Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.
Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.
Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KABUT DI KOTA ROMANTIS.
Udara musim dingin di Paris terasa menggigit tulang, namun tak sedingin hampa yang dirasakan Aurel saat menyusuri tepian Sungai Seine. Menara Eiffel berdiri megah di kejauhan, tapi bagi Aurel, monumen itu hanya pengingat betapa kecilnya ia di tengah dunia yang luas. Ia sengaja mematikan ponselnya, memutus akses dari Adam yang ia tahu pasti sedang mencari keberadaannya.
"Adelia? Benar ini kamu?"
Sebuah suara bariton yang sangat familiar menghentikan langkah Aurel di dekat Jembatan Pont des Arts. Aurel menoleh dan terpaku. Di hadapannya berdiri seorang pria dengan mantel cokelat panjang, wajahnya yang matang memancarkan aura wibawa yang setara dengannya.
"Bastian? Bastian Buana?" gumam Aurel tak percaya.
Bastian tersenyum, senyum yang dulu pernah mengisi hari-hari Aurel saat mereka masih menempuh studi bisnis di London. "Dunia ini benar-benar sempit. Apa yang dilakukan CEO AA Cosmetic sendirian di Paris?"
Aurel mencoba menarik napas, mencari sedikit kenyamanan pada sosok yang seumuran dengannya ini. "Hanya... perjalanan dinas. Mencari inspirasi."
Mencari Kenyamanan yang Hilang
Bastian mengajak Aurel duduk di sebuah kafe pinggir jalan yang hangat. Mereka berbincang tentang masa lalu, tentang teman-teman lama, dan tentang bagaimana mereka membangun karier masing-masing. Bersama Bastian, Aurel merasa 'normal'. Tidak ada tatapan aneh, tidak ada ejekan "tante-tante", karena mereka berada di level usia yang sama.
"Kamu terlihat lebih cantik dengan hijab itu, Adel. Tapi matamu tidak bisa berbohong. Kamu sedang lari dari sesuatu?" tanya Bastian sambil menyesap kopinya.
Aurel menunduk, mengaduk gulanya dengan gerakan mekanis. "Aku hanya merasa lelah, Bastian. Terkadang aku merasa tidak sanggup menanggung ekspektasi dunia."
Bastian mengulurkan tangan, nyaris menyentuh jemari Aurel namun ia urungkan. "Kamu selalu menjadi wanita yang hebat di mataku. Jika saja dulu kita tidak egois dengan karier masing-masing, mungkin sekarang kita sudah membangun kerajaan bersama."
Aurel merasakan desiran aneh. Ada bagian dari dirinya yang ingin bersandar pada kenyamanan masa lalu ini. Namun, anehnya, setiap kali ia menatap Bastian, bayangan wajah Adam yang sedang mengimami sholat subuh justru muncul menginterupsi pikirannya. Hatinya bukannya tenang, malah semakin gusar.
Kesalahpahaman di Place de la Concorde
Sore harinya, Bastian menemani Aurel berjalan menuju Place de la Concorde. Saat mereka sedang asyik berbincang, seekor burung merpati terbang rendah dan tak sengaja menjatuhkan kotoran tepat di atas hijab biru milik Aurel.
"Oh, astaga! Hijabmu terkena kotoran, Adel," seru Bastian cemas.
Aurel panik, mencoba mengusapnya namun malah memperlebar noda. "Duh, bagaimana ini? Aku tidak bawa tisu basah."
"Tenanglah, biarkan aku bantu," ucap Bastian. Ia segera mengambil sapu tangan sutranya, melangkah mendekat hingga jarak mereka sangat rapat. Tangan Bastian memegang sisi kepala Aurel dengan lembut untuk menstabilkan posisinya sementara ia dengan telaten membersihkan noda di kain hijab tersebut.
Aurel hanya diam terpaku, sedikit merasa tidak nyaman dengan kedekatan itu, namun ia butuh bantuan.
Namun, di sudut lapangan, seorang pria dengan jaket kulit hitam baru saja turun dari taksi. Dia adalah Adam Ashraf. Ia telah melacak lokasi Aurel melalui bantuan tim IT-nya dan langsung menyusul dengan penerbangan pertama. Jantungnya berdegup kencang karena rindu, namun pemandangan di depannya membuat jantung itu seolah berhenti berdetak.
Adam melihat istrinya, wanita yang ia jaga kehormatannya bahkan saat ia memiliki hak, kini sedang disentuh kepalanya oleh pria asing yang terlihat sebaya dengannya.
"Adelia!"
Suara itu menggelegar di tengah keramaian Place de la Concorde. Aurel tersentak dan mendorong pelan dada Bastian. Ia menoleh dan mendapati Adam berdiri dengan wajah pucat dan mata yang menyiratkan luka yang sangat dalam.
"Adam? Kamu... kenapa ada di sini?" tanya Aurel terbata-bata.
Adam berjalan mendekat, langkahnya gontai seolah kakinya tak bertulang. Ia mengabaikan kehadiran Bastian dan menatap langsung ke mata Aurel. "Jadi ini alasanmu pergi? Dinas? Atau mencari kenyamanan dari pria yang 'seumuran' denganmu?"
"Bukan begitu, Adam! Tadi ada kotoran burung di hijabku, dan dia hanya membantu..."
"Membantu?" Adam tertawa miris, matanya mulai memerah. "Aku bahkan takut menyentuh kepalamu karena aku sangat menghormatimu, Adel. Aku tidur di lantai hanya agar kamu merasa aman. Tapi di sini, di kota ini, kamu membiarkan pria lain melakukan apa yang bahkan aku tidak berani melakukannya?"
Bastian mencoba menengahi. "Hei, anak muda. Kamu siapa? Jangan kasar pada Adelia."
Adam menoleh ke arah Bastian dengan tatapan tajam yang membuat Bastian mundur selangkah. "Aku suaminya. Pria yang kamu anggap 'anak muda' ini adalah imamnya. Sekarang, pergilah sebelum aku kehilangan kesabaranku!"
Patahnya Sebuah Kepercayaan
Aurel mencoba meraih tangan Adam, namun Adam menepisnya dengan kasar. Ini adalah pertama kalinya Adam bersikap kasar pada Aurel.
"Adam, tolong dengarkan penjelasanku. Bastian hanya teman lama..."
"Teman lama yang membuatmu merasa tidak malu? Teman lama yang membuatmu merasa sepadan?" potong Adam dengan suara bergetar. "Aku menyusulmu ke sini karena aku khawatir kamu tidak bisa tidur, karena aku takut kamu kedinginan sendirian. Tapi ternyata aku salah. Kamu justru menemukan 'penghangat' yang lebih cocok untuk usiamu."
"Adam, jangan bicara begitu! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya!" isak Aurel.
Adam mundur beberapa langkah, menatap menara Eiffel yang mulai menyala di kegelapan malam. "Mungkin benar kata teman-temanku di Surabaya. Mungkin aku memang terlalu muda untuk memahami duniamu yang rumit. Mungkin aku memang hanya beban bagimu."
"Tidak, Adam! Bukan itu maksudku!"
Adam menggeleng lemah. "Aku datang ke sini untuk menjemputmu pulang, tapi sepertinya kamu sudah menemukan jalan pulangmu sendiri. Silakan, Adel. Lanjutkan harimu dengan pria yang membuatmu tidak perlu merasa 'tua'. Aku pamit."
Adam berbalik dan berjalan cepat menghilang di tengah kerumunan turis, meninggalkan Aurel yang jatuh terduduk di atas dinginnya aspal Paris. Tangisnya pecah di bawah langit kota yang seharusnya romantis, namun kini terasa seperti neraka. Ia menyadari bahwa pelariannya kali ini telah menghancurkan satu hal yang paling berharga: kepercayaan tulus dari pria yang sangat mencintainya.