Ditinggalkan tepat dihari pernikahan membuat Elisabeth hidup tak tentu arah. Ia akhirnya bertemu dengan sosok pria tampan yang baik hati. Si pria muslim pengidap anhedonia. Menikah? Kenapa tidak? Toh kami sama sama tak bisa memiliki cinta. Apa bedanya menjadi teman seumur hidup, dalam bingkai sebuah rumah tangga?
Tapi saat benih cinta mulai tumbuh. Bagaimana seorang Elis akan mencintai si anhedonia sedangkan si anhedonia terus tersiksa karena cinta nya terhadap Elis. Berhasil kah mereka? Yuk baca kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IAAM-024
Khafi terbangun pukul tiga dini hari akibat separuh kakinya terjuntai ke atas lantai, sedangkan kepalanya tidak lagi bersandar pada lengan sofa.
“Ahh,” ia segera duduk kemudian membaca doa bangun tidur. “Alhamdulillahilladzii akhyaana ba'da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur,” ucapnya pelan.
Ia berdiri sejenak menatap wanita yang tengah terlelap. Seluruh badannya berada dalam selimut terkecuali kepala. Ia pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya kemudian melakukan tahajud.
Khafi duduk pada sofa merah menghadap ke arah Elis. Wanita itu tidur begitu pulas. Wajahnya begitu polos tanpa dosa, tanpa sadar ia mendekati gadis itu kemudian menyingkap anak rambut yang menutupi sebagian dahinya.
Jika diperhatikan sedekat ini kamu terlihat sangat cantik. Mantan kekasihmu itu pasti menyesal telah melepaskan mu..
Khafi menatap lekat wajah polos Elis saat itu.
Deg
Khafi menarik pandangannya dari wajah Elis. Seketika ia menjadi kegerahan, panik. Detak jantung nya berdetak cepat.
“Remote AC, kenapa ruangan bisa sepanas ini?” gumamnya sambil memencet tombol remot yang sudah mentok di angka 16 derajat celcius.
Ia pun turun ke ruangan bawah untuk mengambil segelas air putih.
“Khafi?” Panggil Saodah.
“Bibi, sudah bangun?” Sambil mengisi gelasnya dengan air.
“Bibi baru akan membangunkan kalian, terlebih Elis. Dia masih harus sering sering berjemaah agar solatnya semakin baik.”
“Bibi, mulai sekarang biar Khafi yang bangunin Elis. Bibi nggak usah repot repot lagi kan ada Khafi, biar Khafi yang menjadi mentor sekaligus guru baginya.” ujarnya sembari meneguk segelas air putih ditangannya.
“Benarkah? Baiklah bibi bisa lega sekarang,”
Anak ini, padahal ia sendiri masih sering telat bangun subuh. Jika nggak dibangunin aa nggak solat subuh. Batin Saodah. Ia menatap pria manja kekanakan kini sudah dewasa. Tentu saja ia sendirilah yang harus membantu istrinya agar tetap istiqomah.
“Khafi naik dulu bi.” Khafi pun meninggalkan Saodah yang mulai sibuk dengan kesibukannya didapur.
“Nur, Nur,” ucapnya begitu masuk ke dalam kamar.
“Nur, bangun. Kita akan ke masjid.” Khafi melirik sejenak ke arah Elis, ngoroknya terdengar semakin menjadi.
“Kalau kamu nggak bangun terpaksa aku,” Khafi mulai menepuk pundak dan mengguncang badan Elis yang masih berada dalam selimut.
“Hmmmm,” gumam Elis yang sudah mulai sedikit sadar.
“Kita akan ke masjid, ayo bangun,” ucap Khafi lagi.
Elis langsung mengambil posisi duduk, walau pun matanya masih tertutup Elis berusaha untuk bangikit dari tidurnya.
“Kamu mau kemana?”
“Kamar mandi.”
“Kamar mandi disebelah sana,” Khafi mengarahkan Elis ke arah yang benar.
Khafi pun menunggu wanita linglung itu didepan pintu.
Beberapa saat Elis keluar dengan mata yang masih terpaksa dibukanya. Wajahnya telah dibasuh dengan air agar mengurangi rasa kantuk.
Dan dengan penuh percaya diri Elis melenggang hanya dengan baju kaos tipis yang hanya menutupi bagian atas badannya menyiratkan ce1an* da1*m hitam dari balik baju itu.
“Kita akan ke masjid sekarang?” ucap Elis berjalan menuju sofa dan hendak duduk.
Khafi memalingkan wajahnya celingak celinguk ke arah dinding sebelah kiri. Ia tak berani lagi menatap ke arah Elis.
“Kamu kenapa?” tanya Elis heran masih dalam keadaan berdiri menampakkan paha jenjangnya. Pemandangan yang tak pernah disaksikan Khafi secara langsung. Selain dari buku buku atau majalah yang tak sengaja dilihatnya.
Masih tanya kenapa? Apa dia sengaja berpakaian seperti itu?
“Apa kamu akan ke masjid dengan pakaian itu?” ucap Khafi.
Mata Elis melotot, ia baru sadar ternyata ia tengah mengenakan pakaian minim yang hanya menutupi hingga ke bagian ce1an* da1*m nya.
Ssseeettt. Secepat kilat Elis melompat ke atas ranjang dan kembali masuk ke dalam selimut.
“Katamu dalam lemari ada pakaian ku? Tapi isi lemariku hanya ada baju kantor dan..” ia membayangkan beberapa lingrie sexy transparan dari teh Amel. “Masa Iya aku tidur pakai kemeja kantor?” Dengan mimik cemberut.
Khafi mendekat ke arah ranjang.
“Kamu ngapain kesini?” Elis makin membenamkan diri dalam selimut menutupi seluruh tubuhnya menampakkan sedikit rasa takut.
“Hah, jadi kita harus ngobrol sambil teriak teriak? Lagian aku bukan monster,” ucap Khafi lemah sembari duduk di atas sofa merah.
“Aku hanya butuh baju, bukankah sebentar lagi adzan?” Suara Elis melemah.
“Gimana kalau sementara pakai celana boxerku? Setelah wudhu kamu langsung pakai mukena jadi pakaian didalam nggak dilihat orang. Lagian kamu itu istriku, nggak ada yang melarang kamu memakai bajuku.” Ujar Khafi lembut.
“Mau?” lanjut Khafi.
Elis mengangguk.
Khafi mengambil celana yang pinggang nya berbahan karet dari dalam lemari.
“Ini, buruan dipakai. Atau kita akan telat tiba di masjid,” sambil menyerahkan celana ke tangan Elis.
“Balik badan,” ucap Elis.
Dari dalam selimut Elis mengenakan boxer yang diberikan Khafi.
“Sudah,” Elis sudah berdiri dibelakang Khafi dengan celana selutut milik Khafi.
“Ya, itu lumayan. Ayo ambil mukena kamu. Aku tunggu dibawah. Wudhu dulu baru kita ke masjid.”
Khafi terlebih dahulu keluar dari kamar menuju ruang wudhu dekat ruang mushola.
Ia terlebih dahulu berwudhu. Beberapa saat Elis sudah berdiri dibelaknganya.
“Sudah bisa sendiri?” tanya Khafi lembut.
“Ya sepertinya bisa.” Elis meletakkan mukenanya diatas meja disudut ruangan.
“Nawaitul whudu-a lirof’il hadatsii ashghori fardhon lillaahi ta’aalaa” Khafi membacakan niat wudhu untuk Elis.
Elis mengikuti ucapan niat Wudhu Khafi dalam hati kemudian mulai membasuh kedua telapak tangan, kumur, mencuci hidung, membasuh wajah, membasuh lengan hingga ke siku, membasuh kepala, telinga, kemudian telapak kaki. Semua ia lakukan sebanyak tiga kali.
Khafi masih berdiri memantaunya dari belakang.
“Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalahu. Wa asyhadu anna Muhammadan’abduhu wa rasuuluhu Allahumma-j alnii minattabinna waj alnii minal mutathohiirina waj alnii min ‘ibadatishalihin.”
Elis perlahan mengikuti ucapan khafi.
Setelah mengenakan mukenanya, Khafi dan Elis berjalan bareng menuju masjid.
Sesuai peraturan didalam pesantren. Setiap orang wajib solat di masjid. Jika tak sempat karena kesibukan maka bisa dilakukan sendiri diruangan masing masing.
Dalam perjalanan wajah Elis tersenyum senyum sendiri. Ia sedikit merasa lucu. Saat ini ia sedang mengenakan kaos serta boxer kelonggaran milik Khafi.
“Kamu kenapa?” tanya Khafi setelah melirik senyuman diwajah istrinya.
“Haha,” suara tawa Elis pun pecah. “Nggak ada yang akan sadar kalau saat ini aku sedang mengenakan pakaian longgaran ini,” ujarnya kemudian sedikit menahan tawanya.
Khafi tersenyum. Pertama kali ia mendengar tawa renyah Elis. Masalah kecil di subuh hari bisa membuatnya tertawa seperti itu.
“Nanti sore sepulang kantor temani aku belanja. Aku akan memebeli beberapa pakaian,” ucap Elis.
“Baiklah. Tapi jika kamu suka pakaian seprti ini, kamu bisa pakai pakaian apapun yang ada dalam lemari Khafi.” ucap Khafi.
“Ya baiklah,” ucap Elis. Senyuman ketulusan terpancar dari wajahnya.
Tanpa sadar, beberapa puluh meter di belakang Khafi dan Elis. Seorang wanita tengah iri akan senyum dan tawa Elis saat itu. Ia terus menatap tingkah Khafi dan Elis dari belakang.
Apa bagusnya Elis? Jika yang seperti itu saja bisa menarik perhatian Khafi. Berarti aku masih memiliki kesempatan, aku akan merebutnya. Khafi hanya boleh menjadi milikku.
Begitu Memasuki teras masjid.
“Assalamualaikum.” sapa seorang wanita dari arah belakang.
“Waalaikumsalam.” Elis dan Khafi langsung membalikkan badannya.
“Ariqah,” ayuk masuk.
“Nur, nanti jangan langsung pulang dulu ya.” ucap Khafi dengan suara besar. Suara adzan mulai berkumandang. Mereka pun bergegas masuk ke dalam ruangan masjid.
*Next **🔜*
g ky khafi...
bkn nya g boleh y mengucapkan salam kpd non muslim 🙏
klo hanya dr pakaian kan,blm bs mnntukan seseorang itu muslim atau tidak🙏
pi bngung cz da yg menyangkut agama, dri awal dgreja trus da rang azan n dia nyebut allah, agama si cewek sbnernya apa?
saran j.. jka begronny brat y brat n pergaulan bbasny j jngn bwa2 agama🙏🙏🙏
saya baca sambil belajar logat batak lho kak😁😁