Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lain Sang Parasit
Gedung Mahardika Group berdiri angkuh di pusat distrik bisnis, sebuah monumen kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan. Namun bagi Baskara, setiap jengkal lantai marmer di gedung ini adalah wilayah musuh yang harus dipetakan dengan presisi. Sejak kepulangannya, ia menyadari bahwa Sarah bukan sekadar wanita yang beruntung mendapatkan posisi melalui pernikahan. Sarah adalah predator intelektual; dia adalah parasit yang sangat efisien, yang memastikan bahwa setiap saraf dan otot dalam tubuh Mahardika Group berdenyut sesuai dengan keinginannya.
Pagi itu, Baskara sengaja berdiri di koridor lantai eksekutif sebelum jam operasional dimulai. Dari balik dinding kaca pantry, ia mengamati Sarah yang sedang melakukan inspeksi mendadak kepada tim manajemen risiko. Tidak ada teriakan atau kemarahan yang meledak-ledak. Sarah justru bicara dengan nada yang tenang, hampir menyerupai bisikan seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya, namun isi pembicaraannya adalah tentang pemotongan anggaran dan peringatan keras bagi mereka yang gagal memenuhi target.
Inilah sisi lain Sarah yang mulai dipelajari Baskara. Sarah tidak menghancurkan lawannya dengan kekerasan, melainkan dengan birokrasi yang mencekik dan manipulasi psikologis yang halus. Ia menciptakan ketergantungan. Ia membuat semua orang di perusahaan ini merasa bahwa tanpa Sarah, Mahardika Group akan runtuh dalam semalam.
"Kau memperhatikan istrimu terlalu dalam, Baskara," suara dingin Sarah memecah lamunan Baskara saat wanita itu keluar dari ruang rapat. Langkah kakinya yang menggunakan stiletto mahal bergema di koridor yang sepi. Aroma parfum melati yang tajam—aroma yang selalu mengingatkan Baskara pada malam pemakaman ibunya—kini memenuhi udara di sekitarnya. "Atau kau sedang mencoba menghitung berapa banyak langkah lagi yang kau butuhkan untuk mencapai kursi Direktur Utama?"
Baskara menyesap kopinya, membiarkan cairan pahit itu membasahi lidahnya sebelum menjawab dengan senyum yang dipaksakan. "Aku hanya mengagumi caramu mengelola apa yang dulu menjadi milik Ibuku, Sarah. Sangat rapi, sangat terkontrol. Seolah-olah kau sudah merencanakan posisi ini sejak hari pertama kau masuk ke rumah kami sebagai sekretaris biasa."
Mata Sarah berkilat, sebuah retakan kecil pada topeng ketenangannya muncul sesaat sebelum ia kembali tersenyum sinis. "Dunia bisnis tidak mengenal sentimen sejarah, Baskara. Dunia ini hanya mengenal siapa yang paling tangguh bertahan di puncak. Ibumu lemah, itulah sebabnya dia tereliminasi. Jika kau ingin bertahan di sini, saranku adalah berhentilah menoleh ke belakang."
Sarah kemudian memberikan isyarat kepada Alea yang sejak tadi berdiri diam di belakangnya, memegang tablet dan setumpuk dokumen. Alea tampak seperti bayangan Sarah—selalu ada, selalu patuh, namun matanya memancarkan kelelahan yang disembunyikan dengan riasan tipis.
"Alea, sayang," ujar Sarah sambil membelai rambut Alea dengan gerakan yang posesif. "Berikan Baskara akses penuh ke data vendor logistik dan arsip pengadaan dari tahun 2010. Dia adalah Auditor Internal kita yang baru, bukan? Mari kita beri dia kesibukan yang luar biasa agar dia tidak punya waktu lagi untuk bernostalgia di koridor ini."
Strategi Sarah sangat jelas di mata Baskara. Dengan memberikan akses ke data yang sangat banyak dan membosankan, Sarah berharap Baskara akan tenggelam dalam tumpukan angka-angka tidak relevan sehingga tidak sempat menggali "Proyek Erase" yang sebenarnya tersembunyi jauh di balik lapisan enkripsi tahun 90-an. Sarah ingin menjadikan Alea sebagai pengawas legalnya.
Baskara menatap Alea yang kini melangkah mendekatinya untuk menyerahkan kartu akses digital. Saat tangan mereka bersentuhan sesaat, Baskara merasakan jemari Alea yang dingin dan sedikit gemetar. Gadis ini bukan hanya anak angkat; dia adalah inang utama bagi parasit seperti Sarah. Alea adalah orang yang paling dekat dengan rahasia Sarah, sekaligus orang yang paling dihancurkan oleh kebohongan wanita itu.
"Terima kasih, Alea," bisik Baskara, memberikan tatapan yang lebih lembut dari biasanya. "Kita akan menghabiskan banyak waktu di ruang arsip mulai hari ini. Bersiaplah, karena aku bukan tipe atasan yang mudah menyerah."
Alea hanya mengangguk pelan, tidak berani membalas tatapan Baskara di bawah pengawasan tajam Sarah. Bagi Baskara, ini adalah awal dari fase infiltrasinya yang paling krusial. Ia tidak hanya akan membedah data perusahaan, ia akan mulai membedah pengaruh Sarah atas Alea, saraf demi saraf.