NovelToon NovelToon
SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Duda
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.

Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.

Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.

Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. MENCARI PEKERJAAN BARU

Senja telah menjelang ketika Rian menutup pintu rumah dengan hati-hati, menyembunyikan surat lamaran yang tidak terbalas ke dalam tas kecil yang selalu dia bawa. Selama tiga minggu terakhir, dia telah mengirimkan lebih dari dua puluh surat lamaran ke berbagai perusahaan manufaktur, kontraktor bangunan, hingga perusahaan jasa di kawasan industri Cirebon dan sekitarnya. Namun hingga saat ini, tidak ada satu pun perusahaan yang memberikan balasan – tidak ada panggilan untuk wawancara, tidak ada surat penolakan, hanya diam yang menggantung seperti awan gelap di atas kepalanya.

Di dalam rumah, Novi sedang menyusun buku catatan keuangan keluarga di atas meja makan. Tumpukan tagihan yang harus dibayar tergeletak di sebelahnya – biaya listrik, air, sewa rumah, serta tagihan sekolah Hadian dan Alea yang akan jatuh tempo dalam seminggu lagi. Wajahnya tampak tegang saat menghitung angka-angka yang semakin mengecil di kolom uang masuk, sementara kolom pengeluaran tetap saja membengkak.

“Belum ada kabar ya?” tanya Novi dengan suara yang lembut ketika melihat Rian masuk. Dia tidak perlu bertanya lebih jauh – ekspresi wajah suaminya yang pucat dan penuh kesedihan sudah menjawab semua pertanyaan.

Rian mengangguk perlahan, menjatuhkan tasnya di sudut ruang tamu sebelum duduk bersebelahan dengan istri. “Aku sudah mengirimkan lamaran ke perusahaan tekstil di Jatibarang dan kontraktor bangunan di Lemahabang,” ujarnya dengan suara yang hampir tak terdengar. “Keduanya bilang mereka sedang tidak membuka lowongan atau sudah memiliki calon karyawan yang cukup.”

Novi menghela nafas dalam-dalam, menutup buku catatan dengan hati-hati seolah tidak ingin melihat angka-angka yang semakin membuatnya khawatir. Uang pesangon yang mereka terima beberapa minggu lalu sudah mulai menyusut dengan cepat – sebagian besar digunakan untuk membayar tagihan yang tertunda dan membeli kebutuhan pokok keluarga. Sekarang hanya tersisa sedikit lagi, tidak akan cukup untuk bertahan lebih dari dua minggu lagi jika tidak ada penghasilan baru yang masuk.

“Kita harus mengurangi pengeluaran lebih jauh,” ujar Novi dengan suara yang penuh tekad. “Mulai besok, aku akan berbelanja ke pasar pagi yang harganya lebih murah. Kita bisa mengurangi konsumsi daging dan menggantinya dengan ikan atau sayuran yang lebih terjangkau. Aku juga akan berbicara dengan Bu Kepala Sekolah tentang kemungkinan untuk menunda pembayaran biaya sekolah anak-anak atau mendapatkan potongan biaya.”

Rian merasa hati tertekan mendengar kata-kata istri. Dia tahu bahwa Novi sudah melakukan segala yang bisa untuk menghemat pengeluaran – mulai dari membatalkan langganan listrik rumah yang tidak perlu, mencuci pakaian dengan tangan untuk menghemat air, hingga berhenti membeli barang-barang yang dianggap tidak penting seperti kosmetik atau baju baru. Namun ternyata itu masih belum cukup.

“Aku juga akan mencoba mencari pekerjaan harian,” ujar Rian dengan suara yang tegas. “Meskipun bayarannya tidak besar, tapi setidaknya bisa membantu membeli makanan sehari-hari. Aku sudah bertanya pada Pak Slamet – dia bilang terkadang ada proyek pembangunan yang membutuhkan pekerja harian dengan bayaran harian yang cukup untuk makan.”

Novi mengangguk, meskipun dalam hati dia khawatir dengan kondisi fisik suaminya yang sudah mulai terlihat kurus dan lelah akibat terus-menerus mencari pekerjaan tanpa istirahat yang cukup. “Jangan terlalu memaksakan diri ya Sayang,” ujarnya dengan suara yang penuh perhatian. “Kesehatanmu tetap yang paling penting. Jika kamu jatuh sakit, kita akan semakin kesusahan.”

Pada hari berikutnya, Rian bangun sebelum matahari muncul. Dia mengenakan baju kerja lama yang sudah sedikit sobek di bagian siku, mengambil botol air dan bekal roti tawar yang dibuat Novi malam sebelumnya sebelum keluar rumah dengan cepat. Dia berjalan kaki menuju kawasan proyek pembangunan yang disebutkan Pak Slamet – jaraknya sekitar tiga kilometer dari rumah, tapi dia tidak punya uang untuk naik angkutan kota.

Ketika sampai di lokasi proyek, dia melihat sudah ada beberapa pria lain yang sedang menunggu untuk mendapatkan pekerjaan harian. Mereka semua memiliki wajah yang sama – penuh dengan harapan namun juga kesedihan akibat kesulitan ekonomi yang mereka alami. Rian bergabung dengan antrian, mencoba untuk tetap tenang meskipun hatinya terus berdebar dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan hari itu.

Setelah sekitar satu jam menunggu, seorang kontraktor datang dan memilih beberapa pria untuk bekerja sebagai pekerja pembongkaran bangunan lama. Rian termasuk salah satu yang terpilih. Dia langsung mulai bekerja dengan cepat dan giat – membongkar bata, memindahkan kayu bekas, hingga membersihkan puing-puing bangunan dengan tangan yang sudah mulai terbakar akibat panas matahari yang semakin tinggi.

Meskipun pekerjaannya sangat berat dan membosankan, Rian tidak mengeluh sedikit pun. Setiap kali dia merasa lelah, dia hanya memikirkan wajah Hadian dan Alea yang menunggu dia pulang, serta tagihan-tagihan yang harus dibayar. Bayaran harian yang dia terima nanti mungkin tidak banyak, tapi dia tahu bahwa setiap rupiah yang dia hasilkan akan sangat berarti bagi keluarga.

Saat matahari mulai merunduk, pekerjaan hari itu akhirnya selesai. Rian menerima uang bayaran dari kontraktor dengan tangan yang gemetar – jumlahnya hanya cukup untuk membeli beras dan sayuran untuk beberapa hari ke depan. Namun dia merasa sangat bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan hari itu. Dia berjalan pulang dengan langkah yang berat namun penuh rasa syukur, membeli beberapa makanan kecil untuk anak-anaknya di jalan pulang.

Ketika sampai di rumah, dia melihat Hadian sedang membantu Novi memasak di dapur sambil bercerita tentang pelajaran di sekolah. Alea sedang bermain dengan boneka Kiki-nya yang sudah mulai lusuh di lantai ruang tamu. Kedua anak itu langsung berlari ke arahnya dengan wajah ceria ketika melihatnya masuk.

“Papa sudah pulang! Kamu membawa apa ya?” tanya Alea dengan suara ceria, melihat tas kecil yang dibawa ayahnya. Rian segera mengambil bungkus kecil berisi kue kering yang dia beli dengan uang yang dia hasilkan hari itu.

“Ini untuk kamu berdua Nak,” ujarnya dengan senyum hangat, memberikan kue kepada anak-anaknya. Hadian dan Alea langsung menerimanya dengan senang hati, berbagi kue satu sama lain sambil terus mengucapkan terima kasih kepada ayahnya.

Melihat wajah bahagia anak-anaknya, Rian merasa bahwa semua kesusahan dan kelelahan yang dia rasakan hari itu seolah lenyap begitu saja. Dia masuk ke dapur untuk membantu Novi memasak, memberitahu istri bahwa dia berhasil mendapatkan pekerjaan harian dan memberikan uang yang dia hasilkan.

Novi merasa mataharinya berkaca-kaca mendengar itu. Dia mengambil tangan suaminya yang penuh dengan lepuh dan bekas luka akibat bekerja di proyek pembangunan, merasa sangat bersalah karena tidak bisa membantu lebih banyak. “Terima kasih Sayang,” ujarnya dengan suara yang bergetar. “Kamu benar-benar bekerja keras untuk kita semua.”

“Kita adalah keluarga, Sayang,” jawab Rian dengan senyum lembut. “Kita harus saling membantu satu sama lain untuk bisa melewati masa-masa sulit ini. Aku yakin bahwa suatu hari nanti, semua kesusahan ini akan berakhir dan kita akan hidup lebih baik.”

Namun seiring berjalannya waktu, mencari pekerjaan harian menjadi semakin sulit. Kadang-kadang Rian harus pergi ke berbagai lokasi proyek hanya untuk kembali dengan tangan kosong karena tidak mendapatkan pekerjaan. Keuangan keluarga semakin menyempit – mereka harus mulai mengurangi porsi makan, membatalkan langganan telepon rumah, dan bahkan harus meminjam uang dari tetangga atau Kakak Wati untuk membayar tagihan yang sangat mendesak.

Salah satu sore hari, Rian kembali ke rumah dengan tangan kosong setelah berjalan selama berjam-jam mencari pekerjaan tanpa hasil. Dia menemukan Novi sedang menangis diam-diam di dalam kamar, menyusun pakaian anak-anak yang sudah mulai kecil dan tidak bisa digunakan lagi. Di sebelahnya ada surat dari pemilik rumah yang memberitahu mereka bahwa mereka harus membayar sewa yang sudah tertunda atau harus keluar dari rumah dalam waktu seminggu.

“Sayang, apa ini?” tanya Rian dengan suara yang penuh kekhawatiran, mengambil surat dari tangan istri. Setelah membacanya, dia merasa seperti ada batu besar yang menimpa tubuhnya. Mereka sudah tidak punya uang untuk membayar sewa, dan jika mereka harus keluar dari rumah, mereka tidak punya tempat lain untuk tinggal.

“Kita sudah tidak punya pilihan lain lagi, Rian,” ujar Novi dengan suara yang penuh kesedihan. “Mungkin kita harus mempertimbangkan untuk kembali ke kampung halamanmu. Meskipun tidak mudah, tapi setidaknya kita memiliki tanah dan rumah kecil yang bisa kita tempati. Di sana kita bisa mulai hidup baru dengan menanam tanaman atau beternak hewan ternak kecil.”

Rian terdiam sejenak mendengar usulan itu. Kembali ke kampung halaman yang terletak di daerah pedalaman Jawa Tengah memang adalah pilihan terakhir yang bisa mereka lakukan. Namun dia merasa sangat enggan untuk melakukan itu – dia takut akan dianggap gagal oleh keluarga besarnya dan tetangga lama yang pernah melihatnya pergi ke kota dengan impian untuk menjadi orang sukses.

Namun melihat kondisi keluarga yang semakin sulit dan tidak ada harapan untuk mendapatkan pekerjaan baru di kota Cirebon, dia menyadari bahwa itu mungkin adalah satu-satunya jalan keluar yang mereka miliki. Dia mengambil tangan istri dengan lembut dan berkata, “Kita akan membicarakannya dengan anak-anak besok pagi. Kita harus memberi tahu mereka bahwa kita mungkin harus pindah rumah dan mulai hidup baru di tempat lain. Meskipun tidak mudah, tapi aku yakin kita akan bisa membangun kehidupan yang baru dan lebih baik di sana.”

Novi mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya. Mereka saling memeluk erat, mencari rasa aman satu sama lain di tengah kegelapan ketidakpastian yang menyelimuti kehidupan mereka saat ini. Mereka tahu bahwa jalan yang akan ditempuh tidak akan mudah, tapi mereka juga merasa bahwa dengan cinta dan dukungan satu sama lain, mereka pasti akan bisa mengatasi segala rintangan yang ada di depannya.

Di kamar sebelah, Hadian dan Alea sedang mendengar pembicaraan orang tuanya dengan hati yang berat. Mereka tidak mengerti semua detailnya, tapi mereka tahu bahwa keluarga mereka sedang menghadapi kesulitan yang sangat besar. Hadian menggenggam tangan adik perempuannya dengan erat dan berkata, “Jangan takut ya Alea. Kita akan tetap bersama Papa dan Mama dimana pun kita pergi. Kita pasti akan bisa hidup dengan bahagia lagi nanti.”

Alea mengangguk perlahan, menyeka air mata yang mulai mengalir di pipinya. “Aku hanya ingin tetap bersama Papa dan Mama,” ujarnya dengan suara yang lembut. “Dimana saja aku tidak keberatan.”

Mendengar kata-kata anak-anaknya, Rian dan Novi merasa hati mereka semakin erat dan penuh dengan tekad untuk melindungi keluarga kecil mereka dengan sekuat tenaga. Mereka tahu bahwa masa depan mereka masih sangat tidak jelas, tapi mereka juga merasa bahwa mereka memiliki segalanya yang mereka butuhkan – cinta, kasih sayang, dan kebersamaan satu sama lain. Dan dengan itu, mereka yakin bahwa mereka akan bisa melalui segala kesulitan yang ada dan membangun kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka di masa depan.

1
Dewiendahsetiowati
ada typo Thor Budi yang harusnya kakak jadi ayah
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!