan baru saat itulah Carmela melihatnya benar-benar—luka di pelipisnya, darah kering di balik rambutnya, mata yang merah bukan karena hujan.
“Kau terluka,” kata Carmela pelan.
“Tidak parah.”
“Kau bohong.”
Matteo menghela napas panjang. Tubuhnya akhirnya sedikit mengendur.
“Aku tidak tahan membaca pesanmu,” katanya lirih. “Aku tahu kau mencoba melindungiku. Tapi itu… menyiksaku.”
Carmela menelan ludah. “Aku tidak ingin kau datang.”
“Aku tahu.”
“Tapi kau tetap datang.”
“Karena aku mencintaimu,” katanya sederhana. Tanpa dramatis. Tanpa ragu.
Kalimat itu jatuh seperti peluru—tepat, dalam, dan tak bisa ditarik kembali.
Carmela terdiam.
Lalu ia melangkah maju dan memeluknya.
Bukan pelukan ragu-ragu. Bukan pelukan singkat. Tapi pelukan seseorang yang akhirnya berhenti menahan diri.
Matteo membeku sesaat, lalu kedua lengannya melingkari Carmela erat, seolah jika ia melepasnya, dunia akan runtuh.
“Jangan pernah lakukan itu lagi,” bisiknya serak. “Jangan berdiri sendirian di medan perang.”
“Aku tidak ingin menjadi beban,” jawab Carmela, wajahnya tersembunyi di dada Matteo.
“Kau bukan beban,” kata Matteo tegas. “Kau alasanku bertahan.”
Mereka tetap seperti itu beberapa saat—di ruang parkir gelap, di tengah bahaya yang belum benar-benar pergi.
Kemudian Matteo bergerak.
“Kita tidak aman di sini,” katanya. “Lorenzo akan mencari ulang.”
“Kemana kita pergi?”
Matteo menatapnya. “Keluar kota. Sekarang.”
—
Mobil tua milik salah satu kontak Ricardo melaju menembus malam. Tidak mencolok. Tidak cepat. Tapi cukup jauh dari pusat kota.
Carmela duduk di kursi penumpang, selimut tipis menutupi pundaknya. Tangannya gemetar—bukan karena dingin, melainkan karena tubuhnya baru menyadari ketakutan yang tertahan.
Matteo menyetir dengan satu tangan. Tangan lainnya sesekali menyentuh jari Carmela—sekadar memastikan ia masih di sana.
“Kau tahu,” kata Carmela pelan, menatap jalanan gelap, “aku takut.”
Matteo mengangguk. “Aku juga.”
Kejujuran itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus perih.
“Aku tidak takut mati,” lanjut Carmela. “Aku takut kehilanganmu.”
Matteo mengerem di lampu merah yang sepi. Ia menoleh, menatap Carmela lama.
“Jika aku kehilanganmu,” katanya pelan, “aku tidak tahu siapa aku tanpa kau.”
Lampu berubah hijau.
Mereka melaju lagi.
—
Mereka berhenti di sebuah rumah kecil di pinggiran kota—tersembunyi, tua, dan aman untuk sementara. Tidak ada pelayan. Tidak ada pengawal. Hanya keheningan.
Matteo menyalakan lampu redup.
Carmela melepas mantel. Rambutnya basah, pipinya pucat, tapi matanya tetap hidup.
“Duduk,” kata Matteo. “Aku bersihkan lukamu.”
Ia mengambil kotak P3K darurat. Tangannya cekatan, tapi sentuhannya lembut—berbeda dari pria yang tadi menodongkan senjata.
Carmela meringis kecil saat antiseptik menyentuh kulit Matteo.
“Maaf,” katanya refleks.
“Jangan,” jawab Matteo. “Aku butuh ini. Untuk merasa nyata.”
Mereka saling menatap—jarak begitu dekat, napas bercampur, keheningan dipenuhi sesuatu yang lebih dalam dari keinginan.
Matteo menyentuh pipi Carmela dengan punggung jarinya.
“Kau aman malam ini,” katanya. “Aku janji.”
Carmela menutup mata sejenak, lalu menyandarkan dahinya ke dada Matteo.
“Selama kau di sini,” bisiknya, “aku percaya.”
Matteo memeluknya lagi—lebih pelan, lebih dalam.
Di luar, hujan mulai reda.
Namun perang mereka—baru saja dimulai.