Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Kerja Di Hari Pertama
Bab 33
Kerja Hari Pertama
Lyra bersemangat hari itu. Setelah berada 3 minggu di kota yang baru, akhirnya ia mendapat pekerjaan di sebuah kafe sebagai waitress berkat bantuan dari Monika. Meski gajinya masih di bawah UMR, namun setelah Lyra hitung-hitung, masih cukup menutupi keperluan hidupnya yang hanya sendiri.
"Masuk sore Ly?" tanya Monika ketika ia dan Lyra bertemu depan kamar mereka masing-masing. Lyra hendak pergi, sedangkan Monika baru saja pulang entah dari mana.
"Eh, iya Mbak. Baru pulang?" tanya Lyra dan tanpa sengaja matanya tertuju pada leher yang terdapat beberapa bercak merah disana.
"Iya nih. Capek! Aku masuk dulu ya," ujar Monika sambil tersenyum tipis. Kelihatan sekali senyumnya di paksakan karena kelelahan.
"Iya Mbak."
Jantung Lyra sedikit berdebar. Ia bukan tidak tahu arti tanda kemerahan di leher Monika. Dulu ia pernah memiliki tanda merah seperti itu. Sebuah jejak kepemilikan ketika seseorang sedang memadu kasih melampiaskan hasrat mereka.
Lyra segera melangkah. Pikirannya jadi bertanya-tanya, apa yang di lakukan Monika di malam hari karena setahu Lyra, Monika pernah bilang kalau dirinya seorang ibu tunggal ketika mereka sama-sama berbelanja beberapa minggu lalu.
"Apakah Mbak Monik sudah punya kekasih? Tapi apa secepat itu melakukan hubungan hanya kenal dalam beberapa minggu? Aku saja dulu dengan Mas Dika setelah 7 bulan menjalin hubungan baru melakukan, aah...."
Lyra menghentikan gumaman lirihnya, tersadar akan masa lalu kelam dan kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan. Ia segera menipis pikiran buruk tentang urusan Monika, mengingat dirinya pun bukanlah wanita baik-baik.
Salahnya dulu ia terlalu cepat percaya. Ia yang hanya 4 kali di sentuh Irwan selama dua bulan pernikahan mereka, menjadi haus belaian dan kasih sayang. Dan Dika, menawarkan itu semua. Rasa aman, perhatian dan kasih sayang, juga penyampaian gairah yang Lyra pendam selama lebih dari 3 tahun setelah kepergian Irwan, semua tersalurkan lewat Dika.
Lyra menggigit bibir bawahnya. Kenangan paling bahagia sekaligus paling pahit yang harus ia lupakan.
-
-
-
Hari pertama Lyra berkerja cukup lancar meski baru. Rekan kerjanya semua ramah padanya, begitu pula manajer kafe yang selalu mengawasi kinerja bawahannya.
Pengunjung cukup ramai malam itu, meski lelah tapi Lyra tetap bersemangat. Apalagi ia mendapat beberapa tips dari pelanggan yang kebanyakan kaum lelaki hidung belang.
Awalnya Lyra menolak. Tapi kata rekan kerjanya 'tidak apa-apa bila pelayan menerima tips', Lyra pun akhirnya memberanikan diri untuk menerima.
"Wah, Mbak Lyra banyak dapat salam tempel nih," ujar rekan kerja Lyra yang hanya beda 2 tahun di bawah Lyra, memandang Lyra merapikan uang dan memasukannya ke dalam kocek bajunya.
Lyra menanggapinya dengan senyuman ramah khasnya. "Lumayan, buat ngebakso."
"Boleh dong traktir?"
"Boleh aja."
"Beneran ya, tunggu off tapi. Hehehe..."
"Iya, hehehe...tapi apa bener ini nggak apa-apa?" tanya Lyra memastikan lagi. Ia takut berbuat kesalahan, apalagi ia baru mulai berkerja di kafe tersebut.
"Nggak apa-apa Mbak. Aku aja nerima kalau ada yang ngasih."
"Apa Pak manajer nggak marah?"
"Nggak, tenang aja. Soalnya ini pernah di bahas sama karyawan lain sebelumnya kok. Katanya nggak apa-apa asal bukan kita yang minta."
Lyra terlihat lega. "Syukur deh."
"Lumayan loh Mbak, anggap aja bonus, atau can sampingan."
"Iya bener. Hehehe..."
Mereka kembali bekerja setelah jam istirahat mereka selesai. Lyra kembali sibuk hingga jam kerjanya usai.
Lyra berjalan menyusuri jalanan yang mulai remang-remang. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika ia keluar dari kafe tempatnya bekerja. Lyra baru merasakan ketakutan, hingga ia bergidik ngeri ketika melihat tidak ada ada satupun kendaraan yang melintas di jalan tersebut. Untungnya, jarak antara kafe dan kosannya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 20 menit berjalan kaki. Namun, tetap saja, berjalan sendirian di malam hari, apalagi di kawasan yang terkenal kurang aman seperti ini, membuat Lyra merasa was-was.
"Suit... suiiiit...!"
Suara siulan dari sekelompok lelaki yang sedang nongkrong di pinggir jalan memecah keheningan malam. Lyra menunduk, berusaha tidak menghiraukan mereka dan mempercepat langkahnya. Namun, semakin ia berusaha menjauh, semakin menjadi-jadi pula gangguan mereka.
"Hai, Neng! Mau kemana malam-malam begini?"
"Sendirian aja, Neng? Sini, abang temenin!"
Lyra semakin ketakutan. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia terus berjalan secepat mungkin, berharap segera sampai di kosannya dan terhindar dari gangguan mereka.
"Jangan sombong, Neng! Kita cuma mau kenalan aja, kok!"
Langkah Lyra semakin cepat. Ia menoleh ke belakang, melihat sekelompok lelaki itu mulai berjalan mendekat ke arahnya. Lyra semakin panik. Ia berlari sekuat tenaga, berharap bisa mencapai kosannya sebelum mereka berhasil mengejarnya.
Akhirnya, setelah berlari dengan sekuat tenaga, Lyra berhasil mencapai gerbang kosannya. Ia segera membuka gerbang itu dan masuk ke dalam, menutupnya kembali dengan cepat dan mengunci rapat-rapat. Dengan napas terengah-engah, ia bersandar di pintu gerbang, mencoba menenangkan dirinya.
Lyra melihat beberapa pintu kamar kosan bawah terlihat terbuka. Masih ada aktifitas di malam yang kian larut itu, ada yang belum tidur karena temannya masih ada disana.
Setelah memastikan dirinya aman, Lyra berjalan menuju kamarnya dengan langkah gemetar. Ia melintas dengan wajah menunduk, dan segera membuka pintu kamarnya begitu tiba. Lyra buru-buru masuk ke dalam, mengunci pintu kamarnya rapat-rapat dan bersandar di pintu, memejamkan matanya, dan menarik napas dalam-dalam.
Meski selamat dari gangguan para lelaki itu, Lyra tetap merasa ketakutan dan tidak nyaman. Ia merasa tidak aman tinggal di lingkungan seperti ini. Padahal sebelum tidak terlalu, mungkin karena ia tidak pernah keluar malam. Dan ia baru menyadari setelah pulang malam selesai bekerja.
Tetapi, ia tidak punya pilihan lain saat ini. Ia harus bertahan sementara sampai setidaknya memiliki sedikit tabungan.
Lyra tidak berani mandi, karena di lantai bawah masih ada yang berkumpul di dalam kosan pria. Akhirnya ia hanya berganti pakaian dan merebahkan diri dengan perasaan was-was dan tidak tenang. Ia berharap, esok hari akan menjadi hari yang lebih baik baginya.
"Brakk!"
"Pelan-pelan dong, nanti tetangga ku bangun," suara bisikan yang diikuti suara benturan pelan itu membuat mata Lyra yang tadinya sudah terpejam rapat terbuka kembali. Suara itu berasal dari kamar Monika, tetangga sebelah kamarnya.
Rasa penasaran yang bercampur dengan rasa tidak nyaman membuat Lyra menajamkan pendengarannya.
"Aaahh... enak sayang. Iya di situ...aaahh..."
Lyra membeku. Ia hafal suara desahan seperti ini. Ia tahu persis apa yang sedang dilakukan Monika di dalam sana.
Jantungnya berdebar semakin kencang, bukan karena terangsang, melainkan karena perasaan bersalah karena masa lalunya.
"Uuhh..."
Hentakan demi hentakan yang disertai suara ranjang berderit terdengar semakin jelas di telinga Lyra yang kini tanpa sadar telah menempel di dinding. Matanya terpejam erat, berusaha menghalau bayangan-bayangan yang mulai bermunculan di benaknya. Namun, semakin ia mencoba menghindar, semakin jelas pula bayangan percintaannya dengan Dika berputar di kepalanya.
Rasa bersalah dan jijik bercampur menjadi satu. Ia merasa kotor, merasa dirinya tidak lebih baik dari Monika yang sedang bercinta dengan bebas di kamar sebelah. Bahkan, tanpa sadar, bagian bawah tubuhnya mulai berkedut dan terasa basah. Lyra membenci dirinya sendiri karena menikmati suara desahan tetangga sebelah, dan membiarkan dirinya terlarut dalam kenangan masa lalu.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
benerannn psikopat cinta 🤣