Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Pesta di Atas Reruntuhan
Sekte Giok yang biasanya agung kini berubah menjadi neraka di atas bumi. Suara dentingan pedang dan ledakan Qi bergema di setiap sudut paviliun. Faksi Pemimpin Sekte, Boqin Ming, terlibat pertempuran terbuka dengan faksi Dewan Tetua yang dipimpin oleh Tetua Agung. Mereka saling membantai, membakar bangunan yang telah berdiri selama ratusan tahun, hanya demi sebuah kehormatan yang sebenarnya telah dirancang untuk hancur.
Di tengah hujan api dan teriakan kematian, sosok Boqin Tianzun bergerak seperti hantu. Ia tidak memihak siapa pun. Baginya, baik ayahnya maupun para tetua adalah sekumpulan serangga yang sedang berebut bangkai.
Targetnya hanya satu: Gudang Pusaka Langit.
Penjagaan di Gudang Pusaka sudah sangat longgar; sebagian besar penjaga telah ditarik untuk membantu perang di garis depan. Boqin Tianzun membunuh sisa penjaga yang ada dalam hitungan detik—cepat, sunyi, dan tanpa belas kasihan.
Ia menendang pintu perunggu gudang tersebut hingga jebol. Di dalamnya, tumpukan Batu Qi tingkat tinggi, botol-botol pil langka, artefak kuno, dan senjata-senjata pusaka berpendar memenuhi ruangan.
"Semua ini akan menjadi fondasi masa depanku." gumam Boqin.
Ia mengangkat tangannya yang mengenakan Cincin Penyimpanan—sebuah artefak ruang yang ia curi dari Boqin Han sebelumnya. Dengan satu sapuan mental yang kuat, ia menyedot seluruh isi gudang tersebut.
Wuuush!
Gunung-gunung Batu Qi, gulungan teknik rahasia, hingga Pedang Pemecah Jiwa yang legendaris masuk ke dalam cincinnya. Hanya dalam beberapa menit, gudang yang merupakan jantung kekayaan Sekte Giok itu menjadi kosong melompong, hanya menyisakan debu.
Setelah menjarah semua yang ia butuhkan, Boqin segera melesat menuju paviliun tempat Sua Mei berada. Ia menemukan gadis itu sedang duduk dengan cemas di pojok ruangan, gemetar mendengar suara ledakan di luar.
"Boqin!" Sua Mei langsung memeluknya erat saat melihat pemuda itu datang.
"Waktunya pergi, Mei. Tempat ini sudah tidak layak untukmu." ucap Boqin lembut. Ia membungkus tubuh Sua Mei dengan jubah sutra tahan api, lalu menggendongnya di punggungnya.
Ia tidak keluar melalui gerbang utama. Ia menggunakan jalur rahasia di bawah tebing yang hanya ia ketahui setelah bertahun-tahun melakukan observasi diam-diam. Dengan kecepatan penuh, ia meninggalkan batas wilayah sekte, menjauh dari kobaran api yang kian membesar.
Tiga kilometer dari Sekte Giok, di atas sebuah tebing tinggi yang tersembunyi oleh kabut, Boqin Tianzun menurunkan Sua Mei dengan hati-hati. Ia menyiapkan tempat duduk yang nyaman untuknya di bawah pohon rindang.
"Tunggulah di sini sebentar, Mei. Aku hanya ingin melihat akhir dari sebuah sandiwara." ucapnya.
Boqin berdiri di tepi tebing, menatap ke arah lembah di mana Sekte Giok sedang membara. Dari kejauhan, ia bisa melihat ayahnya, Boqin Ming, sedang berduel maut dengan Tetua Agung. Cahaya kekuatan mereka menerangi langit malam, namun bagi Boqin, itu hanyalah kembang api perayaan atas kebebasannya.
Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah apel, lalu menggigitnya dengan tenang sambil menonton rumah masa kecilnya hancur berkeping-keping.
"Lihatlah, Ayah," batin Boqin sambil mengunyah perlahan "Kau ingin aku menjadi pionmu? Kau ingin aku menjadi senjatamu? Sekarang, lihatlah bagaimana senjatamu ini baru saja mematahkan tangan yang mencoba memegangnya."
Sekte Giok tidak akan pernah pulih dari hari ini. Jika pun ada yang selamat, mereka akan terbangun tanpa sumber daya, tanpa pusaka, dan tanpa masa depan. Boqin Tianzun telah mengambil segalanya—harta, martabat, dan harapan mereka.