NovelToon NovelToon
Immortality Through Suffering 2

Immortality Through Suffering 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi Timur / Action / Fantasi / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan dan Latihan!

Malam itu, di kamar yang sunyi, Xu Hao duduk bersila di atas bantalan meditasi. Suara hiruk pikuk dari luar arena perlahan mereda, digantikan oleh keheningan yang berat. Matanya tertutup, namun pikirannya berputar cepat seperti roda penggilingan.

"Borong... kekuatan fisiknya mutlak. Aura Qi-nya padat, tidak seperti kultivator Soul Transformation biasa. Sepertinya dia juga memfokuskan pada tubuh," gumamnya dalam hati. "Jika hanya mengandalkan kekuatan Soul Transformation akhir yang aku tampakkan, peluangku mungkin lima puluh-lima puluh. Tapi itu terlalu berisiko. Kekalahan bukan pilihan."

Dia menghela napas pelan, membuka mata. Cahaya bulan menyelinap melalui jendela, menerangi wajahnya yang dingin.

"Tidak bisa menggunakan Dao Awakening. Tidak bisa menggunakan Hukum Asal atau Dao Ruang. Itu akan langsung menarik perhatian Klan Xu. Cermin Silsilah Darah mereka mungkin sudah mencatat kedatanganku di wilayah ini setelah insiden Xu Zhan. Aku harus tetap menjadi Hei Feng, kultivator tunawisma yang kuat tapi wajar."

Dia berdiri, berjalan pelan ke tengah kamar. Tubuhnya kemudian bergerak, mengulangi setiap gerakan dari lima puluh pertarungannya. Setiap pukulan, setiap hindaran, setiap serangan balik. Dia menganalisis kekurangannya.

"Teknikku masih kaku. Terlalu bergantung pada kekuatan murni dan kecepatan. Borong pasti sudah memperhatikan itu. Dia akan memanfaatkan kelemahan itu."

Dia berhenti, mengepalkan tangan. "Aku perlu sesuatu yang baru. Sesuatu yang masih dalam batas wajar Soul Transformation, tapi bisa mengejutkannya."

Pikirannya berpaling pada sepuluh Kristal Hukum Tinggi yang dia miliki. Itu adalah sumber daya berharga. Tapi menyerapnya sekarang berisiko. Prosesnya tidak instan, dan bisa membuatnya tidak stabil sebelum pertarungan.

"Tidak. Kristal itu untuk setelahnya. Untuk sekarang... aku harus mengasah apa yang sudah ada."

Keesokan harinya, pagi masih berkabut ketika keriuhan sudah dimulai. Suara palu membentur paku, teriakan para pekerja, dan sorak sorak pedagang yang sudah mulai mempromosikan tempat mereka untuk menyaksikan pertarungan besar itu, memenuhi udara.

Gor benar benar tidak main main. Sepanduk besar besar, terbuat dari kain sutra yang mahal, sudah berkibar di setiap sudut kompleks arena. Tulisan besar bertinta emas terbaca: "Pertarungan Abad! Sang Raksasa Tak Terkalahkan BORONG vs Pendatang Fenomenal HEI FENG! Satu minggu lagi! Saksikan sejarah!"

Xu Hao, yang keluar untuk menghirup udara pagi, melihat keriuhan itu dengan mata dingin. Dia melihat Minlie sedang berbincang dengan Gor di dekat pintu masuk arena.

"Gor, berapa harga tiket tribun depan?" tanya Minlie, tangannya di pinggang.

"Untukmu, Minlie, khusus! Lima puluh kristal hukum tingkat menengah!" jawab Gor, wajahnya berseri seri.

"Lima puluh?! Kau merampok!" teriak Minlie.

"Ini acara sekali seumur hidup! Lihat saja, nanti pasti ludes! Bahkan sudah ada yang pesan dari Pulau Awan Perak!" bantah Gor sambil melambai lambaikan gulungan pesanan di tangannya.

Xu Hao mendekat. "Gor."

"Ah! Hei Feng! Pahlawan kita!" Gor berbalik, senyumnya lebar. "Tidur nyenyak? Kamar cocok? Butuh apa?"

"Rekaman Borong," kata Xu Hao singkat.

"Tentu! Sudah kusiapkan! Ikut aku!"

Gor membawa Xu Hao ke sebuah ruang di bawah tribun utama, ruang yang penuh dengan papan batu kristal yang memancarkan cahaya redup. Di salah satu dinding, ada sebuah cermin kristal besar.

"Ini arkib arena. Semua pertarungan penting direkam di sini," kata Gor bangga. Dia menempelkan telapak tangannya pada sebuah panel batu, memancarkan sedikit Qi. Cermin kristal besar itu berkilau, lalu memproyeksikan gambar holografik yang jelas. Tampak Borong, dengan tubuh raksasanya, berdiri di arena.

"Ini pertarungan Borong melawan 'Si Tangan Besi' Luo, dua tahun lalu. Perhatikan baik baik."

Gor menekan sesuatu, dan rekaman mulai bergerak. Xu Hao menatap tajam.

Di rekaman, Borong hampir tidak bergerak. Lawannya, seorang pria kekar dengan tangan yang bersinar seperti besi, menyerang dengan ribuan pukulan yang menghujani. Borong hanya mengangkat satu lengannya, menahan setiap pukulan dengan lengan bawahnya. Suara benturan logam bergema. Lalu, dengan gerakan sederhana yang hampir terlihat lambat, Borong meraih lengan lawannya dan memutar.

CRACK!

Suara tulang patah terdengar jelas bahkan dari rekaman. Borong lalu melempar lawannya seperti melempar boneka kain ke dinding arena.

Pertarungan selesai dalam kurang dari sepuluh napas.

"Kekuatan pertahanan dan kekuatan cengkeramannya luar biasa," komentar Xu Hao.

"Ya! Dan itu belum yang terhebat. Lihat ini," kata Gor mengganti rekaman.

Rekaman berikutnya menunjukkan Borong melawan seorang kultivator wanita yang gesit, menggunakan dua belati beracun. Wanita itu seperti bayangan, menyerang dari segala arah. Borong kali ini bergerak, langkahnya berat tapi presisi. Dia tidak mencoba mengejar. Dia menunggu. Saat wanita itu akhirnya mendekat untuk serangan mematikan ke leher, Borong tiba tiba berputar, tangannya yang besar menepis serangan itu dan tangan satunya menampar udara di depannya.

BUK!

Udara seakan terbelah. Gelombang kejut yang terlihat memukul tubuh wanita itu dan melemparkannya ke pagar arena, tak sadarkan diri.

"Teknik menampar udara... mengkompresi Qi dan kekuatan fisik menjadi gelombang kejut," gumam Xu Hao, matanya menyipit. "Itu bukan teknik sederhana. Butuh kendali Qi yang sangat halus."

"Kau cepat menangkapnya," kata Gor. "Borong tidak hanya kuat. Dia pintar. Dia tahu kelemahannya adalah kecepatan dan kelincahan, jadi dia menciptakan teknik untuk mengimbanginya. Kau lihat sendiri, dia jarang mengejar. Dia memaksa lawan datang padanya."

Xu Hao mengangguk pelan. "Berapa banyak rekaman yang ada?"

"Delapan belas pertarungan resmi di Sarang Naga Patah. Dan dia tidak pernah kalah. Bahkan tidak pernah terluka parah."

"Boleh aku menonton semuanya sendiri?" tanya Xu Hao.

"Tentu! Silakan. Aku harus kembali mengurus promosi. Banyak yang harus dikordinasi!" Gor menepuk bahu Xu Hao lalu bergegas pergi.

Xu Hao menghabiskan sisa pagi dan sebagian siang di ruang arkib. Dia menonton setiap rekaman berkali kali, menganalisis setiap gerakan Borong, kebiasaannya, cara dia bernapas saat menyerang, bahkan ekspresi matanya. Dia memperhatikan detail detail kecil.

Sore hari, Minlie menemukannya masih di sana. Dia membawa dua mangkuk mie daging.

"Kau belum makan seharian. Ini," katanya, menyodorkan satu mangkuk.

Xu Hao menerimanya. "Terima kasih."

Mereka makan dalam keheningan sejenak, mata Xu Hao masih sesekali melirik ke cermin kristal yang sedang memutar ulang gerakan tertentu secara lambat.

"Sudah dapat kesimpulan?" tanya Minlie akhirnya.

"Dia punya pola," kata Xu Hao, menelan makanannya. "Tiga serangan pertama selalu bertahan. Dia menguji kekuatan dan kecerdasan lawan. Jika lawan tidak bisa melukainya dalam tiga serangan itu, moral lawan biasanya jatuh. Lalu dia akan mengakhiri pertarungan dengan satu atau dua gerakan."

Minlie mengangguk, terkesan. "Benar. Itu analisa ku juga. Lalu?"

"Pola bertahannya terbatas. Dia selalu melindungi titik yang sama: tenggorokan, mata, dan dada sebelah kiri. Mungkin ada bekas luka lama atau titik lemah di sana."

"Bagus. Apa lagi?"

"Gelombang kejutnya. Itu butuh waktu kumpulkan, walau sangat singkat. Kurang dari satu napas, tapi tetap ada jeda. Di rekaman ketujuh, lawannya hampir memanfaatkan itu, tapi tidak cukup cepat."

Minlie bersiul pelan. "Kau benar benar memperhatikan. Jadi, rencanamu?"

"Latihan. Aku butuh mensimulasikan tekanan bertarung melawannya. Teknikku terlalu bersih. Aku butuh menjadi lebih... tidak terduga."

Minlie menyeringai. "Kalau begitu, kau datang ke orang yang tepat. Aku bukan hanya tahu teorinya. Aku bisa menirukan gayanya. Tentu, tidak sekuat dia, tapi cukup untuk memberimu rasa."

Xu Hao menatapnya. "Kau akan menirukan Borong?"

"Kenapa tidak? Tapi ingat, ini latihan. Aku tidak ingin tulangku remuk."

"Kita akan gunakan Qi terbatas. Fokus pada teknik dan pola," kata Xu Hao.

Mereka pergi ke arena latihan kecil di belakang kompleks. Arena itu kosong, jauh dari keriuhan persiapan.

"Baik," kata Minlie, merenggangkan badan. Suaranya tiba tiba berubah menjadi berat, meniru Borong. "Aku akan bertahan. Seranglah aku dengan kekuatan penuh Soul Transformation-mu. Jangan tahan."

Xu Hao mengangguk. Dia mengambil posisi, lalu melesat.

Pertarungan latihan dimulai.

Hari hari berikutnya diisi dengan ritme yang keras. Pagi, Xu Hao menonton rekaman dan bermeditasi, menganalisis setiap detail. Siang, dia berlatih dengan Minlie, yang dengan kemampuan adaptasinya yang luar biasa, berhasil menirukan sekitar tujuh puluh persen gaya bertarung Borong. Xuhao belajar menghindari cengkeraman, membaca tanda tanda sebelum serangan gelombang kejut, dan mencari celah di pertahanan yang tampak sempurna.

Suatu sore, setelah latihan yang sangat melelahkan di mana Xu Hao berhasil mendaratkan pukulan pada "titik lemah" dada kiri Minlie untuk pertama kalinya, mereka duduk bersandar di dinding arena, napas terengah engah.

"Kau berkembang cepat," kata Minlie, mengusap keringat di dahinya. "Tapi tetap saja, Borong yang asli sepuluh kali lebih berat, cepat, dan kuat dariku."

"Aku tahu," jawab Xu Hao. "Tapi ini cukup. Aku sudah mulai memahami polanya. Aku butuh satu gerakan. Satu kesempatan yang sempurna."

"Gerakan apa?"

Xu Hao diam sejenak. "Aku masih memikirkannya."

Malam harinya, di kamarnya, Xu Hao tidak tidur. Dia berdiri di tengah kamar, matanya tertutup. Di dalam pikirannya, dia membayangkan pertarungan itu. Setiap kemungkinan. Setiap variasi.

Tiba tiba, ingatannya melayang pada teknik yang pernah dia lihat di Paviliun Seribu Seni, melalui perantara Haoran, yang saat itu membaca gulungan teknik, namun tidak mempelajarinya. Sebuah teknik seni bela diri kuno yang mengandalkan aliran Qi yang berputar, menggunakan kekuatan lawan untuk melawannya. Teknik itu disebut "Aliran Pusaran Air". Tapi itu teknik yang halus, butuh kendali Dao yang tinggi.

"Bisakah aku menirunya... hanya dengan Qi murni dan kendali tubuh? Menurunkan tingkatnya hingga level Soul Transformation?" gumamnya.

Dia mulai bereksperimen. Tangannya bergerak perlahan, menggambarkan lingkaran di udara. Qi-nya mengalir, tapi terasa kaku dan dipaksakan.

"Tidak. Ini salah."

Dia mencoba lagi. Dan lagi.

Fajar menyingsing ketika dia akhirnya menemukan sesuatu yang mendekati. Bukan teknik pusaran air yang sempurna, tapi sebuah gerakan membelokkan yang sederhana. Jika dilakukan pada momen yang tepat, bisa membelokkan serangan gelombang kejut Borong, atau bahkan membuatnya kehilangan keseimbangan.

Itu belum sempurna. Tapi itu sebuah awal.

Hari kelima, Gor menemui mereka saat latihan. Wajahnya merah padam karena excitement.

"Hei Feng! Minlie! Kalian tidak akan percaya!" teriaknya.

"Apanya?" tanya Minlie, berhenti dari posisi bertahannya.

"Tiket! Tiket tribun depan sudah habis terjual! Bahkan tribun biasa hampir ludes! Taruhannya, oh, taruhannya sudah mencapai level gila! Peluang untukmu, Hei Feng, adalah satu banding lima! Artinya, banyak yang masih percaya Borong tak terkalahkan!"

Xu Hao tidak terpengaruh. "Bagus untuk arena."

"Bagus? Ini luar biasa! Oh, dan ada kabar. Beberapa sekte terapung kecil mengirim perwakilan. Mereka ingin menonton. Bahkan ada desas desus perwakilan dari Klan Xu cabang lokal di Pulau Pusat akan datang!"

Mendengar nama Klan Xu, mata Xu Hao berkedip. Tapi ekspresinya tetap datar. "Mereka hanya penonton."

"Tentu, tentu! Tapi ini menambah prestise! Pertarunganmu akan benar benar terkenal!" kata Gor, lalu menurunkan suaranya. "Hati hati, Hei Feng. Klan Xu... mereka suka merekrut orang kuat. Atau menyingkirkan yang tidak bisa direkrut."

"Terima kasih untuk peringatannya," kata Xu Hao.

Setelah Gor pergi, Minlie memandang Xu Hao. "Klan Xu. Kau punya masalah dengan mereka?"

"Semua orang punya masalah dengan mereka," jawab Xu Hao menghindar.

"Hmm." Minlie tidak mengejar. "Lanjut latihan? Kau masih lambat sepersepertian napas saat menghindari tamparan udaraku."

"Iya."

Hari ketujuh, sehari sebelum pertarungan. Xu Hao menghentikan semua latihan berat. Dia hanya bermeditasi, memurnikan Qi-nya, dan membiarkan tubuhnya beristirahat sepenuhnya. Dia memvisualisasikan pertarungan itu berulang ulang di kepalanya.

Minlie menemani di kamarnya, duduk di kursi dekat jendela.

"Kau tenang sekali. Tidak gugup?" tanyanya.

"Gugup tidak akan membantu," jawab Xu Hao, matanya masih tertutup.

"Benar juga. Aku dengar Borong juga menyepi hari ini. Dia di pulau pribadinya. Tidak ada yang melihatnya."

"Bagus."

Keheningan lagi.

"Hei Feng," kata Minlie tiba tiba, suaranya serius. "Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Jika menang, kau akan kaya raya. Jika kalah... well, mungkin kau tidak akan perlu memikirkan apa apa lagi."

Xu Hao membuka mata. "Aku punya urusan yang harus diselesaikan. Tempat yang harus dikunjungi."

"Urusan dendam?"

"Bukan, hanya janji. Dan pencarian."

Minlie mengangguk, seolah mengerti. "Hati hati dengan Klan Xu yang akan menonton besok. Mereka punya mata yang tajam."

"Aku akan berhati hati."

Malam itu, Xu Hao berdiri di balkon kecil kamarnya. Di bawah, kompleks arena masih ramai dengan persiapan akhir. Lampu lampu kristal menyala terang, menerangi spanduk spanduk besar yang berkibar. Suara tertawa, nyanyian, dan debat tentang siapa yang akan menang, memenuhi udara.

Dia memandang ke arah langit, di mana pulau pulau terapung lainnya tampak seperti bintik bintik cahaya di kejauhan.

"Lianxue... di manakah kau sekarang?" bisiknya sangat pelan, hanya untuk dirinya sendiri. "Ayah... Ibu... Aku semakin dekat. Aku akan membersihkan nama kalian. Aku akan membalaskan semuanya."

Dia mengepalkan tangannya. Kristal di cincin penyimpanannya terasa hangat.

"Besok, Borong hanyalah sebuah batu loncatan. Setelah ini, aku akan mencari Tetua Hong. Dia pasti punya petunjuk tentang 'dunia di bawah laut' yang dikatakan paman. Aku butuh kekuatan lebih. Kekuatan untuk menghadapi Xu Tianlong... dan Xu Tengshi."

Angin malam berhembus, membawa aroma masakan dan suara keramaian. Tapi di hati Xu Hao, hanya ada ketenangan dan tekad baja yang membara.

1
Sarip Hidayat
waaah jadi gitu
Dragon🐉 gate🐉
Mayan... dpt 2 jiwa lg...lanjuuuttt panen
Dragon🐉 gate🐉
lah, pantas paket gw gak Dateng",sejak kapan si Arif jd prajurit, ikut perang pula ?? 🤔 rif.. paket gw loe sangkutin di mana ?.. 😂
Dragon🐉 gate🐉: waduh... si Arif kang paket side jobnya ngeri,jd asasin🤣
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
Qingtian gege~/Kiss/🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉
woooaaaahhh..... 😎 Kereeennn.... mana nasi tumpeng sm bubur merah putihnya 🍚🎂
Dragon🐉 gate🐉: sipp, jangan lupa sambel goreng ati,sm kering ikan teri,krupuk udang 1 toples gede😂
total 2 replies
Agus Rose
ok.
up up up
YAKARO: Terimakasih bro🙏
total 3 replies
Dragon🐉 gate🐉
Thor... kl boleh gw ada saran nama buat si kadal biru.. Lan Long( naga biru) / Lan se shandian long (naga petir biru) itu versi serius kl versi lawaknya Aoman de xiyi( kadal sombong)🤣
Dragon🐉 gate🐉: manttaaafff👍
total 2 replies
qwenqen
mantap👍👍👍💪💪💪💪💪
OldMan
neng ratu calon bini juga kahh🤣🤣🤣
Agus Rose
Di tunggu up nya lagi,seperti kemarin yg banyak.
OldMan
mantapp bangetttt ..daratan tengah ini apakah pulau jawa🤣🤣🤣
YAKARO: Mungkin🤣
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
terjawab sudah ..👍
YAKARO: Mantap👍
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
loh... neng Sari nyasar kesini ternyata,pantesan di cariin di kios angkringan kok gak ada... Balik Neng, bahaya disini bukan tempatmu🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: aaiih... ngeri🤣
total 6 replies
OldMan
mantaap thorrr 💪💪💪💪
Dragon🐉 gate🐉
sekilas.. knp Xu Hao gak bunuh Bai Feng pdhl mampu, tp mungkin ada bbrp alasan, 1 biar gak ngebuka samaran di dpn anbu ratu Du Yan, 2 setiap anggota Klan pasti punya 'GpS' kl mereka mati biasanya bakal ketahuan siapa yg membunuh mereka🤔
YAKARO: itu bener banget, malah kalau keliatan semuanya jadi agak hambar/Hammer/
total 3 replies
OldMan
mataappp Thor ..mulai banteiii
Dragon🐉 gate🐉
sial!! mari kita mulai Pestanya....
Dragon🐉 gate🐉: /Toasted/
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
yeeaayy... panen lagi kita,kali ini panen besar...😈
YAKARO: Gass srudukkk💪💪
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
aroma Rivalitas yg kental dr Mo Xin...🤔
YAKARO: Mungkin saja🧐
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
kau pun sama woy😂
Dragon🐉 gate🐉: anti dia🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!