Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mekanisme Feedback Positif
Malam telah larut di lereng Menoreh. Suara jangkrik mengerik bersahutan, mengisi kesunyian yang ditinggalkan oleh keributan sore tadi.
Di dalam gubuk reyot milik keluarga Adhiwijaya, Sekar Wening berbaring di atas dipan kayunya yang keras.
Tubuh fisiknya terasa remuk redam.
Meskipun Arya telah menyelesaikan masalah dengan para preman itu tanpa kekerasan fisik, namun ketegangan saraf yang dialami Sekar setara dengan lari maraton.
Adrenalin yang tadi memuncak kini merosot tajam, meninggalkan rasa lelah yang menusuk tulang.
Di kamar sebelah, terdengar dengkuran halus Ibu Rahayu.
Ibunya tidur lebih awal, kelelahan setelah menangis seharian karena syok melihat putrinya hampir ditikam preman.
Sekar menatap langit-langit anyaman bambu yang bolong-bolong.
Cahaya bulan menerobos masuk, menyinari jari manis tangan kirinya. Tanda lahir berbentuk bulir padi itu berpendar sangat samar. "Waktunya istirahat," gumam Sekar pelan.
Dia memejamkan mata. Mengatur napasnya menjadi ritme yang tenang.
Dalam hitungan detik, kesadaran Sekar terlepas dari tubuh fisiknya.
Tubuh gadis 18 tahun itu tampak tertidur pulas di dunia nyata, dadanya naik turun dengan teratur. Namun, jiwanya telah melesat menembus dimensi.
Aroma pertama yang menyambutnya bukan lagi aroma tanah basah dan bambu muda. Hidung Sekar mengkerut. Ini aroma kayu ulin. Kayu besi.
Aroma yang maskulin, tua, dan berwibawa.
Sekar membuka matanya.
Dan dia terpaku.
Profesor Sekar Ayu Prameswari, yang seumur hidupnya selalu berpegang pada logika dan sulit dikejutkan, kini berdiri mematung dengan mulut sedikit terbuka.
Gubuk bambu mungil yang estetik itu... sudah lenyap.
Sebagai gantinya, berdiri sebuah pondok kayu yang kokoh dan megah di tengah hamparan tanah subur Ruang Spasial.
Bangunan itu tidak terlalu besar, tapi strukturnya memancarkan aura kekuatan yang abadi. Dindingnya terbuat dari papan kayu ulin hitam yang tebal, tersusun rapi dengan teknik pasak kuno tanpa paku. Atapnya bukan lagi rumbia, melainkan sirap kayu ulin yang ditata menyerupai sisik naga.
"Evolusi..." bisik Sekar.
Otaknya segera menganalisis kausalitas fenomena ini.
Hukum Kekekalan Energi.
Selama seminggu terakhir, Sekar secara agresif "mengeluarkan" air spiritual dari ruang ini ke dunia nyata untuk menyuburkan lahan tandus bukit kapur.
Rupanya, Ruang Spasial ini memiliki mekanisme feedback positif.
Semakin banyak manfaat yang dia tebar ke dunia luar, semakin ruang ini meningkatkan kapasitasnya untuk memfasilitasi kebutuhan Sekar.
Sekar melangkah menaiki tangga teras pondok itu.
Kayu ulin itu terasa dingin dan licin di telapak kakinya yang telanjang.
Krieeet...
Pintu kayu berat itu terbuka saat disentuh, seolah mengenali tuannya.
Sekar melangkah masuk.
Matanya berbinar. Jika di luar sana dia adalah gadis desa miskin, di dalam sini, dia baru saja mendapatkan kembali "takhta"-nya.
Ruangan itu bukan lagi tempat istirahat biasa.
Ini adalah laboratorium.
Laboratorium alkimia kuno yang dipadukan dengan kenyamanan modern.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja panjang dari kayu jati utuh yang sangat tebal. Serat kayunya meliuk indah, dipoles hingga mengkilap.
Dan di atas meja itu...
Tangan Sekar gemetar karena antusiasme saat menyentuh peralatan yang tertata rapi di sana.
Bukan gelas ukur pyrex atau mikroskop elektron seperti di kehidupan lalunya, tapi peralatan distilasi dari tembaga murni yang berkilauan ditimpa cahaya misterius ruangan itu.
Ada alembic atau labu penyulingan dengan leher angsa yang melengkung elegan. Ada mortar, alu dan lumpang yang terbuat dari batu giok hijau dingin. Ada deretan toples kaca kristal berbagai ukuran yang masih kosong, menunggu untuk diisi.
"Luar biasa," desis Sekar.
Dia mengambil alu giok itu, merasakan bobotnya yang pas di tangan. Ergonomis. Sempurna untuk menumbuk simplisia keras tanpa merusak struktur selnya.
Sekar beralih ke sudut ruangan. Di sana, terdapat rak kayu yang menempel di dinding. Rak itu tidak kosong.
Beberapa buku kuno dengan sampul kulit tergeletak di sana. Namun saat Sekar membukanya, halamannya kosong.
"Sepertinya aku harus menulis resepku sendiri," pikirnya logis.
Sekar berjalan keluar pondok, menuju kebun herbal yang tumbuh liar di pinggir mata air spiritual.
Selama ini, dia hanya fokus menanam sayuran untuk dijual cepat demi uang tunai.
Namun, dengan peralatan baru ini, dia bisa membidik pasar yang jauh lebih tinggi daripada sekadar pasar sayur Godean.
Pasar High-End.
Mata jeli sang Profesor memindai tanaman-tanaman di sana.
Pandangannya terkunci pada rumpun bunga mawar hutan yang tumbuh merambat di dekat batu karang.
Bunganya tidak seperti mawar biasa. Kelopaknya berwarna merah darah yang pekat, dengan semburat ungu di bagian tepinya.
Ukurannya dua kali lipat mawar normal.
Aromanya begitu kuat hingga membuat kepala sedikit pening saking manisnya.
"Mawar Damaskus varian purba?" duga Sekar.
Dia memetik satu kelopak, meremasnya sedikit. Minyak atsiri langsung keluar, melapisi jarinya dengan cairan bening yang harum.
Kadar minyaknya sangat tinggi. Sekar segera memanen sekeranjang penuh kelopak mawar itu.
Dia juga mengambil beberapa batang lidah buaya raksasa yang dagingnya sebening kristal, serta segenggam Centella asiatica yang tumbuh subur di lembabnya tanah pinggir kolam.
Kembali ke meja racik barunya, Sekar merasa seperti pianis yang kembali duduk di depan grand piano setelah bertahun-tahun dilarang bermusik.
Dia mulai bekerja. Tangannya bergerak cekatan, memotong, menumbuk, dan meracik.
Tidak ada keraguan. Gerakannya efisien, sisa dari memori otot puluhan tahun bekerja di lab bio-teknologi.
Sekar memasukkan kelopak mawar itu ke dalam labu tembaga. Dia menambahkan air spiritual sebagai pelarut.
Bukan air biasa. Air dengan struktur heksagonal yang sempurna.
Lalu dia menyalakan api.
Bukan api gas, melainkan tungku kecil di bawah meja yang menggunakan batu bara khusus yang sudah tersedia di sana. Apinya biru, stabil, dan panasnya konsisten.
Proses distilasi dimulai.
Cairan di dalam labu mendidih. Uapnya naik, membawa serta molekul-molekul minyak atsiri mawar, melewati leher angsa tembaga, lalu mendingin dan menetes ke wadah penampung.
Tes... tes... tes...
Setiap tetesan adalah emas cair.
Sekar memperhatikan proses itu dengan tatapan intens.
Dalam benaknya, dia tidak melihat "sihir". Dia melihat reaksi kimia.
Steam Distillation.
Metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan penguapan.
Uap air memecah kelenjar minyak pada sel tumbuhan, membawanya terbang, lalu kondensasi memisahkan kembali air dan minyak.
Namun, karena menggunakan air spiritual dan alat tembaga murni ini, kemurnian hasil sulingannya mencapai tingkat farmasi 99%.
"Tanpa pengawet paraben. Tanpa pewangi sintetis. Murni bio-aktif," gumam Sekar puas.
Sementara menunggu proses penyulingan mawar selesai, Sekar beralih ke alu gioknya.
Dia memasukkan pegagan dan daging lidah buaya.
Tuk... Tuk... Tuk...
Suara alu beradu dengan lumpang mengisi keheningan pondok kayu ulin itu.
Sekar menumbuknya dengan ritme konstan.
Pegagan mengandung madecassoside yang ampuh untuk regenerasi sel kulit dan penyembuhan luka. Lidah buaya adalah humektan alami terbaik.
Dicampur dengan air spiritual, tumbukan itu berubah menjadi gel bening yang bercahaya kehijauan.
Sekar mencolek sedikit gel itu, mengoleskannya ke punggung tangannya yang kasar karena sering mencangkul di dunia nyata.
Sensasi dingin menjalar seketika. Kulitnya menyerap gel itu seperti tanah kering menyerap hujan.
Dalam hitungan detik, kulit punggung tangannya yang tadinya kering dan bersisik, menjadi lembap, kenyal, dan... glowing.
Efek visualnya instan.
"Luar biasa," Sekar tersenyum lebar. Ini bukan sekadar skincare biasa.
Ini adalah "Serum Awet Muda" dalam arti yang sebenarnya.
Kombinasi antioksidan dari mawar purba, regenerasi sel dari pegagan, dan energi vital dari air spiritual menciptakan formula yang bisa membuat wanita mana pun rela menukar warisan mereka demi sebotol kecil cairan ini.
Sekar menuangkan hasil sulingan mawar, yang kini berupa lapisan minyak merah muda di atas air, ke dalam botol kaca kecil yang cantik.
Lalu dia mencampurnya dengan ekstrak gel pegagan tadi dengan rasio 1:3.
Dia mengocoknya perlahan hingga terjadi emulsi sempurna.
Cairan itu berubah warna menjadi peach transparan yang sangat cantik, dengan buih-buih mikro oksigen di dalamnya.
Sekar mengangkat botol itu tinggi-tinggi, mensejajarkannya dengan cahaya pendaran ruang spasial. Indah. Mewah.
"Pasar Godean tidak akan sanggup membayar ini," pikir Sekar, naluri bisnisnya mulai berputar.
Dia butuh target pasar yang memiliki uang berlebih dan obsesi tinggi pada kecantikan.
Keluarga Adhiwijaya di kota?
Terlalu rendah.
Sekar teringat pada sosok wanita elegan yang dia lihat di majalah bekas yang membungkus cabai di pasar.
Wanita-wanita sosialita Yogyakarta. Istri pejabat. Atau bahkan... kalangan Keraton.
Dia teringat mobil mewah Arya. Pria itu punya akses ke dunia yang belum bisa dijangkau Sekar.
Tapi Sekar tidak mau bergantung pada belas kasihan Arya. Dia ingin berdiri sejajar sebagai mitra bisnis.
"Aku akan buatkan sampel," putus Sekar. Dia akan membuat serangkaian produk. Toner, Serum, dan Face Mist.
Dia akan mengemasnya dalam botol-botol kaca kecil yang estetik, lalu memberinya label tulisan tangan yang rapi.
Sekar kembali bekerja.
Lupakan rasa lelah. Semangat penelitinya sedang membara.
Di meja racik kayu jati itu, di dalam pondok ulin yang kokoh, Sekar Wening sedang meramu masa depannya.
Bukan sebagai gadis desa yang dikasihani, tapi sebagai maestro herbal yang akan dicari oleh seluruh negeri.