NovelToon NovelToon
Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2

Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Tulus

Selamat datang kembali, Pembaca Setia!

Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.

Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.

Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUARA DI BALIK KEHENINGAN

Mavin telah memilih untuk berdiri sebagai tameng bagi Scarlett, bersedia mempertaruhkan segalanya dalam tujuh hari yang menentukan ini. Namun, andai saja ia tahu sejak awal bahwa tubuh Scarlett telah hancur secara perlahan karena trauma masa lalu yang tak terobati, ia tidak akan pernah membiarkan wanita itu menyentuh satu baris kode pun di laboratorium.

Mavin menekan bibirnya rapat, matanya menatap Scarlett dengan kepedihan yang mendalam. "Dulu aku berjanji pada Florence, aku akan menjagamu dengan baik. Jika sekarang terjadi sesuatu padamu, keberadaan UME tidak akan ada artinya lagi bagiku."

Keluarga Levronka memang dingin dan penuh intrik politik. Florence, adik Mavin yang sangat ia cintai, pernah terpaksa menikah hanya demi menyelamatkan nama besar keluarga—sebuah tragedi yang membuat Mavin memutus hubungan dengan keluarganya sendiri secara permanen. Alasan terbesar Mavin membangun imperium UME adalah untuk memberikan tempat pulang yang aman bagi Florence. Kini, setelah Florence pergi selamanya, Mavin melihat bayang-bayang adiknya yang malang itu pada diri Scarlett.

Scarlett menunduk, ia tahu ketulusan Mavin nyata. Suaranya terdengar lirih, hampir seperti bisikan yang tertiup angin. "Tapi aku benar-benar baik-baik saja, Mavin..."

"Tidak, Scarlett. Kamu tidak sedang baik-baik saja," potong Mavin dengan suara yang bergetar karena emosi.

"UME harus menguasai pasar dalam negeri secepat mungkin untuk menyaingi Grup Laksmana," Scarlett mencoba memberikan argumen logis, matanya berkilat penuh tekad yang keras kepala. "Jika kita berhasil, suatu hari Florence bisa pulang dengan tenang ke sebuah tempat yang kuat. Ini adalah pertempuran pertama kita. Kita tidak boleh mundur satu inci pun."

Mavin tetap bergeming, wajahnya keras seperti batu karang yang dihantam ombak. Melihat pertahanan Mavin yang tak goyah, Scarlett melakukan hal yang jarang ia lakukan selama bertahun-tahun. Ia menarik pelan ujung lengan baju Mavin, menatap pria itu dengan mata bening yang mulai berkaca-kaca—sebuah permohonan yang murni, rapuh, sekaligus mematikan.

"Mavin... tolonglah..." Suara Scarlett lembut, merayu dengan cara yang membuat jantung Mavin berdesir hebat.

Kata "tidak" yang sudah membeku di ujung lidah Mavin tiba-tiba mencair. Ia tahu betapa keras kepalanya Scarlett; jika dipaksa istirahat dalam kondisi cemas seperti ini, Scarlett justru akan semakin menderita secara mental.

Akhirnya, Mavin menghela napas panjang, sebuah tanda kekalahan telak. "Baiklah. Aku setuju kamu lanjut. Tapi dengan satu syarat: malam ini kamu harus istirahat total dan tidur dengan benar di sini."

Mendengar itu, Scarlett langsung mengangguk patuh. Setelah meminum obat yang diberikan perawat, tak butuh waktu lama bagi kesadarannya untuk tenggelam dalam tidur lelap di bawah pengaruh sedatif yang kuat.

Kamar rawat itu menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan deru pelan pendingin ruangan. Cahaya bulan yang dingin tertahan oleh tirai tebal, menciptakan siluet yang muram. Tiba-tiba, ponsel Scarlett di atas meja samping ranjang bergetar hebat, memecah kesunyian.

Mavin memungutnya. Di layar, nama Devan berkedip-kedip seolah menuntut perhatian.

Mavin teringat laporan dokter tentang benturan hebat yang menyebabkan keguguran Scarlett tempo hari. Amarah dingin mulai menjalar di nadinya, membakar kesabarannya. Apakah pria ini tahu betapa hancurnya wanita yang ia sebut istri ini? pikir Mavin dengan gigi gemeletuk.

Mavin menolak panggilan pertama. Namun, detik berikutnya, ponsel itu kembali bergetar. Devan menelepon lagi dengan kegigihan yang menjengkelkan. Kali ini, Mavin menekan tombol terima dengan wajah tanpa ekspresi.

"Scarlett, di mana kamu?!" Suara Devan menggelegar dari seberang telepon, penuh dengan otoritas yang marah dan ego yang terluka. "Kita sudah janji jam 8 malam! Kamu lihat sudah jam berapa sekarang?"

Devan berada di vilanya, mondar-mandir dengan emosi yang meluap. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia dibuat menunggu oleh seorang wanita—terlebih lagi oleh Scarlett yang biasanya selalu siap sedia. Ia sudah menyiapkan rentetan makian, mengira istrinya itu sedang mencoba membalas dendam atas janji-janji masa lalu yang sering ia ingkari.

Namun, keheningan di ujung telepon selama dua detik berikutnya membuat darah Devan mendidih. Bukan suara lembut Scarlett yang menyahut, melainkan suara berat pria yang sangat ia kenali—suara yang tenang namun mematikan.

"Scarlett sedang tidur."

Dunia Devan seolah berhenti berputar. Amarahnya yang tadi membara seketika berubah menjadi ledakan cemburu yang liar dan tak terkendali. Mata Devan memerah, ia mencengkeram ponselnya hingga buku jarinya memutih.

"Siapa kamu? Mavin?" desis Devan, suaranya mengandung ancaman pembunuhan yang nyata.

Pikiran Devan kacau balau. Mavin bersamanya? Di mana? Kenapa dia yang memegang ponselnya? Kenapa Scarlett tidur di dekat pria ini di jam seperti ini?

Belum sempat Devan melontarkan pertanyaan berikutnya, Mavin memutus sambungan secara sepihak. Klik.

Mavin meletakkan kembali ponsel itu dengan tenang, sementara di ujung kota, Devan membanting gelas kristal di tangannya hingga hancur berkeping-keping. Badai besar akan segera datang.

1
Sweet Girl
Klo kalian saling mendukung, Khan keren ya...
Sweet Girl
Telat...
Sweet Girl
Menyayat hati.
Sweet Girl
Hhaaaa Gantle kali kau Mavin...👍
Sweet Girl
Sak bahagiane persepsi mu terhadap Aulia, Van...
Sweet Girl
Semoga kamu bisa menyelesaikan semua proyek mu dan bisa operasi, Aulia.
Sweet Girl
Bwahahaha kapok Lu.... ngerasa Ndak kamu...
Sweet Girl
Mantap...👍
Sweet Girl
Sengkuni mulai beraksi.
Sweet Girl
Harus menyadari lho Tor...
Sweet Girl
Enak aja Hak Melati di klaim Aulia.
emang apa prestasinya Melati, Ken...
Sweet Girl
Bwahahaha tau Ndak pintunya... klo Ndak tau tak anter... tak gandeng sampai pintu.
Sweet Girl
Tor... bikin mereka yg akan menghancurkan Aulia, gagal semua ya...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
Sweet Girl
Jangan percaya sama mereka Aulia, kamu harus tetep pantau tuuu pergerakan Jin iprit sama Henry.
Sweet Girl
Oooaaalah baru mudeng ini si Jin iprit Khan adik tiri nya Aulia ya...
weeeesss angel... angel...
Sweet Girl
Semoga kopinya ada Sianidanya🤣
Sweet Girl
Yo mbok wes toh Tor... penderitaannya Aulia...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Sweet Girl
semangat aja dalam memperbaiki SDM, Aulia.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
Sweet Girl
Buruk Hatinya.
Sweet Girl
Bagaimana ceritanya Tor... kok Violetta sampai Ndak tau klo Pamela habis minum obat perangsang.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!