Season 1 : Nadia dan Nathan (Tamat)
Season 2 : Nara dan alex (Tamat)
Baca juga kelanjutannya dengan judul dan kisah baru "Pernikahan Paksa Karina"
Seperti biasanya, baca lima episode dulu ea biar enak bacanya.
Nadia Ayu Purnama adalah seorang gadis cantik berusia sembilan belas tahun yang terpaksa menikah dengan seorang rentenir.
Menjadi istri muda dari seseorang yang lebih pantas disebut paman olehnya membuatnya tersiksa. Apalagi tekanan dari Devi, istei pertama Bondan yang selalu menyiksanya bukan hanya dengan fisik, tapi juga dengan perkataan yang selalu membuat air mata Nadia meleleh.
Akankan seumur hidup dia berada dalam kubangan menjadi istri kedua yang menderita? Atau apakah dia dapat terlepas dari laki-laki yang membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri?
Mari kita Do'akan agar Nadia menemukan laki-laki yang dapat menyelamatkan hidupnya dan menerima Nadia dengan cintanya yang tulus. Aamiiin.
Ikuti ceritanya ya Zheyenk 😘
Jangan lupa Vote dan Rate dulu dong 😁
Terus masukin juga jadi favorit kamu 😎
Ya udah deh. Silahkan membaca 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_OK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Ulah Narti
Nadia tersedak teh yang baru disesapnya. Berita yang baru saja dia dengar membuatnya terkejut. Dia tidak menyangka jika Narti akan mengabaikan peringatan yang dia berikan.
Nadia menyayangkan Mengapa wanita itu sangat ceroboh. Dengan lantangnya dia mengabarkan pada masyarakat luas jika dirinya telah mengandung anak dari juragan Bondan. Dia berniat meminta tolong kepada warga untuk meminta pertanggungjawaban dari laki-laki yang berpengaruh di desanya itu.
Narti mengabaikan peringatan yang diberikan Nadia. Wanita itu menganggap ucapan Nadia tidak beralasan dan lebih menganggap Nadia hanya iri karena belum juga dapat mengandung setelah lama menikah.
“Apakah kabar yang kamu dengar ini benar Jon?”
“Benar Nad. Nita tadi mengatakannya padaku. Dia mendengar sendiri Narti yang mengatakan bahwa dia sedang hamil anak juragan”
Benar-benar menjengkelkan. Nadia baru saja memulai kegiatan setelah masa berkabungnya. Dan sekarang malah mendengar masalah yang akan menjadi masalah besar. Berita ini menyebar. Tentu tidak akan semudah menghilangkan cambah yang masih berada di dalam tanah. Jika sesuatu terjadi pada Narti, pasti akan ada imbas yang didapat keluarganya.
“Dia benar-benar nekad Jon.” Nadia menghela nafas. “apakah dia fikir waktu itu aku hanya mengatakan omong kosong padanya?”
“Mungkin dia fikir kamu cemburu Nad.”
“Ck. Cemburu. Urat yang bisa membuat cemburu sudah putus Jon. Kata aneh itu tidak cocok sama sekali denganku.”
Joni mengamati ekspresi Nadia yang terlihat jengkel. Melihat wajah cemberut Nadia membuatnya merasa geli. Selama Nadia hamil, banyak ekspresi yang sering dia lihat pada wajah ayu juragan mudanya itu.
“Menurutmu apa yang akan terjadi padanya?”
“Pilihan satu atau dua.”
“Itu sudah pasti. Tidak akan ada pilihan ketiga untuknya.”
“Melihat perutnya yang masih kecil, aku rasa pilihan pertama.”
“Sangat disayangkan.”
“Apakah kamu mau melindunginya kali ini?”
“Buat apa Jon? Aku sudah berbaik hati memperingatinya. Jika ini pilihannya, aku persilakan.”
Joni hanya menganggukkan kepalanya. Wajahnya terlihat kecewa. Menyayangkan tindakan yang diambil Narti. Nadia tidak bisa disalahkan jika dia tidak menolong. Semua sudah terlambat sekarang. Berita itu sudah menyebar. Telinga orang yang seharusnya tidak mendengar berita itu juga sudah dipastikan memerah setelah mendengar berita ini.
“Sudahlah Jon. Ini bukan lagi menjadi urusan kita. Lebih baik antar aku ke sekolah sekarang.” Nadia berdiri dan melenggang diikuti Joni di belakangnya.
*****
Nadia memandang sendu seorang pasien yang tengah terbaring lemah di salah satu brangkar di puskesmas. Wanita itu baru saja kehilangan calon bayinya. Nadia mungkin terlihat acuh, Namun dia memerintahkan Seseorang untuk mengawasi Narti. Dia ingin ada orang yang akam bertidak cepat jika sesuatu yang buruk terjadi di rumah itu.
Dugaan Nadia tidaklah meleset. Orang suruhan Narti yang merupakan tetangganya mendengar teriakan dari Narti. Ketika ditemukan, banyak darah yang keluar dari bagian bawah Narti. Dengan cepat Narti di bawa ke puskesmas untuk mendapatkan pertolongan. Namun sayang, nyawa janin kecil yang baru berusia empat bulan itu tidak bisa diselamatkan.
"Apa yang kamu lakukan pada anakku Nadia?" tanya Narti dengan air mata yang meleleh di kedua pipinya.
"Kenapa anda menuduhku mbak?"
"Karna kamu yang bilang jika aku menyebarkan berita ini, aku dalam bahaya."
"Bukankah terbukti sekarang?"
"Kau pembunuh!" teriaknya. Dia meronta hendak menyerang Nadia. Namun segera dicegah oleh Joni.
"Bukan aku yang melakukannya mbak Narti. Aku tidak ada urusan dengan kehamilan anda."
"Kau pembunuh Nadia. Kamu tidak akan pernah mempunyai anak! Anak yang kamu kandung akan bernasib sama dengan anakku. Camkan itu!"
deg.... Kenapa aku jadi kena kutukan?Kenapa wanita yang sedang terluka ini mengatakan hal yang menyakitkan? Nadia meneteskan air matanya mendengar sumpah serapah wanita di depannya.
"Tenanglah mbak Narti. Dengarkan ucapanku untuk saat ini." Narti mulai diam. Dia ingin mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh istri muda dari orang yang telah membuatnya hamil.
"Saya bukanlah pembunuh anak anda mbak. Saya bahkan berusaha melindunginya. Namun sayangnya anda bertindak dengan gegabah dengan tidak mendengarkan apa yang saya ucapkan."
"Kalau bukan kamu, Siapa yang melakukannya? Katakan padaku Nadia!"
"Jika anda ingin tahu, anda bisa melaporkan kejadian ini pada polisi. Polisi akan mengusutnya untuk anda."
"Kamu pasti tahu pelakunya kan?"
"Jikapun saya mengetahuinya. Saya tidak mempunyai bukti untuk itu. Saya hanya akan dikatakan sebagai pembual."
Nathan masuk ke dalam kamar inap Narti. Dia menyerahkan berkas hasil lap yang menjelaskan penyebab Narti keguguran. Nadia yang meminta Nathan untuk melakukannya. Nadia membaca berkas itu.
"Dia meminum obat keras untuk menggugurkan kandungan Bu Nadia." jelas Nathan sambil menunjuk kata-kata yang tertulis jenis zat yang berhasil menghilangkan nyawa segumpal daging kecil. Nadia mendesah.
"Jika anda ingin kasus ini diproses. Gunakan berkas ini." Nadia menyerahkannya pada Narti. Keputusan ada di tangannya.
"Saya harus bagaimana sekarang?"
"Semua pilihan berada di tangan anda mbak Narti."
"Bantu saya bu Nadia."
"Orang ini selalu melakukan pekerjaan dengan rapi mbak. Akan sangat sulit mendapatkan bukti yang memberatkannya. Untuk melakukan ini dia tidaklah melakukannya dengan tergesa-gesa. Dia melakukan perencanaan yang matang agar rencananya berjalan lancar tanpa ketahuan." jelas Nadia. Dia sudah menduga siapa pelakunya. Tapi dia tidak tahu cara orang itu melakukan niat jahatnya.
Nathan yang dari tadi mendengar ucapan keduanya mulai ikut berfikir. Hidup di desa tidaklah sesimple yang dia bayangkan sebelumnya. Sekarang bahkan dia seperti melihat drama Korea tentang selir dan racun yang biasa digunakan untuk melancarkan rencana jahat.
"Jadi saya harus bagaimana?"
"Apakah anda tahu apa yang masuk ke dalam tubuh anda sebelum keguguran?"
"Siang ini itu aku sedang ingin sekali makan bakso, Jadi aku pergi untuk membeli bakso. Aku makan disana karena sudah tidak tahan. menahan keinginan ku. Waktu aku sedang makan. Ada seorang yang jatuh di atas mejaku. Orang itu... "
"Dia eksekutor." potong Nadia.
"Tapi siapa dia? Saya tidak mengenalnya. Mengapa dia memiliki niat buruk pada saya?"
"Seseorang bisa melakukan hal buruk tanpa harus mengenal mbak Narti. Uang bisa bertindak lebih sekarang. Orang itu licik mbak. Maka dari itu saya sudah pernah memberitahu mbak untuk diam."
"Menurutmu apa aku harus lapor polisi?"
"Anda sudah sangat berani mempertaruhkan nama baik anda dengan menyebarkan berita itu mbak. Jadi menurut saya, jika anda berhenti disini, mbak akan rugi. Tapi jika mbak memang memilih untuk melaporkan ini, saya harap anda lebih waspada. Bahaya mengintai mbak."
Nathan memandang Nadia. Dia seperti menanamkan ketakutan pada Narti. Nathan jadi mencurigainya. Walaupun kata-kata yang diucapkan Nadia adalah sebuah kebenaran, tapi tidaklah benar menghalangi seseorang untuk melaporkan kasus kejahatan.
"Dokter juga mencurigai saya?" tanya Nadia membuat Nathan tersedak. Bahkan Joni melotot karenanya. Dia tidak menyangka jika Nadia akan menjadi tertuduh.
"Jon, bawa dia kemari."
Joni masuk dengan membawa seorang tetangga Narti yang membawa Narti ke puskesmas.
"Siapa dia?" tanya Nathan.
"Dia saksi saya yang akan menjelaskan saya tidak ada sangkut pautnya dengan ini."
Wanita itu menjelaskan bahwa sejak berita kehamilan Narti tersebar seminggu yang lalu, Nadia meminta bantuannya untuk ikut mengawasi sekitar rumah Narti. Dan melaporkan pada Nadia jika ada sesuatu yang mencurigakan. Dia juga menunjukkan beberapa foto yang memperlihatkan ada seorang pria dengan memakai masker dan topi berkeliaran di sekitar rumah Narti dan mengikuti kemana Narti pergi.
"Tapi anda tidak boleh menakut-nakuti orang untuk melaporkan kasus kejahatan di kantor polisi bu Nadia."
"Saya tidak menakut-nakuti dokter. Saya hanya berpesan untuk berhati-hati. Saya sudah sering mengetahui kejadian seperti ini."
"Maksudnya?"
"Semua yang hamil anak dari suami saya akan berakhir buruk. Keguguran atau yang paling fatal hilangnya nyawa keduanya. Saya sudah hafal dengan kejadian ini. Makanya kemarin saat mbak Narti berbicara pada saya, saya minta mbak Narti untuk diam. Tapi dia tidak mengindahkan peringatan yang saya berikan. Saya hanya ingin melindungi Dokter." ucap Nadia dengan nada tinggi.
Mendengar itu Narti menangis. Dia menyesal sekarang. Jika dia mengikuti saran Nadia, mungkin anaknya selamat sekarang.
"Tenanglah Nyonya Muda." Joni berusaha meredam emosi Nadia.
"Jika mbak Narti ingin melaporkan kejadian ini saya sangat mendukung. Saya bahkan sudah mencetak foto pelakunya." Joni menyerahkan amplop coklat berisi foto yang tadi ditunjukkan oleh tetangga Narti. "Gunakan foto ini dengan baik. Tapi maaf. Saya tidak bisa menolong lebih jauh lagi. Saya hanya bisa berdoa semoga anda berhasil. Karena keberhasilan yang anda raih sangat besar artinya untuk saya."
Nadia pergi setelah pamit pada kedua orang yang memandang kepergian Nadia dengan pilu. Keduanya sadar telah menyakiti hati Nadia. Padahal Nadia sudah dengan tulus berniat membantu. Tapi mereka malah salah faham dan menyakiti.
*
*
*
^^^~***Aku Istri Muda***~^^^