Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.
Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.
"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."
River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diplomasi Sambal dan Bisikan Panas
River menggeram frustrasi, tangannya masih memegang stang motor Ninja H2-nya yang menderu rendah seperti binatang buas yang tidak sabar.
Ia menoleh ke belakang, menatap Every yang masih berdiri mematung sambil memegangi helm cadangan seolah itu adalah bom aktif.
"Naik, Every! Kita nggak punya waktu semalaman cuma buat nunggu lo bengong!" bentak River, suaranya teredam di balik helm full-face nya yang gelap.
Every tidak bergerak. Wajahnya memerah, bukan karena malu, tapi karena dongkol yang sudah sampai ke ubun-ubun. "Lo bisa sabar dikit nggak?! Gue lagi mikir!"
"Mikir apa lagi? Tinggal naik, duduk, pegangan. Apa yang susah buat otak jenius lo itu?" River mematikan mesin motornya dengan sentakan kasar, lalu membuka visor helmnya. Matanya menatap Every dengan tajam. "Cepetan! Anak-anak udah pada liatin!"
Every menghentakkan kakinya ke aspal, matanya mulai berkaca-kaca karena emosi yang meluap. "Gimana gue bisa naik motor lo yang gede dan tinggi kayak raksasa begini, hah?! Gue nggak pernah naik motor seumur hidup gue, River Armani! Gue nggak tahu caranya!"
River tertegun sejenak. "Lo... apa?"
"Gue nggak tahu cara pake helm ini! Gue nggak tahu kaki mana yang harus naik duluan! Dan lo malah teriak-teriak kayak orang kesurupan!" Every melemparkan helm itu ke dada River dengan kesal. "Puas lo?! Sekarang ketawain gue! Bilang kalau Ketua BEM lo ini manja dan nggak becus!"
Suasana di lapangan mendadak sunyi.
Beberapa anggota geng motor yang tadinya mau menyoraki Every langsung membuang muka, tidak berani tertawa melihat Every yang meski terlihat kalut, tetap berdiri dengan dagu terangkat tinggi.
River menarik napas panjang, mencoba meredam amarahnya sendiri. Ia turun dari motor, meletakkan helmnya di atas jok, lalu melangkah mendekati Every.
"Sini," ujar River, suaranya melunak, meski masih terdengar tegas.
"Jangan sentuh gue!"
"Gue mau pakein helmnya, Every Riana. Diem atau gue beneran ikat mulut lo?!" River mengambil helm di tangan Every, lalu memakaikannya ke kepala gadis itu. "Tali ini harus bunyi klik. Jangan terlalu kencang, nanti lo nggak bisa napas buat maki-maki gue."
Every hanya diam, matanya menatap dada River saat pria itu dengan telaten mengaitkan tali helmnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Every bisa mencium aroma maskulin River yang bercampur dengan bau aspal.
"Sekarang, naik. Taruh tangan lo di bahu gue kalau lo takut jatuh," perintah River sambil membimbing Every menuju motor.
"Gue nggak takut jatuh! Gue cuma nggak mau kelihatan konyol!" Every tetap bersikeras, meski tangannya gemetar saat mencoba memanjat jok motor yang tinggi itu.
Setelah perjuangan dramatis selama lima menit—dan beberapa sumpah serapah dari Every—akhirnya mereka membelah jalanan malam.
Namun, alih-alih menuju tempat kerja Gibran, River justru membelokkan motornya ke sebuah tenda warung di pinggir jalan yang ramai dengan asap bakaran.
"Turun," ujar River setelah memarkir motornya di depan spanduk bergambar ayam dan lele.
Begitu motor berhenti di depan tenda Pecel Ayam, Every merasa dunianya runtuh. Ia terjebak di atas jok tinggi, dengan helm yang terasa mencekik lehernya, dan harga diri yang sudah terkoyak sejak di parkiran kampus.
"Turun, Every. Udah sampai," ujar River santai sambil melepas helmnya sendiri.
"Gimana caranya?!" Every mendesis, tangannya meraba-raba pengait di bawah dagunya dengan panik. "Ini nggak bisa lepas! River, kuncinya macet! Dan gue nggak bisa turun kalau kaki gue nggak napak! Gue lebih baik naik jip lo daripada motor sialan yang nggak masuk akal ini!"
River terkekeh, ia turun dari motor dan berdiri di samping Every. Bukannya langsung membantu, ia malah bersedekap. "Tadi di jalan lo meluk gue kencang banget, sekarang malah maki-maki motor gue? Pilih-pilih dong kalau mau benci."
"River, gue serius! Lepasin helm ini!" Every mulai emosi, wajahnya memerah di balik kaca helm.
River maju, jemarinya yang kasar menyentuh dagu Every untuk membuka pengait helm. "Pelan-pelan, Tuan Putri. Kalau lo goyang terus, malah makin macet." Begitu helm terlepas, Every langsung menyentak rambutnya dan memberikan tatapan membunuh.
River kemudian memegang pinggang Every, mengangkatnya turun seperti mengangkat boneka porselen. "Lain kali pake celana kalau mau adu argumen di atas aspal."
Ia menatap tenda itu dengan dahi berkerut. "Kita mau apa ke sini? Ini tempat apa? Baunya... minyak jelantah."
"Ini namanya tempat makan manusia, Every. Pecel Ayam," River menarik kursi plastik dan duduk dengan santai. "Duduk. Gue laper gara-gara debat sama lo dari sore."
"Gue nggak mau makan di sini! Ini nggak higienis, River! Lihat piringnya, cuma dilap pake kain yang..."
"Duduk, Every. Sebelum gue pesenin hati ayam buat nyumpel mulut lo," River menatapnya datar. "Dua porsi pecel ayam, Pak. Nasi uduknya dua, sambelnya yang banyak buat cewek galak ini."
Every akhirnya duduk dengan sangat terpaksa, pantatnya hanya menyentuh ujung kursi plastik seolah-olah kursi itu mengandung kuman mematikan. "Lo sengaja kan bawa gue ke sini buat ngehina gue?"
River meletakkan dua piring pecel ayam yang mengepul. Tak ada sendok. Tak ada garpu. Hanya ada kobokan air di dalam mangkuk kecil.
"Makan," perintah River.
Every menatap piring itu dengan horor. Ia mendekatkan wajahnya ke arah River, berbisik dengan nada rendah yang penuh penekanan. "River Armani, lo gila? Gue nggak akan makan pake tangan telanjang. Itu jorok. Gue nggak tahu kapan terakhir kali meja ini dilap, atau tangan lo itu abis pegang oli apa enggak."
River justru menjawab dengan suara keras, sengaja memancing perhatian pengunjung lain. "Hah? Lo bilang apa? Lo mau gue suapin karena lo nggak biasa makan di pinggir jalan?"
"Ssst! Pelanin suara lo!" Every menarik kerah kaos River, memaksa pria itu merunduk agar telinganya sejajar dengan bibir Every. "Jangan bikin malu gue di sini. Gue minta sendok. Cariin gue sendok sekarang atau gue pulang jalan kaki."
River menyeringai, ia bisa merasakan napas Every yang hangat dan penuh amarah di ceruk lehernya. "Nggak ada sendok di sini, Every. Aturannya: makan pake tangan atau lo kelaparan. Pilih mana?"
"Gue. Nggak. Mau. Makan. Jorok," Every berbisik lagi, kali ini lebih lambat, setiap katanya ditekan dengan emosi yang meluap. Ia menarik napas dalam, wajahnya sangat dekat dengan River hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Gue benci lo. Gue benci ide ini. Gue benci sambal ini."
River memejamkan mata sejenak, jakunnya naik turun. Bisikan Every yang rendah dan serak itu justru memberikan sensasi panas yang harus ia tahan setengah mati. "Every, berhenti," protes River, suaranya mulai tidak stabil.
"Berhenti apa? Gue belum selesai maki-maki lo—"
"Berhenti berbisik kayak gitu di kuping gue!" River menjauhkan wajahnya, menatap Every dengan tatapan gelap. "Suara lo itu... bikin gue nggak fokus. Sekarang, lo makan atau gue yang suapin lo pake tangan gue sendiri?"
Every membeku. Ia melihat River mengambil secuil ayam dan nasi dengan tangannya, lalu mengarahkannya ke mulut Every. "Ayo. Buka mulut lo. Gue udah cuci tangan pake sabun tiga kali tadi."
Every menatap tangan River, lalu menatap anak-anak motor yang duduk di meja sebelah. Mereka semua sedang menahan tawa, berpura-pura sibuk dengan kerupuk masing-masing padahal telinga mereka tegak mendengarkan perdebatan itu.
"Gue bisa sendiri," Every akhirnya menyerah. Dengan sangat kaku, ia mencelupkan ujung jarinya ke mangkuk kobokan dan mulai menyentuh nasi itu seolah-olah itu adalah zat kimia berbahaya.
"Nah, gitu dong. Ternyata Ketua BEM bisa juga jadi rakyat jelata," ujar River, berusaha kembali santai meski sisa getaran dari bisikan Every tadi masih terasa membakar saraf-saraf di lehernya.
"Gue bawa lo ke sini biar lo liat," River menunjuk ke arah bapak penjual yang sedang sibuk menggoreng dengan peluh bercucuran. "Tuh, liat anak kecil yang lagi cuci piring di belakang? Itu adiknya mahasiswa yang lo tolak beasiswanya minggu lalu."
Every terdiam. Ia menatap ke arah yang ditunjuk River. Seorang anak laki-laki sekitar umur sepuluh tahun sedang menyikat penggorengan besar.
"Namanya Adi. Kakaknya kuliah di jurusan Ekonomi. Surat keterangan tidak mampunya ditolak karena alamat di KTP-nya nggak sesuai sama domisili kontrakan kumuhnya sekarang," River mengambil sepotong timun dan mengunyahnya. "Lo butuh dokumen lengkap buat sistem lo, tapi mereka butuh makan buat besok pagi."
Uap panas mengepul, aromanya mendadak terasa gurih di hidungnya yang lapar. "Gue nggak tahu... Recha nggak bilang soal ini."
"Recha nggak akan bilang karena lo nggak pernah mau denger hal-hal yang nggak ada di kolom administrasi," River mendorong cobek sambal ke arah Every. "Makan. Rasain gimana rasanya makanan yang dibeli pake keringat, bukan pake duit yayasan."
Every mengambil sendok dengan ragu, lalu menyuap sedikit nasi uduknya. Matanya membelalak kecil. "Enak."
"Emang enak. Makanya jangan sok borjuis," River menyeringai, ia menikmati pemandangan Every yang akhirnya mulai makan dengan lahap meski masih dengan gaya kaku yang elegan.
"Gue tetep nggak bakal ngerubah aturan BEM cuma karena pecel ayam ini, River," ujar Every di sela kunyahannya, berusaha mengembalikan wibawanya.
"Gue nggak minta lo ngerubah aturan. Gue cuma minta lo pake otak lo yang pinter itu buat bikin solusi, bukan cuma jadi algojo dokumen," River mencondongkan tubuhnya, menatap Every intens. "Lo itu pimpinan, Every. Pimpinan itu ngelindungin orang, bukan cuma ngelindungin kertas."
Every terdiam, ia menatap River, lalu beralih ke Adi yang masih sibuk mencuci piring. Untuk pertama kalinya, Every tidak punya kata-kata untuk mendebat.
Every menyuap nasi itu ke mulutnya. Matanya membelalak. Rasa gurih dan pedasnya sambal itu menghantam lidahnya. "Ini... nggak seburuk yang gue pikir."
"Emang. Makanya jangan kebanyakan teori," River menyeringai, ia terus menyuap makanannya, mencoba mengalihkan gemuruh panas di dadanya yang masih tersisa akibat intimidasi jarak dekat Every tadi.
Anak-anak motor di meja sebelah saling lirik. "Riv, kalau berantem jangan lama-lama, ntar sambelnya keburu kering!" celetuk salah satu dari mereka, yang langsung dibalas lemparan tisu oleh River.
Every tidak membalas, ia hanya fokus pada makanannya, menyembunyikan wajahnya yang mulai merona—bukan karena sambal, tapi karena ia baru sadar betapa intimnya posisi mereka saat ia membisikkan ancaman tadi.