NovelToon NovelToon
Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Setelah pertemuan Naina dan Ryan hari itu, ia selalu menunggu datangnya Ryan. Menunggu janjinya yang akan kembali bersama. Mungkin memberinya kesempatan tak terlalu buruk. Nyatanya memang Naina telah jatuh cinta pada sosok Ryan. Baik dulu dan yang sekarang.

Naina kembali ke rutinitasnya seperti biasa. Berjualan bakpao untuk menambah penghasilannya. Karena entah kapan Ryan akan menjemputnya. Selama itu Naina harus dapat menghasilkan uang untuk tetap bertahan hidup.

"Kemarin kamu gak jualan, kemana sih?" Seru Reyhan yang telah menjadi pelanggan setia Naina.

"Kamu gak ada kerjaan apa?" Yang ditanya malah tanya balik.

"Aku masih libur kuliah, minggu depan baru masuk."

"Oohh..."

Naina kembali menata dagangan, dan langsung memberikan 3 bakpao ayam untuk Reyhan.

"Makasih." Reyhan langsung memakan bakpao itu tanpa basa-basi.

"Rey, aku gak jadi cerai." Lirih Naina membuat Reyhan terdiam dan tak melanjutkan makannya.

Ada rasa kecewa dan hati yang perih. Apakah harapan Reyhan harus pupus begitu saja? Apakah Naina akan tetap memilih bedebah itu dari pada dirinya? Tapi, asal Naina bahagia Reyhan tak bisa berbuat banyak.

"Ooh..." Jawab Reyhan enggan.

Naina menatap wajah dan tatapan Reyhan yang tampak jelas kecewa. Apakah Naina tadi salah berucap? Apakah seharusnya Naina tak mengatakan itu pada Reyhan.

Naina tahu, bahwa Reyhan terang-terangan menyukai dirinya. Tapi Naina harus sadar diri bahwa dirinya telah bersuami. Tak di pungkiri juga, selama ini Naina nyaman berada di dekat Reyhan. Namun Naina tetap memilih Ryan untuk menjadi suaminya.

"Rey, apakah kita masih bisa berteman?" Tanya Naina ragu.

Reyhan terdiam, untuk menatap Naina pun enggan.

"Rey, aku minta maaf." Lirih Naina dan pergi kembali ke tempat dagangannya.

Reyhan berbalik arah, ia memutarkan badannya menatap ke arah Naina.

"Naina, aku mau lanjut ke luar negeri."

Naina terdiam, ia tersenyum, "baik, aku akan menunggumu pulang. Saat kamu pulang nanti aku akan traktir kamu."

"Entahlah,"

Reyhan mengeluarkan uang satu lembar pecahan paling besar. Ia berlalu pergi tak ingin Naina mengetahui sakit hatinya. Emang berharap pada manusia itu hanya akan menyakitkan.

"Rey," seru Naina membuat langkah Reyhan terhenti.

"Bagaimana pun, aku tak layak untuk mu Rey. Aku wanita bersuami. Kamu harus memiliki perempuan suci yang hanya akan mencintaimu dengan tulus dan tak memiliki kesakitan masa lalu." Naina berjalan mendekati Reyhan.

"Satu hal yang pasti, selamanya kamu akan menjadi teman baik yang pernah aku punya Rey. Entah kamu menganggap ku atau tidak. Tapi aku menyukaimu sebagai pria, sebagai sahabat terbaik yang aku punya."

Reyhan menatap Naina, ia memicingkan bibirnya. "Berbahagialah," Reyhan mengusap kepala Naina lembut.

"Jika aku mengetahui kamu menderita lagi, aku tak akan melepaskan mu lagi ke pangkuan lelaki manapun." Ucap Reyhan lembut namun terdengar seperti ancaman.

"Baik," Naina tersenyum manis.

Reyhan membentang lengannya menyuruh Naina untuk memeluk dirinya. Pelukan perpisahan untuk sementara. Bagaimana pun Reyhan akan mengamati Naina dari jauh. Ia tak ingin kembangnya layu dan hancur lebur oleh lelaki manapun.

"Ingatlah ini, Na, aku akan menunggumu pisah. Jika itu terjadi, tengoklah ke belakang, aku akan tetap menunggu mu." Lirih Reyhan dalam pelukan.

"Baik, aku akan kembali mencari mu." Naina melepaskan pelukannya dan menatap Reyhan lekat.

...****************...

Reyhan kembali ke ruangan kerja Ryan. Ia ingin berbagi keluh kesahnya pada Kakanya. Bagaimana pun Reyhan dulunya dekat dengan Ryan. Ia selalu mengidolakan Kakaknya yang sukses di usia muda, gagah dan tampan.

Reyhan pun ingin menjadi pria yang dapat menjadi kebanggaan wanitanya kelak. Seperti Kakaknya yang selalu dapat pujian dari sudut mana pun. Kakaknya dapat menjadi patokan bagi wanita pilihannya.

"Lu kenapa lagi?" Tanya Ryan melihat adiknya itu terlihat murung.

Ryan melempar bungkus tembakaunya pada Reyhan. Ryan menyalakan tembakau itu dan menghisapnya perlahan.

"Aku berhenti merokok." Reyhan tak sudi menyentuh gulungan racun itu.

"Terserah,"

Keduanya saling diam untuk sesaat. Reyhan bingung harus memulai ceritanya pada Ryan. Apakah Kakaknya itu dapat memberikan solusi yang baik untuknya.

"Antara cinta dan cita-cita, mana yang akan kakak pilih terlebih dahulu?" Tanya Reyhan pada akhirnya memecahkan kebisuan.

"Cita-cita, sambil mempertahankan cinta." Ryan mematikan puntung rokoknya yang tinggal sepanjang jari kelingking.

"Wanita mana yang sedang lu taksir?" Mata Ryan menatap serius.

"Gadis desa yang telah bersuami."

Deg...

Hati Ryan seolah berhenti berdetak. Gadis desa yang telah bersuami? Apa adiknya itu sudah gila? Setidaknya gadis desa tak masalah, tapi statusnya kenapa harus mencintai istri orang? Apakah adik kakak ini benar-benar mencintai gadis desa?

"Jadi usahamu untuk memisahkan mereka itu gagal?" Seru Ryan.

Tak ada jawaban pasti dari Reyhan, namun Ryan bisa menangkap jawaban adiknya itu.

"Lalu apa yang akan lu lakuin?" Tanya Ryan memastikan.

"Aku akan ngambil program pertukaran pelajar."

"Baguslah." Ryan merebahkan punggungnya pada dinding sofa.

"Kak,"

"Ehmm..."

Reyhan kembali terdiam, ia bingung harus berkata bagaimana pada Kakaknya itu. Reyhan ingin meminta bantuan Ryan satu kali lagi. Reyhan ingin membawa Naina kabur ke luar negeri bersamanya. Tapi pikiran itu ia tepiskan, pasti Kakaknya akan mengadu yang tidak-tidak pada Papa dan Mama.

"Lu mau bilang apa?" Ryan menatap tajam pada adiknya itu.

"Gak jadi." Reyhan buru-buru bangun dan hendak pergi, namun langkah terhenti. Ia berbalik badan dan berkata lirih pada Ryan. "Penjual bakpao itu cantik, kan?"

Kini giliran Ryan terdiam. Ryan menerka-nerka, apakah gadis itu yang Reyhan suka? Jika benar, apakah adik kakak ini memiliki selera yang sama?

"Apa jangan-jangan orang yang lu cintai dia?" Tebak Ryan.

"Tepat sekali, cantik bukan? Sayangnya dia akan kembali bersama dengan suaminya." Senyum polos mengambang indah di bibir manis Reyhan.

Deg...

Lagi-lagi hati Ryan sakit, seperti ada yang menimpa ujung dadanya. Sesak.

"Ingat status mu Reyhan!" Bentak Ryan membuat Reyhan tersentak.

"Carilah wanita yang sepadan dan bukan seorang janda apalagi istri orang."

Reyhan benci dengan perkataan Ryan barusan. Apa salahnya mencintai istri orang? Toh, istri orang yang di maksud itu tak pernah di jamah oleh suaminya. Bahkan yang di katakan suaminya itu tak pernah melindungi dan memberi nafkah untuk mereka.

"Ini tentang hati, Kak. Bukankah Kakak pun mencintai wanita licik dan angkuh." Desis Reyhan menyulutkan api emosi.

"Jaga mulutmu, Rey!" Kali ini Ryan meninggikan suaranya.

Reyhan tak takut, karena ia tak terima, wanita yang di cintainya di hina di depan dirinya, bahkan itu oleh kakaknya sendiri.

Reyhan kali ini pergi tanpa menoleh lagi pada Ryan. Begitu pun Ryan membiarkan adiknya pergi begitu saja.

Rasa sakit di hati Ryan semakin menjadi. Ia tak bisa terima wanita yang ia miliki di sentuh pria lain. Bagaimana pun Naina masih berstatus istrinya. Ia tak ingin memberikan Naina pada Reyhan. Sekalipun Ryan memutus ikatan pernikahan bersama Naina. Ia tak akan memberikan Naina pada adiknya.

Dimata Ryan, Naina hanyalah gadis desa yang bodoh, namun gadis itu sangat mencintai uang daripada pria. Ryan tak ingin adiknya itu di peralat oleh Naina.

Ryan takut adiknya yang tak paham soal cinta malah terjerumus ke dalam cinta yang salah. Karena selama bersama Naina, Ryan paham, bahwa keluarga Naina adalah keluarga yang gila harta.

Bahkan Naina adalah gadis perhitungan dan selalu mengomel tentang uang dan uang. Itu membuat Ryan sedikit muak karena terdengar seperti anjing yang melong long.

"Tak bisa mendapatkan ku, kau incar adikku, Naina." Ryan mengepalkan tangannya kesal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!