Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Warisan yang Terlupakan
Matahari pagi di Navasari biasanya membawa kehangatan, namun bagi Arum, cahaya yang menembus sisa-sisa asap menara desa terasa seperti lampu interogasi. Ia duduk di teras rumah dinas yang berantakan, menatap map merah yang ujungnya menghitam. Di dalamnya, nama sang ibu Ratna Ayundari tercetak jelas di atas materai usang tahun 1995.
"Arum, minum dulu. Kamu belum tidur sejak semalam," Baskara menyodorkan segelas teh hangat, wajahnya sendiri tampak sangat lelah.
"Mas, kenapa Ibu tidak pernah cerita?" suara Arum serak. "Selama ini aku mengira Ibu hanyalah akuntan biasa di firma swasta. Tapi di sini... dia menandatangani dokumen pengalihan lahan sebagai saksi ahli independen."
Baskara duduk di sampingnya, memandangi hamparan sawah yang kini tampak seperti petak-petak rahasia. "Mungkin itu alasannya Ibu selalu melarangmu mengambil proyek audit di pemerintahan dulu. Dia ingin menjauhkanmu dari bayangan Navasari."
Arum menggeleng. "Tidak, Mas. Ibu bukan orang yang lari dari masalah. Jika dia berhenti, itu karena dia sedang dipaksa berhenti."
Arum membuka ponselnya, mencari kontak lama ibunya yang tersimpan di cloud. Ia menemukan sebuah catatan digital terenkripsi yang selama ini ia anggap sebagai sampah data (junk files). Dengan jemari gemetar, ia memasukkan tanggal hari ini—hari di mana menara Navasari terbakar sebagai kunci.
Akses Diterima.
Sebuah rekaman suara muncul. Suara itu lembut, namun tegas. Suara yang sangat Arum rindukan.
"Arum, jika suatu saat kau menemukan jalanmu ke Navasari, jangan percaya pada apa yang tertulis di sertifikat tanah. Carilah 'Batu Penjuru' di bawah sumur tua di belakang balai desa. Di sana, aku menyimpan kebenaran yang tidak bisa dibakar oleh api apa pun."
Arum tersentak. Sumur tua. Sumur yang selama ini dianggap keramat oleh warga dan dilarang untuk didekati.
"Mas, kita harus ke sumur tua di belakang balai desa," Arum bangkit dengan semangat baru.
"Tapi Arum, sumur itu sudah ditutup beton oleh Pak Broto lima tahun lalu dengan alasan keamanan!"
"Justru itu kuncinya, Mas. Pak Broto menutupnya bukan karena aman, tapi karena dia takut."
Sesampainya di balai desa, Marno sudah menunggu dengan linggis dan palu besar. Warga desa yang mendengar rencana Arum berkumpul dari kejauhan, berbisik tentang mitos kutukan sumur itu. Namun, Arum tidak peduli pada mitos. Baginya, data adalah satu-satunya Tuhan di dunia audit.
"Marno, hancurkan betonnya tepat di bagian tengah," perintah Arum.
Setelah satu jam bekerja keras, lapisan beton itu retak. Bau lembap dan aroma tanah kuno menyeruak keluar. Di dalamnya, bukan hanya air, tapi sebuah peti besi kecil yang dirantai ke dinding sumur. Marno menariknya ke atas dengan susah payah.
Peti itu dibuka paksa. Di dalamnya terdapat sebuah buku harian berlapis kulit dan sebuah botol kecil berisi cairan kimia yang digunakan untuk mengetes kadar merkuri.
Arum membaca halaman pertama buku harian ibunya:
"Navasari bukan hanya soal tanah. Di bawah tanah ini terdapat cadangan mineral langka yang nilainya bisa membiayai satu negara. Proyek 1995 adalah upaya Siska dan kelompoknya untuk merampas tanah warga secara legal sebelum mereka tahu apa yang ada di bawah kaki mereka."
"Jadi ini alasannya..." Arum menatap Baskara dengan ngeri. "Mereka ingin membangun waduk di desa ini bukan untuk pengairan, tapi untuk menenggelamkan bukti penambangan ilegal itu."
Tiba-tiba, suara tepuk tangan terdengar lagi. Namun kali ini bukan dari Kolonel Baskoro.
Siska berdiri di sana, tanpa pengawal, tanpa jas mewah. Ia mengenakan pakaian lapangan, tangannya memegang sebuah botol bensin yang sudah terbuka.
"Audit yang cemerlang, Arum. Benar-benar seperti ibumu," ujar Siska dengan senyum dingin. "Tapi ibumu melakukan satu kesalahan besar. Dia mengira kejujuran bisa mengalahkan keserakahan. Aku di sini bukan untuk merampas buku itu darimu. Aku di sini untuk memastikan kau dan buku itu menjadi bagian dari sejarah Navasari... selamanya."
Siska melemparkan korek api yang menyala ke arah tumpahan bensin di sekeliling sumur.
Api menjalar cepat di atas rumput kering yang sudah tersiram bensin. Suara wush yang mengerikan menandakan bahwa Siska tidak sedang menggertak. Baskara dengan sigap menarik Arum menjauh, namun peti besi itu masih berada di dekat bibir sumur, terjebak dalam lingkaran api yang mulai meninggi.
"Siska! Kau gila! Warga ada di sini!" teriak Baskara sambil mencoba menutupi tubuh Arum dari hawa panas.
Siska tertawa, tawa yang tidak lagi menunjukkan kelas seorang sosialita Jakarta. Matanya liar. "Warga akan mengingat ini sebagai kecelakaan akibat gas alam dari sumur tua. Navasari akan tenggelam dalam waduk, dan semua rahasia ini akan terkubur di dasarnya!"
Arum tidak berteriak. Matanya tertuju pada botol kimia kecil yang tadi ia temukan di dalam peti botol yang kini berada di genggamannya. Ia melihat labelnya: Potassium Bicarbonate. Otak auditornya yang serba tahu tentang properti material segera memutar skenario.
"Marno! Jangan pakai air! Siram dengan pasir di pojok balai desa!" perintah Arum dengan suara yang membelah hiruk-pikuk.
Arum tahu air hanya akan membuat api bensin menyebar. Ia melemparkan botol kimia itu tepat ke pusat api di dekat peti. PYARR! Botol itu pecah, dan serbuk di dalamnya bereaksi hebat, memadamkan api di area kecil secara instan.
Marno dan warga lainnya bergerak cepat mengikuti instruksi Arum, menimbun sisa api dengan gundukan pasir konstruksi yang ada di sana. Dalam hitungan menit, api yang tadinya mengancam berubah menjadi kepulan asap putih yang menyesakkan.
Siska terpaku, wajahnya pucat melihat rencananya dipatahkan oleh pengetahuan kimia sederhana. Ia hendak melarikan diri ke mobilnya, namun langkahnya terhenti. Beberapa mobil polisi dengan sirine yang akhirnya menyala muncul dari gerbang bawah desa.
"Mbak Siska," Arum melangkah maju, wajahnya penuh jelaga tapi matanya tajam. "Audit bukan hanya soal memeriksa masa lalu, tapi juga memprediksi risiko masa depan. Saya sudah mengirim titik koordinat GPS lokasi ini ke kepolisian kabupaten sejak pertama kali Marno memukul beton sumur ini."
Siska jatuh berlutut saat petugas memborgol tangannya. "Ini belum selesai, Arum! Orang-orang di Jakarta akan menghancurkanmu!"
"Biarkan mereka mencoba," balas Arum dingin. "Navasari tidak lagi memiliki 'Batu Penjuru' yang rapuh. Kami punya saksi yang hidup."
Baskara mendekati Arum, membersihkan abu di kening istrinya. "Kamu menyelamatkan buku harian Ibu, Arum."
Arum membuka buku itu di halaman yang paling tengah. Di sana, terselip sebuah peta geologi kuno yang menunjukkan bahwa mineral langka itu tidak hanya berada di bawah sumur, tapi merupakan urat nadi yang melintasi seluruh lahan warga.
"Mas, alasan mereka ingin membangun waduk bukan hanya untuk menambang," bisik Arum saat membaca detail teknis di peta itu. "Tetapi untuk menutupi kenyataan bahwa tanah ini mengandung deposit lithium terbesar di pulau ini. Tanah warga Navasari nilainya jutaan kali lipat dari ganti rugi yang ditawarkan Siska."
Baskara tertegun. Ia melihat warga desa yang selama ini hidup kekurangan, kini berdiri di atas harta karun yang tidak pernah mereka bayangkan.
"Kita tidak boleh membiarkan perusahaan mana pun menyentuh ini, Arum," ujar Baskara tegas.
"Benar, Mas. Kita akan membentuk BUMDes berbasis kepemilikan mineral. Dan kali ini, aku sendiri yang akan menyusun kontraknya agar tidak ada satu pun celah hukum yang bisa dimainkan orang kota."
Tiba-tiba, Marno berteriak dari kejauhan. "Bu Kades! Pak Kades! Ada sesuatu lagi di dalam sumur! Sesuatu yang mulai bersinar setelah apinya padam!"
Arum dan Baskara kembali ke bibir sumur. Di dasar yang gelap, sebuah cahaya biru redup muncul dari celah-celah batu yang retak akibat panas tadi. Cahaya itu bukan api, melainkan radiasi mineral yang baru saja "terbangun".
menegangkan ..
lanjut thor..