Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.
Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjahit Kembali Hati Yang Koyak
Pagi di Desa Plaosan, Magetan, memiliki ritme yang lambat dan menenangkan. Tidak ada bunyi klakson, tidak ada dering telepon kantor yang menuntut, dan tidak ada target penjualan yang harus dikejar.
Yang ada hanya suara kokok ayam jantan yang bersahutan dan aroma kayu bakar yang menyusup dari celah dinding dapur.
Alina terbangun di atas kasur kapuknya. Punggungnya tidak sakit, meski kasur ini jauh lebih keras daripada spring bed jutaan rupiah di apartemennya. Ia menggeliat, merasakan sinar matahari pagi menerobos masuk lewat jendela kamar yang ia buka lebar-lebar.
"Alhamdulillah," bisik Alina.
Ia melangkah keluar kamar. Di dapur, Ibunya sudah sibuk. Asap putih mengepul dari dandang nasi.
"Pagi, Bu. Masak apa?" sapa Alina, langsung mengambil dingklik (kursi kecil dari kayu) dan duduk di dekat tungku api.
"Eh, Nduk. Sudah bangun? Ini Ibu lagi goreng tempe mendoan sama bikin sambal korek. Kamu mau kopi atau teh?"
"Teh tubruk aja, Bu. Yang kental manis," jawab Alina manja.
Alina mengambil pisau, membantu mengupas bawang merah. Gerakannya luwes, seolah ia tidak pernah meninggalkan dapur ini. Jemarinya yang biasa mengetik perintah eksekusi bisnis yang kejam, kini kembali akrab dengan noda tanah dan getah bawang.
"Nduk," panggil Ibu pelan tanpa menoleh. "Kamu kelihatan beda pagi ini."
"Beda gimana, Bu?"
"Lebih enteng. Kemarin pas baru datang, mukamu tegang. Alis matamu kayak orang mikir berat terus. Sekarang sudah lebih sumringah."
Alina tersenyum. Ibu benar. Di sini, beban di pundaknya seolah luntur.
"Di sini tenang, Bu. Alina nggak perlu mikirin orang jahat," jawab Alina.
"Ya sudah. Lupakan yang di sana. Mumpung di rumah, jadi anak Ibu saja. Nggak usah jadi bos," ujar Ibu sambil menyodorkan segelas teh panas dengan asap mengepul.
Siang harinya, rumah itu menjadi sedikit bising, tapi bising yang menyenangkan.
Tiga orang tukang bangunan yang disewa Alina mulai bekerja mengganti keramik lantai ruang tamu yang sudah retak dan memperbaiki atap yang bocor. Alina duduk di teras bersama Bapaknya, mengawasi pekerjaan itu sambil menikmati pisang goreng.
Bapak menatap tumpukan keramik baru berwarna putih bersih itu dengan mata berkaca-kaca.
"Bapak nggak nyangka rumah kita bakal jadi bagus begini, Nduk," ucap Bapak lirih, menghisap rokok lintingannya. "Dulu Bapak mikir, sampai mati pun nggak bakal bisa benerin genteng itu."
"Hush, Bapak jangan ngomong mati," tegur Alina lembut, menggenggam tangan Bapaknya yang kasar. "Ini rezeki Bapak sama Ibu. Alina cuma perantaranya."
Bapak menoleh, menatap putrinya dengan bangga.
"Kamu sudah sukses, Nduk. Tapi ingat pesan Bapak. Setinggi apapun kamu terbang, jangan lupa napak tanah. Jangan simpan dendam sama orang. Hidup itu wang sinawang (saling memandang), yang terlihat enak belum tentu enak."
Deg.
Jantung Alina berdesir. Pesan Bapak begitu sederhana namun menohok tepat di jantung masalahnya. Jangan simpan dendam. Alina tersenyum getir. Jika Bapak tahu apa yang ia lakukan pada keluarga Sisca, mungkin Bapak akan kecewa.
Maka, Alina memilih untuk melupakan sejenak. Ia mengangguk patuh.
"Inggih, Pak. Alina ingat."
Untuk hari ini, ia bukan Alina sang pendendam. Ia hanya Alina, anak Bapak yang berbakti. Ia membiarkan suara palu dan gergaji tukang bangunan menenggelamkan suara-suara jahat di kepalanya.
Sore harinya, Anita menarik lengan Alina paksa.
"Mbak! Ayo ke sungai! Kita main air kayak dulu!" rengek adiknya.
Awalnya Alina menolak, takut kulitnya gatal atau kakinya lecet. Tapi melihat wajah memelas adiknya, ia luluh juga. Mereka berjalan menyusuri pematang sawah menuju sungai kecil di pinggir desa.
Air sungai itu jernih, mengalir deras membelah bebatuan gunung.
Anita langsung melompat masuk, mencipratkan air ke arah kakaknya. Alina memekik kaget, lalu tertawa lepas. Ia menggulung celana kulotnya sampai lutut dan ikut turun ke sungai.
Dinginnya air pegunungan menusuk kulit, tapi rasanya menyegarkan. Seolah membasuh segala kotoran dan dosa yang menempel di tubuhnya selama di Surabaya.
Alina duduk di atas batu besar, membiarkan kakinya terendam air. Ia memejamkan mata, mendengarkan gemericik air dan suara angin yang menggesek daun bambu.
Rendy... Sisca... Royal Spoon... Wisnu...
Nama-nama itu melintas di kepalanya. Tapi kali ini, Alina punya kekuatan untuk mengusir mereka.
"Pergi," batin Alina. "Jangan ganggu aku sekarang."
Ia menarik napas panjang, menghirup udara bersih dalam-dalam, lalu menghembuskannya.
Ia membayangkan wajah bayinya yang tak pernah lahir. Dulu, bayangan itu selalu membawa rasa sakit yang menyayat. Tapi hari ini, di tengah kedamaian alam ini, Alina mencoba berdamai.
"Kamu pasti senang di surga, Nak," bisik Alina pelan, nyaris tak terdengar. "Maafin Mama ya. Mama lagi istirahat dulu dari marah-marah. Mama mau bahagia sebentar sama Tante Anita dan Kakek Nenekmu."
"Mbak Alin ngomong sama siapa?" tanya Anita yang tiba-tiba muncul di sampingnya dengan baju basah kuyup.
Alina tersentak, lalu tersenyum lebar. "Ngomong sama angin. Udah ah, ayo pulang! Nanti dicariin Ibu, dimarahin lho main air sampai maghrib."
Mereka berjalan pulang beriringan di bawah langit senja yang berwarna oranye keunguan. Anita bercerita panjang lebar tentang cowok yang dia taksir di sekolah, tentang guru matematikanya yang galak, dan tentang cita-citanya ingin jadi dokter.
Alina mendengarkan dengan antusias. Masalah-masalah remaja adiknya terdengar begitu polos dan ringan dibandingkan masalah hidupnya. Dan justru itulah yang ia butuhkan. Kenormalan.
Malam itu, Alina mematikan ponselnya total. Ia memasukkannya ke dalam laci paling bawah di lemari pakaian.
Tidak ada email. Tidak ada laporan mata-mata. Tidak ada strategi bisnis.
Ia menghabiskan malam dengan menonton acara dangdut di televisi tabung lama bersama keluarganya, tertawa sampai perutnya sakit melihat Bapak berjoget kecil menirukan penyanyi.
Malam ini, Alina melupakan rasa sakitnya.
Malam ini, ia melupakan bahwa ia adalah korban yang terluka.
Malam ini, ia hanyalah seorang wanita yang sangat, sangat bahagia karena dikelilingi oleh cinta yang tulus tanpa syarat.
Dan dalam hati, Alina berharap momen ini bisa membeku selamanya.
g sabar nih/Heart/