Dio tak menyangka wanita yang ditemuinya dalam hitungan jam berani melamarnya. Bagi dirinya itu adalah sebuah penghinaan meskipun wanita yang ditolongnya cantik dan mampu memberikan seluruh harta. Dio pun menolak keinginannya, tetapi si cantik Laras tetap terus mengejarnya.
Apakah Dio bersedia menerima lamarannya atau tetap pada pendiriannya mencintai kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Kesebelas
Keluarga Dio akhirnya resmi melamar Laras. Acara berlangsung secara sederhana yang hanya dihadiri 2 keluarga saja. Meskipun begitu, Johan tetap akan merayakan pesta besar untuk putrinya. Apalagi Laras adalah anak satu-satunya.
"Coba saja dari kemarin kamu mau diajak kerja sama pasti kamu sudah menikmati pundi-pundi uang yang aku berikan!" Laras menghampiri Dio yang memilih menyendiri di balkon rumahnya Laras sembari memegang segelas minuman.
Dio tersenyum getir mendengarnya.
"Apa kamu masih bersedia dengan rencana kita diawal yang setelah menikah kita tetap menjalani hidup masing-masing?"
"Acara ini juga terpaksa, kamu memakai cara licik buat menjeratku. Kamu pikir aku akan setuju dengan rencanamu itu. Tidak. Aku tidak mengizinkanmu dekat dengan siapapun tanpa seizin aku!" Dio berkata tegas memasang wajah datar dan serius.
"Pernikahan kita hanya pura-pura, Dio."
"Aku tidak menganggapnya pura-pura!" Dio kemudian berlalu meninggalkan Laras.
Hampir 2 jam berada di rumahnya Laras, keluarga Dio akhirnya pamit pulang. Mereka pun diantar menggunakan 2 mobil milik orang tuanya Laras. Ya, mereka tidak memakai motor melainkan Johan menyediakan antar jemput.
"Kamu habis lamaran wajahmu kenapa cemberut gitu?" tanya Paman Ferry, 45 tahun, sedari tadi melihat keponakannya lebih banyak diam.
"Hanya pusing karena sebentar lagi mau menikah," jawab Dio beralasan.
"Kenapa pusing? Biaya pernikahan kalian 'kan ditanggung mereka," kata Dewi, 43 tahun, istrinya Ferry.
"Bagaimana pun Dio juga ikut memikirkannya," sahut Maya berbohong biar adik iparnya itu tak memanfaatkan putranya.
"Halah, memangnya Dio mau memberikan uang berapa buat acara pernikahannya?" tanya Dewi penasaran.
"Meskipun sedikit tetapi sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai calon suami," jawab Maya ketus.
-
Sementara itu dikediamannya orang tuanya Laras..
Dengan berjalan pelan-pelan menuruni tangga, Laras menoleh ke kanan dan kiri, ia berharap kedua orang tuanya tak melihatnya.
"Mau ke mana kamu?" tanya Karin yang memergoki Laras membuka pintu.
Laras membalikkan badannya dan tersenyum singkat kemudian menjawab, "Aku mau bertemu dengan temanku, Ma."
"Jangan berbohong. Ini sudah jam sepuluh, pasti kamu mau menemui Alex di klub, 'kan?" tuding Karin.
"Aku cuma mau bilang kepadanya buat mengakhiri hubungan kami," Laras beralasan.
"Tidak perlu. Kamu cukup menjauhinya, bukan menghampirinya. Kembali ke kamarmu sekarang juga!" tegas Karin memberikan perintah.
"Ma..."
"Laras, cepat kembali ke kamarmu atau Mama akan mempercepat pernikahanmu dengan Dio besok malam!" ancam Karin.
"Iya, Ma." Laras dengan langkah malas dan wajah ditekuk berjalan kembali menuju kamarnya.
***
Esok paginya, Laras berangkat kerja ke kantor bersama kedua orang tuanya. Selama diperjalanan, Laras memilih diam.
"Kamu dan Dio akan banyak memiliki waktu bertemu sebelum pernikahan. Karena ada beberapa urusan yang membutuhkan kalian," kata Johan.
"Kenapa bukan asisten Papa dan Mama saja yang mengurus semuanya? Aku capek kalau harus mengatur dan mengurusnya!" ucap Laras beralasan.
"Kalian pasti bertemu saat mau mencoba gaun yang akan dipakai ketika acara. Mereka perlu mengukur tubuh kalian," kata Karin.
"Kami bisa datang sendiri-sendiri, Ma!" ucap Laras.
"Kalian tetap harus bertemu biar semakin dekat!" sahut Johan.
Dilain tempat dan waktu yang sama, Dio pergi bekerja. Rencanannya sore ini, ia mau menemui beberapa temannya dalam acara reuni sekolah.
Sebelum sampai ditempat kerjanya, Dio menyempatkan waktu mampir dan memesan kue kepada temannya Maya.
"Apa benar kamu mau menikah?" tanya Asri, teman Maya.
"Iya, Bi. Nanti Bibi pasti juga diundang," jawab Dio.
"Memangnya kamu jadi menikahi kekasihmu itu?" Asri pernah mendengar Maya bercerita tak menyetujui hubungan kasih Dio dengan Sindy.
"Bukan dengan dia, Bi."
"Oh," ucap Asri. "Kenapa? Apa dia selingkuh?" Asri penasaran dan ingin tahu.
"Bi, berapa total harga kuenya?" Dio mengalihkan pembicaraan karena tak mau menjelaskan alasannya.
Setelah Asri memberikan total harga pesanan kue dan Dio membayarnya. Buru-buru Dio meninggalkan tempat dengan alasan jika sudah terlambat kerja.
Sore harinya, selepas pulang kerja Dio pun menemui teman-temannya. Memesan minuman dan mengobrol.
"Cemberut aja dari tadi, apa ada masalah?" tanya Rio, salah satu temannya Dio, melihatnya diam dan tak seceria biasanya.
"Sebentar lagi aku menikah," jawab Dio.
Mendengar jawaban Dio membuat seluruh temannya terkejut sekaligus bahagia.
"Dengan Sindy?" tanya Rio lagi.
Dio menggelengkan kepalanya.
"Lalu dengan siapa? Apa kami mengenalnya?" tanya Rio lagi.
"Kalian tidak kenal. Aku pasti akan mengundang kalian," jawab Dio berjanji.
"Kenapa bukan dengan Sindy?" tanya Metha, kekasihnya Rio dan juga temannya Dio.
"Kami sudah putus," jawab Dio berbohong padahal cuma dirinya yang memang sengaja menghindari Sindy sebab terlanjur kecewa dan patah hati.
"Kalau memang mau menikah kenapa tak bersemangat? Apa pusing mikirin biaya pernikahan?" tanya Metha lagi diiringi tawa menyindir.
"Karena kami dijodohkan," jawab Dio.
"Masih zaman sekarang perjodohan?" tanya Rio.
"Terpaksa aku menerimanya," jawab Dio lagi.
"Semoga saja pilihan orang tuamu yang terbaik," ucap Metha mendoakan.
"Ya, semoga saja!" kata Dio dengan nada bicara pelan.
***
Seminggu kemudian, Dio dijemput dan dibawa oleh sopir keluarganya Laras menuju butik pengantin.
Di sana Laras sudah menunggunya, wanita itu melemparkan senyuman ke arahnya. Manis tapi Dio tak menyukainya.
"Aku sudah memilih warna yang cocok buat kamu. Semoga kamu suka, tapi kalau kamu tidak menyukai warnanya kamu bisa ganti. Aku juga akan mencocokkan warna pilihanmu," kata Laras membuka percakapan.
"Terserah kamu mau pilih warna yang mana," ucap Dio malas berbasa-basi.
Laras tersenyum tipis kemudian menunjukkan jas yang akan digunakan Dio.
"Aku suka," ucap Dio singkat dan datar.
"Tuan, boleh mencobanya. Jika memang tak sesuai ukuran kita bisa membuatnya lagi," kata seorang wanita salah satu pegawai toko pakaian pengantin.
Dio pun mengangguk mengiyakan.
Jas, kemeja dan celana dilepas dari manekin lalu diserahkan kepada Dio dan membawanya ke kamar ganti.
Dio pun mencobanya lalu keluar dan menunjukkannya kepada Laras yang juga telah menggunakan gaun pengantin.
Laras sejenak terdiam dan terpesona melihat penampilan Dio menggunakan jas pengantin. "Sangat tampan!" batinnya.
"Bagaimana, Nona?" tanya pegawai wanita.
"Ya, sangat bagus," jawab Laras dengan cepat sangking terkesima dengan penampilan Dio.
"Jadi pilih yang ini saja, Nona?" tanya pegawai wanita itu lagi menunjukkan jas berwarna hitam putih.
"Ya, jika memang cocok itu saja!" jawab Laras.
Setelah mencoba beberapa gaun dan jas yang mau dipakai saat acara pernikahan, mobil yang membawa Dio lalu mengantarkan keduanya ke sebuah tempat yang menyediakan jasa dekorasi dan pelaminan.
Selama di sana, Dio tak berbicara. Ia membiarkan Laras memilih dekor dan warna yang diinginkannya.
"Kamu tidak mau memberikan saran atau pilihan?" tanya Laras.
"Kamu dan keluargamu yang punya uang dan kuasa. Silahkan pilih sendiri," jawab Dio ketus.
Laras menarik napas sejenak dan menghembuskan perlahan. Jika bukan ditempat umum mungkin dia akan memarahi Dio karena memperlakukannya begitu. Tetapi, ia tak mau rencananya gagal menikah dengan Dio lalu bebas menjalin hubungan bersama Alex.
Setelah memilih undangan hasil pilihan Laras, sopir mengantarkan Laras terlebih dahulu pulang ke rumah kemudian mengantar Dio.
"Tuan, maaf bukan saya ingin menasehati. Tapi, ada yang mau saya katakan!" kata sopir yang kebetulan Dio duduk di bagian penumpang depan.
"Ya, katakan saja!" ucap Dio.
"Nona Laras sejak kecil sering mengalami sakit-sakitan. Tuan dan Nyonya besar sangat menyayanginya apalagi mereka mendapati Nona Laras setelah dua tahun pernikahan. Saya sudah bekerja dengan mereka lebih dari lima belas tahun dan saya dengan beberapa pekerja yang lain juga tahu mengenai sosok kekasihnya Nona Laras. Saya cuma berharap, Tuan dapat menjaga dan menyayangi Nona Laras," ucap sopir panjang lebar mengenai kehidupan Laras meskipun beberapa cerita ia dengar dari ayahnya yang sebelumnya pernah menjadi sopir di keluarganya Laras.