"Rena....,Aku mau minta maaf sebelumnya,tapi jujur ini juga berat untuk aku,tapi aku juga harus jujur sama kamu".
Rena tak memandang curiga saat suaminya berkata seperti itu,tapi setelahnya ucapan kejujuran dari suaminya seperti pisau tajam yang menusuk hatinya.
"Aku mencintai wanita lain yang kutemui 6 bulan terakhir ini,Dia bukan hanya cantik tapi juga pintar memasak,semua yang ada didiri wanita itu aku sangat menyukainya".
Rena diam membeku,tapi Ia juga ingin tau apa yang menjadi alasan suaminya bisa mencintai wanita lain padahal ada istri yang sudah Ia nikahi lebih dari 10 tahun.
"Kenapa Mas...?,Kenapa harus ada wanita lain yang Mas cintai".
"Aku sudah tidak cinta sama kamu Rena,Kamu berubah,Kamu tidak lagi menarik dimataku,Kamu juga selalu mementingkan anak-anak daripada aku suamimu".
Rena kembali diam,Ia ingin meledak tapi teringat ada 2 anaknya yang harus Ia jaga mentalnya.
"Baiklah Mas....,terus apa maumu kalau sudah seperti ini?Kamu mau pisah?".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiwit Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabian dengan isi pikirannya.
Rena kembali keruangan dengan wajah cemberut,Ia benar-benar kesal atas sikap Sabian yang tidak profesional,padahal Ia baru bekerja tapi sudah dituntut banyak hal.
Para rekan kerjanya saling menatap satu sama lain tapi mereka tidak berani bertanya,semuanya fokus pada pekerjaan masing-masing karena tak ingin mendapat masalah nantinya.
Rena mulai mengerjakan apa yang Sabian suruh,bahkan Rena berencana membawa pekerjaannya kerumah agar cepat selesai,Ia merasa kurang nyaman dengan cara Sabian berucap dan memberikan solusi.
Saat jam kerja telah selesai,Para karyawan saling menatap satu sama lain,Karena Rena yang masih fokus bekerja tanpa berniat pulang membuat mereka merasa sungkan.
Mereka saling berbisik untuk menghadap Bu Rena,Mira akhirnya memberanikan diri karena Divisi lain sudah hampir seluruhnya pulang.
Mira meremas kedua tangannya karena rasa gelisah yang belum pernah Ia rasakan,tapi demi kepastian Ia dan teman-temannya Mira memberanikan diri bertanya,Ia tak peduli dengan Bu Rena yang masih sibuk dengan laptop dan laporan dimeja kerjanya.
"Maaf Bu....,Ini kita gimana ya?Jam kerja sudah selesai tapi Ibu masih sibuk kerja aja,Apa Ibu mau kita lembur juga untuk nemenin Ibu atau kita pulang aja?,Soalnya diPerusahaan ini jika tidak ada aturan tertulis tentang lemburan maka kami tidak diperbolehkan,Pak Sabian akan marah saat tau kita lembur tanpa adanya surat resmi".
Seketika Rena menghentikan kegiatannya,Ia menatap Mira dan rekan kerja lainnya yang sudah bersiap untuk pulang,Rena merasa bersalah karena tidak membaca dengan seksama aturan yang ada.
Rena kemudian berdiri dan meminta mereka untuk pulang.
"Saya minta maaf ya buat semuanya,Saya terbawa dipekerjaan lama saya bahwa loyalitas itu harus dijunjung tinggi,tapi ternyata diPerusahaan ini tidak,Selama jam kerja memang sudah selesai kalian pulanglah sesuai dengan kebiasaan kalian,Walaupun saya masih sibuk kalian tetap pulang tanpa harus konfirmasi dengan saya".
Mira dan karyawan lain tersenyum.
"Baiklah Bu,Kita akan pulang sekarang".
Secepat kilat semua rekan kerja Rena meninggalkan ruangan,tersisa Rena yang masih ingin mengerjakan laporan yang Sabian minta.
Tanpa sadar Rena yang begitu asik bekerja membuat Aluna merasa kesal menunggu terlalu lama.
"Om Adrian....,Ibu lama banget sih,Aluna capek tau Om dimobil terus,Kita turun aja yuk Om...,kita tanya sama Om security dimana Ibu".
Adrian yang sejak 1 jam lalu masih berpikir bahwa Rena mungkin sedang sibuk beradaptasi dengan pekerjaan barunya,tapi Aluna yang terus mengomel mau nggak mau Adrian akhirnya turun dengan bergandengan tangan dengan Aluna ke pos security terdekat.
Adrian dengan ramah menyapa dua Security yang sedang bertugas.
"Maaf Pak....,Apa para karyawan masih belum pada pulang?Saya mau menjemput karyawan bernama Bu Rena tapi sejak 1 jam lalu dia belum muncul juga,Nomer ponselnya juga tidak aktif".
Security yang berjumlah 2 orang saling menatap,Karena seharusnya seluruh karyawan sudah pulang.
Salah satu security itu berjalan kedalam Perusahaan diikuti oleh Adrian dan juga Aluna,Ia cemas karena takut terjadi sesuatu.
Saat mereka baru beberapa langkah masuk,Mereka dikejutkan oleh Sabian yang baru keluar dari lift.
"Ada apa Pak...?Mereka siapa?Ada perlu apa masuk kedalam",tanya Sabian dengan tegas.
Adrian dan Sabian saling menatap satu sama lain,Mereka saling bertatapan dengan tajam.
"Maaf Pak Sabian,Mereka berdua ingin menjemput karyawan disini tapi katanya belum muncul juga dari 1 jam lalu,Mereka kawatir terjadi sesuatu apalagi nomernya juga tidak aktif".
Sabian seketika panik,Ia bertanya pada mereka siapa nama karyawan yang dimaksud.
"Namanya Ibu Rena Om...,Dia Ibuku,Om tau nggak dimana Ibu...".
Deg,Sabian terkejut dengan jawaban anak kecil didepannya,itu artinya anak itu adalah anak Rena,dan lelaki disampingnya membuat Sabian bertanya-tanya.
"Apa mungkin dia calon suaminya Rena?Tapi mengapa secepat itu?Bukannya perceraian Rena masih dalam proses,Lalu kalau bukan calon suami lelaki ini siapa?".
Berbagai pertanyaan muncul dipikiran Sabian,Ia bingung dan tanpa sadar Ia justru melamun.
"Om....,Ibuku dimana...?,Kok Om malah diam aja sih",kesal Aluna.
Adrian mensejajarkan tubuhnya dengan Aluna dan memeluknya.
"Aluna sabar ya....,Mereka akan bantu kita cari Ibu kamu".
Mereka berempat akhirnya menaiki lift yang akan membawanya kelantai atas,Tidak ada obrolan diantara mereka karena sibuk dengan pikiran masing-masing.
Mereka menyusuri satu ruangan ke ruangan lainnya,Karena Sabian takut jika Rena kesasar ataupun mengalami bahaya .
Namun nyatanya saat mereka masuk keruangan Divisi Finance,Mereka merasa lega dan juga lucu,Karena ternyata Rena justru tertidur dengan laptop yang masih menyala.
Ada rasa bersalah dalam benak Sabian karena membiarkan Rena bekerja dengan keras dihari pertama bekerja
Rena terbangun saat suara Aluna memanggil.
"Ibu.....,Bangun Bu....".
Rena mulai membuka matanya,Ia terlihat bingung sekaligus terkejut,Apalagi ada Sabian didepannya dan seorang security.
"Ibu....,Ayo kita pulang,Aluna udah nungguin Ibu lama banget tau...,.Aluna laper Bu...,Ayo kita pulang".omel Aluna sekali lagi karena Ibunya masih berusaha mencerna semuanya.
Rena seketika melihat jam dinding dan betapa terkejutnya dia saat melihat jam yang hampir pukul 6 malam.
Rena segera berkemas dan mematikan laptopnya,Namun saat Ia akan membawa laptop itu beserta berkas-berkas lainnya,Sabian seketika melarangnya.
"Nggak usah dikerjakan dirumah Bu,Saya nggak ingin membebankan waktu Ibu yang berharga ".
Rena menghentikan kegiatannya,Ia ingin berdebat tapi karena terlalu banyak orang membuat Rena hanya bisa mengangguk.
Rena mengemasi barang miliknya,Ia kemudian menggandeng Aluna dan keluar dari ruangan.
Adrian berlari kecil mengejar Aluna dan Rena,sedangkan Sabian hanya diam membiarkan Rena pergi.
Ada rasa tak suka Sabian rasakan melihat Rena memiliki laki-laki disampingnya,walaupun belum tau pasti tapi semangat awal yang tadinya membara sekarang menyisakan kesesakan didalam hatinya.
Sabian akhirnya memilih pergi,Ia berada tak jauh dari Rena berjalan saat tiba diparkiran,Namun Sabian merasa aneh saat melihat Rena dan anaknya duduk ditengah sedangkan lelaki itu duduk dibalik kemudi.
Sabian semakin bingung dengan jalan pikirannya,Karena Ia tak mungkin bertanya siapa lelaki itu kepada Rena,Hubungan mereka masih sangat kaku dan Sabian merasa Rena juga menjaga jarak dan hanya sebatas pekerjaan mereka saling mengenal.
Saat mobil Rena meninggalkan Perusahaan,Sabian masih sibuk menduga-duga,Ia kemudian tersenyum kecil saat mengingat bagaimana lucunya Aluna.
Namun Sabian kembali tersadar dengan apa yang Ia lakukan,Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri karena tak seperti biasanya.
"Aku kenapa sih....,Kenapa jadi gini...",bathin Sabian berucap.
*
*
*
Note :Ini serius nggak ada yang mau bantu like sama komen?,Kayaknya jadi karya gagal deh ini Novel,rekomendasinya sama sekali nggak ngangkat.....huhuhu
klo milih km.... yg ada sakit hati lgi dunk... mntan suaminya hobi selingkuh... eee kamunya hobi jajan...
🙄🙄
iyain aja udah...Adrian cepet halalin
Kl Sabian kn di bawah ketiak ortu. gk akn enak nikah ma Sabian krn di lihat lihat Sabian itu gk tegas. hidup nya masih tergantung harta ortu.