NovelToon NovelToon
IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romantis / Ibu susu / Ibu Pengganti / Duda / Romansa
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.

Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.

Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.

“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Fadli alias Zavier

Di dalam kelas yang mulai riuh, Maya tetap pada dunianya sendiri. Ia duduk tenang di bangkunya yang terletak di sudut depan dekat jendela, posisi favoritnya karena ia bisa melihat langit sesekali. Dengan gerakan teratur, ia mengeluarkan buku Biologi dan menyusunnya di atas meja, bersiap untuk pelajaran pertama pagi ini.

Di barisan belakang, Agung duduk dengan posisi menyamping, matanya tak lepas memperhatikan setiap gerak-gerik Maya yang tampak begitu tenang, seolah masalah tadi pagi tidak pernah terjadi.

Tiba-tiba, suasana kelas berubah heboh. Suara teriakan tertahan dan sorakan nyaring dari murid-murid perempuan memenuhi ruangan.

“Fadli! Fadli, kenapa kamu di sini?” seru beberapa siswi dengan nada antusias.

Seorang pria masuk dengan langkah penuh percaya diri. Postur tubuhnya atletis dan terlihat sangat maskulin di balik seragam sekolah yang ia kenakan dengan gaya santai namun tetap rapi.

Pria itu adalah Zavier yang menyamar sebagai Fadli, sang fotografer andalan sekolah yang pesonanya selalu berhasil meluluhkan hati banyak siswi. Ia hanya melambai singkat, memberikan senyuman genit dengan mata yang sedikit menyipit, sebuah tatapan yang membuat banyak orang di kelas itu menahan napas.

Namun, tujuan Zavier bukan untuk tebar pesona pada mereka. langkahnya yang mantap berhenti tepat di samping meja Maya. Tanpa sepatah kata pun, ia meletakkan selembar foto fisik yang masih terasa baru di atas meja Maya.

Di foto itu, Maya tertangkap kamera secara candid saat baru turun dari mobil tadi pagi. Ia sedang menyelipkan beberapa helai rambut sutranya ke balik telinga, sementara sinar matahari pagi menerpa wajahnya yang jernih, memberikan kesan hangat dan anggun yang tak tersentuh.

Zavier membungkuk sedikit, suaranya terdengar berat dan lembut di dekat Maya. “Ada keindahan yang tidak perlu bersuara untuk diakui, cukup seperti bunga teratai di tengah telaga yang keruh, tetap murni meski dunia di sekitarnya mencoba mengotori.”

Setelah memberikan kiasan yang begitu dalam, Zavier hanya mengedipkan sebelah mata lalu berbalik, berjalan santai keluar kelas menuju kelasnya yang berada tepat di seberang lorong.

Maya mengambil foto itu dengan ujung jarinya. Ia memandangi bayangan dirinya sendiri di dalam gambar tersebut, lalu sebuah senyum tulus merekah di bibirnya.

“Aku tidak tahu kalau di sekolah ini ada murid yang memiliki hobi memotret begini,” gumamnya dalam hati, merasa sedikit tersentuh karena ternyata masih ada mata yang memandangnya dengan keindahan di tengah segala fitnah.

*****

Suasana di kamar mandi wanita lantai dua benar-benar riuh dengan keluhan yang memekakkan telinga. Aroma karbol yang menyengat bercampur dengan bau tak sedap membuat Azuza dan kawan-kawannya nyaris muntah.

“Iyuh, bau banget!” teriak Azuza sambil menggosok lantai wc dengan sekuat tenaga, wajahnya merah padam menahan napas.

“Jijik! Kenapa toilet wanita sejorok ini sih?!” Heina ikut berteriak, ia menatap ngeri pada genangan air di pojok ruangan sementara tangannya memegang sikat dengan ujung jari.

Dina berdiri di depan cermin besar, menyemprotkan cairan pembersih dengan kasar. Wajahnya ditekuk seribu bahasa, sementara tangannya bergerak malas mengelap kaca yang buram.

Di depan pintu toilet, Siska berdiri tegak dengan tangan bersedekap di dada. Rambutnya yang tertata rapid an ekspresi wajahnya yang dingin membuatnya tampak seperti algojo yang siap mengeksekusi tawanan.

Mendengar rengekkan manja itu, Siska menghantamkan penggaris besi yang ia bawa ke kusen pintu. BRAKK!

“Jangan banyak berteriak! Cepat kerjakan hukuman kalian sebelum aku tambah untuk membersihkan toilet pria!” teriak Siska kencang, suaranya menggema di ruangan lembap itu.

“TIDAK! Jangan, Bu! Kami segera bersihkan!” sahut Azuza, Heina, Fransiska, dan Mayorita serempak. Mereka langsung membungkuk dalam-dalam, mempercepat sikatannya hingga busa sabun berserakan ke mana-mana.

Hanya Dina yang masih berdecak kesal, mengelap cermin dengan tatapan penuh kebencian.

“Dina! Kau betul-betul tidak takut, ya?” tegur Siska, matanya menyipit menatap Dina melalui pantulan cermin. “Ingat, siapa pun yang berani merundung teman sekolah di yayasan ini, kalian harus siap menerima hukuman yang kejam!”

Siska tersenyum puas, matanya berapi-api melihat gadis-gadis sombong itu kini harus berlutut di lantai kamar mandi yang kotor.

Di balik wajahnya yang tertunduk, Dina meremas kain lap di tangannya hingga buku jarinya memutih. Matanya berkilat penuh dengan dendam saat melihat bayangan dirinya sendiri di cermin yang mulai bersih.

“Siapa sih sebenarnya gadis miskin ini? Kenapa semua orang melindunginya? Awas saja nanti, aku akan memberinya pelajaran yang jauh lebih menyakitkan dari sekadar menyikat wc,” batin Dina penuh amarah.

****

Di kelas XI-B, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan kegaduhan di toilet wanita. Di barisan belakang, pria yang dikenal murid-murid sebagai Fadli, identitas aslinya adalah Zavier. Zavier duduk dengan gaya sangat santai. Tubuhnya yang atletis bersandar di kursi, sementara kakinya yang panjang ia selonjorkan ke atas meja.

Satu tangannya dengan lincah memainkan ponsel, jarinya mengetik pesan singkat untuk Arkan.

📨“Ternyata benar, gadis milikmu itu satu sekolah denganku. Aku tadi sudah menemuinya, wajahnya cukup lugu dan tenang. Pantas saja dia gampang dipermainkan.”

Tak butuh waktu lama, ponsel di tangannya bergetar hebat. Sebuah balasan masuk dengan nada yang sangat posesif dan mengancam.

📩“Jangan coba-coba melakukan hal gila padanya. Aku hanya menyuruhmu untuk membalaskan dendam kepada keluarganya. Fokus pada tugasmu!”

Zavier menyeringai tipis, memperlihatkan aura predator yang tersembunyi di balik wajah tampannya.

📨“Oke, oke. Aku akan membalaskannya, tapi setelah misiku selesai. Kebetulan target incaranku satu kelas dengan gadis mudamu itu.”

📩“Terserah, yang jelas jangan sentuh dia.”

Zavier hanya membalas dengan emoji jempol, lalu ia mematikan layar ponselnya. Ia memutar-mutar gawai itu di antara jemarinya yang panjang. Pikirannya melayang pada sosok Maya yang baru saja ia abadikan dalam lensa kameranya tadi pagi.

“Maya, wajah imut, lugu, polos, dan lemah,” gumam Zavier pelan. Ia mengelus dagunya yang mulus, sementara matanya menatap kosong ke arah jendela kelas. “Gadis itu benar-benar seperti boneka usang yang hidup.”

Tiba—tiba, sebuah pikiran nakal sekaligus berbahaya melintas di benaknya. Seulas senyum misterius muncul di wajahnya yang macho.

“Hem, apa perlu aku merebutnya dari Arkan? Kebetulan, aku sedang merasa hampa akhir-akhir ini. Akan sangat menarik melihat ekspresi dokter kaku itu jika miliknya berpindah tangan.”

*****

Di bawah rindangnya pohon mangga yang berbuah lebat di halaman belakang rumahnya, Arkan duduk bersandar di kursi malas. Sinar matahari pagi yang hangat menerpa wajahnya, namun tak mampu mencairkan tatapan matanya yang beku.

Di pangkuannya, Leon sedang asyik meremas-remas plastik kresek, tertawa kecil setiap kali benda itu mengeluarkan bunyi gemerisik.

Arkan menatap bola mata Leon yang hitam dan bening, begitu mirip dengan mata Maya. Namun, pikirannya terbang kembali ke pertemuan gelapnya dengan Zavier semalam di sebuah tempat karoke mewah.

***

Di dalam ruangan VIP yang remang-remang dan berbau alkohol, Arkan yang tampak kusut menyerahkan map berisi data-data ibu tiri dan mantan suami Maya. Zavier, yang saat itu sedang bersantai setelah menghabisi lawannya, menyambar kertas itu sambil menenggak minuman keras.

“Bang*sat!” Zavier menyemburkan minuman mahalnya ke lantai. Matanya yang tajam memindai baris demi baris penderitaan Maya. “Kenapa ada manusia sekejam ini? Itulah sebabnya aku benci berurusan dengan yang namanya keluarga dekat.”

Zavier membanting kertas itu ke meja kaca. “Sebelum aku melakukan tugasku, aku ingin bertemu langsung dengan klienku yang jadi korban. Aku harus melihat wajahnya, agar aku tahu sejauh mana aku harus menghancurkan mereka sebagai pembalasan.”

“Namanya Maya. Dia sekolah di Yayasan Vanya,” jawab Arkan dingin. “Aku dengar dari Gvain, kau juga punya misi gila di sana.”

“Akh! Gavin si mulut ember itu lagi-lagi tahu segalanya tentangku,” gerutu Zavier sambil menyeringai liar.

Arkan berdiri, merapikan kemejanya yang kusut. “Besok kau pasti berjumpa dengannya. Ingat, jangan pernah menyentuhnya.” Arkan kemudian melangkah keluar, sementara anak buah Zavier membukakan pintu untuknya.

****

Kembali di bawah pohon mangga.

Arkan mengusap rambut halus Leon. Mencoba tersenyum dan bermain kepada putranya.

...❌ Bersambung ❌...

1
sari. trg
setajam apa?
Manyo
iya dek
Manyo
Yang sabar ya, Pak dokter
Manyo
O mak. Tajam kali
Manyo
karena kau bodoh
sari. trg: Antara bodoh dan bucin
total 1 replies
Manyo
Di bab ini, aku terharu.
sari. trg: Terima kasih sudah terbawa suasana
total 1 replies
Manyo
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Manyo
Hanya nikah siri. Kalau nikah siri berarti Maya tidak harus m3makai surat cerai
Manyo
Iya, suaminya yang tak berguna.
Manyo
Kerja kau. Buat malu kaum lakik aja.
Manyo
Baru baca sampek bab 3. Tpi emosinya sampai ke ubun-ubun
Manyo
Keputusan yang bagus
Manyo
Akhirnya dia mau terlepas dari suaminya
Manyo
Sudah tau suami dan mertuanya kayak gitu, tapi kenapa bertahan. Ini perempuan bodoh kurasa. Udah dihamili, disuruh banting tulang sampek keguguran. Iiiiih gerem kali aku
Manyo
Ternyata suaminya berbohong. Bjir, demi duit segitu
Manyo
Ketika takdir dipertemukan dengan cara yg unik.
Manyo
Traumanya dalam
Manyo
pingin kucabaein.
Manyo
Taeee...aku kira beneran sedih karena istrinya keguguran
Evi Lusiana
zavier terlalu sadis thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!