Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.
Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.
Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.
Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran Adnan.
Setiap ada pertemuan selalu ada perpisahan. Tidak ada yang abadi. Namun, kita tak pernah tau -mungkin saja- Allah justru mempertemukan kembali di lain waktu.
🤗🤗🤗
Kenangan di masa lalu berputar memenuhi pikiran Adnan. Isak tangis wanita yang kini tengah memeluk seorang anak masih membekas. Bukan ia tak bisa melupakan. Hanya saja jalan cerita mereka singkat, dan sedikit berkesan. Meski begitu, ia tak akan melangkah pergi ke masa lalu. Karena di hadapannya ada sebuah masa depan yang indah.
"Maaf, Mbak. Anak saya ngerepotin," ujar Rina.
Ya, wanita berhijab itu Rina. Anak yang tak bisa bicara adalah darah dagingnya. Buah hati dari hasil pernikahan yang kandas di tengah jalan, menyisakan luka yang mendalam. Trauma yang menenggelamkan dirinya ke dasar jurang.
"Engga, kok, Mbak," sahut Alina dengan senyum kecil.
"Kalau gitu, saya duluan, Mbak. As-salamu'alaikum." Rina membawa anak lelakinya pergi menjauh dari Alina dan Adnan.
Alina menoleh ke samping. Memperhatikan suaminya yang diam seperti patung. Mencoba menebak isi hati lelaki itu. Tatapannya berbeda? Apa suaminya mengenal perempuan tadi?
"Kamu mau tanya, aku kenal wanita tadi atau tidak?" Adnan membaca isi pikiran Alina. "Jawabannya, iya."
Alina terperanjat kaget. Apa wanita tadi mantan pacar suaminya? Dia belum tau sepenuhnya bagaimana kisah kehidupan lelaki ini? Haruskah ia bertanya? Tapi Suaminya pun tidak pernah bertanya banyak hal tentang masa lalu Alina.
"Namanya Kak Rina. Wanita muslim yang terjebak sebuah skandal. Merelakan kegadisannya diambil orang, untuk membiayai pengobatan ayah tercintanya." Adnan mulai bercerita.
"Dulu, kita satu universitas. Dia kakak angkatanku, tapi engga sampai lulus. Video asusilanya disebarluaskan oleh seseorang yang menyebabkan dirinya harus dikeluarkan. Kamu tau? Saat itu hanya aku yang mempercayainya, cuman aku yang engga memandang rendah dirinya. Makanya, aku pun engga pernah mempermasalahkan masa lalumu," lanjutnya.
"Apa Mas suka sama Mbak Rina?" Satu pertanyaan dari Alina berhasil mengungkit perasaan yang lama terpendam.
"Dulu, iya."
Mata Alina membulat sempurna. Apa ini yang di namakan cinta belum tuntas? Apa akan terjadi season dua seperti cerita di novel berseries? Pada saat itu, mungkin Alina harus mempersiapkan diri. Menahan hati agar tak jatuh cinta pada suaminya.
"Sekarang ..." Adnan menyamping ke arah Alina. Mengelus pelan kepala istrinya yang terbalut mukena. "Aku udah nemuin bidadari. Mana mungkin bisa balik ke masa lalu."
Meleleh. Satu kata itu akan menjadi ungkapan bagi wanita manapun saat dipuji. Sorot mata Adnan penuh keteduhan. Cinta kasihnya nyata, bukan semata-mata nafsu belaka. Perlakuannya lembut seperti sutra. Tutur katanya manis semanis madu.
Bagi seorang istri, hal kecil seperti ini adalah sebuah bentuk penghargaan. Bukti keseriusan, bahwa dirinya-lah wanita terindah di kehidupan lelaki tersebut. Meski tidak jarang pula banyak lelaki, lain di mulut lain di hati. Namun, kita tak bisa memukul rata semuanya seperti itu.
Di dunia ini, masih banyak lelaki yang tulus mencintai. Bukan memandang fisik, ataupun status sosial. Melainkan ridho karena Ilahi Rabbi. Saat sudah menemukannya, genggamlah erat. Karena sekalinya lepas, dia akan sulit kembali.
"Tapi ... kekurangannya cuman satu," ujar Adnan kembali setelah lama berdiam diri.
"Apa Mas?" Alina penasaran.
"Galak." Adnan berdiri, berjalan cepat meninggalkan istrinya yang pasti tengah mengomel dalam hati. Alina tak mungkin berani membuka suara keras saat di mushola. Adnan selalu mengingatkannya.
Wajah Alina yang tadinya berbinar berubah kesal. Mengepalkan tangannya ingin segera memukul mesra suaminya. Memberi Adnan sebuah pelajaran cinta sebagai bukti rasa kekesalan.
"Awas, ya. Aku kasih cabe sekilo, baru tau rasa," batin Alina.
Dua menit memendam kesal, Alina akhirnya keluar mushola. Mendapati Adnan yang justru tertawa jahat di jok depan mobil. Menunggu pembalasan manis dari sang istri tercinta.
Alina mendekat, masuk ke mobil dengan wajah ditekuk. Adnan masih enggan mengakhiri tawanya. Seperti halnya anak kecil yang baru mendapatkan sebuah permen, Adnan bahagia.
"Tumben kamu engga bales," ujar Adnan.
"Tenang, Mas. Aku ini, kan, istri yang baik hati, tidak sombong, tapi engga suka nabung. Jadi ... balesnya nanti aja kalau udah mood," sahut Alina.
"Ya udah, aku menantikan momen itu."
"Beneran, nih?" Alina melirik Adnan. "Jangan nyesel, lho, ya."
Adnan menggeleng.
"Fix."
"Palingan kamu cuman mukul tangan doang. Atau injek kaki pakai sepatu," tebak Adnan.
Alina terkekeh geli. Suaminya tidak tahu rencana apa yang saat ini sedang ia susun di otak. Jahat? Tidak! Toh, Adnan sudah menyetujui.
Perbincangan mereka berlarut sampai mobil membawa keduanya ke tempat makan. Sebuah restaurant biasa menjadi pilihan keduanya. Interior ruangan yang unik menjadi daya pikat. Suasana restaurant yang nyaman, banyak lampu menghiasi serta beberapa pohon hidup menimbulkan rasa betah, dan tak ingin pulang.
Adnan telah memesan makanan. Alina cukup mengangguk, ia pemakan segala. Tapi, bukan berarti suaminya pun ikut menjadi santapan. Makanan datang, mereka berdoa, selanjutnya menikmati makan malam yang bisa dibilang tak romantis. Adnan bukan lelaki seperti itu. Ia hanya bisa menunjukkan kasih sayangnya dengan cara melindungi Alina dari ancaman luar. Memberi tempat untuk istrinya mengeluh, dan merelakan bahunya sebagai sandaran saat wanita itu membutuhkan.
"Mas, kamu sama Mbak Rina emang Deket banget, ya?" Rasa penasaran masih menumpuk di relung hati. Menggiring mulut Alina bertanya lebih dalam.
"Engga juga. Kita cuman berinteraksi beberapa kali aja," sahut Adnan tanpa menutupi kenyataan. "Kenapa? Kamu cemburu?"
"Ya Allah, aku nanya doang, Mas."
"Cemburu juga harus. Kamu istriku."
"Ya aku tau. Kalau aku istri orang, mungkin aku engga di sini."
"Kalau kamu istri orang, aku rela menunggu jandamu," goda Adnan yang membuat Alina menggelengkan kepala.
"Janda memang terdepan," gumam Alina.
Beberapa menit selanjutnya, Adnan izin pergi ke toilet. Sementara Alina menghabiskan sisa makanannya. Di tengah keheningan, suara derap sepatu mendekat. Memperhatikan Alina dari belakang, kemudian menyunggingkan senyuman licik.
"Wah, Ibu Direktur Utama makannya di restaurant biasa," ledek orang itu yang tak lain adalah Rio. Ia tidak sengaja melihat Alina bersama Adnan masuk saat ia sedang berkencan dengan salah satu pacarnya.
Suara Rio membuat nafsu makan Alina menurun. Ia sama sekali tak berniat menoleh ke samping. Di mana Rio sudah berpindah tempat dari belakang.
"Harusnya kamu matrealitis dikit, Adikku Sayang," tutur Rio. "Minta makan di restaurant mahal. Kalau bisa pagi di sini, siang di Korea, malam di Jepang."
Mulut Alina terasa gatal. Ia tak tahan mendengar ocehan tidak berbobot dari Rio. Apa urusan dengannya? Makan di manapun, enak. Asal hati senang, dan sehat. Belum sempat Alina membuka mulut. Suara Adnan terdengar tepat di belakangnya. Mengatakan sesuatu yang membuat Rio membungkam mulut, dan menggeram kesal dalam hati.
"Jangan ganggu istri saya, jika anda tidak mau hancur dalam sekejap."
Adnan menatap penuh penekan pada Rio. "Jangankan Jepang, dan Korea. Saya bahkan bisa membeli mulut anda agar tidak terlalu mencampuri urusan orang lain."
...****************...
BERSAMBUNG~~
Jangan lupa like, comen, dan vote🤗