NovelToon NovelToon
Kembalikan Cintaku Dokter

Kembalikan Cintaku Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cintapertama / One Night Stand / Konflik etika / Obsesi / Dokter
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM YANG LUAR BIASA

Harvey menyesap wiskinya, matanya terpaku pada tubuh Melisa yang kini terikat di tiang ranjang. Ia meletakkan gelasnya, lalu mengambil sebuah penutup mata hitam dari kain sutra. Dengan kasar, ia mengikatnya pada mata Melisa, menenggelamkan wanita itu dalam kegelapan total.

​"Kegelapan akan membuat indramu lebih tajam, Melisa. Kau akan merasakan setiap inci sentuhanku tanpa bisa melihat kapan itu datang," bisik Harvey rendah.

​Ia kemudian mengambil sebuah kemoceng dari bulu merak yang halus namun memberikan sensasi menggelitik yang menyiksa. Harvey mulai menyapukan bulu-bulu itu ke seluruh tubuh Melisa, dari ujung kaki hingga ke lehernya. Melisa menggeliat tak nyaman, napasnya memburu. Rasa geli yang berlebihan itu berubah menjadi siksaan psikologis karena ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Harvey selanjutnya.

​"Jangan bergerak," perintah Harvey.

​Tiba-tiba, suara dering cambuk kembali membelah udara. Ctar! Harvey tidak memukulkannya ke tubuh Melisa, melainkan ke kasur tepat di sebelah paha Melisa. Suara itu membuat Melisa terlonjak kaget dan memekik.

​"Kau tahu, wanita-wanita yang kusewa biasanya memohon padaku untuk melakukan lebih," ucap Harvey sambil jemarinya kini menelusuri bekas tetesan lilin yang tadi mulai mengeras di perut Melisa. Ia mengelupas sisa lilin itu dengan kuku tajamnya, memberikan rasa perih yang seketika menggantikan rasa panas.

​"Tapi kau... kau berbeda. Kau diam seperti mayat. Aku ingin mendengar suaramu, Melisa. Teriakkan namaku, bukan nama suamimu!"

​Harvey kemudian beralih ke sebuah alat getar kecil yang terbuat dari logam dingin. Ia menekannya ke titik-titik sensitif Melisa dengan paksa. Melisa berusaha merapatkan pahanya, namun borgol di tangannya membuatnya tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa menggelengkan kepala, air matanya merembes melalui kain penutup mata.

​"Tolong, Harvey... hentikan..." rintih Melisa.

​"Hentikan?" Harvey tertawa sinis. Ia justru menambah intensitas alat tersebut. "Tujuh tahun aku menahan diri untuk tidak menghancurkanmu. Dan kau pikir satu jam sudah cukup?"

​Harvey mendekat, mencium paksa bibir Melisa sambil tangannya terus mempermainkan tubuh wanita itu dengan alat-alat di sekitarnya. Ia ingin memberikan kenikmatan yang bercampur dengan rasa sakit dan penghinaan. Ia ingin Melisa merasa kotor, merasa bahwa setelah malam ini, ia tidak akan pernah pantas lagi bersanding dengan Narendra yang "suci".

​Di tengah kegilaan itu, Harvey berbisik di telinga Melisa yang merah, "Katakan padaku, Melisa. Apakah suamimu pernah menyentuhmu seperti ini? Apakah dia bisa membuatmu gemetar sehebat ini?"

​Melisa hanya bisa terisak. Pikirannya mulai kosong. Ia merasa jiwanya perlahan meninggalkan tubuhnya, membiarkan Harvey melakukan apa pun pada raganya asalkan hatinya tetap milik Narendra. Namun Harvey tak membiarkannya pergi; ia terus menarik Melisa kembali ke realita yang menyakitkan dengan setiap sentuhan dan alat yang ia gunakan.

​Sesi itu berlangsung hingga hampir subuh, sampai akhirnya Harvey melepaskan semua ikatan Melisa.

​Melisa jatuh tersungkur di atas ranjang dengan tubuh penuh memar merah dan bekas tetesan lilin. Harvey berdiri di sampingnya, merapikan kembali kemejanya yang sedikit berantakan seolah-olah ia baru saja menyelesaikan operasi bedah rutin.

​"Malam yang luar biasa, bukan?" ucap Harvey tanpa dosa.

Harvey berdiri di samping tempat tidur, memperhatikan Melisa yang masih gemetar dengan mata tertutup kain sutra yang kini basah oleh air mata. Harusnya ada rasa puas. Harusnya kemenangan ini terasa manis setelah tujuh tahun ia memendam dendam. Namun, saat ia melihat tubuh yang biasanya tegar itu kini lunglai dan hancur, ada sesuatu yang terasa berlubang di dada Harvey.

Ia melepaskan penutup mata Melisa. Begitu kain itu terbuka, mata Melisa yang sembab menatap kosong ke langit-langit. Tidak ada benci, tidak ada kemarahan yang meluap-luap. Hanya ada kekosongan yang mengerikan.

"Bangun. Bersihkan dirimu," perintah Harvey, namun suaranya kali ini kehilangan ketajamannya. Ada nada ragu yang terselip di sana.

Melisa tidak menjawab. Ia mencoba duduk dengan tangan yang masih gemetar hebat karena bekas borgol. Ia tidak menutupi tubuhnya, seolah-olah rasa malu sudah tidak lagi memiliki arti baginya. Ia menatap Harvey, namun seakan menembus pria itu, seolah Harvey sudah tidak lagi ada di hadapannya.

"Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, Harvey," suara Melisa terdengar sangat datar, hampir seperti bisikan dari alam lain. "Apakah kau merasa lebih baik sekarang? Apakah kau merasa sudah menang?"

Harvey terdiam. Ia ingin menjawab dengan kata-kata kasar yang merendahkan, tapi lidahnya terasa kelu. Ia melihat bekas merah di pergelangan tangan Melisa dan sisa lilin di kulitnya. Bukannya merasa berkuasa, ia justru merasa seperti pecundang yang sedang merusak satu-satunya hal berharga yang pernah ia miliki.

Setiap kali ia menyentuh wanita penghibur di kamar ini, ia merasa puas karena mereka memang dibayar untuk itu. Tapi Melisa? Ia menyadari bahwa ia baru saja mengotori kenangan paling indah dalam hidupnya dengan tangannya sendiri.

"Diamlah dan pergi ke kamar mandi," bentak Harvey, mencoba menutupi rasa hampa yang mulai menjalar.

Harvey melangkah keluar dari kamar gelap itu dan kembali ke ruang tamu yang luas. Ia menuangkan wiski lagi, tapi kali ini rasanya sepahit empedu. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit: semakin ia mencoba menghancurkan Melisa agar wanita itu kembali menoleh padanya, semakin ia mendorong jiwa Melisa menjauh hingga tak terjangkau lagi.

Ia teringat senyum jujur Melisa tujuh tahun lalu saat mereka masih sekolah. Senyum yang kini telah ia bunuh dengan tangannya sendiri di kamar sebelah..

***

Bersambung...

1
Durrotun Nasihah
karyamu luar biasa kak menguras emosi....banget....👍👍👍
Ariany Sudjana
sebaiknya biarkan Melisa menyembuhkan dirinya di Ambarawa, jangan biarkan Harvey atau Narendra mengganggu lagi, please kak penulis 🙏
Shifa Burhan
istri = pemeran utama wanita
suami = pemeran utama pria

jika novel bertema suami selingkuh, 100% dilaknat, tidak akan da pembelaan sama sekali, suami salah 100%, suami dibuat menyesal, dapat karma, menderita dan mengemis maaf, istri 100% korban dan dibuat tegas pergi dan tidak mudah memaafkan dan pada akhirnya hanya tentang kebahagiaan sang istri yang jadi korban
bandingkan dengan novel2 bertema istri selingkuh, kalian akan melakukan berbagai cara dan berbagai alasan untuk membela pe selingkuhan istri, kalian akan buat drama yang memutar balik fakta istri malah jadi korban dan suami jadi orang jahat nya, suami kalian buat bodoh dan tidak punya harga diri yang trima saja diselingkuhi, malah suami yang mengemis tidak mau cerai, dan pada akhirnya tetap saja tentang kebahagiaan sang istri

mau istri selingkuh atau pun suami selingkuh tetap saja pada akhirnya hanya tentang kebahagiaan sang istri,

alasan satu karena novelis wanita,
pemikiran wanita ketika suami salah 100% salah tapi ketika dia salah maka dia akan mencari 1000 alasan untuk membela kesalahannya dan malah memutar balik fakta seolah dia korban

dari novel mu kelihatan sekali jalan pemikiran mu dan watak mu
Ariany Sudjana
sudah mbak, lupakan masa lalu, lelah yang kamu rasakan sekarang, itu wajar, karena kamu baru mulai. kalau pelanggan puas dengan toko roti kamu, kamu tinggal petik hasilnya nanti
Ariany Sudjana
betul sekali Melisa, kamu ga bisa kerjakan semuanya sendiri, tetap perlu asisten, apalagi toko kue kamu sudah mulai dikenal, meski baru hari pertama. semangat yah mbak Melisa, semoga jadi berkat 🙏
Nda
di tunggu double up-nya thor🤭
MissSHalalalal: siap kak. 🙏
total 1 replies
Nda
double up donk thor🤭
Ariany Sudjana
Harvey dan Melisa, juga Narendra dan arneta, dua-duanya juga salah. kan sudah menikah, kenapa selingkuh dari pasangannya? biarpun alasan Melisa itu mengobati Narendra
Ariany Sudjana
Melisa dan Harvey ga ada bedanya dengan Narendra dan arneta, sama-sama berkhianat
Nda
karyamu keren thor
MissSHalalalal: terima kasih kak🙏
total 1 replies
Bunda Idza
oh begitu.... wajarlah sekiranya Melisa begitu mencintai Narendra....
kelak jika skenario yang kau buat terwujud Harvey "Narendra memilih cinta lamanya" apakah mungkin kamu akan mendapatkan cinta lamamu juga???? dengan cara datang dengan luka....
penasaran si..... semoga alurnya gak lamban
Dede Dedeh
oke lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!