NovelToon NovelToon
TAHANAN OBSESI

TAHANAN OBSESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Misteri / Psikopat / Fantasi / Fantasi Wanita
Popularitas:921
Nilai: 5
Nama Author: Celyzia Putri

seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.

apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.

mencari ide itu sulit gusy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUANGAN YANG ANEH

Kesadaran Kayla perlahan kembali, diiringi rasa sakit yang berdenyut hebat di belakang kepalanya. Saat ia membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan cahaya matahari dan semilir angin yang terasa nyata.

Ia berbaring di atas tempat tidur king size yang sangat empuk dengan sprei sutra putih. Kayla bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang ada, matanya membelalak takjub. Di depannya, terdapat sebuah balkon luas dengan pintu kaca terbuka lebar, memperlihatkan pemandangan pantai yang luar biasa indah. Deburan ombak dan langit biru yang cerah membuatnya berpikir sejenak bahwa kejadian di club semalam hanyalah mimpi buruk.

"Gue... di mana? Apa Nadin bawa gue ke hotel?" gumamnya lirih.

Dengan langkah ragu, Kayla berjalan mendekat ke arah balkon. Ia ingin merasakan angin laut dan memastikan bahwa ini nyata. Namun, tepat saat tangannya baru saja hendak menyentuh bingkai pintu kaca, sebuah bunyi klik mekanis terdengar dari dinding.

Zuppp!

Dalam sekejap mata, pemandangan pantai yang indah itu lenyap. Pintu kaca, balkon, dan langit biru itu ternyata hanyalah proyeksi layar digital super canggih yang kini mati total. Ruangan itu berubah drastis menjadi sebuah kotak beton yang dingin dan pengap.

Cahaya terang berganti menjadi lampu temaram kekuningan yang menggantung rendah di tengah ruangan. Tidak ada jendela. Tidak ada jalan keluar.

Kayla mundur beberapa langkah dengan napas tersengal. Jantungnya berpacu liar saat matanya mulai menyesuaikan diri dengan kegelapan. Di dinding utama ruangan itu—tepat di mana tadi ia melihat pemandangan pantai—kini terpampang sebuah foto dirinya dalam ukuran raksasa. Itu adalah fotonya saat sedang tertawa di cafe, diambil dari jarak jauh secara diam-diam.

"Siapa... siapa yang ngelakuin ini?!" teriak Kayla histeris, namun suaranya hanya memantul di dinding beton.

Tiba-tiba, sebuah laci otomatis yang tertanam di dinding terbuka perlahan di bawah foto besar itu. Di dalamnya terdapat sebuah kotak beludru hitam kecil dan secarik kertas.

Kayla mendekat dengan tangan gemetar. Di dalam kotak itu terdapat sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk kunci. Ia kemudian membaca pesan di kertas itu:

> "Selamat datang di rumah barumu, Kayla. Pakai ini, atau kau takkan pernah bisa membuka pintu yang sebenarnya."

>

Belum sempat ia mencerna pesan itu, suara langkah kaki sepatu pantofel yang berat terdengar mendekat dari balik salah satu sisi dinding yang tampak rata. Seseorang sedang menuju ke sana .

Kayla tidak punya waktu untuk menangis.

klak klak

Suara langkah kaki itu semakin dekat, menggema di balik dinding beton. Dengan panik, ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan yang minim cahaya itu.

Matanya tertuju pada bagian langit-langit di sudut gelap, tepat di atas lemari pakaian yang tertanam di dinding. Ada sebuah lubang ventilasi berbentuk persegi dengan jeruji besi yang tampak sedikit longgar.

"Gue harus keluar dari sini," bisiknya pada diri sendiri.

Dengan sisa tenaga yang ada, Kayla menyeret kursi berat ke arah sudut tersebut. Ia memanjat dengan gemetar, jari-jarinya yang halus berusaha mencungkil pinggiran jeruji besi. Keberuntungan tampaknya sedang berpihak padanya; sekrup ventilasi itu memang tidak terpasang kuat. Dengan satu tarikan keras yang menimbulkan bunyi berdecit pelan, jeruji itu terlepas.

Kayla segera memanjat naik, menarik tubuhnya masuk ke dalam lorong ventilasi yang sempit dan berdebu. Suasana di dalam sana sangat gelap dan dingin, berbau logam berkarat. Ia merayap perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.

Namun, baru saja ia merangkak sekitar dua meter, sebuah suara aneh menghentikan gerakannya.

Kreeekkk... sriiinggg...

Suara itu tajam dan konsisten. Suara gesekan logam yang bertemu dengan alat pemotong. Kayla membeku, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Ia melihat ke arah celah kecil di dasar saluran ventilasi tepat di depannya.

Jantungnya seakan berhenti berdetak.

Di bawah sana, di balik bayangan remang-remang, berdiri seorang pria dengan perawakan tinggi tegap. Seluruh tubuhnya tertutup pakaian serba hitam, lengkap dengan penutup kepala (balaclava) yang hanya memperlihatkan sepasang matanya yang dingin dan tajam.

Pria itu tidak masuk melalui pintu. Ia berdiri di atas tangga lipat, tepat di bawah jalur ventilasi tempat Kayla bersembunyi. Dengan gerakan yang sangat tenang dan presisi, tangan pria itu memegang sebuah alat pemotong besi elektrik kecil yang mengeluarkan percikan api tipis.

Dia sedang memotong bagian bawah ventilasi itu—tepat di mana Kayla sedang meringkuk ketakutan.

Sriiinggg...

Pria itu berhenti sejenak. Ia mendongak ke atas, menatap lurus ke arah jeruji besi tempat mata Kayla mengintip. Meskipun wajahnya tertutup, Kayla bisa merasakan tatapan pria itu menembus kegelapan, seolah dia sudah tahu sejak awal bahwa Kayla ada di sana.

"Permainan petak umpetnya sudah selesai, Kayla," ucap pria itu dengan suara berat yang terdistorsi, terdengar sangat tenang namun mematikan.

Pria itu bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Begitu jeruji ventilasi terlepas sepenuhnya, sebuah tangan kekar dengan sarung tangan kulit menyambar pergelangan kaki Kayla sebelum gadis itu sempat merangkak lebih jauh ke dalam lorong yang sempit.

"Lepasin! Tolong!" jerit Kayla histeris, suaranya bergema di dalam lorong logam yang pengap.

Namun, tenaganya bukan tandingan pria itu. Dengan satu tarikan kuat, tubuh Kayla terseret keluar dari ventilasi. Pria itu menangkap tubuhnya di udara seperti menangkap karung ringan. Kayla meronta, memukul dada bidang pria itu, namun pria misterius tersebut tetap diam membisu. Tangan kirinya merogoh saku taktis di pinggangnya, mengeluarkan sebuah alat suntik kecil yang sudah terisi cairan bening.

Jleb!

"Ugh..." Kayla terkesiap saat jarum dingin itu menembus kulit lengannya. Hanya butuh hitungan detik sebelum penglihatannya kabur, otot-ototnya melunglai, dan teriakan di kerongkongannya hilang ditelan kegelapan yang pekat.

Saat kesadaran Kayla perlahan kembali, ia tidak lagi merasakan empuknya tempat tidur sutra atau semilir angin palsu dari layar digital. Kali ini, ia merasakan sensasi logam dingin yang keras di punggungnya.

Kedua tangannya ditarik lebar ke samping, begitu juga dengan kakinya. Ia mencoba menggerakkan anggota tubuhnya, namun suara denting rantai dan gesekan kulit yang kencang menghentikannya. Ia diikat kuat pada sebuah branker—ranjang rumah sakit dari besi—dengan pengikat kulit tebal di setiap sudutnya.

Kayla bernapas tersengal, matanya berputar liar ke sekeliling ruangan. Ruangan itu kini benar-benar berbeda. Lampu temaram yang tadi kini digantikan oleh lampu operasi yang sangat terang tepat di atas kepalanya, membuat matanya perih.

Pria misterius itu berdiri membelakanginya di depan sebuah nakas (meja kecil) berbahan stainless steel. Suara denting peralatan medis yang bersentuhan membuat bulu kuduk Kayla merinding.

"Kamu sudah bangun," suara pria itu terdengar berat, tanpa emosi, masih tertutup topeng hitam yang mengerikan.

Pria itu berbalik perlahan, membawa nakas tersebut mendekat ke sisi branker Kayla. Mata Kayla membelalak lebar, perutnya bergejolak hebat, dan rasa mual yang luar biasa menghantamnya saat melihat apa yang tersaji di atas meja kecil itu.

Di atas sebuah piring porselen putih bersih, tergeletak sesuatu yang tidak masuk akal: beberapa pasang bola mata manusia yang masih segar, saraf-sarafnya yang merah menjuntai layaknya akar tanaman yang dicabut paksa. Di samping piring itu, terdapat sebuah gelas kaca tinggi berisi cairan merah tua yang kental—darah—yang aromanya anyir menyengat memenuhi ruangan.

"Apa... apa-apaan ini? Lepasin gue! Lo gila!" teriak Kayla dengan suara serak, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya.

Pria itu tidak menjawab. Ia justru meraih sebuah blender yang sudah tersambung ke aliran listrik di samping nakas. Dengan gerakan yang sangat tenang, seolah sedang menyiapkan sarapan pagi, pria itu mengambil salah satu bola mata dari piring menggunakan pinset bedah.

"Tahukah kamu, Kayla? Mata adalah jendela jiwa," bisik pria itu sambil menjatuhkan bola mata itu ke dalam gelas berisi darah kental tadi. "Tapi terkadang, jendela itu harus dihancurkan agar kita bisa melihat apa yang ada di dalamnya."

Ia menuangkan isi gelas itu ke dalam blender. Suara mesin blender yang menderu keras tiba-tiba memecah keheningan ruangan, menghancurkan segala yang ada di dalamnya menjadi cairan merah pekat yang berbuih.

Kayla menjerit sekuat tenaga, tubuhnya meronta hingga branker besi itu bergetar hebat. Ia melihat pria itu mematikan blender, lalu menuangkan cairan mengerikan itu kembali ke dalam gelas. Pria itu melangkah mendekat, memegang gelas tersebut tepat di depan wajah Kayla yang pucat pasi.

"Sekarang," ucap pria itu sambil mendekatkan bibir gelas ke mulut Kayla yang terkatup rapat karena ketakutan.

cairan yang ada di dalam gelas itu habis saat lengan pria itu memaksa membuka mulut kayla.

"hueekk hueekk " kayla ingin segera memuntahkannya namun pria misterius itu malah menusuk lengannya dengan jarum .kesadaran kayla pun perlahan menghilang.

"slurpp"pria itu mengambil sisa cairan yang ada di sela sela bibir kayla dengan katenbak lalu menjilatinya.

1
Agus Barri matande
semangat thor
Thecel Put
omg saya sangat suka cerita dengan genre seperti ini❤️‍🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!