Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emotional Task
Bagi Sena, bekerja di klinik hewan adalah pilihan terbaik untuk membunuh waktu. Namun, tidak hari ini. Sejak beberapa hari sebelumnya ketika Miran memberitahunya tentang janji temu untuk melakukan eutanasia (prosedur suntik mati untuk hewan yang dinilai sudah tidak berdaya), Sena merasa takut.
Dia pernah menyaksikan bagaimana hal itu dilakukan, bagaimana prosesnya dari awal sampai akhir. Tapi, Miran bilang kali ini Sena lah yang harus melakukannya. Sejujurnya Sena belum siap. Dia tidak pernah berpikir untuk menyuntik mati seekor hewan peliharaan dalam waktu dekat. Fakta bahwa itu adalah anjing tua yang sudah tidak berdaya juga sama sekali tidak membantu meringankan beban di hati Sena, karena pada dasarnya dia memang tidak pernah tega melakukannya.
Memikirkan hal itu sepanjang waktu, ketika sudah waktunya ia berangkat ke klinik, Sena pergi dengan hati yang terasa berat. Sena tahu tugas kali ini tetap harus dilakukan, demi meningkatkan kemampuan sekaligus mengasah keterampilannya untuk dealing dengan beragam emosi terkait kasus-kasus semacam ini. Meski begitu, ada sebagain dari diri Sena yang ingin putar balik seiring semakin dekat langkahnya tertuju ke klinik. Dia sudah setengah perjalanan, dan Sena memutuskan berhenti sejenak. Demi menenangkan diri dan menguatkan mental. Barulah dia menyelesaikan sisa perjalanan.
Miran menyapanya dari meja resepsionis, berhenti sejenak dari kegiatannya menuliskan sesuatu di buku catatan. Ponsel menempel di telinga kanannya, ditinggalkan sejenak demi menaruh perhatian pada Sena sebelum sang gadis berlalu dan dia kembali melanjutkan percakapan dengan seseorang di sambungan telepon.
Sena masuk ke dalam ruangan khusus staf, melepaskan coat yang dikenakan, menggantungnya di tempat yang sudah disediakan, lalu beralih membuat kopi dan dibawanya ke meja kerja. Dia duduk di kursinya, menyibukkan diri dengan segala pekerjaan administratif sambil menunggu Miran datang padanya dan membagikan agenda hari ini.
Pintu ruangan terbuka, Miran datang membawa clipboard dan menarik kursi di depan Sena, duduk di hadapannya.
"Selamat sore, Sayang."
"Selamat sore, Miran." Sena tersenyum lembut, mengalihkan perhatian pada wanita itu sepenuhnya.
Miran meletakkan clipboard di atas meja, memandang Sena lekat. Ia tahu gadis muda di depannya ini sedang merasa galau karena harus melakukan sesuatu yang melukai sisi kemanusiaannya. Miran juga merasakan hal yang sama dulu, di awal-awal kariernya sebagai dokter hewan. Dan seiring waktu, ia mulai sedikit terbiasa.
Memandang Sena kini, membuat Miran teringat pada dirinya sendiri. Gadis itu seperti cermin yang menampakkan refleksi dirinya. Dia teringat pada dirinya yang muda, yang baru terjun ke bidang ini dan memiliki banyak sekali kegalauan yang sama. Dia selalu berat mengantarkan para hewan pergi ke surga, mengambil hidup mereka sebagai opsi terbaik. Dia juga sedih saat mendengar tangisan para pemilik yang meratapi kepergian hewan kesayangannya, meski segala prosedur dilakukan oleh persetujuan mereka.
Untuk beberapa lama, keduanya duduk diam di dalam ruangan. Sama-sama berusaha menenangkan pikiran dan menyiapkan mental. Dalam hening itu, Sena mulai menyusun serangkaian adegan di kepalanya. Semuanya terkait prosedur eutanasia yang akan dilakukannya hari ini. Prosesnya tidak sebegitu rumit, namun Sena ingin memastikan dia melakukannya dengan baik dan profesional. Daripada prosedurnya sendiri, Sena sebetulnya lebih ingin bersiap untuk menampilkan reaksinya setelah prosedurnya selesai. Tentu saja dia tidak bisa tiba-tiba ikut menitikkan air mata, apalagi sampai menangis meraung-raung meratapi kepergian sang hewan.
Sena meyakinkan diri untuk tenang dan percaya diri, karena pada dasarnya dia sudah menguasai segala materi. Sebagai pendukung, dia mengajak Miran bicara tentang hal lain selain prosedur eutanasia itu. Hal tersebut akan membantu pikirannya terdistraksi, mengurangi kecemasan dan membuat fokusnya tertuju hanya ke depan.
Sampai ketika jadwalnya tiba, Sena pergi ke bagian depan klinik, menyambut sepasang suami istri yang datang membawa anjing mereka yang meringkuk dalam gendongan sang suami. Ia membawa pasangan itu ke ruangan lain, tempat ia akan melakukan prosedur eutanasia untuk anjing manis berjenis kelamin laki-laki itu.
"Hai, Leo." Sena menyapa si anjing Beagle yang direbahkan di atas ranjang. Anjing itu menyambut sapaannya dengan menggerakkan telinga.
Sebelum benar-benar memulai, Sena memberikan waktu bagi pasangan tadi untuk menikmati momen-momen terakhir bersama Leo. Menepi sejenak, menelan perasaan sedihnya sendiri, dan bersikeras untuk tetap bersikap profesional.
Selagi Leo dan tuannya berinteraksi untuk terakhir kali, Sena pergi ke meja yang dipenuhi berbagai peralatan medis. Dengan cermat dan hati-hati, dia memasukkan cairan obat ke dalam jarum suntik, mengarahkannya ke atas untuk tahu sudahkah ia memasukkan dosis yang tepat. Kemudian, dia berbalik, memandang pasangan suami istri tadi.
"Anestesinya sudah siap. Setelah ini disuntikkan, Leo akan tertidur untuk waktu yang sangat lama, sehingga dia tidak akan merasakan sakit dari suntikan setelahnya. Saya akan menyuntikkan obat yang nantinya membuat jantungnya berhenti berdetak dan membawanya beristirahat dalam damai." Sena menjelaskan dengan lembut. "Silakan nikmati waktu bersama kalian, lalu beritahu saya saat sudah siap."
Pasangan tadi mengangguk dan kembali pada Leo. Keduanya membungkuk, membuat wajah mereka sejajar dengan Leo selagi keduanya bicara dengan suara yang lembut. Air mata sang istri mulai menetes, sedangkan sang suami hanya bisa terdiam memperhatikan di sampingnya. Dia menunduk, menarik napas dalam-dalam demi mengendalikan emosi. Tapi saat kepalanya terangkat kembali dan tatapannya bertemu dengan tatapan Leo, air matanya meluncur bebas tanpa bisa ditahan.
Sena menghela napas berat dan membalikkan badan. Hatinya terlalu sakit kalau harus menyaksikan adegan perpisahan itu lebih lama.
"Anda bisa melakukannya sekarang, Nona." Sang suami berbicara dengan suara yang bergetar.
Sena membalikkan badannya lagi dan mengangguk. Dengan lembut, dia menyentuh kaki depan Leo, kemudian menusukkan jarum suntik ke sana dan memasukkan cairan di dalamnya tepat ke aliran darah si manis. Sebelum menyuntikkan obat yang akan mengakhiri hidup Leo, Sena menjeda sejenak. Untuk sekadar menunggu sampai pasangan suami istri itu memberinya instruksi.
"Silakan. Dia sudah lama menderita, sudah waktunya Leo beristirahat sekarang," kata sang istri dengan suara parau.
Sena menyuntikkan obat, memastikan semuanya masuk ke tubuh Leo, lalu segera pergi setelah membereskan peralatan. Dia berikan ruang kepada pasangan suami istri tadi untuk berbicara lagi pada Leo.
"Kami menyayangimu, Leo. Kau bisa tidur nyenyak sekarang," bisik sang suami.
Sang istri mulai menyanyikan lagu nina-bobo, bersama sang suami mengusap lembut tubuh Leo. Walaupun ini adalah momen yang menyedihkan, Sena merasakan hatinya penuh. Sangat terasa betapa pasangan ini menyayangi Leo.
Setelah beberapa lama, Sena mendekat lagi untuk melakukan pengecekan terkahir. Dia mengeluarkan stetoskop, memeriksa detak jantung Leo.
"Dia sudah pergi," katanya.
Pasangan tadi saling pandang untuk saling menguatkan. Sena menarik kotak tisu, menyerahkannya kepada mereka untuk mengusap air mata yang masih terus mengalir. Mereka menerimanya, membungkuk dan berterima kasih.
"Terima kasih, Nona." Mereka berucap hampir bersamaan.
"Karena kalian memilih untuk melakukan pemakaman sendiri, saya persilakan untuk membawa Leo pulang," kata Sena.
Pasangan tadi mengangguk, segera menempatkan tubuh Leo ke dalam dog carrier. Mereka mengucapkan terima kasih sekali lagi, kemudian pergi membawa Leo untuk mengantarkannya ke peristirahatan terakhir.
Setelah pasangan tadi pergi, Sena melepaskan masker dan mengusap wajahnya kasar. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu jatuh terduduk di kursi. Ia berniat duduk diam di sana lebih lama. Sekadar mengembalikan pikiran warasnya setelah melakukan prosedur yang merenggut satu nyawa.
Namun, momen jedanya itu mendapatkan interupsi saat Miran membuka pintu ruangan dan bertanya, "Bagaimana?"
Sena menatap Miran sejenak, lalu mengangguk. "Berjalan lancar," jawabnya.
Setelah merespons singkat, kepala Sena tertunduk. Miran memahami bagaimana perasaannya. Proses eutanasia berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, tapi dampak emosionalnya tentu cukup melelahkan dan bisa bertahan dalam waktu yang lama.
"Sayang, aku tahu kau seharusnya ada di sini sampai jam 6, tapi kau boleh pergi sekarang. Aku tahu ini berat untukmu. Lagipula, kita tidak terlalu sibuk hari ini. Pulanglah, gunakan waktumu untuk menenangkan diri," ujar Miran.
Sena mengangkat kepalanya, menatap bosnya intens. "Boleh begitu?"
"Tentu saja. Sampai bertemu lagi hari Jumat. Istirahatlah sekarang, Sena." Miran tersenyum hangat.
Sena menundukkan kepala hormat. "Terima kasih," katanya.
Miran menepuk punggungnya dan berlalu. Sena bangkit, pergi ke ruang staf dan membereskan barang-barangnya untuk segera pulang. Ia pamit pada staf lain di sana, kemudian melenggang keluar dengan langkah terburu.
...****************...
Hari ini, Hana tidak ada di unit. Gadis itu sedang ada di perpustakaan, sehingga saat Sena sampai di rumah, ia hanya menemukan Nan dan Mala.
"Tolong jangan tinggalkan aku dalam waktu dekat, ya," katanya, seraya mengusap lembut bulu-bulu halus Nan, lalu mengecup kepalanya penuh sayang.
Hati Sena masih terasa berat. Jadi setelah memeluk Nan sebentar, dia pergi ke dapur untuk membuat teh. Di meja makan, dia duduk lebih lama, berusaha menjernihkan kembali pikirannya yang kini dipenuhi memori tentang perpisahan Leo dengan tuannya.
Lagu nina-bobo yang dinyanyikan untuk Leo terngiang keras di telinganya. Sena mengalihkan perhatiannya, pada Nan yang rebah nyaman di atas sofa. Matanya memanas. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya saat suatu hari nanti, dia harus membiarkan Nan pergi. Akan sekosong dan serapuh apa hidupnya, tanpa anak-anak yang sayang dia sayangi ini?
Suara notifikasi dari ponselnya lantas menarik kesadarannya kembali. Sena mengerjap beberapa kali, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku coat.
Andy
Hai, sedang apa?
Sena mengetikan balasan cepat. Baru pulang dari klinik. Kau sendiri?
Andy
Sedang istirahat sebentar, sebelum lanjut latihan lagi
Bagaimana harimu?
Sena
Buruk
Andy
Kenapa???
Sena
Aku harus mengakhiri hidup seekor anjing
Ini adalah kali pertamaku
Andy
Oh nooo
I'm so sorry
Are you okay?
Sena
Entahlah
Andy
Baiklah, tunggu sebentar
Layar ponselnya menyala hanya sesaat setelah balasan terakhir Andy masuk. Rupanya, pria itu beralih meneleponnya. Sena menerima panggilan itu tanpa pikir panjang.
"Hai," sapa Andy.
"Hai," Sena menyapa balik, sedikit terkejut karena tidak mengira Andy akan menelepon. "Kenapa menelepon?"
"Hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja," kata Andy. "Itu pasti berat untukmu."
Sena mengembuskan napas berat dan memainkan sendok-sendok dalam wadah di depannya. "Ya...."
"Haruskah aku ke sana?"
Sena mengulum senyum, dan menggeleng. "Tidak usah. Kau kan sedang latihan. Aku baik-baik saja."
"Kau yakin?"
"Iya, Andy." Dari caranya mengucapkan nama Andy yang terkesan bermanja, Sena mendengar si empunya nama tertawa di seberang telepon.
"Baiklah kalau begitu. Tolong peluk Nan mewakili aku, ya?"
"Iya. Semoga latihanmu berjalan lancar, dan jangan lupa makan yang benar."
"Iya." Andy meniru ucapannya. "Oh, omong-omong, bisakah kita bertemu sebelum kami berangkat?"
Dengan semua emosi yang melingkupinya hari ini, Sena hampir lupa bahwa besok malam Elements akan meninggalkan Seoul untuk memulai tur konser. Sena memikirkan ulang jadwalnya besok dari pagi sampai petang, mencari waktu yang pas untuk bertandang ke asrama.
"Aku bisa mampir besok pagi."
"Bagus. Sampai ketemu besok!"
"Ya. Bye!"
"Bye, Lara!"
Setelah telepon dimatikan, Sena tersenyum lega. Ia bersyukur suara Andy cukup membantu meringankan beban di dadanya, membuat lebam di hatinya sedikit berkurang dan perasaannya berangsur membaik.
Bersambung....