Rahman adalah pemuda biasa yatim piatu yang sejak kecil ikut dengan Pakde nya, hingga suatu hari dia di ajak menemani pakde pergi kegunung Kawi.
di gunung itu lah dia menyaksikan hal yang sangat tidak dia duga, bahkan menjadikan trauma panjang karena dari ritual itu dia harus sering berhadapan dengan sesuatu yang mengerikan.
Untung nya Rahman punya teman bernama Arya, sehingga pemuda itu bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Arman bercerita
"Maka nya kau kalau berbicara jangan sembarangan seperti itu." Arya berkata pelan ketika Arman selesai bercerita.
"Tapi kan aku hanya berbicara fakta kalau Pakde Parto baru saja jadi kepala desa tapi langsung membelikan Rahman sepeda motor seperti itu." Arman masih saja tetap keras kepala.
"Ya kan Pakde Parto memang sudah orang berduit sejak dulu, jadi bukan berarti karena dia jadi kepala desa lalu kau bisa berkata sesuka hati seperti itu." Arya cuek saja.
"Aku pokoknya yakin sekali kalau memang Pakde Parto memiliki sesuatu yang tidak lazim." Arman tetap saja keras kepala.
"Ya terserah saja kalau kamu memang sangat sulit untuk di bilangi." Arya bersikap cuek.
Sebab menurut dia juga percuma untuk menasehati Arman karena jelas pemuda itu tidak akan pernah menerima masukan dari siapa saja, sebab dia merasa sudah benar dan tidak salah berpikiran demikian jadi bila Arya berusaha untuk menjelaskan akan terasa percuma dan hanya akan membuang tenaga saja.
Andai saja Arman bukan teman dia sejak lama maka sudah pasti akan Arya tidak mau lagi ngobrol dengan pemuda ini, untung juga masih ada Aska yang selalu menemani mereka dan dia pun berpendapat bahwa Arman hanya selalu berpikiran buruk pada orang yang hidupnya jauh lebih baik dari pada dia saat ini.
Sebab sekarang pasti Rahman memiliki motor baru sehingga membuat Arman merasa iri sehingga dia berbicara buruk tentang Pakde Parto yang telah menjadi kepala desa, padahal orang tua itu memang sudah cukup berada dari sebelum menjabat sebagai kepala desa dan itu semua hasil kerja dia selama menjadi petani yang berpenghasilan besar.
Bukan karena jadi kepala desa lalu bisa membelikan keponakan sepeda motor karena itu tidak mungkin terjadi, dan Arya masih beranggapan bahwa sekarang Rahman sudah cukup besar sehingga tidak masalah bila dibelikan motor seperti itu karena dia juga menganggap sebagai keluarga mampu pasti akan berusaha keras untuk menuruti keinginan anak walau Rahman bukan anak kandung dari Pakde Parto.
Arman yang merasa tidak di tanggapi maka dia segera pergi dari hadapan Arya dan juga Azka karena dia ingin menemui seseorang yang menurut Arman bisa membuat atau membongkar semua kebusukan yang telah terjadi, sebab tadi dia yakin ada sesuatu yang tidak lazim mendatangi dirinya saat ada di kamar mandi sekolah.
"Dia kok seperti anak yang gampang iri gitu ya." Azka menatap langkah Arman.
"Mungkin Arman sudah lama ingin punya motor seperti itu tapi malah Rahman duluan yang punya." Arya menjawab santai saja.
"Dasar teman tidak berguna kalau seperti itu, tidak bisa melihat teman memiliki sesuatu maka akan timbul rasa iri di dalam hati." Azka berkata dengan nada kesal.
"Biarlah, namanya manusia mana bisa bersikap sama." Arya memang sangat bijak.
"Padahal dia kan dengan Rahman berteman baik dan selama ini juga sering ke rumah Pakde Parto." Azka masih merasa kesal dengan tindakan Arman.
"Kadang kita memang harus pintar memilah manusia agar tidak tertipu dengan wajah manis mereka, belum tentu baik di luar dan di dalam juga baik." ujar Arya pelan.
Azka mengangguk setuju karena memang benar tidak ada manusia yang sempurna dari segala segi, karena biar bagaimana saja manusia memang memiliki potensi untuk mengecewakan manusia lain. bukan karena mereka jahat tapi memang itu adalah kodrat manusia sendiri, jadi jangan pernah berharap lebih kepada manusia karena hanya akan membuat hati terasa begitu sakit.
"Aku pulang dulu karena nanti mau mengaji di rumah habib." pamit Arya karena dia memang rajin mengaji di pondok pesantren.
"Ya, aku mau ke rumah Maulana juga Karena ada urusan sedikit." Azka mengangguk setuju.
"Nanti malam habis pulang ngaji kita duduk di pos saja lagi." ajak Arya.
"Boleh, sekalian nanti aku ajak yang lain biar kita bisa ngobrol bareng di pos." Azka setuju dengan ajakan Arya barusan karena mereka memang sering duduk di pos ini.
Kedua pemuda tampan ini kemudian berpisah karena mereka memiliki urusan masing-masing dan Arya memang masih sering mengaji di pondok pesantren milik habib Amir, bersama dengan Purnama juga karena Arya memiliki Kakak cantik jelita bernama Arya dan Purnama ini memiliki kekuatan yang tidak biasa karena mereka berdua bukan anak manusia.
Tapi kalau mereka bukan manusia tapi sekarang sudah di asuh oleh manusia biasa dan Purnama juga tidak sembarangan bersikap, oleh sebab itu kedua kakak beradik ini dituntut untuk mengaji oleh Bu Laras agar tidak kembali ke jalan yang sesat karena darah iblis mengalir di dalam tubuh mereka.
...****************...
"Arman kemana kok dia langsung hilang saja?" Rahman mencari keberadaan sang teman yang tidak kembali usai dari toilet.
"Tadi ada tapi kelihatan dia seperti takut gitu habis dari dalam toilet." Edo yang menjawab ucapan Rahman.
"Hah?!" Joko langsung menoleh ketika mendengar ucapan Edo barusan.
"Iya, dia seperti orang takut dan aku juga tidak paham kenapa dia terlihat ketakutan seperti itu." jelas Edo.
"Paling itu dia berakting karena ingin bolos aja sekolah." celetuk Rahman yang sudah hafal dengan tabiat Arman.
"Paling juga begitu, kan dia memang paling malas kalau soal sekolah karena katanya otaknya susah untuk berpikir." Joko juga setuju dengan ucapan Rahman.
Edo nampak berpikir sesaat karena dia memang yang bertemu dengan Arman secara langsung ketika habis keluar dari dalam toilet saat itu sehingga Edo bisa menyaksikan sendiri bagaimana raut wajah takut pemuda tersebut, terlihat bahwa Arman tidak sedang akting atau pun bersandiwara karena wajah Arman terlihat sangat pucat dan ketakutan.
Tapi kalau dia berusaha menjelaskan pun nanti kedua teman nya ini tidak percaya sehingga Edo memilih untuk diam saja agar tidak terjadi perdebatan lagi, sebab memang selama ini Arman sangat malas bilang untuk masuk sekolah dan selalu mencari alasan agar bisa bolos dari hari ke hari sehingga nilai pun menjadi buruk.
"Ayo nanti pulang sekolah boncengan sama aku yuk." Rahman mengajak kedua temannya itu.
"Ah aku loh punya motor juga jadi bagaimana mau bonceng kau." tolak Edo.
"Aku yang mau lah karena aku belum punya motor ini." sahut Joko cepat.
"Kita coba jalan-jalan sekalian ya." ajak Rahman penuh semangat.
Joko yang diajak tentu saja tidak menolak karena dia juga ingin menjajah bagaimana rasa naik motor baru bersama dengan teman, Raman yang mengajak secara langsung sehingga Joko pun tidak keberatan dan menerima saja ajakan dari sang teman, tidak masalah mau ke mana saja karena dia akan pasrah di boncengan belakang.
Selamat malam Besti, jangan lupa like dan komen nya ya.