Teratai Putih adalah nama sebuah desa terpencil yang letaknya jauh dari pusat keramaian kota di kekaisaran Han. Meski terletak jauh dari pusat ibu kota, namun penduduk desa Teratai Putih hidup rukun dan sejahtera berkat sumber daya alam yang melimpah.
Hingga suatu saat kedamaian desa Teratai Putih terusik oleh kehadiran kelompok perampok dan pendekar aliran hitam yang datang untuk merampas harta benda seluruh warga desa.
Penduduk desa yang awalnya hidup rukun penuh dengan ketentraman, terpaksa melewati hari-hari berselimut ketakutan yang mencekam.
Chi wei adalah seorang anak petani dari desa Teratai Putih. Dia bersama dua orang sahabatnya Tao Ming dan Yan San, setiap hari menghabiskan waktunya untuk berburu. Disaat anak-anak sebayanya sibuk belajar dan berlatih ilmu bela diri, mereka bertiga akan pergi ke hutan untuk berburu hewan liar dan berbagai macam tanaman obat. Hasil dari perburuan tersebut nantinya akan mereka jual ke tengkulak yang ada di desa Teratai Putih.
Hingga suatu ketika di sebuah hutan belantara, chi wei mengalami fenomena yang merubah jalan hidupnya. Takdir hidup yang membuat dia menjadi seorang pendekar berilmu tinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aa Petruk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cha 25 - Penjelasan Lung Huo
Di atas sebuah batu besar yang terletak di tepi sungai yang mengalir di sebelah utara desa Teratai Putih, Chi Wei duduk bersila sambil memejamkan kedua matanya.
Sepintas ia sepertia sedang melakukan meditasi, padahal saat itu Chi Wei tengah berdiskusi dengan gurunya, Lung Huo.
"Guru, tentang tingkatan seorang pendekar kenapa guru tidak menjelaskan kepadaku sebelumnya?" tanya Chi Wei kepada Lung Huo membatin.
"Wei'er, inilah salah satu alasan kenapa aku memutuskan untuk mendampingimu. Ada banyak hal yang tidak bisa aku jelaskan dalam waktu yang bersamaan, salah satunya tentang apa yang ingin kau ketahui saat ini."
"aku merasa akan lebih baik jika kau menanyakannya secara langsung saat kau mengalami sesuatu hal yang belum sempat aku jelaskan tentang dunia persilatan." Lanjut Lung Huo yang seolah berada tepat di hadapan Chi Wei.
"kalau begitu, apakah Guru bisa menjelaskan kepadaku secara rinci tentang tingkatan seorang pendekar?"
"tentu saja, sebagai seorang pendekar kau perlu tahu tentang ini lebih detail. Rasanya akan sangat lucu jika seorang pendekar berilmu tinggi seperti dirimu tidak mengetahui tingkatan ilmu seorang pendekar...hahaha."
"baiklah, jelaskan Guru. aku akan mendengarkan." jawab Chi Wei antusias.
Lung Huo pun menjelaskan apa yang Chi Wei tanyakan.
Dalam dunia persilatan, ilmu seorang pendekar dibagi dalam beberapa tingkatan. Hal itu ditentukan oleh beberapa faktor, salah satu faktor yang menentukan tingkatan seorang pendekar adalah seberapa besar tenaga dalam yang dimiliki oleh pendekar tersebut.
Adapun tingkatan seorang pendekar adalah;
- Pendekar Pemula
- Pendekar Ahli
- Pendekar Bumi
- Pendekar Dewa Bumi
- Pendekar Langit
- Pendekar Dewa Langit
- Pendekar Suci
- Pendekar Dewa Suci
- Pendekar Raja
Dan dari setiap tingkatan tersebut di bagi menjadi 3 tahapan. Tahap awal, tahap menengah, dan tahap puncak.
Perbedaan dari tahap satu ke tahap berikutnya seperti bumi langit, sangat jauh.
Jika seorang pendekar ingin meningkatkan tingkatan ilmu kependekarannya, maka ia harus berlatih keras bertahun-tahun atau rajin mengkonsumsi sumber daya atau ramuan pil ajaib.
Tentu saja untuk mendapatkan sumber daya tersebut bukanlah perkara mudah, dan jika seorang pendekar ingin mendapatkannya di toko-toko yang menjual segala keperluan seorang pendekar, maka harus menebusnya dengan harga yang sangat mahal.
Tidak heran jika pendekar Cambuk Api memiliki kekayaan yang berlimpah. Dikarenakan seorang pendekar membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk meningkatkan kemampuannya.
Kekayaan seorang pendekar yang memiliki reputasi besar bisa menyamai bahkan melebihi kekayaan seorang bangsawan besar.
Akibat situasi tersebut, tidak sedikit para pendekar yang berprofesi menjadi seorang pembunuh bayaran. Bahkan para pendekar aliran hitam memilih menjadi seorang perampok demi untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Semua itu mereka lakukan demi memenuhi kebutuhannya dalam meningkatkan ilmu bela diri mereka.
Semakin tinggi reputasi seorang pendekar maka akan semakin mahal bayaran yang diterima saat menjalankan sebuah misi. Baik itu misi pembunuhan, pengawalan dan lain sebagainya.
Merupakan sebuah kebanggaan besar jika seseorang mampu membangun sebuah relasi dengan seorang pendekar yang memiliki reputasi besar.
Sebab itulah tidak aneh jika para pendekar dari berbagai macam aliran berlomba menunjukkan dominasinya di dunia persilatan, baik itu secara individu ataupun kelompok.
Maka dari itu tak sedikit pendekar berilmu tinggi yang membuat sebuah kelompok besar atau bahkan membangun sebuah sekte demi untuk mengukir namanya di dunia persilatan.
"lalu, apakah semua pendekar memiliki pusaka cincin dimensi, Guru?"
"Wei'er, di kalangan para pendekar pusaka cincin dimensi bukanlah hal yang aneh. Karena pusaka cincin dimensi berguna untuk menyimpan harta benda yang di miliki seorang pendekar. Dan bukan rahasia umum jika dalam sebuah pertarungan, pendekar yang berhasil mengalahkan lawannya akan merampas cincin dimensi milik pendekar yang dikalahkannya tersebut."
"perlu kau ketahui Wei'er, pusaka yang berguna untuk menyimpan harta benda tidak hanya sebatas cincin dimensi. Pusaka jenis itu memiliki berbagai macam bentuk, selain berbentuk cincin ada juga yang berbentuk gelang, kalung, sarung tangan, sepatu dan lain sebagainya. Namun kebanyakan pusaka jenis itu berbentuk cincin. Bahkan dengan kekuatanmu saat ini, kau mampu membuat sendiri pusaka jenis itu dengan bentuk yang kau inginkan."
"baik guru, aku mulai mengerti." gumam Chi Wei sambil menganggukkan kepalanya.
"Wei'er, jangankan cincin dimensi, dengan berbagai jenis batu dan logam mulia yang kau milik saat ini, kau bahkan bisa membuat senjata pusaka tingkat tinggi. Meski mungkin kekuatannya tidak akan melebihi pedang berlian biru."
"Bagaimana caranya,Guru?... Bukankah guru belum pernah mengajarkannya kepadaku?"
"Ha.ha.ha....inilah yang aku takutkan Wei'er, kau seakan lupa bahwa kau memiliki kitab pusaka teratai putih. Kau hanya perlu membacanya melalui pikiranmu."
"o iya ya...kenapa aku bisa melupakan hal sepenting itu." Chi Wei menepuk jidatnya sendiri.
"terimakasih Guru sudah mengingatkanku"
"ingat pesanku Wei'er, setinggi apa pun kekuatanmu saat ini, jangan membuatmu merasa puas dan malas untuk berlatih. Kau perlu banyak meluangkan waktu untuk lebih memahami apa yang terkandung dalam kitab pusaka teratai putih. Karena tidak ada salahnya kan memanfaatkan waktu mudamu dengan terus memperkaya diri dengan berbagai macam ilmu pengetahuan?"
"Baik Guru, aku mengerti."
Setelah berdiskusi cukup lama dengan Lung Huo, Chi Wei kembali memeriksa isi dari puluhan cincin dimensi yang ia ambil dari kelompok Tangan Api. Kemudian ia memilah isi dari cincin dimensi tersebut. Chi Wei berencana memberikan cincin dimensi itu kepada orang-orang terdekatnya kelak.
Karena hanya seorang pendekar saja yang bisa menggunakan cincin dimensi. Untuk orang biasa yang tidak memiliki ilmu tenaga dalam, tentu saja tidak akan mampu menggunakan cincin tersebut.
Dari cincin rampasannya tersebut Chi Wei mendapatkan begitu banyak harta benda, terutama dari cincin milik pendekar cambuk api.
Harta yang paling banyak Chi Wei dapatkan dari cincin tersebut adalah jutaan keping koin emas, perak, dan perunggu. Selebihnya adalah berbagai jenis senjata tajam dan sumberdaya yang berguna untuk meningkatkan tenaga dalam seorang pendekar.
Ada juga berbagai jenis kitab ilmu bela diri dan juga berbagai macam benda lainnnya. Meski benda- benda tersebut kebanyakan tidak berguna bagi Chi Wei, namun ia tetap menyimpannya. Karena Chi Wei yakin harta benda tersebut akan sangat berguna bagi orang-orang terdekatnya tetutama koin emas, perak, dan perunggu.
"Sepertinya menghabisi para bandit keparat itu menyenangkan juga, aku bisa mengumpulkan lebih banyak harta dari mereka. Lagi pula aku yakin harta benda ini pasti mereka dapatkan dari hasil merampok." Gumam Chi Wei sambil tersenyum tipis.
Dia pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu menuju desa Teratai Putih. Chi Wei seakan tidak sabar untuk segera membagikan harta rampasannya itu kepada para penduduk desa.
Chi Wei tak henti-hentinya membayangkan betapa menderitanya orang-orang yang jadi korban dari kejahatan para pendekar aliran hitam.
Hanya dari satu kelompok Tangan Api saja dia bisa mengumpulkan begitu banyak harta, bagaimana dengan kelompok yang lain.
Hal itu membuat Chi Wei semakin bersemangat untuk menghabisi kelompok mana pun yang selalu melakukan tindakan kejahatan dalam bentuk apa pun.
"hhhhhh.....tak akan aku biarkan para bandit itu bertindak sesuka hati mereka." Chi Wei membatin merasa geram.