Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM YANG LUAR BIASA
Harvey menyesap wiskinya, matanya terpaku pada tubuh Melisa yang kini terikat di tiang ranjang. Ia meletakkan gelasnya, lalu mengambil sebuah penutup mata hitam dari kain sutra. Dengan kasar, ia mengikatnya pada mata Melisa, menenggelamkan wanita itu dalam kegelapan total.
"Kegelapan akan membuat indramu lebih tajam, Melisa. Kau akan merasakan setiap inci sentuhanku tanpa bisa melihat kapan itu datang," bisik Harvey rendah.
Ia kemudian mengambil sebuah kemoceng dari bulu merak yang halus namun memberikan sensasi menggelitik yang menyiksa. Harvey mulai menyapukan bulu-bulu itu ke seluruh tubuh Melisa, dari ujung kaki hingga ke lehernya. Melisa menggeliat tak nyaman, napasnya memburu. Rasa geli yang berlebihan itu berubah menjadi siksaan psikologis karena ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Harvey selanjutnya.
"Jangan bergerak," perintah Harvey.
Tiba-tiba, suara dering cambuk kembali membelah udara. Ctar! Harvey tidak memukulkannya ke tubuh Melisa, melainkan ke kasur tepat di sebelah paha Melisa. Suara itu membuat Melisa terlonjak kaget dan memekik.
"Kau tahu, wanita-wanita yang kusewa biasanya memohon padaku untuk melakukan lebih," ucap Harvey sambil jemarinya kini menelusuri bekas tetesan lilin yang tadi mulai mengeras di perut Melisa. Ia mengelupas sisa lilin itu dengan kuku tajamnya, memberikan rasa perih yang seketika menggantikan rasa panas.
"Tapi kau... kau berbeda. Kau diam seperti mayat. Aku ingin mendengar suaramu, Melisa. Teriakkan namaku, bukan nama suamimu!"
Harvey kemudian beralih ke sebuah alat getar kecil yang terbuat dari logam dingin. Ia menekannya ke titik-titik sensitif Melisa dengan paksa. Melisa berusaha merapatkan pahanya, namun borgol di tangannya membuatnya tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa menggelengkan kepala, air matanya merembes melalui kain penutup mata.
"Tolong, Harvey... hentikan..." rintih Melisa.
"Hentikan?" Harvey tertawa sinis. Ia justru menambah intensitas alat tersebut. "Tujuh tahun aku menahan diri untuk tidak menghancurkanmu. Dan kau pikir satu jam sudah cukup?"
Harvey mendekat, mencium paksa bibir Melisa sambil tangannya terus mempermainkan tubuh wanita itu dengan alat-alat di sekitarnya. Ia ingin memberikan kenikmatan yang bercampur dengan rasa sakit dan penghinaan. Ia ingin Melisa merasa kotor, merasa bahwa setelah malam ini, ia tidak akan pernah pantas lagi bersanding dengan Narendra yang "suci".
Di tengah kegilaan itu, Harvey berbisik di telinga Melisa yang merah, "Katakan padaku, Melisa. Apakah suamimu pernah menyentuhmu seperti ini? Apakah dia bisa membuatmu gemetar sehebat ini?"
Melisa hanya bisa terisak. Pikirannya mulai kosong. Ia merasa jiwanya perlahan meninggalkan tubuhnya, membiarkan Harvey melakukan apa pun pada raganya asalkan hatinya tetap milik Narendra. Namun Harvey tak membiarkannya pergi; ia terus menarik Melisa kembali ke realita yang menyakitkan dengan setiap sentuhan dan alat yang ia gunakan.
Sesi itu berlangsung hingga hampir subuh, sampai akhirnya Harvey melepaskan semua ikatan Melisa.
Melisa jatuh tersungkur di atas ranjang dengan tubuh penuh memar merah dan bekas tetesan lilin. Harvey berdiri di sampingnya, merapikan kembali kemejanya yang sedikit berantakan seolah-olah ia baru saja menyelesaikan operasi bedah rutin.
"Malam yang luar biasa, bukan?" ucap Harvey tanpa dosa.
Harvey berdiri di samping tempat tidur, memperhatikan Melisa yang masih gemetar dengan mata tertutup kain sutra yang kini basah oleh air mata. Harusnya ada rasa puas. Harusnya kemenangan ini terasa manis setelah tujuh tahun ia memendam dendam. Namun, saat ia melihat tubuh yang biasanya tegar itu kini lunglai dan hancur, ada sesuatu yang terasa berlubang di dada Harvey.
Ia melepaskan penutup mata Melisa. Begitu kain itu terbuka, mata Melisa yang sembab menatap kosong ke langit-langit. Tidak ada benci, tidak ada kemarahan yang meluap-luap. Hanya ada kekosongan yang mengerikan.
"Bangun. Bersihkan dirimu," perintah Harvey, namun suaranya kali ini kehilangan ketajamannya. Ada nada ragu yang terselip di sana.
Melisa tidak menjawab. Ia mencoba duduk dengan tangan yang masih gemetar hebat karena bekas borgol. Ia tidak menutupi tubuhnya, seolah-olah rasa malu sudah tidak lagi memiliki arti baginya. Ia menatap Harvey, namun seakan menembus pria itu, seolah Harvey sudah tidak lagi ada di hadapannya.
"Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, Harvey," suara Melisa terdengar sangat datar, hampir seperti bisikan dari alam lain. "Apakah kau merasa lebih baik sekarang? Apakah kau merasa sudah menang?"
Harvey terdiam. Ia ingin menjawab dengan kata-kata kasar yang merendahkan, tapi lidahnya terasa kelu. Ia melihat bekas merah di pergelangan tangan Melisa dan sisa lilin di kulitnya. Bukannya merasa berkuasa, ia justru merasa seperti pecundang yang sedang merusak satu-satunya hal berharga yang pernah ia miliki.
Setiap kali ia menyentuh wanita penghibur di kamar ini, ia merasa puas karena mereka memang dibayar untuk itu. Tapi Melisa? Ia menyadari bahwa ia baru saja mengotori kenangan paling indah dalam hidupnya dengan tangannya sendiri.
"Diamlah dan pergi ke kamar mandi," bentak Harvey, mencoba menutupi rasa hampa yang mulai menjalar.
Harvey melangkah keluar dari kamar gelap itu dan kembali ke ruang tamu yang luas. Ia menuangkan wiski lagi, tapi kali ini rasanya sepahit empedu. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit: semakin ia mencoba menghancurkan Melisa agar wanita itu kembali menoleh padanya, semakin ia mendorong jiwa Melisa menjauh hingga tak terjangkau lagi.
Ia teringat senyum jujur Melisa tujuh tahun lalu saat mereka masih sekolah. Senyum yang kini telah ia bunuh dengan tangannya sendiri di kamar sebelah..
***
Bersambung...