(Sedang Tahap Revisi)
Terkadang Cinta itu bisa merubah segalanya, Keras nya batu akan melunak.
Terpaan dingin akan menghangat.
Ketika kita bertemu dengannya.
Seperti Aku melihat wajahnya saat hari pertama sekolah, Aku-lah Gilang Sanjaya berharap mewujudkan cinta kepada dia Anindya.
Halangan dan Rintangan akan daku hadapi untuk menikahi dia, ketika waktu itu telah tiba.
☪. Cerita Cinta Remaja bernuansa Islami
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Ridho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membagikan Makanan
꧁☆☬Salam Santuy☬☆꧂
▶Jangan lupa like dan comment nya guys◀
...
KEESOKKAN harinya sebelum di mulai kelas, seluruh ketua kelas—termasuk aku—dan wakil mengambil termos dan kotak sumbangan di ruangan OSIS. Ketika sudah sampai di kelas, ketua kelas akan memberikan informasi kepada seluruh siswa-siswi untuk mengikuti gerakan ini. Saat jam istirahat, terlihat tidak ada lagi siswa-siswi membuang makanan ke tempat sampah. Sangat banyak rupanya nasi yang tidak di makan, di masukan kedalam termos, jika di perkirakan cukup untuk 5 bungkus.
"Akhirnya ide lu berjalan juga, Lang," ucap Andi tersenyum.
"Alhamdulillah, kalau aku hitung-hitung jika setiap kelas mendapatkan 5 bungkus nasi. Bisa dapat 60 bungkus ini tiap hari."
"Gile ... berarti tiap hari banyak makanan terbuang sia-sia ya." Irwan menggelengkan kepalanya, pertanda dia sangat tidak percaya akan kenyataan ini.
"Dah ah, gua mau antar ini termos nasi. Dew, yok ke ruangan OSIS," ajak aku.
"Capcus, Lang," jawabnya centil.
...
Sesampainya di ruangan OSIS, sudah banyak berkumpul ketua dan wakil kelas. Ada sekitar 16 termos nasi, 2 di antaranya terdapat di ruangan guru. Semua orang sibuk memindahkan nasi itu ke dalam tempat yang lebih besar, dan bendahara OSIS sibuk menghitung jumlah uang sedekah itu. Setelah di hitung semuanya, bendahara OSIS berkata, "Uang terkumpul sebanyak 1 juta rupiah."
Seketika semua orang yang berada di ruangan ini berdecak kagum, dalam satu hari saja uang sedekah sudah terkumpul sebanyak itu.
"Kalau seperti ini kemajuannya, uang sedekah itu bisa kita sumbangkan ke pada anak yatim, kaum dhuafa dan masjid serta langgar," cetus Pak Guru agama.
"Iya ini, Pak. nanti bisa ini setiap bungkusan nasi dan lauk itu, kita selipkan uang 10 ribu," jawab bendahara OSIS.
"Untuk nasinya, hari ini kita mendapatkan berapa bungkus?" tanya ketua OSIS.
"Ada 70 bungkus, Kak."
"Kalau gitu, sisihkan uang 700 ribu dan 300 ribunya kita belanjakan makanan. Nanti kalian—seluruh ketua, wakil kelas dan beberapa anggota OSIS— bantu untuk memasak lauknya ya, setelah pulang sekolah langsung ke aula," ucap ketua OSIS.
"Baik, Kak."
"Dan untuk bendahara OSIS, kamu tolong jam 1 nanti beli semua bahan mentahnya."
"Kita masak apa?" tanyanya.
"Masak yang sederhana aja, lauk T4K—singkatan dari tempe, tahu, teri, toge, dan kacang—saja."
"Dengan uang 300 ribu, itu sangat-sangat cukup, malah lebih uangnya pasti. Usahakan hanya 200 ribu saja, sisanya 100 untuk di tabung untuk bagian mendesak," ucap Pak Guru.
"Mendesak? maksudnya, Pak?" tanyaku heran.
"Gilang, hari-hari ini kan banyak kejadian kecelakaan. Baik bencana alam ataupun kecelakaan lalu lintas, nah uang nya itu untuk membantu mereka. Ketika ada kejadian, kita langsung cepat tanggap membantu mereka."
"Oh ... saya sangat setuju, Pak," ucapku mengangguk.
"Oke kalian boleh kembali ke kelas masing-masing, nanti jangan lupa pulang sekolah langsung ke aula," ujar ketua OSIS.
"Baik, Kak," ucap kami serempak.
...
Jam sekolah telah usai, sebelum ke aula, aku memberitahukan kepada Anin. Hari ini tidak bisa mengantarkan dia pulang karena harus bantu masak-masak, ternyata Anin malah ingin ikut bantu.
"Yakin, kamu mau ikut bantu?" tanyaku.
"Iya ... Anin ikut pokoknya," ucapnya.
"Kasih tahu dahulu Ummi sama Abi, biar gak khawatir mereka."
"Iya." Anin mengirim pesan singkat kepada Abi dan Umminya.
"Ya udah yok, udah di tungguin ni dengan yang lain," ajak Dewi yang sedari tadi menunggu.
Setibanya di sana, semuanya telah berkumpul, ada 40 anggota. Ketua OSIS membagikan menjadi 3 kelompok.
"Kelompok pertama di bagian membersihkan dan memotong-motong bahan makanan. Kelompok kedua memasak, dan kelompok ketiga di bagian membungkus."
Aku masuk kedalam bagian memasak, sedangkan Anin di bagian membersihkan dan memotong bahan makanan, sedangkan Dewi di kelompok membungkus. Walau terbagi-bagi, tapi semuanya saling membantu agar semuanya selesai dalam waktu 1 jam.
Ketika sedang asik menggoreng tahu dan tempe, aku melihat Anin yang sedang ngobrol dengan salah satu kakak kelas yang menjadi anggota OSIS. Terlihat di wajah kakak kelas itu mencerminkan seseorang pria yang sedang bertemu dengan wanita idaman. Terlihat dia selalu mencoba membuat Anin tersenyum dan tertawa karena ulah lucunya.
Hati ini merasa dongkol dan cemburu karena melihat itu semua.
'Anindya itu punyaku, jangan coba-coba mengganggu hubungan ini," gumam aku kesal.
Karena memikirkan itu, membuat aku hampir meng-gosongkan tahu yang sedang di masak.
"Lang, lu masak jangan bengong. Ntar mubazir itu makanan," tegur salah satu dari anggota OSIS.
"I--ya, maaf, Kak."
Akhirnya sesuai target yang di tentukan, semua lauk sudah di masak dengan sempurna, walau lauk sederhana, namun mempunyai cita rasa yang akan menggugah rasa. Saatnya untuk membagikan bungkusan nasi ini kepada orang yang membutuhkan.
"Teruntuk teman-teman, jika kalian ada waktu luang. Mohon bantuannya untuk ikut dalam membagikan makanan ini, jika ada yang tidak bisa. Di perbolehkan juga untuk tidak ikut."
"Iya, Kak," ucap kami semua.
Setelah sibuk diskusi dan menentukan letak pembagian, dari 40 anggota yang ada, hanya 20 orang saja yang bisa ikut bantu membagikan.
"Kita bagi menjadi kelompok kecil ya teman-teman, agar semuanya cepat selesai. Ingat ya, nasi ini kita berikan kepada orang yang paling membutuhkan. Jangan salah pilih, lihat juga rumah mereka, jika sangat membuat hati pilu, kasih ke mereka dan masukan kedalam list jatah harian, agar tiap hari kita bisa memberikan makanan."
"Siap, Kak," ucap kami semua.
"Oh ya, ntar jangan lupa dokumentasi untuk bahan laporan ke kepala sekolah."
Semua orang semangat untuk segera membagikan makanan ini, karena kami terbayang sebuah senyuman bahagia dari orang yang sangat membutuhkan. Aku dan Anin membawa 8 bungkus untuk di bagikan.
Dalam perjalanan aku bertanya, "Yang tadi itu siapa?"
"Yang mana?" jawabnya.
"Itu yang ngobrol dengan kamu, ketika membersihkan bahan makanan."
"Emang kenapa?" tanyanya yang membuat aku sedikit kesal.
"Entah!" jawabku jutek.
"Ih marah-marah dianya, cie cemburu cie ...," ledek Anin mencuil lenganku.
"Iya aku cemburu!" jawab aku judes.
"Kenapa cemburu?"
"Ya ... ya karena aku sayang, aku cinta,aku gak mau lelaki lain mendekati kamu,Nin."
"Terus ... kenapa Anin harus mengikuti kemauan kamu?"
"eh ...," jawab aku bingung.
"Kita kan gak ada hubungan apapun, Anin sayang juga kok sama Alang. Tapi Anin gak bisa menuruti kemauan kamu, karena kita belum terikat."
"Ya udah kita ikat sekarang," ucapku.
"Hahaha, kalau mau ikat. Tunggu kita udah lulus nanti, dan sudah berumur di atas 20 tahun."
"Kenapa gak sekarang?" tanyaku.
"Udah ah, besok aja kita bahas. Ini makanan ntar gak jadi kita antarnya, karena bahasa ini."
"Janji, besok bahas ini lagi," tanyaku.
"Iya janji kok, Gilang Sanjaya."
Aku memberhentikan laju motor ke tepi dan berkata, "Janji jari kelingking," ucapku menyodorkan jari kelingking.
"Iya iya, nih janji jari kelingking."
Setelah selesai, kami berdua melanjutkan perjalanan untuk membagikan makanan ini.
🌸
🌸
🌸
JANGAN LUPA LIKE DAN COMMENT 💞
🌸꧁☆☬Salam Santuy☬☆꧂🌸
😁😁
#FWC#
#FWC#
#FWC#
#FWC#
#FWC#
#FWC#
😀😀😀
#FWC#
😁😁😁
#FWC#