Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbunga bunga
"tok tok tok.. Assalamu'alaikum"
' Seperti ada yang datang' ucapku dalam hati saat mendengar suara salam. ku langkah kan kaki menuju pintu depan karena mengira mungkin itu Adit yang katanya mau datang. Tapi begitu sampai di ruang tamu, aku melihat bapak sudah membukakan pintu yang ternyata memang Adit yang datang. Bahkan mereka sudah ngobrol, mungkin tadi aku kelamaan keluar kamar nya. Habis merapikan diri dikit biar cantikan. hehehe
"Lho... Adit udah dateng? dah lama? " akupun bertanya sambil duduk di sofa sebelah ayah. "Udah asik ngobrol lagi sama ayah. nggak manggil aku dulu" protes ku sambil cemberut.
"Lha katanya Adit mau ngobrol sama ayah, ya udah ayah temenin dong". jawab ayah dengan nada sedikit menggodaku.
Sepertinya ayah tahu kalau di hati anaknya ini sedang ada bunga yang mulai mekar makanya godain gitu.. tapi seneng juga sih kalau Adit mau deket sama ayah biar nanti gampang dapat restunya.. cieee heheh
" Ya kan nggak papa ngobrol sama ayah sambil nunggu kamu keluar. Habis lama...ngapain dulu sih? ngimpi dulu kali ya? hahah"yah ini si Adit malah ngeledek, malah ketawa tawa.. nih orang nggak tahu ya kalau di dalam dada ini ada yang lagi perang.
"Apaan sih.. orang baru denger salam langsung keluar kok" ku keluarin deh jurus cemberut yang biasa...
" Udah ah, kalian ngobrol gih ayah masuk dulu" tapi saat ayah mau bangkit dari duduknya, saat itu pula ibu keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat.
" Nah ini.. ngobrolnya di temani teh hangat biar tambah seru"ibu meletakkan dua gelas teh beserta kue di atas meja depan kami. Hingga membuat ayah tak jadi berdiri dan kembali duduk. "Eh ini teh nya datang. Mari nak Adit di minum tehnya". yah mempersilahkan Adit minum sambil beliau juga menyeruput teh hangat miliknya.
" Iya om makasih"Adit menjawab sambil iku mencicipi tehnya.
"Nak Adit sekarang sibuk ngapain? kok kayaknya udah lama nggak mampir? tiba tiba ibu bertanya.
" Masih kerja di tempat yang sama tante.. masih karyawan biasa juga.. "jawabnya sopan dan malu malu
*Oh... ya nggak papa dong.. semua kan dimulai dari bawah tentunya" ibu mamberi semangat dalam senyumnya
"Yang penting tetep semangat dan jangan lupa doa serta usahanya" nasehat bapak pun ikut menyertai
"kalau itu pasti om.. " tetap dengan senyum yang membuat hati ini semakin berbunga
"Ya uda kalau begitu ayah dan ibu masuk dulu , kalian lanjut ngobrol lagi"
Ayah dan ibu pun masuk menyisakan akun dan dia berdua di ruangan ini.
"Tadi ngobrol apa sama ayah?" ku coba memecah keheningan di antara kami
"Bukan apa apa cuma.... "
"Apa? "
"kepo ih kamu ra"
"Jawab aja sih... "
"Pengen tahu banget? "
"Biasa aja tuh... "
"Idih ngambek nih.... hehe"
"Nggak juga.... ya udah lupain aja"
"Hahaha... makin ngambek makin manis aja. jadi gemes pengen nyubit"
"Ish... kamu" Sudah bisa di pastikan mukaku memerah ini
"Hmmm... aku cuma bilang sama ayah kalau aku serius sama kamu"
"A.. apa? terus ayah bilang apa? "
"Dia tersenyum dan bilang akan menyerahkan semua ke kamu... yang penting jangan menyakiti dan bisa melindungi"
Waduh dah ada lampu hijau nih.. Ya Allah semoga engkau memudahkan kan segalanya.. Mendekatkan jika memang milik ku dan menjauh kan jika bukan milik ku...
"Woi kok diem..? tadi nanya giliran dah si jawab malah nggak respon.... " duh sampai kaget ini Adit ngomong.
"Ehhh... mm iya... "
"Kenapa? *
" Emang itu bener? kamu serius? "
"Kamu nggak percaya? ok.. akan ku buktikan*
" Bukan gitu.. tapi... "
"Iya.... aku ngerti... "
Sejujurnya aku masih ragu.. Mengingat masa lalu. Tapi Bismillah ku coba buka hati semoga kisah kali ini bakalan happy ending..
Setelah ngobrol macam macam dan hari juga semakin larut, Adit pamit pulang menyisakan bunga bermekaran di hati ku. Malam ini terasa begitu panjang dengan berbagai pemikiran yang ada. Bahagia tapi masih masih ada pergulatan dalam hati. Ketakutan akan kegagalan. Namun rasa ini juga tak bisa da abaikan. Oh ya Allah tuntun lah hatiku agar tak jatuh di tempat yang salah...
... Aku mencoba menutup mata mengistirahatkan tubuh ini setelah membersihkan diri terlebih dahulu. Tapi tiba tiba ingatan pertemuan dengan lelaki itu. Apa dia benar benar lupa padaku? atau pura pura lupa? atau tak peduli? Entah lah yang pasti sedikitpun dia tak melihat ku. Separti benar benar tidak kenal. Tapi apapun itu semoga aku tidak pernah bertemu dengan dia lagi.. bahkan jika bisa aku ingin benar benar melupakannya...