'Betapa kejamnya dunia pada seorang wanita yang belum bergelar ibu.'
Zahra sudah menikah dengan Aditya selama tiga tahun. Namun masih belum dipercaya memiliki seorang anak.
Meskipun belum juga hamil, tapi Zahra bersyukur Aditya dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu. Zahra merasa hidupnya sempurna dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi takdir berkata lain, suatu hari ia mengetahui bahwa Aditya akan menikah dengan Nadia, teman masa kecil Aditya karena Nadia hamil.
Rasa marah dan kecewa melebur jadi satu dalam hati Zahra. Ia mulai mempertanyakan keadilan dunia.
Mampukah Zahra mengobati hatinya dan menata lagi hidupnya atau ia tetap menggenggam cinta yang menyakitkan tersebut ?
..
Hay readers kesayangan Author, Author kembali lagi nih dengan tema berbeda dari novel sebelumnya. Terus kasih dukungan buat Author ya. Silahkan dikoreksi jika ada salah.
Mohon bacanya tidak di skip-skip ya. Makasih 🙏🫶🤩
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghadapi
Zahra bersiap-siap dengan setelan kantornya berwarna cokelat muda yang baru dia beli tadi malam dengan Zafirah. Ia mengenakan hijab dengan warna yang sama.
Seperti kemarin, ia menyapa security kemudian bertanya dimana arah HRD. Lalu ia diarahkan dan masuk sendirian.
Zahra keluar dari ruangan HRD bersama dengan wanita paruh baya untuk mengantar nya menuju ruangannya. Setelah sebelumnya memberitahukan apa saja pekerjaan nya dan berapa jumlah gaji yang akan diterimanya.
"Baiklah, Zahra selamat bergabung di perusahaan. Saya berharap kamu tidak mengecewakan karena Tuan Zafran sendiri yang memilih kamu," kata wanita ber name tag Ratih S.
"Baik, Bu Ratih. Terima kasih. Saya akan mengusahakan yang terbaik," kata Zahra. Senyum tidak hilang dari wajahnya. Ia berharap dengan kembali bekerja bisa menghilangkan rasa sakit karena perceraian yang setiap saat selalu membayangi nya.
Bu Ratih meninggalkan Zahra di ruangannya sendiri. Zahra mulai mempelajari berkas-berkas penting yang menjadi pekerjaan nya kemudian menyalakan laptop. Ia tenggelam dalam fokus nya hingga tidak menyadari Zafran sejak tadi memperhatikannya dari kaca yang tidak tertutup.
"Semoga kamu betah bekerja disini. Jika Elio rewel aku bisa membawanya padamu. Maaf jika terkesan memperalat mu. Tapi aku pastikan kamu mendapatkan bonus yang sepadan," gumam Zafran kemudian melanjutkan langkahnya.
Zahra menoleh kesana-kemari. Ia merasa seperti ada yang memperhatikannya. Namun ia hanya sendiri di ruangan ini. Ia melihat keluar kearah dinding kaca pun tidak nampak orang yang melihat kearahnya.
"Mungkin penghuni nya ingin mengajakku kenalan," gumam Zahra merasa merinding lalu membaca doa dan melanjutkan pekerjaannya.
..
Zahra menjalani hari yang baik di kantor. Saat jam istirahat ia berkenalan dengan beberapa orang dan semuanya menyukai Zahra. Ia juga diajak makan bersama di kantin.
Hingga akhirnya jam kerja sudah usai dan ia hendak pulang. Cuaca sedikit mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
Zahra memutuskan pergi ke mini market yang searah dengan jalan pulang nya. Tidak disangka disana ia melihat Aditya dan Nadia yang berbelanja bersama.
Zahra mencoba menguatkan hatinya. Ia sudah terlihat oleh kedua orang tersebut. Tidak mungkin ia menghindar. Jadi ia melanjutkan langkahnya mengambil beberapa camilan untuk dibawa pulang.
"Zahra, apa kabar ?" Nadia mendekat kearah Zahra dan menyapanya. Ia mengelus perutnya yang sudah membesar seolah memperlihatkan pada Zahra inilah buah cintanya dan Aditya.
Zahra menekan rasa sakit yang menusuk hatinya. Ia merasa rendah di hadapan wanita hamil tersebut. Tapi kemudian ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Apa yang perlu di banggakan dari hasil perzinahan.
Zahra berbalik menatap Nadia dengan wajahnya yang dibuat setenang mungkin.
"Seperti yang kamu lihat. Kamu bisa menilainya sendiri," balas Zahra dengan menampilkan senyum kecil diujung bibirnya.
Nadia tertawa tanpa suara. Tawa yang lebih mirip dengan hinaan. Dan Zahra bisa melihatnya.
"Jangan berpura-pura tegar, Zahra. Menangis lah kalau kamu memang mau menangis. Aku tau rasanya tidak mudah melepaskan laki-laki yang kita cintai untuk perempuan lain. Tapi aku bukanlah perempuan lain dalam hidup Aditya. Kamu yang hadir di tengah-tengah kami. Dan aku sangat berterima kasih karena kamu bersedia mengembalikan nya kepadaku," kata Nadia dengan senyuman yang memuakkan bagi Zahra.
Nadia pun menggapai tangan Zahra namun dengan cepat Zahra menepisnya. Entah mengapa Zahra merasa jijik pada Nadia. Yang di hadapannya mungkin sosok Nadia yang sebenarnya. Bukan yang memakai topeng penuh kelembutan seperti selama ini.
"Kamu bahagia ?" tanya Zahra tersenyum.
"Tentu saja," balas Nadia mantap.
"Semoga Aditya menikahi mu karena benar-benar mencintaimu. Bukan karena anak ini. Sebab kalau tidak, kamu pasti akan merasakan kehilangan yang lebih menyakitkan dari pada apa yang aku rasakan," kata Zahra dengan tatapan tajam tepat menghujam jantung Nadia.
Nadia membulatkan matanya. Ia merasa terprovokasi dengan ucapan Zahra. Hatinya mulai resah bagaimana jika nanti Aditya membuangnya. Karena ia tahu kalau Aditya tidak pernah mencintainya sampai sekarang.
"Aku tidak mendoakan hal buruk untuk kamu. Tapi hukum tabur tuai itu selalu ada," kata Zahra tersenyum penuh kemenangan saat melihat Nadia terdiam oleh kata-katanya.
Mata Nadia menangkap sosok Aditya yang mendekat kearah mereka. Ia ingin melihat siapa kiranya yang lebih dipilih antara ia dan Zahra.
Tidak di duga Nadia membenturkan dirinya sendiri ke rak minuman bertepatan dengan Aditya yang sampai di depan mereka.
"Zahra, aku tau kamu marah sama aku dan tidak bisa menerima pernikahan ku dengan Mas Aditya. Tapi seharusnya kamu tidak mendorong ku seperti itu. Aku sedang hamil dan bayi ini tidak berdosa," ucap Nadia mulai menangis seolah-olah tadi Zahra yang mendorongnya.
Zahra masih diam. Mengamati apa yang akan terjadi. Cara klasik seperti ini sudah sering ia lihat di acara televisi. Tidak di duga sekarang ia mengalami nya sendiri. Zahra jadi penasaran bagaimana respon Aditya jadi ia memutuskan diam saja dan melipat kedua tangannya di depan dada. Meletakkan keranjangnya yang terisi sebagian.
"Hati-hati lah Nadia. Sudah tau sedang hamil jangan mencari masalah apalagi dengan Zahra," kata Aditya membantu Nadia berdiri tegak. Wajah Nadia merah padam merasa malu. Bukannya membelanya dan memarahi Zahra malah ia yang mendapatkan omelan dari Aditya dan itu tepat di hadapan Zahra.
Zahra menahan tawanya, hatinya tergelitik. Apa ini yang dinamakan senjata makan tuan ?
"Zahra, kamu baik-baik saja kan ? maafkan Nadia kalau dia mengganggu kamu ya," ujar Aditya setelah memastikan Nadia berdiri sempurna.
"Iya aku memaafkan dia. Tapi kalau lain kali mengganggu ku maka aku akan mendorong nya betulan," kata Zahra kemudian mengambil keranjang belanjanya yang terletak di lantai.
Ia mengambil beberapa minuman dingin di show case kemudian pergi menuju kasir.
"Kamu bilang apa sama Zahra ? aku peringatkan kamu jangan sekali-kali mengganggu Zahra. Apa kamu tidak merasa bersalah sudah menghancurkan dia ?" kata Aditya penuh kemarahan. Tapi ia berusaha menekannya sebab berada di tempat umum.
"Kenapa kamu menyalahkan aku ? tadi aku hanya menyapanya," bela Nadia.
"Lain kali tidak usah sok baik menyapa nya. Menjauh lah dan mengertilah kalau Zahra tidak mau melihat kita terutama kamu," sentak Aditya. Ia merasa geram Nadia selalu membalas ucapannya.
Aditya meninggalkan Nadia dan keluar dari minimarket saat melihat Zahra keluar.
"Zahra, aku minta maaf kalau kamu terganggu dengan Nadia tadi," kata Aditya dengan senyum manisnya.
"Bukan cuma Nadia. Kehadiran kamu juga mengganggu ku sekarang," balas Zahra menatap Aditya dengan enggan.
Bukannya marah, Aditya justru tersenyum. Ia bersyukur Zahra masih mau membalas ucapannya.
"Zahra, kalau kita sudah tidak menjadi suami istri setidaknya kita bisa menjadi saudara atau sahabat kan ?" tanya Aditya penuh harap.
Mendengar itu rasanya Zahra ingin muntah. Di pandangi nya wajah Aditya yang sudah berkurang kadar ketampanannya di mata Zahra.
"Maaf, aku tidak berminat menjalin hubungan apapun dengan kamu, Mas. Tidak ada hal yang mengharuskan kita bersaudara atau bersahabat. Jadi sekarang kamu masuk dan temani istri kamu sebelum dia terbakar karena cemburu," balas Zahra kemudian berlari kecil masuk ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil ia memegang dadanya dan mengeluarkan air mata. Ia yakin sudah bisa mengikhlaskan Aditya. Namun terkadang rasa perih masih begitu terasa.
...
penasaran siapa itu.. smngt up ny Thor
sempet kirain genre BL novelnya gegara cover ternyata bukan hehehe
Semangat thor 💪