NovelToon NovelToon
Ketika Restu Jadi Penghalang

Ketika Restu Jadi Penghalang

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:22.7k
Nilai: 5
Nama Author: Muliana95

Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.

Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.

Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Yang Terucap

Safira keluar dari kamar mandi. Dia melihat ranjang telah kosong. Suaminya bahkan tak ada di kamar.

Safira menghela napas, dia memilih duduk di depan meja rias, guna mengeringkan rambutnya.

Namun jujur, bayangan tentang raut wajah Bagas, masih berputar-putar di kepalanya.

"Pantas, dia hanya mengungkapkan rasa sayang selama ini," lirih Safira tertawa getir.

Tidak, lebih tepatnya mengetawakan diri sendiri. Yang bahkan, sampai kini, belum berhasil mendapatkan cinta dari suaminya.

"Mungkin, karena ini lah, Allah menjagaku agar tidak hamil dulu," lanjutnya mengelus pelan, perutnya yang masih rata.

Setetes air bening, keluar dari matanya. Dan Safira membiarkannya. Berharap kegelisahan dan kekacauan yang di rasakan, segera lenyap.

"Dia suamiku ... Lelaki yang telah mengambil seluruh tanggung jawab atas ku. Jadi, aku lebih berhak atas cintanya. Aku lah, satu-satunya wanita yang pantas mendapatkan semua cinta dan sayangnya," sesuatu dalam Safira bergejolak.

Dan malam ini, dibawah sinar bulan, Safira berjanji. Berjanji akan merebut semua yang pantas, di milikinya.

✨✨✨

Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat celah jendela.

Safira terbangun lebih dulu.

Ia tidak langsung bangkit.

Matanya menatap langit-langit kamar, kosong, seperti hatinya yang semalam dibiarkan menggantung.

Bagas masih terlelap di sampingnya.

Wajah itu tampak tenang, seolah tak pernah menyimpan badai di dalam dada.

Safira beranjak perlahan, menggenggam ujung selimut agar tak menimbulkan suara.

Ia menuju dapur dengan langkah ringan.

Di sana, Hayati sudah lebih dulu bangun.

"Subuhmu kok kesiangan, Nak?" sapa sang ibu lembut.

Safira tersenyum tipis.

"Tadi susah tidur, Bu."

Hayati tak bertanya lebih jauh.

Ia tahu, kadang diam adalah bahasa terbaik.

Mereka menyiapkan sarapan bersama dalam hening yang hangat.

Tak lama, Bagas keluar dari kamar. Wajahnya terlihat lebih tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang belum selesai.

"Dik ..." panggilnya pelan.

Safira menoleh.

Bagas ingin mengatakan banyak hal. Tapi lidahnya kelu.

"Ada apa, Bang?" tanya Safira lembut, seperti biasa.

"Tidak apa-apa," jawab Bagas, berbohong.

Safira mengangguk. Kembali menata piring, seolah tak terjadi apa-apa.

Hayati sendiri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Begitu, sarapan untuk suaminya siap di tata di piring. Hayati pun berlalu.

"Selesaikan dengan sesegera mungkin," bisik Hayati, menepuk pelan bahu anaknya.

Begitu Safira menyerahkan piring yang berisi nasi goreng, kampung. Dan kini, keduanya menyantap sarapan dalam diam.

Siang harinya, Hayati dan Safira memutuskan untuk merapikan pot-pot bunga, yang ada di halaman. Keduanya sesekali bercengkrama. Bahkan, tak jarang, Safira tertawa lepas, kala ibu mertuanya menceritakan bagaimana kisah Bagas dan ketiga saudaranya dulu.

Yusuf yang duduk di gazebo pun ikut tersenyum. Baginya pemandangan itu sangat indah. Apalagi, ketika semilir angin meniupkan penutup kepala istrinya.

"Bu, aku mau buatkan jus guava untuk ayah. Ibu istirahat dulu, jangan angkat pot sendirian," larang Safira, memperingati mertuanya.

Hayati terkekeh, namun dia mengangguk.

Sepeninggalan Safira ke dalam. Hayati mendekati suaminya.

"Kamu pasti lelah," Yusuf menyapu keringat Hayati, dengan telapak tangannya.

"Tangan mu nanti kotor," larang Hayati, mengenggam erat tangan Yusuf.

"Terima kasih, karena ada disini. Aku memintamu untuk berada lebih lama lagi disisiku," lirih Yusuf menatap perempuan yang telah menemaninya berpuluh-puluh tahun lamanya.

Banyak duka yang mereka hadapi. Bahkan, kesalahpahaman juga sering terjadi. Namun, keduanya mencoba saling mengungkapkan, bukan saling memendam, yang membuat, rasa kesal dan jengkel itu semakin bertambah.

"Aku akan selalu disisimu. Kecuali, Rabb yang meminta ku untuk kembali," balas Hayati, membawa tangan Yusuf ke pipinya.

"Ehem ..." Safira berdehem, sembari membawa tiga gelas guava di tangannya. "Senang deh, melihat kalian saling cinta," ungkap Safira, meletakkan nampan di dekat Hayati.

"Suatu saat, kamu juga akan merasakannya dengan Bagas nak," tutur Hayati, mengelus kepala Safira lembut.

Safira diam. Sedetik kemudian dia mengangguk. Dan mengaminkan ucapan, mertuanya.

Baru saja Safira duduk di samping Hayati. Sebuah suara terdengar lembut di samping gazebo.

"Assalamualaikum bu ..."

Deg ... Suara itu, tepat di belakang punggung Safira. Dan Safira tahu, siapa pemilik dari suara yang baru saja di dengarnya.

"Waalaikum salam, Nadia ..." sapa Hayati hangat. "Ada apa?"

"Ini, aku mau mengantarkan surat untuk ibu ... Besok, di gedung posyandu, akan ada senam untuk lansia. Jadi, berhubungan ibu dan bapak masuk dalam daftar lansia. Kalian di harapkan untuk hadir," papar Nadia, menjelaskan maksud kedatangannya.

Safira mengeserkan pantatnya. Tak lupa mempersilakan Nadia untuk duduk.

"Tapi, berhubung bapak gak bisa ikut. Apa boleh, aku sedikit bertanya-tanya, untuk mengisi data yang di perlukan," Nadia menggigit bibirnya. Sungkan.

"Tanyakan saja, Nadia. Silahkan," perintah Hayati.

"Nak, tolong bawakan jus satu gelas lagi, ya ..." pinta Hayati, kini beralih ke Safira.

Safira mengangguk.

"Ga-nggak usah bu ... Aku gak suka guava," tolak Nadia cepat.

"Ya sudah, kalo begitu, ambilkan air putih saja, ya nak!"

Nak, setiap ucapan nak keluar dari mulut Hayati, membuat telinga Nadia berdenging. Bagaimana tidak. Dulu, dia pun, di sebut nak dengan lembut. Tapi sekarang? Hayati hanya menyapanya dengan sebutan Nadia.

Egois memang. Tapi, Nadia gak suka, kala Hayati memanggil Safira dengan sebutan nak.

Setelah bertanya dan mengisi setiap data yang di perlukan. Nadia melirik ke dalam. Berharap seseorag keluar dengan senyum yang paling sempurna menurutnya.

Dan Safira yang melihat tatapan itu, hanya bisa menunduk.

"Bang, Bagas ada?" pertanyaan itu muncul begitu saja. Tanpa rencana.

Bahkan Nadia sendiri terkejut.

"Lagi bertemu tengkulak, untuk menjual cabainya," Hayati menjawab. Setelah sebelumnya, menggenggam tangan Safira yang sejak tadi, berada di pangkuannya.

"Oh ..." lirih Nadia mengigit bibirnya.

"Aku pamit ... Bu, pak dan Safira," lirih Nadia turun dari gazebo. "Aku senang kalian baik-baik saja," sambungnya lagi. Entah itu tulus, atau pura-pura.

"Doakan kami selalu kak," balas Safira, mengangkat wajahnya.

"Insya Allah," balas Nadia.

Dan Nadia pergi, dengan langkah berat.

✨✨✨

Malamnya, Bagas pulang dengan tubuh lelah.

Dan, Safira menyambutnya dengan segelas air.

"Terima kasih," ucap Bagas.

Safira hanya mengangguk.

Keduanya masuk ke kamar. Jika Bagas bergegas untuk mandi. Safira menyiapkan baju santai untuk suaminya.

Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Bagas keluar dengan handuk di pinggangnya. Sisa-sisa air di rambutnya, membuat penampilan lelaki itu lebih menggoda.

Safira langsung memalingkan wajahnya. Tak sanggup menatap Bagas lebih lama. Karena bayangan tentang ia tak di cintai itu, masih jelas di matanya.

Bagas duduk di tepi ranjang, dan Safira dengan cepat membelakanginya.

"Safira ..." suara itu lirih.

Safira menoleh perlahan.

"Abang minta maaf. Bukan karena abang tidak mencintaimu ... tapi karena abang belum mampu mencintaimu dengan cara yang seharusnya." Bagas mengambil tangan Safira. Dia bertekad, malam ini akan menyelesaikan semuanya.

Safira menahan napas, tangannya saling menggenggam, erat.

"Kalau suatu hari nanti— abang benar-benar bisa mencintaimu sepenuh hati

apakah kamu masih mau menunggu?" tanya Bagas lirih. Kini, dia mencoba memeluk tubuh kaku Safira. Dagunya, di letakkan di bahu istrinya.

Air mata Safira jatuh tanpa suara.

"Aku sudah menunggu sejak aku menyerahkan mahkotaku bang," balas Safira lirih, bahkan hampir seperti bisikan.

Bagas menunduk, dan untuk pertama kalinya, ia menangis tanpa suara.

Di luar, bulan menggantung pucat, menjadi saksi bahwa cinta tidak selalu datang dengan mudah, namun selalu layak diperjuangkan.

1
Filan
ya, Bagas masih mau berusaha.
Filan
baguslah. terus aja counter omongannya
PrettyDuck
bisa stroke ini bapaknya nadia kalo tau /Sweat/
PrettyDuck
lah ditanya gitu doang sewot banget bang /Smug/
PrettyDuck
semoga wandi gak bikin luka baru ya 😭
-Thiea-
dimana-mana ada ibu ini ya. merusak siasana aja. 😑
-Thiea-
jangan Bagas. ntar istrimu di bawa kabur. 🤭
-Thiea-
gelagatnya kayak orang gak benar. sungguh malang nasibmu nad.
Zenun
Wandi kalo ngomong bener juga😁
Zenun
so sweet lhaaa
@dadan_kusuma89
Udah, Gas, fir! Buang saja kata "bagaimana" dalam kehidupan kalian, beres.
@dadan_kusuma89
Pak Anwar, anda ini kurang kerjaan apa gimana? Pake ikut-ikutan ngitung keuangan Bagas.
Nuri_cha
dia sedang berusaha jadi yg terbaik buat kamu. bantu Bagas ya Fira
Nuri_cha
makjleb bgt ucapannya pak Yusuf. dengerin tuh bang, kamu tega bgt sama Safira kalo cuma jd pelampiasan
Nuri_cha
Safira istri yg baik, gas. jgn kamu sia3i. ya
Nuri_cha
kamu ngapain sih nyariin suami org? move on Nad 🤧
Oksy_K
wkwk mau dijadiin madu gak tuh. berasa jadi sapi perah, di suruh beranak mulu🤣
Oksy_K
favorit itu mah, sedep bgt pastii
Oksy_K
canggung bgt, tiati Ra, nanti malah kmu terpental pas ada polisi tidur🤭
Oksy_K
wkwk serunya juga keknya. ikut dong, aku bagian ngerekam🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!