Su Ran terbangun ketika mendengar suara melengking keras dan tangan kasar yang mengguncangnya..
Heh~ Apakah ini layanan Apartemennya, kenapa begitu kasar pijatannya?
Lalu, kenapa kedap suaranya sangat jelek?
Begitu sadar, ia ternyata masuk kesebuah era dinasti Ping yang tidak tercatat dibuku sejarah manapun.
Hee.. ingin menantangku soal bertani? dan menjual barang?
Jangan panggil aku Su 'si marketer andalan' jika tidak bisa mendapat untung apapun!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubun ntib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
“ Lao Jiang.. Hidangan enak apa yang kau sembunyikan .....”
Sebuah suara pria paruh baya terdengar dari jendela tanpa kaca yang biasa digunakan untuk melihat suasana depan oleh paman Jiang.
Keempat orang menoleh serempat hanya untuk mendapati sebuah kepala mencuat dari daun jendela tersebut. Tampak terlihat jelas di mata Su Ran jejak keserakahan terhadap makanan pada pandangan pria yang Su Ran taksir berusia hampir seumuran dengan paman Jiang dan Koki Feng.
“ Ahh.. Lao Wen, ternyata kau? Tunggu, jangan bilang kau datang kesini karena tertarik dengan aroma makanan ini?” seharusnya ... tidak, kan? Jiang Ran memiliki tebakan yang hampir mustahil dipikirannya.
“ Haaa.. Jadi kau tahu diri bukan? Tidak tahukah kamu jika aroma yang keluar dari cerobong udaramu membuat hampir separuh kota menjadi gelisah!” ekspresi menuduh langsung terlintas pada wajah paman yang dipanggil Lao Wen oleh paman Jiang ini.
Jiang Ran dan Feng Yu saling berpandangan dengan raut penuh semangat. Jika hanya aromanya saja sudah membuat penasaran, maka ucapan Xiao Ran bisa dan sangat harus dipertimbangkan.
“ Kenapa kalian malah saling memandang? A Ming, cepat hidangkan aku masing – masing 1 porsi dari hidangan kalian. Apa ..? Jangan bilang kalian sudah memakannya habis!” Paman Wen langsung berbalik arah dan duduk di aula restoran. Ia bahkan memilih tempat duduk yang dekat dengan pintu keluar masuk dapur! Jelas sekali niatnya adalah untuk mengawasi langsung hidangan miliknya!
A Ming memandang dengan canggung ke arah Su Ran. Begitu pula dengan Jiang Ran dan juga Feng Yu. Mereka jelas bisa merasakan jika ini adalah kesempatan yang layak untuk mempromosikan ‘menu’ baru masakan mereka.
“ Kenapa kalian melihatku?” Su Ran tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Tentu saja ia tahu apa yang ada dipikiran ketiganya.
Juga, ini adalah tujuannya memasak sedikit lebih banyak porsi tadi. Ia tentu tahu dengan jelas jika godaan aroma harum Cabai tidak akan bisa dilewatkan bahkan oleh seorang yang tidak terlalu suka pedas seperti koki Feng.
“ Ehm, Itu.. Xiao Ran, bolehkah kami menjual masakanmu? Aku akan menghubungi pemilik jika kami akan merekrutmu menjadi koki kami,” Jiang Ran menggosok – gosokkan tangannya dengan canggung. Dirinya belum meminta pendapat Su Ran, tetapi tetap menebalkan wajahnya untuk mengatakan hal tersebut.
Alis Su Ran terangkat tinggi, ia mengarahkan pandangannya kepada Koki Feng yang sedikit enggan tetapi memantapkan diri untuk menerima. Tentu saja ia juga berfikir jika Su Ran tidak akan mungkin mengajarkan resep – resep makanan ini kepadanya.
Su Ran kembali kagum dengan sikap Paman Jiang dan juga koki Feng. Mereka mampu mengambil keputusan cepat juga terlihat ikhlas hanya demi memajukan citra restoran yang hampir bangkrut ini.
“ Paman, tidak usah seperti itu. Aku tidak akan berani untuk mengambil pekerjaan Paman Feng,” Su Ran berseloroh.
“ Ta .. Tapi, apakah artinya kau tidak setuju untuk menjual masakan ini?” bahu koki Feng turun. Meskipun ada kelegaan tetapi ia juga merasa sangat sedih karena tidak bisa menggunakan masakan Xiao Ran untuk promosi.
Jiang Ran dan A Ming juga lesu seketika. Apakah karena mereka sudah meremehkannya saat pertama Su Ran menawarkan kesempatan tadi.
“ Aku tidak bilang jika aku tidak mengizinkan kalian untuk menyajikan masakanku. Haaa, kakak A Ming, sebaiknya kau segera menyiapkan masing – masing 1 porsi untuk setiap jenis dulu. Lihatlah, pelanggan bahkan ingin melangkah masuk ke dalam dapur lagi,” Su Ran yang melihat Pelanggan bernama Wen itu ingin masuk dapur, segera menginstruksikan untuk menyajikan makanan.
A Ming jelas saja bersorak gembira dalam hati. Ia dengan cekatan menyiapkan mangkuk mangkuk kecil untuk membawanya kepada pelanggan.
Kini hanya ada Jiang Ran, Feng Yu, dan Su Ran di dalam dapur.
“ Lalu apa yang kamu maksud? Kamu tidak ingin bekerja disini? Tenang saja, gaji kami tidak akan sedikit,” ucap Jiang Ran sedikit malu. Jelas saja ia tahu jika pelanggan mereka hampir habis, tetapi dengan makanan milik Su Ran, ia langsung bersemangat.
“ Paman, aku tidak suka memasak banyak,” ringis Su Ran mencari alasan, sebenarnya ia hanya malas saja! Berbeda dengan bertani dan berhadapan dengan masyarakat secara langsung. Jika itu, Su Ran berani menobatkan dirinya menjadi nomor satu!
“ Tidakkah paman ingin membeli resep itu, tetapi aku punya lebih dari 100 resep makanan yang dijamin akan membuat restoran ini bangkit? Atau jika paman berani, paman juga bisa memberikan 15% keuntungan restoran tiap bulan kepadaku. Aku akan mengajarkan resep ini kepada paman Feng,” Su Ran mengatakan hal ini dengan sangat mudah. Baginya, ia hanya ingin mencari pasar untuk cabai agar apa yang ditanam oleh para paman dan bibi akan laku keras nantinya.
Sekali lagi Jiang Ran dan Feng Yu saling berpandangan dengan mata berbinar. Jika dulu, dengan dipegang oleh pemilik lama, pasti tidak akan mau untuk memberikan saham – saham seperti ini.
Tetapi sekarang, tuan muda pasti akan berpikiran terbuka dan juga kondisi restoran sedang tidak bagus.
Jika ada jalan untuk memakmurkan kembali restoran ini, tuan muda pasti akan setuju! Jiang Ran sangat tahu tentang cara berpikir tuan mudanya.
“ Apa kamu yakin ingin mengajarkan resep ini? apakah keluargamu tidak akan marah?” tanya Feng Yu dengan semangat kegembiraan yang jelas – jelas ditekan. Bagaimanapun ini adalah sebuah resep rahasia. Yang mana bisa digunakan untuk membangkitkan 1 generasi keluarga.
“ Paman, kedua orang tuaku sudah meninggal,” senyum Su Ran malah terlihat sangat menyedihkan bagi kedua orang yang juga ditinggal oleh anak istrinya.
“ Mulai sekarang, anggap saja kami pengganti orang tuamu,” tandas Jiang Ran yang diangguki oleh Feng Yu. Su Ran merasakan kehangatan dihatinya. Ia kembali bertemu dengan orang yang baik di dunia ini.
“ Aku setuju dengan usulmu, mulai sekarang setiap hasil dari penjualan menu – menu milikmu tadi, kami akan menyisihkan 15% bagianmu,” ucap Jiang Ran setelah berdiskusi singkat dengan Feng Yu.
“ Tetapi, Xiao Ran. Kau melupakan detail yang paling penting. Bagaimana kami mendapatkan bumbu cabaimu?” Feng Yu mengerutkan keningnya sedikit frustasi.
Jiang Ran juga menepuk dahinya pelan. Bagaimana ia bisa lupa dengan bahan yang paling penting? Dimana ia mendapatkan cabai ini? sementara bumbu tadi disiapkan oleh Xiao .. Ran. TUNGGU!
Jiang Ran langsung menatap Su Ran dengan terkejut dan sedikit ngeri juga kagum. Anak ini, sepertinya memang inilah tujuan paling awalnya kan?
“ Ha ha ha, Lao Feng, kita tidak perlu khawatir tentang Cabai,” Jiang Ran terbahak – bahak sementara Feng Yu tampak kebingungan melihat Jiang Ran yang tertawa dan Su Ran yang tersenyum dengan penuh arti. Feng Yu juga membelalakan mata lalu juga melihat ke arah Su Ran.
“ Nak, katakan pada kami ...”
“ Benar paman, untuk Cabai, serahkan padaku,”
.
.
.
.
.
.
.
Hallooww..
Jangan lupa like, komen, vote yaaa❤