NovelToon NovelToon
Nightshade

Nightshade

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Komedi
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Bisquit D Kairifz

Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.

Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”

Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.


PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Shun

CHAPTER 1

Mentari pagi menyinari desa yang tenang.

Namanya Shunsuke, namun orang-orang lebih akrab memanggilnya Shun. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya di desa yang damai.

"Selamat pagi, Ayah, Ibu," sapa Shun sambil menguap lebar.

"Walah, sudah bangun rupanya, Shun," balas ibunya sambil menutup mulut dengan tangan kiri. "Tumben sekali bangun pagi," imbuhnya sambil tersenyum.

"Hahhh!" Ayah Shun terkejut. "Shun, apa kamu dirasuki sesuatu? Kok bisa bangun pagi begini!"

Seperti inilah suasana di keluarga Shun. Shun sangat bahagia bisa berada di tengah-tengah mereka.

Ayah yang selalu berteriak dan ibu yang selalu lembut.

Selesai sarapan, Shun berencana pergi ke sungai untuk memancing.

Di perjalanan, ia bergumam, "Semoga tangkapan hari ini banyak," sambil melihat ke wadah ikan miliknya.

Burung-burung berkicau menyambut pagi dengan riang. "Hari yang cerah, memang cocok untuk memancing," pikir Shun dalam hati.

Shun tiba di sungai tempat ia biasa memancing.

Saat sampai, ia melihat seorang pria yang tidak asing baginya.

Shun menyapa, "H-halo," ucap Shun sambil mendekati pria itu.

Pria itu menoleh. "Hmm... woah, bukannya itu Shun?"

Ternyata pria itu adalah Paman Jiro.

Jarang sekali Paman Jiro memancing di sungai ini. Shun duduk agak berjauhan dengan Paman Jiro.

Ia memasang umpan di kailnya dan melempar kail itu ke sungai. Sambil menunggu ikan memakan umpan, ia bersiul dengan riang.

"Bagian menunggu dari memancing memang mantap," ucap Shun.

"Iya, kan?" balas Paman Jiro. "Apalagi kalau umpan dimakan, bakalan tambah mantap lagi itu," ia tertawa.

"Hahaha," Shun ikut tertawa.

Tidak lama kemudian, kail Shun disantap oleh ikan.

Setelah itu, kail Paman Jiro juga disantap ikan.

Mereka berdua berjuang menarik pancing secara bersamaan.

Dan berhasil mendapatkan ikan yang cukup besar.

"Wahh, besar! Pantas saja sulit menariknya," gumam Shun.

Shun menoleh ke arah Paman Jiro. "Woahh... Paman dapat ikan besar juga."

"Ya iyalah... Paman gitu lohh," jawab Paman Jiro dengan bangga.

Shun menaruh ikannya ke wadah tempat ikan dan mengisi sedikit air agar ikan tetap hidup.

Setelah itu, Paman Jiro mengeluarkan kotak makanan dan mengajak Shun untuk makan bersama sambil memancing.

"Nahh, Shun, makanlah yang banyak. Bantu Paman menghabiskan ini," kata Paman Jiro.

"Baiklah kalau begitu," jawab Shun sambil mengambil makanan.

Berjam-jam sudah berlalu.

Hari sudah siang.

Shun dan Paman Jiro bersiap untuk pulang.

"Ayo, Paman," ucap Shun setelah selesai bersiap. "Woahh, tangkapan hari ini banyak juga," Shun menatap wadah ikan miliknya dengan gembira.

"Hahahaha... Syukurlah dapat banyak," balas Paman Jiro.

Ternyata, Paman Jiro pindah tempat memancing karena tempatnya yang dulu sulit untuk mendapatkan ikan. Dan karena melihat Shun selalu membawa ikan yang lumayan banyak saat pulang, ia memutuskan untuk ikut memancing di tempat Shun.

Saat perjalanan pulang, Paman Jiro berkata, "Shun... Kau tahu tidak, kalau pancing kita selimuti dengan Ten, bakalan mudah loh dapat ikannya," ucap Paman Jiro sambil menatap Shun.

"Ten? Apa itu, Paman?" tanya Shun dengan bingung.

"Eeehh... Kau tidak tahu, ya?" Paman Jiro berhenti berjalan. "Ten itu semacam kekuatan supranatural."

"Hahh..." Shun tidak percaya. "Itu hanya cerita anak kecil, Paman. Apa Paman percaya sama cerita anak-anak?" Shun lanjut berjalan.

"Hehh, kalau tidak percaya ya sudah," balas Paman Jiro.

Sesampainya di rumah, Shun membuka pintu dan berkata, "Aku pulang."

"Selamat datang, Shun," ucap ibunya dari dapur. "Bu, aku dapat banyak tangkapan, bahkan ada yang besar, loh," ucap Shun dengan wajah bangga.

"Wah, wah, anak Ibu hebat," balas ibunya sambil tersenyum. "Kita masak apa, ya?"

Saat melihat sekeliling, Shun tidak melihat ayahnya. "Ayah di mana, Bu?" tanya Shun.

"Ayahmu lagi pergi ke kota," jawab ibunya sambil menatap langit-langit. "Katanya mau beli bibit baru."

"Ohh, begitu," balas Shun.

Ayahnya adalah seorang petani desa biasa.

Kadang-kadang, ia pergi ke kota untuk membeli bibit.

Shun pergi ke tengah desa untuk bersantai.

Di sana, ia melihat seorang perempuan yang sedang duduk.

Perempuan itu adalah Sayu.

Perempuan yang diam-diam disukai oleh Shun.

Shun menyapa, "Selamat siang, Sayu."

"Selamat siang juga, Shun," balas Sayu sambil tersenyum ke arah Shun.

"Imutttt sekaliiii," ucap Shun dalam hati.

Mereka mengobrol biasa sambil menatap warga desa yang berlalu lalang.

Sampai Sayu berkata, "Hei, Shun, kau tahu tidak?" Ia menatap mata Shun. "Berita hari ini katanya ada monster yang menyerang desa kecil."

"M-monster?" Shun sedikit terkejut.

Monster memang ada sekarang, tapi monster yang menyerang desa kecil itu baru Shun dengar.

"Bukankah monster biasanya menyerang perkotaan, ya?" ucap Shun.

"Iya," balas Sayu. "Menurutmu aneh tidak?"

Ya, ini aneh. Karena monster tidak tertarik dengan pedesaan, apalagi desa kecil yang hanya memiliki sedikit manusia.

Monster biasanya menyerang perkotaan atau tempat yang ramai manusia karena monster suka memakan manusia.

Hari sudah mulai sore.

Mengobrol dengan Sayu membuat Shun tidak pernah bosan.

Hari ini juga ia tidak bosan.

Mereka berdua pulang ke rumah masing-masing karena hari sudah sore.

Sesampainya di rumah, ayahnya sudah pulang dan ibunya baru saja selesai memasak.

Shun, ayah, dan ibu makan bersama di meja makan.

Hari-hari damai ini tidak akan pernah Shun lupakan.

Namun, Shun tidak tahu bahwa sesuatu yang tidak ia inginkan mulai mendekat.

1
Panda
kak itu ngasih tag komedi bikin sendiri?
boyy
semngatt thorr,gw lagi nabung crta lu,poko ny ku lnjutt truss smpe nanti crta lu rmee,jngn ptah smngattt torr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!