Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia
"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: UMPAN YANG TERSEMBUNYI
Keesokan harinya di sekolah, atmosfer terasa sangat berbeda. Alsya berjalan dengan kepala tegak, tidak lagi bersembunyi di balik tudung hoodie-nya. Sementara itu, Eliza tampak sangat pendiam dan penyendiri, sebuah peran baru yang dia mainkan untuk menarik simpati orang tuanya kembali.
Namun, di balik sikap pendiamnya, Eliza sedang menunggu momen yang tepat. Saat jam istirahat, dia melihat Samudera berjalan sendirian menuju perpustakaan. Dengan langkah tenang, Eliza mencegatnya di koridor yang sepi.
"Mau apa lagi loe? Belum cukup kejadian di bukit kemarin?" tanya Samudera dingin tanpa menghentikan langkahnya.
"Gue ke sini bukan buat berantem, Sam," ucap Eliza dengan suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar tulus. "Gue cuma mau minta maaf. Gue sadar gue salah karena terlalu protektif sama Alsya."
Samudera berhenti, lalu menoleh dengan tatapan tidak percaya. "Minta maaf? Sejak kapan seorang Eliza Anantara tahu arti kata itu?"
"Sejak Papa nyabut semua fasilitas gue," Eliza tertawa getir, mencoba terlihat rapuh. "Tapi selain minta maaf, gue punya sesuatu yang mungkin loe butuhin. Ini soal kakak loe, Arka."
Langkah Samudera terkunci seketika. Nama itu adalah luka lama yang tidak pernah dia ceritakan pada siapa pun, bahkan pada Alsya. Arka adalah kakaknya yang paling dia sayangi, yang menghilang dari keluarga setelah kasus kecelakaan Samudera mencuat.
"Loe tahu apa soal Arka?" desis Samudera, matanya berkilat penuh emosi.
Eliza mengeluarkan sebuah foto usang dari sakunya. Foto itu menunjukkan Arka yang sedang berada di sebuah bengkel kecil di kota pinggiran. "Gue tahu di mana dia sekarang. Dia nggak benci sama loe, Sam. Dia pergi karena dia diancam sama bokap loe buat nggak pernah nemuin loe lagi kalau dia mau kariernya aman."
Samudera mencengkeram foto itu. Tangannya gemetar. Selama ini dia mengira Arka pergi karena malu punya adik seperti dirinya.
"Kenapa loe kasih tahu gue sekarang? Apa imbalannya?" tanya Samudera penuh kecurigaan.
"Gue cuma mau loe tahu kalau gue nggak seburuk yang loe pikir. Dan... gue minta loe jangan kasih tahu Alsya soal ini," ucap Eliza lembut. "Alsya terlalu emosional. Kalau dia tahu loe lagi nyari Arka, dia bakal ikut campur dan itu malah bikin bokap gue marah lagi. Loe mau hubungan loe sama Alsya hancur lagi gara-gara Papa tahu loe masih berhubungan sama 'masalah' lama loe?"
Samudera terdiam. Logikanya mulai terpengaruh. Dia sangat ingin menemui Arka, tapi dia juga baru saja mendapatkan kepercayaan Papa Saga. Jika dia pergi mencari Arka secara sembunyi-sembunyi, dia harus berbohong pada Alsya.
"Gue kasih alamatnya ke loe sore ini. Tapi inget, Sam... cuma kita berdua yang tahu. Ini demi keselamatan Arka dan hubungan loe sama Alsya," bisik Eliza sebelum berjalan pergi, meninggalkan Samudera dalam dilema yang besar.
Sore harinya, Alsya menghampiri Samudera di parkiran dengan senyum lebar. "Sam! Jadi kan sore ini temenin gue beli cat lukis? Gue mau mulai melukis lagi di loteng."
Samudera menatap Alsya, ada rasa bersalah yang terpancar di matanya. Dia baru saja menerima pesan dari Eliza berisi alamat bengkel Arka.
"Sya... maaf banget. Sore ini gue ada urusan mendadak soal motor gue di bengkel temen. Kayaknya nggak bisa nemenin," bohong Samudera.
Senyum Alsya sedikit memudar, tapi dia mencoba mengerti. "Oh, ya udah nggak apa-apa. Gue bisa pergi sendiri kok. Urusan motor emang penting."
Alsya melambaikan tangan saat Samudera pergi dengan motornya. Namun, dari kejauhan, Alsya melihat Eliza juga keluar dari gerbang sekolah dengan taksi, padahal seharusnya dia pulang bersama supir.
Rasa curiga mulai tumbuh di hati Alsya. Dia ingat pesan Samudera: Orang yang terpojok bakal lebih nekat.
Tanpa pikir panjang, Alsya tidak pergi ke toko cat. Dia mencegat ojek dan mengikuti taksi Eliza dari jauh. Dia tidak tahu bahwa sore itu, dia akan melihat sisi lain dari Samudera yang selama ini dirahasiakan darinya—sebuah sisi yang sengaja dibuka Eliza untuk menghancurkan mereka kembali.
Samudera mulai masuk ke dalam jebakan Eliza!
Bersambung....