NovelToon NovelToon
Crazy Obsession

Crazy Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Pelakor jahat
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: Bertepuk12

Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.

​Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.

​Namun, Afnan belum puas.

​Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.

​"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."

​Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.

​Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?

#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Langkah kakinya yang anggun di atas lantai marmer lobi company of aircraft itu, menciptakan efek senyap yang aneh di tengah keramaian, beberapa pasang mata spontan menatap pemilik suara akibat gesekan marmer dan heels, mereka diam dengan netra mengikuti langkah Afnan.

Siapa gerangan cantik itu? Mengapa mereka baru pertama kali melihat? Sejak kapan ada staf profesional yang terlihat begitu memanjakan mata? Ataukah itu adalah kekasih pimpinan mereka?

​"Dia terlihat asing, siapa dia?" Bisik seorang wanita di dekat coffee station, matanya tak lepas dari Afnan yang kini berjalan menuju deretan lift, tak mengindahkan tatapan kagum dari mereka.

​"Entahlah, kekasih Tuan Algio mungkin? Mereka terlihat begitu serasi." Sahut temannya dengan antusias, sembari membenarkan dasi yang sebenarnya sudah rapi.

​Afnan, sepenuhnya sadar akan perhatian yang ia terima, mempertahankan ketenangannya, ia terus tersenyum tipis pada resepsionis saat melewati front of office.

"Algio berkata untuk naik ke lantai 56, apa aku langsung wawancara dengan pemilik perusahaan?" Afnan bergumam lirih, tertawa kecil membayangkan ia diwawancarai langsung oleh Algio.

Hingga salah satu lift terbuka, Afnan segera mempercepat langkahnya, namun entah mengapa tiba-tiba, ponsel yang berada di genggaman tangannya bergetar.

Ditatapnya ponsel itu sejenak, di sana nama 'Leona' terpampang jelas, sahabatnya yang begitu lengket dari zaman bangku perkuliahan bersama Algio, kening itu terangkat, tumben? Mengapa wanita itu menelfonnya? Biasanya Leona sibuk sebab kariernya yang menjadi seorang model.

​Lantas Afnan menekan tombol answer dan mendekatkan ponsel ke telinga, sedikit menjauh dari kerumunan di depan lift.

​"Halo, Leona? Tumben menelfon? Ada apa? Aku sedang di-"

​"Afnan! Babe, tolong hentikan semua yang kau lakukan sekarang juga! Aku butuh bantuan! Ak-u, aku tersesat!" Suara Leona terdengar panik dan dramatis, bercampur dengan suara pengumuman bandara yang ramai terdengar.

​Sejenak Afnan terdiam, tak lama netranya melotot terkejut, "Tersesat? Tunggu, kau di mana? Kenapa seperti ada suara pengumuman dari bandara?"

​"Aku memang di JFK." Leona menjawab santai.

​Hampir saja Afnan ingin menjatuhkan ponselnya, bagaimana bisa wanita itu tiba-tiba berada di negara yang sama dengannya? Bukankah sekarang seharusnya berada di Milano?

​"JFK? New York?! Leona, kau gila?! Kapan kau menyusulku? Kenapa kau tidak bilang padaku?! Aku bahkan tidak tahu kau sedang cuti!" Afnan menahan suaranya agar tidak berteriak di lobi.

​Di seberang telepon, Leona menarik napas panjang, sebuah jeda yang sengaja dibuat dramatis, dan hal itu membuat Afnan menunggu dengan debaran hati tak percaya.

​"Dengar, my dearest Afnan, aku tahu ini mendadak, tapi kau harus datang untuk menjemputku sekarang please, aku di tahan di oleh petugas keamanan, kay tau?"

​Afnan memutar matanya, entah apa yang sudah sahabatnya itu lakukan hingga di tahan oleh petugas keamanan, "Memangnya apa yang kau lakukan sampai-sampai di tahap?"

"Aku terdeteksi membawa alat senapan, hehehe, aku memang sengaja membawa sih, takut tiba-tiba di pesawat ada bajakan, jadi jaga-jaga, tak taunya malah tertangkap di sini! Mereka mengira aku teroris, sial."

​Memijat pelipisnya Afnan mendengus, siapa pula yang bisa menebak pikiran absurd Leona? Mengapa begitu jauh sampai-sampai membawa senapan? Tentu saja akan ditangkap oleh petugas keamanan karena membawa barang membahayakan.

"Kau ini kenapa membawa senapan bodoh? Kau pikir di langit ada bajak udara? Astaga Leona, kau benar-benar sinting rupanya." Afnan berkata pelan, menahan tangisan melihat kebodohan sang sahabat.

"Pokoknya, aku sudah di Terminal 4, dan dikepung oleh petugas keamanan, segera kemari Afnan atau kau akan menyaksikanku mendekam di penjara dan berujung menjadi gila sungguhan."

​Afnan mengusap dahinya frustasi, "Astaga Leona, Kau benar-benar ridiculous." Ia berseru kesal.

​"Aku tahu darling, sekarang cepat! Aku menunggumu di sini, bawa aku kabur dari pria berbaju hitam dan berwajah triplek ini yang terus menginterogasiku." Di sana Leona berkata sembari memajukan bibirnya lima centimeter ke depan.

Diam, ​Afnan menatap lift yang pintunya terbuka dan menutup secara bergantian, wawancara dengan Algio dijadwalkan tepat pukul 10:00, sekarang 9:50. Jika saja ia langsung pergi ke Bandara JFK, ia akan terlambat setidaknya dua jika.

"Aku harus bagaimana my Gosh?" Afnan melirik arloji di pergelangan tangannya, lalu kembali fokus pada ponsel

Tak ingin terus berpikir, ​Afnan menarik napas dalam-dalam, "Leona, dengar. Aku ada wawancara penting sekarang. Bisakah kau menunggu di sana? Sebentar saja."

​"Tidak tidak, please datang kepadaku, mereka terus menatapku dengan tajam Afnan, seolah ingin melubangi kepalaku lalu dipajang di tengah-tengah bandara!" Leona memotong dengan nada memohon yang dibuat-buat, namun di baliknya terselip sedikit kepanikan nyata yang hanya bisa didengar oleh Afnan.

​Mendengar itu membuat Afnan menyerah, Leona benar-benar membutuhkan bantuannya, di lain sisi seharusnya Algio bisa diajak berunding, wawancara mundur sedikit tidak papa bukan? Toh pasti Algio tetap akan menerimanya sebagai staf perusahaan.

​"Baiklah, baiklah, kau menang Leona, aku akan menyusulmu sekarang, tetap pertahanan argumenmu, okay? Jangan berkata yang tidak-tidak, dan jangan buat dirimu seperti orang memalukan, mengerti? Aku akan menelfon Algio dulu."

"Baiklah, byee."

​Dengan cepat, Afnan menutup telepon dan segera mencari kontak Algio, jarinya melayang ragu di atas tombol dial. Apa Algio akan mengizinkannya? Bagaimana jika tidak?

​Pintu utama lobi berputar dengan anggun. Seorang pria tinggi dengan setelan jas navy yang sempurna melangkah masuk, dikawal oleh dua orang staf berpenampilan formal, aura otoritas langsung terasa.

​Dia Algio.

​Pria itu mengerutkan kening, terkejut melihat kehadiran Afnan di tengah-tengah lift, yang seharusnya sudah berada di lantai atas, lantas ia menghentikan langkahnya.

​"Afnan? Apa yang kau lakukan di sini? Kau sudah terlambat lima menit, my lady." Tegur Algio pelan, meskipun senyum kecil tersungging di bibirnya.

Mendegar seruan dari pria yang Afnan tunggu ​sedarj tadi, ia segera bergerak cepat, melewati beberapa orang yang berkerumun dan menghampiri Algio, dengan gestur yang spontan dan penuh energi.

​"Algio! Ya Tuhan, aku beruntung sekali kau sudah di sini!" Afnan berhenti tepat di depan Algio, matanya membulat lucu, memancarkan permohonan yang sulit ditolak.

​Dua staf di belakang Algio tampak tegang, sebab tidak menyangka ada wanita yang begitu berani menghalangi langkah CEO mereka di tengah lobi, benar-benar hebat.

​"Ada apa? Kenapa kau tidak naik?" Tanya Algio, melipat tangannya, sedikit dominan, memang ia tidak ingin terlihat memanjakan Afnan dengan suara lembutnya, sekarang berada di kantor, semua memiliki posisi yang sama di mata Algio.

​"Aku harus minta tolong padamu, please, aku mohon. Leona ada di JFK, dia gila, dia tiba-tiba menyusulku ke New York dan sekarang dia berada dalam masalah, di tangkap oleh petugas keamanan."

​"Leona? Di New York?" Algio tertawa kecil, ia sudah tahu betapa dramatisnya sahabat Afnan itu, tak kaget apabila wanita itu tiba-tiba berbuat onar hingga di tahan petugas keamanan.

Terlihat Afnan mengangguk cepat, "Ya! Jadi bisakah kau mengundur wawancara kita? Hanya satu atau dua jam saja? Please? Aku janji akan mentraktirmu cheesecake? Pretty please! Kau tahu kan, kalau aku tidak menolongnya, dia akan terus menelepon dan mengganggu konsentrasiku! Jadi demi kelancaran wawancara kita juga, kau harus mengizinkanku!"

​Afnan memajukan bibirnya, membulatkan mata, dan menggabungkan kedua telapak tangannya di depan dada, menampilkan pose memohon yang begitu menggemaskan, sebuah trik lama yang selalu berhasil meluluhkan hati Algio sejak mereka kuliah.

​Menatap wajah Afnan yang polos dan penuh harapan, Algio lantas melihat ke stafnya yang menahan senyum, ia menghela napas, berpura-pura keberatan, meskipun di dalam hati ia geli melihat tingkah sahabatnya itu.

​"Anda tahu, nona? Sampai detik ini, hanya anda yang bisa diwawancarai oleh Tuan Algio secara langsung, dan bagaimana bisa berani meminta CEO untuk mengundur wawancara kerja mereka sendiri di tengah lobi. Anda benar-benar unik."

​Afnan tersenyum cerah, memancarkan kegembiraan yang menular, "Aku tahu karena aku memang istimewa, namun please aku benar-benar terdesak sekarang, Gio."

​Anggukan kecil terlihat, "Baiklah, jemput wanita dramatis itu, wawancara kita akan kuatur ulang setelah makan siang, tapi pastikan kau kembali dengan cheesecake terbaik, atau kau akan menghadapi pertanyaan wawancara yang sulit!"

​"Sungguh? Kau benar-benar terbaik, Algio!' Afnan berpekik senang, reflek wanita itu mencium pipi kanan Algio sebagai tanda terima kasih, membuat beberapa terpekik, terkejut secara bersamaan sebab ada yang begitu nekat memberi ciuman pada pimpinan mereka.

Menutup mata sejenak, Algio berdecak, "Jika ingin menciumku, jangan di depan umum Afnan." Peringat Algio menggelengkan kepala.

"Yayaya aku tau, aku berangkat dulu, byee, love u." Setelah mengucapkan kalimat perpisahan, Afnan langsung ngacir begitu saja, meninggalkan Algio yang tengah menahan senyuman di bibirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!