novel ini sedang direvisi.
Menceritakan kisah Nana yang tumbuh di tengah keluarga yang berantakan.
Membuatnya hidup tanpa aturan, menjadi gadis yang liar mencari kebahagian.
Namun, suatu hari Nana harus menerima kenyataan bahwa dirinya memiliki Ibu tiri. Siapa sangka Nana yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu, kini mendapatkannya dari wanita simpanan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERASAAN YANG BEGITU DALAM.
Dalam sunyi Amara terdiam memikirkan rindunya yang tak bertuan, saat ini Amara sangat menginginkan berada didekapan Brian, namun Amara sadar akan posisinya yang sebagai orang ketiga.
Amara mengalah untuk kebahagian sepasang suami istri itu, Amara berharap mereka bahagia seperti awal sebelum Amara hadir diantara mereka.
"Hah, gue bodoh, sangat bodoh, sudah jelas mereka bahagia, bahkan mata gue baru aja ngeliat," gumam Amara, air matanya lolos begitu saja membayangkan Brian yang saat ini sedang bersama dengan istri pertamanya.
Amara menyesali perbuatannya yang ingin tahu bagaimana keadaan Brian dan kenyataan pahitlah yang Amara terima.
Amara melihat Brian bersama Melinda, Amara ingin tahu apakah Brian pulang kerumahnya bersama istrinya atau tidak, dan Amara melihat Brian yang menyeret koper dan membawanya masuk kedalam rumah Melinda.
"Itu pilihan tepat mas, karena istri kamu sedang hamil, kamu harus menjaganya," gumam Amara. "Jalan pak," ucap Amara pada bapak sopir taksi.
Amara memejamkan matanya selama perjalanan, begitu pedih hatinya. Dirinya kecewa pada Brian yang tak mengatakan dari awal siapa dirinya.
"Seandainya om jujur sama Mara, mungkin Mara akan menahan rasa ini agar tak tumbuh," gumam Amara.
"Jujur saja, Om begitu memikat hati Mara, sampai Mara tak ingin tau siapa om, yang Mara tau hanya ingin terus bersama om," lirih Amara.
Amara terus merutuki dirinya yang sudah berani mencintai pria beristri, "Dasar bodoh, gue emang bodoh."
"Aaaaaaaaaa," Amara berteriak dalam hati, dan tentu saja itu membuat dirinya semakin merasa sesak dan sakit.
Amara mencoba untuk melupakan Brian, namun semakin mencoba semakin terasa sakit dan menginginkan Brian. Semakin mencoba semua terasa semakin jelas apa yang Amara rasakan untuk Brian.
"Tak'kan sesakit ini kalau gue nggak terlalu cinta, bajingaaaannn," ucap Amara.
"Maaf, saya bukan bajingan non," ucap Sopir taksi tersebut.
Amara menatap tajam pada sopir itu dan ternyata dirinya sudah sampai pada tempat tujuan. Amara membayar sesuai tarif kemudian Amara turun dari taksi tersebut.
Amara membuka pintu gerbang dan ternyata Lian sudah berada didalamnya, Lian membawakan makan malam untuk Amara, Lian membawa satu bungkus nasi padang, setelah Lian memberikannya Lian berniat pergi sebelum diusir oleh Amara.
"Bodoh banget sih gue, udah tau gue bakal diusir tapi masih aja gue perduli sama dia," batin Lian.
Amara menerima dan mengucapkan terimakasih pada Lian. Amara juga meminta Lian untuk masuk kedalam, Lian merasa mendapat angin segar karena dugaannya ternyata salah.
Amara membuka pintu kamarnya dan dibiarkan sedikit terbuka, lalu Amara mencuci tangannya terlebih dulu kemudian duduk dilantai berdua bersama dengan Lian.
Amara membuka bungkus nasi padang tersebut dan mulai menyuapi Lian, Lian sedikit melotot karena benar-benar ini seperti bukan Amara. "Kesambet apa ini bocah," lirih Lian yang menatap Amara.
"Buruan aaaa, kalau nasi ini ada racun atau campe-campenya kan lo duluan yang kena, gue masih sayang sama nyawa gue," ucap Amara.
Mendengar ucapan Amara mampu membuat Lian sedikit melehoy, ternyata Amara berburuk sangka pada Lian. Lian mengunyah makanan tersebut dan menelannya.
"Gue baik-baik aja jadi aman ini nasi, lagian gue nggak percaya sama yang namanya dukun," ucap Lian.
"Hahaa, gue canda aja kali jangan dimasukin hati ya," ucap Amara.
Setelah itu Lian berinisiatif ingin melakukan hal yang sama seperti Amara tetapi Amara menolaknya, Amara menitikkan air matanya membuat Lian merasa bingung.
"Kenapa, nggak enak ya?" tanya Lian.
Amara menggelengkan kepalanya, "Enggak, ini enak kok."
"Gue mau pizza yang toping manisan mangga asli dari bogor," ucap Amara.
Lian melongo mendengar permintaan Amara yang terdengar sangat aneh dipendengerannya. "Mana ada, nggak ada pizza kaya gitu, gue beliin pizza toping daging aja ya," bujuk Lian.
Amara menggelengkan kepalanya, "Itu mah udah biasa, gue mau yang lain dari yang lain."
"Pantesan ini bocah ngijinin gue masuk ternyata punya permintaan yang aneh," batin Lian.
Lian mendapatkan ide untuk pizza toping manisan mangga tersebut, lalu Lian pergi begitu saja membuat Amara merasa bersalah.
"Apa dia ngambek gara-gara pizza?" gumam Amara.
__________________
Brian sedang membuatkan susu hamil untuk Melinda, Brian baru saja mengantarkan Melinda memeriksakan kehamilannya dan Brian percaya apa yang dokter kandungan tersebut katakan bahwa kehamilan dihitung dari terakhir kapan wanita itu menstruasi.
"Tiga minggu, ck" gumam Brian.
Setelah itu Brian mengantarkan susu hamil tersebut dimana Melinda berada.
Melinda sedang menonton televisi, sinteron.
Padahal sudah berulang kali Brian melarang Melinda untuk menonton sinetron karena bagi Brian sinetron sekarang tidak mendidik, banyak alur cerita yang terlalu dipaksakan dan juga berbelit-belit apalagi melihat peran antagonisnya yang selalu menang ditambah lagi masih kecil sudah cinta-cintaan mainnya, lah Brian sendiri tidak sadar bagaimana kisah cinta segitiganya dengan Melinda dan Amara.
Hanya saja Brian belum menyadari betapa liciknya Melinda.
_________________
Tara sedang berdiri dihalte menunggu angkutan umum, bukannya angkutan umum yang datang tetapi sebuah mobil pribadi yang menghampirinya.
Sipemilik mobil tersebut membuka kaca dan meminta Tara untuk masuk, Tara terkejut melihat pria itu, pria yang sepertinya sudah masuk kedalam perangkapnya.
Tara bingung apa yang harus dilakukannya dan Tara mencoba untuk tenang agar otaknya bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Tara menolak dengan lembut agar pria itu semakin penasaran dengan Tara. "Baiklah saya akan memutari jalan ini lagi, apabila belum ada angkot yang datang kamu tidak bisa menolakku," ucapnya.
Tara mengangguk mendengar penuturan pria itu, dan benar saja saat mobil itu kembali Tara masih berada ditempat.
Bukan karna tidak ada angkutan umum tetapi Tara sengaja menunggu pria itu kembali dan benar saja pria itu menepati ucapannya.
Tara tak dapat menolak dan Tara menganggap ini adalah awal agar Tara lebih dekat dengan pria itu.
Kemudian Tara dan pria itu berkenalan, nama pria itu adalah Bima. "Tara," ucap Tara membalas uluran tangan Bima.
Visual Bima.
"Kamu sangat tampan," ucap Tara didalam hayi yang memuji paras Bima.
Bima melihat pada Tara yang masih menatapnya, "Kenapa? Apakah saya terlalu tampan?" ucap Bima dengan percaya diri.
Tara memalingkan wajahnya dan melihat kesebelah kiri jalan, Tara melihat Lian yang sedang membeli aneka manisan bogor.
____________
Lian sudah mendapatkan apa yang diinginkan oleh Amara.
"Sekarang saatnya plating," ucap Lian yang kemudian menyusun manisan mangga tersebut diatas pizza yang masih polos.
Setelahnya Lian membawa pesanan tersebut pada Amara.
Lian membuka pagar dan disana sudah ada pemilik kos, pemilik tersebut melarang seorang pria berkunjung lewat dari jam sebelas malam.
Lian mengangguk mengerti dan kemudian melanjutkan langkahnya kekamar Amara.
Kira-kira Mara bakal senang atau tidak nih dengan pizza toping mangga tersebut.
yuk kita nantikan episode selanjutnya.
Terimakasih sudah membaca dan jangan lupa untuk terus mendukung karya ini yah, happy reading.
soalnya ini kenapa tiba2 si nana meninggal? trus melinda sakit? sama amara berhubungan sma brian? dan brian tiba2 udah cerai sma melinda?
ini apa gue yang ngelengkah2 bacanya apa gimna sii😭
tapi perasaan gue liat ulang kagak salah bacanya🥲