Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manda Punya Hobi Aneh
Wajah Shintia dan Seno langsung berubah masam. Bagi Keluarga Tanudjaja, pacaran dini adalah hal yang tabu, apalagi jika cowoknya bermasalah.
"Salma, benar Aksa Abhimana itu mengganggumu?" tanya Seno serius.
Salma melirik Manda sekilas. Mata-matanya banyak juga, sampai tahu dia pergi dengan Aksa.
"Nggak kok, Pa. Kakak salah paham. Aksa cuma teman biasa," jawab Salma tenang.
"Ma, Pa, Aksa itu siswa bermasalah yang sering bolos. Satu sekolah juga tahu dia lagi diincar OSIS," sela Manda cepat, memasang wajah khawatir yang meyakinkan.
"Aku cuma takut Salma dimanfaatin. Aksa pasti deketin Salma karena posisinya terancam dikeluarin."
Seno menghela napas berat. "Salma, Papa nggak larang kamu berteman. Tapi kamu masih polos, belum paham liciknya manusia."
"Jauhi Aksa."
"Papa kok otoriter lagi? Aksa nggak sejahat itu. Buktinya, tiap aku bahaya, dia selalu muncul bantu," bantah Salma sambil mengerucutkan bibir.
"Justru itu mencurigakan! Jangan-jangan itu skenario dia biar jadi pahlawan?" Manda membelalakkan mata.
"Salma, jangan luluh cuma karena dia baik sedikit."
Salma menatap Manda tajam. "Kalau gitu, kenapa pas aku dalam bahaya Kakak nggak pernah muncul?"
"Waktu aku mau dipukul di kelas, Kakak juga diam saja, kan?"
Wajah Manda menegang. Kalimat itu menohok telak. Sedetik kemudian, dia memasang ekspresi sedih.
"Maaf kalau Kakak terlalu ikut campur... Kakak cuma nggak mau kamu kenapa-napa."
"Kak, jangan apa-apa merasa disalahin dong. Aku cuma kasih contoh." Salma menarik napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca menatap orang tuanya.
"Ma, Pa, hari ini aku ke Jalan Pendekar cari guru bela diri biar nggak terus-terusan di-bully. Tapi tempat itu isinya preman."
"Kalau bukan karena Aksa dan Pak Rahmat, mungkin aku udah masuk rumah sakit sekarang..." Isak tangis Salma pecah.
"Aksa nyelamatin nyawaku, emangnya salah?"
Hati Shintia hancur melihat putrinya menangis. Dia segera memeluk Salma. "Sayang, udah, jangan nangis."
"Ada yang berani nyentuh kamu?" Seno murka. "Kurang ajar!"
Salma mengangguk dalam pelukan ibunya. "Kak, Aksa mungkin sering bolos, tapi dia bukan orang jahat."
"Jangan picik menilai hati orang cuma dari nilai akademis."
Manda rasanya ingin meledak. Dia ingin membantah, tapi melihat Seno dan Shintia sudah termakan tangisan Salma, dia terpaksa diam.
Salah langkah sedikit, citra 'kakak penyayang'-nya bisa hancur.
"Kakak cuma khawatir, nggak ada maksud lain," ucap Manda lirih.
Seno mengerutkan kening, menatap Manda dengan pandangan yang berbeda. Belakangan ini dia merasa Manda punya hobi aneh: suka menggiring opini agar Salma dimarahi.
Kalau Salma tidak cerita, Seno tidak akan pernah tahu putrinya nyaris celaka.
"Sudah, ayo makan dulu," potong Seno tegas.
Makan malam itu terasa dingin bagi Manda. Ketakutan mulai merayapi hatinya. Dia sudah terbiasa hidup mewah sebagai putri keluarga konglomerat.
Jika dia kehilangan kepercayaan orang tua angkatnya... dia tidak bisa membayangkan harus kembali hidup melarat.
Setelah makan malam, Seno memanggil Salma ke ruang kerjanya.
"Salma, jawab jujur. Apa benar hubunganmu dengan teman sekolah seburuk itu?" Seno menatap putrinya lekat.
"Aku cuma punya dua teman. Naya dan Aksa," jawab Salma jujur. "Beda sama Kakak yang jadi idola sekolah."
"Kenapa bisa begitu?"
Salma menunduk, memainkan ujung bajunya. "Dulu aku pikir karena sifatku yang jutek. Tapi belakangan aku baru tahu... teman-teman sekelas mengira akulah anak angkat di keluarga ini."
"Mereka jijik sama orang yang dianggap 'parasit' tapi sok bawa nama besar Tanudjaja."
Suara Salma tercekat, air matanya menetes. Kali ini dia tidak akting. Dia teringat kehidupan lalunya di mana identitasnya benar-benar digantikan oleh Manda.
Wajah Seno memerah menahan amarah. "Siapa yang nyebarin gosip murahan itu?! Putri kandung Seno Tanudjaja diragukan?!"
"Aku nggak pernah jelasin ke mereka, Pa. Soalnya... kalau semua orang tahu Kakak yang sebenarnya anak angkat, nanti Kakak yang nggak punya teman."
"Kasihan Kakak," ucap Salma dengan nada polos yang mematikan.
Seno tertegun. Dia menyadari sesuatu. Manda selalu punya cara memelintir fakta.
Mungkinkah Manda yang sengaja menyesatkan orang-orang?
"Selesai ujian, Papa bakal adain pesta besar. Papa mau umumkan ke seluruh Jakarta kalau kamu, Salma Tanudjaja, adalah putri kandung Papa satu-satunya!" tegas Seno.
Salma menggeleng kuat, memegang tangan ayahnya. "Jangan, Pa! Nanti Kakak sedih. Biar aku aja yang ngalah."
"Janji ya jangan bilang siapa-siapa?"
Seno menghela napas panjang, hatinya luluh lantak. Putriku bodoh sekali, tapi hatinya seperti malaikat.
"Oke, Papa janji. Tapi Papa sakit hati liat kamu diperlakukan kayak gitu." Seno memeluk putrinya.
Salma tersenyum dalam pelukan ayahnya. Manda, aku ngga akan biarin waktu berjalan seperti dulu?
Saat Salma keluar dari ruang kerja, dia melihat Manda duduk di ruang tamu dengan mata merah, sedang ditenangkan oleh Shintia.
Salma tahu persis Manda baru saja mengadu lagi.
Salma menghampiri mereka dengan wajah menyesal. "Kak, kenapa nangis? Maaf ya tadi aku emosi."
"Papa udah marahin aku kok."
Manda bengong. Kok dia minta maaf?
"Aku tahu Kakak cuma khawatir soal Aksa. Tapi Kakak tenang aja, Aksa dan anak-anak lain taunya aku anak angkat."
"Aku nggak bakal klarifikasi kok. Bagiku, Kakak tetep kakak kandungku. Aku nggak bakal biarin Kakak malu."
Wajah Manda seketika pucat pasi.
Fakta bahwa Salma dianggap anak angkat adalah hasil kerja kerasnya menyebarkan rumor. Teman sekolah bisa dibohongi, tapi di depan Shintia...
Benar saja, wajah Shintia berubah drastis menjadi sangat tidak enak.
"Siapa yang nyebarin rumor jahat kayak gitu? Keterlaluan! Besok Mama ke sekolah buat lurusin semuanya!" Shintia marah besar, mendengar hal itu.
"Nggak usah, Mah. Aku udah kebal. Biarin aja," jawab Salma dengan gaya sok tegar.
Manda sadar dia masuk perangkap. Kartu as-nya sudah diambil alih Salma. Dia melirik Shintia dengan takut-takut, tapi ibu angkatnya itu hanya diam dengan wajah dingin.
Dan itulah yang paling menakutkan.
"Ya udah kalau gitu, sana kalian balik ke kamar," ujar Shintia datar, tidak membela Manda seperti biasanya.
Manda naik ke kamar dengan kaki lemas. Di belokan tangga, Salma menoleh dan tersenyum miring penuh provokasi.
Manda rasanya ingin muntah darah.
Keesokan paginya, Manda turun dengan mata bengkak karena kurang tidur, sementara Salma tampil segar dan glowing.
"Mimpi buruk, Kak? Mimpi diusir dari rumah ya?" bisik Salma tanpa suara saat melewati Manda, lalu dengan riang pamit pada Bi Surti.
"Aku berangkat dulu ya, Bi!"
Manda meremas garpu di tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. Sialan lo, Salma!
Begitu keluar gerbang, Salma melihat Aksa sudah berdiri di bawah pohon angsana.
Cahaya matahari pagi membuatnya terlihat berkilauan, seolah bukan cowok cupu yang biasa di-bully di sekolah.
Jantung Salma mendadak berdegup kencang. Aduh, kenapa tatapannya panas banget sih?
Aksa melangkah lebar menghampirinya. "Pagi!"
"Pagi," balas Salma, berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Nih, sarapan buat kamu. Masak sendiri lho, lebih higienis," ujar Aksa sambil menyodorkan kotak bekal.
Dalam hati dia menambahkan: Spesial buat kamu.
Saat Salma menerimanya, ujung jari mereka bersentuhan. Deg! Sengatan listrik halus menjalar.
"Makasih ya. Tiap hari repot-repot gini," Salma tersenyum malu.
"Jangan cuma makasih di mulut dong. Ganti pakai cara lain gimana?" Aksa mulai menebar jaring modus.
"Mau lo apa?"
"Nggak macem-macem. Cuma minta diajarin ngerjain soal lebih sering, boleh kan?"
"Gampang," jawab Salma enteng. Dia yakin bisa menaikkan nilai Aksa.
Mereka naik bus ke sekolah. Karena penuh, Aksa membawa Salma ke bagian belakang dan melindunginya dengan tubuhnya, mirip posisi di kereta kemarin.
Pipi Salma merona lagi karena jarak mereka yang terlalu intim.
"Eh liat deh video ini! Pasangan ini keren banget, sumpah!" Tiba-tiba cewek yang duduk di depan Salma heboh, menyodorkan hp ke temannya.
"Dua penjahat kelamin di kereta itu abis dihajar! Ceweknya badass parah!"
Salma mengintip. Itu video dia dan Aksa kemarin! Wajahnya terlihat jelas di sana.
"Sayang cowoknya nggak keliatan mukanya, tapi ceweknya secantik itu, mereka pasti pasangan serasi banget!"
Salma langsung membenamkan wajahnya ke arah dada Aksa supaya tidak dikenali. Aksa tersenyum puas mendengar komentar "pasangan serasi" itu.
Denger kan, Sal? Netizen aja setuju, batin Aksa girang.
Salma sibuk panik sendiri. Video itu viral! Dia takut identitas Aksa dikorek-korek dan bikin cowok itu makin di-bully di sekolah.
Tiba-tiba, sopir bus mengerem mendadak!
Salma terhuyung ke depan, menabrak dada Aksa. Refleks, Aksa melepas pegangan tangannya dan mendekap Salma erat, memutar tubuhnya agar Salma tidak terbentur.
BUGH!
Punggung Aksa menghantam tiang besi kursi dengan keras.
Salma memejamkan mata, tapi rasa sakit tidak datang. Saat membuka mata, dia ada dalam pelukan hangat Aksa.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Aksa cepat.
"Nggak apa-apa," Salma menggeleng. Tapi mata jelinya menangkap wajah Aksa yang mendadak pucat pasi.
"Kamu kenapa? Muka kamu pucat banget!" Salma langsung melepaskan diri, panik.
"Kamu kebentur ya?"
Benturan tulang punggung dengan besi itu rasanya luar biasa sakit, membuat Aksa berkeringat dingin. Tapi dia menutupinya dengan senyum.
"Aku nggak apa-apa."
"Jangan bohong! Liat tuh muka kamu putih gitu!" Salma panik setengah mati. Kalau bukan karena bus penuh sesak, dia pasti sudah memaksa menyingkap baju Aksa.
Orang-orang mulai memperhatikan mereka. Aksa menarik Salma kembali ke pelukannya. "Ssst, jangan ribut. Tuh, dua cewek yang tadi udah ngeliatin kamu, mau ketahuan?"
Salma tidak peduli mau ketahuan atau tidak. Hatinya sakit melihat Aksa kesakitan demi melindunginya.
"Aksa, jujur sama aku, sakit banget ya?"
"Satu halte lagi sampai, nanti aja bahasnya," bisik Aksa, mencuri kesempatan menghirup wangi rambut Salma untuk mengalihkan rasa sakitnya.
Begitu sampai, Salma langsung menyeret Aksa turun.
"Mana yang sakit? Liatin ke aku!" desak Salma di pinggir trotoar yang sepi.
Melihat wajah cemas Salma, rasa sakit di punggung Aksa mendadak hilang, digantikan rasa hangat yang menyenangkan.
"Kamu sekhawatir itu sama aku?" tanya Aksa dengan tatapan intens.
"Masih sempet-sempetnya nanya! Ayo ke rumah sakit!"
Aksa menahan tangan Salma, menatap manik mata gadis itu lekat-lekat. "Aku beneran nggak apa-apa. Kebentur emang sakit di awal, tapi abis itu ilang kok."
"Salma... aku seneng banget kamu peduli sama aku."
Salma menatap Aksa bingung. Ini anak kenapa sih? Abis kebentur kok malah senyum-senyum serem gitu?
penampilan cupu ternyata suhu 😂