Read this prequel novel first : AKU HARUS BAIK
Berdasarkan kisah nyata atau tidaknya itu terserah bagaimana kalian mempercayainya
18 tahun keatas untuk bisa memahami cerita
Novel ini khusus buat yang open minded
[Peringatan : Diharapkan bisa dalam berpikir dua sudut pandang dan berpikir majemuk sebelum membaca]
[Dukung terus author dengan like, komen, vote, favorit, dan share. Terimakasih]
Ini cerita tentang suatu keharusan kita dalam berperan jahat, bahwa kejahatan dirasa adalah hal yang terbaik dan perlu dilakukan saat itu juga.
Tidak peduli sekeras apapun kita mencoba dalam menghindarinya, pastilah akan ada seseorang yang memang harus berperan jahat didalam kehidupan kita
Dan,
Inilah aku sekarang.
Aku Harus Jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon After.Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23 - Belajarlah
...Semakin lama kita terus bersama. Semakin akan sulit untuk memutuskan ikatan...
Bagiku. Lebih mudah untuk melukai diriku sendiri, daripada orang lain terluka karena diriku sendiri dan itulah yang selama ini kulakukan, aku melihat Tanaya yang sedang berjalan dengan temannya, kemudian dia langsung menatap kearahku setelah melewatiku. Bersandar aku ditembok. Aku meluruskan kakiku, lalu, tertidur pulas beberapa menit setelahnya, dan tercium aroma parfum yang kukenal, aku terbangun dengan roti yang berada ditanganku, Tanaya berdiri disampingku sembari tersenyum manis, kemudian dia menyentuh pipiku, lalu, berjalan pergi meninggalkanku untuk menyusul temannya.
Aku memindahkan roti pemberiannya itu didekat pundakku, lalu, kembali aku tertidur, kemudian dikegelapan saat dialam bawa sadarku, dan aku terbayang oleh wajahnya yang sedang tersenyum kepadaku, semakin aku berusaha untuk menghilangkannya, justru bayangan wajahnya itu semakin jelas terbentuk. Tanaya. Aku terbangun dari tidurku yang lelap, kemudian memakan roti pemberiannya itu sembari berjalan menaiki tangga menuju lantai ketiga, dan sampai diruang kelas, aku tidak melihat dosen, lalu, aku meluruskan kakiku dikursi berjumlah tiga yang menyambung tepat didepan ruangan kelas.
Pukul 13.00,
Perkuliahan yang mengantukkan.
"Kosong?" ucap Tanaya
Menyebalkan. Aku tidak ingin menjawabnya, dan menutup kembali mataku,
"Harusnya itu dijawab" ucap Tanaya
Aku tersenyum simpul, "Kosong. Dosennya belum dateng"
"Telat. Mending gak dijawab" ucap Tanaya
"Katanya suruh dijawab" ucapku
Tanaya berjalan pergi menuju kelasnya, "Nanti lagi ngobrolnya, kalau, matkulnya udah selesai. Aku ijinnya itu kekamar mandi bukan ngobrol sama kamu"
"Jangan tidur dikursi. Kursi buat duduk" tambahnya
"Nanti aku duduk" ucapku
"Terusin nanti pulang" ucap Tanaya
Aku melihatnya hilang diujung koridor, dan bergumam pelan, "Kalau aku inget. Diterusin"
"Pulangnya" tambahku
Senja berganti malam. Aku hanya terdiam melihat semua orang mendekati, sekaligus menggoda Tanaya, dan lagipula aku memang tipe orang yang pendiam, aku lebih sering berbicara suatu hal yang penting, serta pembicaraan yang menjurus langsung ketopik tertentu. Gelasku yang berisi susu hampir kuhabiskan. Aku hanya tidak bisa tertawa, dan semuanya itu mungkin karena selera humorku yang berbeda, menurutku, tidak ada tinggi ataupun rendahnya dalam selera humor yang berada digaris horizontal, kemudian aku beranjak dari tempatku menjauhi semua orang yang ada ditongkrongan, lalu, aku duduk tenang sembari melihat kendaran yang berlalu - lalang tepat didepan mataku.
Tanaya berada disampingku.
Terdiam kita berdua.
"Ngapain kamu disini?" ucapku, tanpa melihatnya
Tanaya menahan senyuman, dan seharusnya aku tidak mengajukan pertanyaan seperti itu kepadanya, padahal dialah sebenarnya orang yang tepat dalam mengajukan pertanyan tersebut, kemudian aku menoleh kearahnya, lalu, diapun melakukan yang sama denganku tidak lama setelahnya. Suasana yang canggung. Kendaraan yang melintas tepat didepan mataku itu menenangkan perasaanku, dan sesekali aku menatap seorang perempuan yang berada disampingku, kemudian aku tidak mengerti pemicu yang membuat kita tersenyum simpul, lalu, aku kembali melihat jalanan yang hampir dipenuhi oleh berbagai kendaraan.
Satu hal yang aku suka dimalam hari yaitu cahaya lampu dijalanan, serta lampu yang menghiasi suatu tempat, karena lampu itu mempunyai susunan dan warna yang beragam, malam hari seakan mempunyai kekuatan untuk membuat kita lebih menggunakan perasaan. Malam yang ajaib. Ada satu hal lagi yang menarik dimalam hari, yaitu kita bisa mengetahui keadaan dari seseorang yang sebenarnya, misalnya, ada seseorang tersenyum serta tertawa disiang harinya, dan saat malam berganti, dia memilih untuk menyendiri kemudian menangis sepanjang malam, tanpa malam kita tidak akan pernah mengerti apa yang seseorang itu rasakan.
...Belajarlah dari kegelapan untuk mengenal siapa cahaya...
"Ngapain kamu disini?" ucap Tanaya, mengulang kembali pertanyaanku
Tanaya menempatkan kedua tangannya dibelakang badannya, kemudian tetap melihat kedepan, "Aku pergi aja. Bosen. Masa disana aku digodain terus"
"Kamu?" ucap Tanaya
"Aku pengen aja" ucapku
"Disini lebih nyaman?" ucap Tanaya
"Lumayan" ucapku
Tanaya menundukkan kepalanya, dan tersenyum penuh artian, "Aneh. Dikeramaian kita pengennya itu kesunyian. Terus. Dikesunyian kita pengennya itu keramaian"
"Sebenernya apa yang kita pengenin?" ucap Tanaya
Tanaya tersenyum kecut, sembari melirik kearahku, "Manusia. Semuanya hidup dengan suatu kemunafikan. Emang"
"Susah jalanin hidup" ucap Tanaya
"Bener" ucapku
Tidaklah bisa kujelaskan,
Perasaanku.
Kuperhatikan. Mereka yang ada ditongkrongan sedang mendekati seorang perempuan, dan tangannya terus dipegang, kemudian dagu perempuan itu disentuhnya, lalu, semua orang yang ada disana tertawa dengan lepasnya, aku kembali melihat berbagai kendaraan yang melintas dijalanan. Udara yang dingin. Aku berjalan melewati apa yang sedang mereka lakukan, dan mengambil jaket Tanaya yang diletakannya begitu saja dikursi, kemudian aku langsung kembali berjalan kearah Tanaya yang sedang melamun, lalu, aku memakaikan jaket kepadanya. Tanaya sedikit terkejut.
Begitulah,
Bajunya itu selalu mengalihkan perhatianku disaat aku melihatnya, dan juga, kenapa dia memakai baju yang seperti itu disaat malam hari yang dingin, bajunya itu hanya menutupi tubuhnya, seluruh lengannya serta bagian dibawah lehernya bisa kalian lihat dengan jelas. Inginku bertanya kepadanya. Apakah dia nyaman saat memakainya, atau, bagaimana perasannya saat memakainya? Aku ingin sekali untuk menanyakan kepadanya, tapi, aku lebih memilih untuk mengurungkan niatku, lagipula, pertanyaan seperti itu seakan menunjukkan betapa aku yang ingin menghakiminya, padahal aku hanya sekedar penasaran semata tentang jawabannya. Kupilih tidak bertanya.
"Dingin" ucapku
"Harusnya dipakai jaketnya" ucapku
Tanaya menatapku lekat, kemudian tersenyum simpul, "Iya. Bajuku tipis banget. Lupa"
"Makasih udah perhatian" ucap Tanaya
kak thor ngulang baca lagi 🤗 setelah pernah usai
kan gelap....