Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetangga Baru
"Eh, udah kenalan belum sama tetangga baru kita?" Wawan tiba-tiba nyeletuk, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
Digta, yang sedang asyik dengan ponselnya, hanya mendongak sekilas, lalu kembali menatap layar tanpa minat.
"Belum. Kenapa emangnya?" jawab Digta singkat, tidak antusias sama sekali.
"Ya ampun, Digta! Sekali-kali keluar kamar dong," Wawan mencoba menyindir, tapi Digta tetap tak bergeming.
"Hmm," gumam Digta.
Wawan menghela napas panjang.
"Katanya tetangga baru kita cakep, Ta!
"Yanto sampe mimisan pas ketemu." Wawan mencoba berkelakar, berharap bisa memancing reaksi Digta.
"Oh, cewek," sahut Digta datar, masih tanpa ekspresi.
Wawan menghela napas lagi, kali ini lebih berat. "Garing banget sih lo," ucap Wawan frustrasi.
"Iya, cewek lah! kalo cowok, gue nggak bakal repot-repot cerita sama lo?"
"Susah emang ngomong sama lo. Makanya, belajar bersosialisasi!" Wawan mulai sewot.
"Nggak ah, takut jadi aneh kayak Yanto," balas Digta, akhirnya menunjukkan sedikit minat.
Wawan tertawa terbahak-bahak. "Hahahahaha! Jangan gitu, Ta. Lo sama Yanto itu sama aja, cuma beda level aja."
"Enak aja! Gue masih lebih normal dari Yanto, ya," sanggah Digta, tak terima disamakan dengan Yanto yang terkenal konyol.
"Iya, lo emang lebih ganteng. Tapi soal keanehan, sama aja," kata Wawan sambil menyeringai.
"Udah ah, mana CD gamenya mau gue instal? Keburu magrib."
"Nih," kata Digta sambil menyerahkan CD game. "Balikin, ya! Jangan kayak yang kemarin-kemarin, nggak balik-balik."
"Kapan emang gue nggak balikin?" Wawan mencoba mengelak.
"Yang kemarin-kemarin tuh, yang judulnya 'Petualangan di Pulau Hantu'?"
"Hehehehe..." Wawan hanya bisa cengengesan.
"Kali ini beneran gue balikin, deh. Janji!" kata Wawan sambil mengambil CD game itu dan bergegas keluar kamar Digta.
Saat Wawan keluar, dia melihat Raisa sedang sibuk menata barang-barang di depan kamar kosnya.
"Hallo, baru pindah, ya?" sapa Wawan basa-basi.
"Iya, kak," jawab Raisa singkat sambil tersenyum ramah ke arah Wawan.
"Wawan," kata Wawan sambil mengulurkan tangannya.
"Raisa," sahut Raisa membalas uluran tangan Wawan.
Tanpa mereka sadari, percakapan mereka terdengar jelas sampai ke dalam kamar Digta.
Deg...
Jantung Digta berdegup kencang saat mendengar nama itu.
"Nggak mungkin," gumamnya dalam hati.
"Kebetulan aja." Tapi tetap saja kepikiran
"Tapi kok suaranya mirip banget, ya?" Digta mulai overthinking.
Tiba-tiba, dari luar, Wawan memanggilnya. "Digta, sini Ta! Ada tentangga baru nich!" teriak Wawan sedikit keras.
"Ngapain sih dia manggil gue?" gerutu Digta, Digta pun keluar kamar, pikirnya yang penting nongol basa basi.
Raisa sudah menyiapkan mental jika momen ini terjadi. Dia tahu cepat atau lambat, Digta pasti akan bertemu dengannya.
Perlahan, Digta menghampiri mereka. Seketika, langkahnya terhenti.
Matanya membelalak menatap Raisa, seolah melihat hantu.
"Kenalin, ini tetangga sebelah kita, Digta," kata Wawan memperkenalkan Digta kepada Raisa.
"Heuh..." Digta masih syok, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Hi, Digta. Apa kabar?" kata Raisa sambil tersenyum ramah dan melambaikan tangan ke arah Digta.
Wajah Digta semakin pucat. Tanpa sepatah kata pun, dia berbalik dan berlari masuk ke dalam kamarnya, membanting pintu dengan keras.
"Lho, kenapa tuh orang?" Wawan tampak heran dan merasa tak enak kepada Raisa.
"Maaf, ya. Dia emang agak aneh orangnya. Harap dimaklumi," kata Wawan mencoba menjelaskan.
Raisa hanya tersenyum canggung menanggapi ucapan Wawan.
"Nggak apa-apa kok, kak."
"Tapi, kayaknya wajah kamu nggak asing, ya?" kata Wawan sambil mencoba mengingat-ingat.
"Emm, mungkin soalnya aku pernah ke sini beberapa kali. Aku juga pernah ke kampus..." Raisa terhenti, menyadari bahwa dia hampir keceplosan.
Tiba-tiba, Digta berlari keluar dari kamarnya, dengan wajah panik.
Dia khawatir Raisa akan menceritakan bahwa dia adalah wanita yang tempo hari datang mencarinya di kampus.
"Wan, Bambang nyuruh lo ke bengkel tuh!" kata Digta asal.
"Hah? Kapan Bambang nyuruh gue ke bengkel? Orang dia pergi sama Yanto, kok," Wawan merasa tak yakin.
"Tadi dia telepon gue," kata Digta mengarang.
"Kenapa dia nggak langsung telepon gue aja?" Wawan masih tak habis pikir.
"Mana gue tau!" Kali ini, Digta tidak mau terlalu meyakinkan. Terserah Wawan mau percaya atau tidak.
"Ada-ada aja sih si Bambang," ucap Wawan kesal.
"Ya udah deh, gue kesana", Wawan melirik Raisa "Raisa, kak Wawan permisi dulu, ya,"
Wawan akhirnya percaya juga dengan omong kosong Digta.
Mimik muka Digta tampak geli melihat basa-basi Wawan.
"Iya, kak," sahut Raisa ramah.
"Dah, Raisa!" ucap Wawan lagi sambil berlalu dari hadapan Digta dan Raisa, sesekali melirik Raisa.
"Dasar playboy kampung," ucap Digta pelan.
Setelah merasa aman, Digta mulai mendekat ke arah Raisa.
"Sini, gue mau ngomong," kata Digta sambil menarik tangan Raisa dan menyeretnya masuk ke dalam kamar Digta.
"Ada apa?" tanya Raisa heran.
"Gue yang harusnya nanya," kata Digta dengan nada sedikit galak.
"Kenapa lo ngekos di sini?" Sambung Digta, nada suaranya masih mengintimidasi.
"Emang kenapa?" kata Raisa bertanya balik.
"Lo sengaja, kan?" Digta mulai menebak-nebak.
"Hah, gimana maksudnya?" Raisa pura-pura tidak mengerti.
"Kalau lo bilang ini kebetulan, ini terlalu aneh," Digta mulai kesal melihat Raisa yang berlaga polos tanpa dosa.
"Kenapa harus aneh? Biasa aja, kok," Raisa mencoba untuk bersikap biasa.
"Pertama, kampus lo jauh. Kedua, nggak mungkin kalau tanpa sengaja lo ngekos di sini. Lo mau apa?" Digta mulai nyerocos.
Raisa menghela napas, kemudian berkata, "Digta, aku tuh ngekos di sini karena deket sama tempat aku kerja."
"Aku nggak ada maksud apa-apa," sambung Raisa lagi menjelaskan.
"Lo kerja?"
"Kosan kan banyak. Kenapa harus di sini?" Digta masih keukeuh mencurigai Raisa.
"Aku pernah ke sini waktu itu sama kamu, Yang aku inget cuma kosan ini. Kebetulan ada yang kosong, ya udah," ungkap Raisa, membuat Digta sedikit terdiam.
"Beneran lo kerja? Nggak bohong?" tanya Digta menatap Raisa penuh curiga.
"Iya, sumpah! Aku kerja di BIP," jawab Raisa.
Kecurigaan Digta tampaknya mulai reda. Dia sudah mulai santai sekarang.
"Eugh, sorry gue udah mikir yang macem-macem soal lo," kata Digta, nada suaranya sudah mulai lembut.
"Iya, nggak apa-apa," sahut Raisa. Dia bisa lega sekarang, Digta udah nggak curiga soal modusnya lagi.
"Dan satu lagi, lo jangan pernah bilang pernah datang ke kampus nyariin gue," kata Digta dengan nada tegas.
"Ok, aku nggak akan bilang siapa-siapa," jawab Raisa.
Mereka terdiam, saling menatap sekarang.
"Ya udah, ngapain masih di sini?" kata Digta heran.
"Iya, tapi..."
"Kenapa? Masih mau deket-deket gue, ya?" celetuk Digta sambil tersenyum tengil ke arah Raisa.
"Bukan, tangan kamu," celetuk Raisa.
"Eugh!" Digta kemudian melihat tangannya masih memegang lengan Raisa. Buru-buru dia melepaskannya. Wajah Digta merona merah sekarang.
"Dih, megang-megang," celetuk Raisa dengan nada bercanda.
Digta tampak kikuk. Dia memilih untuk tak bicara.
"Nanti kita ngobrol lagi, ya. Aku mau pergi kuliah," kata Raisa.
Kemudian, Raisa santai saja keluar dari kamar Digta.
"Arghhh!" Digta berteriak sambil menutup wajah dengan bantal.
Sedang Raisa senyum-senyum sendiri berjalan menuju kamarnya.