"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlawanan Nawang 24.
Aroma aspal yang meleleh oleh sisa panas sore berpadu dengan bau asap knalpot di area parkir Veteran. Nawang berjalan santai dengan tas ransel yang hanya dicangklongkan di bahu kanan.
Di tangan kirinya, dia memegang map dokumen proyek festival. Pikirannya masih berputar pada revisi rundown yang tadi didiskusikan bersama Rendy.
Brak.
Sebuah Vespa matic putih sengaja digeser kasar, menghalangi jalur jalan kaki Nawang menuju gerbang luar.
Timy berdiri di samping motornya. Cowok itu masih memakai jersi basket hitam-merah kebanggaan sekolah, dengan jaket parasut yang resletingnya dibiarkan terbuka. Wajahnya yang biasa jenaka kini kusut, kentara sekali dia sengaja menunggu.
Matanya langsung terkunci pada rambut baru Nawang. Jarak sedekat ini membuat Timy bisa melihat dengan jelas bagaimana potongan pendek itu membingkai rahang Nawang yang tegas.
"Neng," panggil Timy. Suaranya serak, kombinasi antara lelah fisik setelah latihan dua jam dan tekanan batin yang dia tahan sejak mengintip ruang OSIS tadi. "Aa mau ngomong sebentar."
Nawang menghentikan langkah. Jarak mereka hanya dua meter. Dia tidak menghindar, tidak juga menunjukkan ekspresi terkejut atau terluka. Wajahnya datar, seperti sedang menatap papan pengumuman sekolah yang membosankan.
"Mau ngomong apa lagi?" tanya Nawang. Nada suaranya lempeng.
Timy maju satu langkah, tangannya terangkat seolah ingin menyentuh ujung rambut Nawang yang kini tak lagi mencapai bahu, namun dia mengurungkannya saat melihat sorot mata Nawang yang dingin.
"Rambut kamu... kenapa dipotong begini?" Suara Timy terdengar menuntut, tapi ada getaran rapuh di ujungnya. "Kamu tahu kan Aa paling suka liat rambut panjang kamu? Kenapa harus diubah semua, Wang? Kamu segini bencinya sama Aa sampai penampilan yang Aa suka pun harus dibuang?"
Nawang menarik napas pendek, lalu mengembuskannya perlahan. Dia menatap Timy lurus-lurus. Tidak ada lagi panggilan 'Aa-Neng' dari mulutnya. Panggilan yang dulu terasa hangat itu kini terdengar seperti lelucon usang.
"Gak ada urusannya lagi sama lu, Tim," jawab Nawang tenang, namun telak. "Rambut-rambut gue. Badan-badan gue. Mau gue botakin sekalipun, itu hak gue. Jangan ngerasa semua hal yang gue lakuin di hidup gue sekarang itu putarannya cuma tentang lu. Lu terlalu percaya diri."
Kata 'lu-gue' itu menghantam dada Timy seperti smash bola voli. Kasar dan menyakitkan. Selama dua tahun pacaran, Nawang selalu melembutkan suaranya jika berbicara dengannya. Perubahan kata ganti itu adalah proklamasi paling tegas bahwa wilayah intim di antara mereka sudah resmi ditutup.
"Tapi gak harus sekilas ini berubahnya, Wang!" Timy menaikkan nada suaranya, frustrasi karena merasa tembok di depan Nawang terlalu tinggi untuk dia panjat. "Lu keluar dari cheerleader, sekarang masuk OSIS, sedekat itu sama Rendy. Lu sengaja mau manas-manasin gue? Lu mau bales dendam karena masalah kemarin?"
Nawang tersenyum sinis. Otak Timy ternyata masih sebatas itu. "Kalau gue mau bales dendam, gue bakal cari cowok yang lebih kaya atau lebih ganteng dari lu buat dipamerin. Tapi gue gak se-kekanak-kanakan itu. Gue masuk OSIS karena gue butuh kerjaan yang pakai otak, bukan cuma pakai fisik yang bikin gue harus ngeliatin lu main basket tiap sore. Paham?"
Timy tertegun. Kalimat Nawang menelanjangi ego kekanak-kanakannya. Sebelum Timy sempat membalas, suara deru mesin mobil yang halus memotong ketegangan di antara mereka.
Sebuah Honda Civic tua berwarna abu-abu metalik bergerak perlahan dan berhenti tepat di samping mereka. Kaca mobil diturunkan, menampilkan Rendy yang duduk di balik kemudi. Cowok itu masih memakai kemeja seragam yang lengannya digulung hingga siku.
Secara kasta kendaraan di parkiran SMA Veteran, mobil Rendy jelas kalah kelas jika dibandingkan dengan Vespa matic limited edition milik Timy yang harganya selangit, atau mobil-mobil sport milik anak-anak sirkel basket lainnya.
Mobil Rendy adalah mobil harian yang fungsinya murni untuk transportasi, bukan prestise. Namun, aura yang memancar dari balik kemudi tetap membuat Rendy tidak bisa diremehkan.
Rendy tidak turun dari mobil. Dia hanya menatap keduanya bergantian dengan ekspresi tenang seorang Ketua OSIS yang sedang memantau situasi kondusif sekolah.
"Nawang," panggil Rendy. "Berkas sponsor dari perusahaan logistik yang tadi belum lu salin ke drive bersama, kan? Masuk aja, sekalian gue anter balik. Biar kita bisa kelarin draft-nya di jalan."
Timy menoleh cepat ke arah Rendy. Matanya menatap tajam, rahangnya mengeras. "Gue lagi ngomong sama cewek gue, Ren. Jangan ikut campur."
"Mantan," ralat Nawang cepat, tanpa keraguan sedikit pun.
Rendy mengabaikan tatapan bermusuhan dari Timy. Dia tetap mempertahankan kontak mata dengan Nawang, memberikan pilihan sepenuhnya di tangan gadis itu tanpa terkesan memaksa atau memprovokasi Timy.
Rendy tahu betul cara menjaga wibawanya— dia tidak perlu keluar mobil dan beradu urat leher di parkiran seperti anak remaja labil.
"Gimana, Wang? Udah jam lima lewat. Gerbang parkir timur mau dikunci," kata Rendy lagi, nadanya santai namun penuh intonasi kendali.
Nawang tidak berpikir dua kali. Dia melangkahi ban depan Vespa Timy, berjalan memutari kap mobil Rendy, dan langsung membuka pintu penumpang depan. Dia masuk dan menutup pintunya dengan suara debuk yang mantap.
Timy bergerak maju, mengetuk kaca jendela samping Nawang. "Wang! Nawang! Kita belum selesai ngomong!"
Nawang menurunkan kaca mobilnya hanya sedalam tiga jari. Dia menatap Timy dari balik celah kaca. "Udah selesai, Timy. Batas kita udah jelas semenjak lu milih teman kecil lu. Tolong jangan bikin diri lu kelihatan makin kasihan di parkiran sekolah."
Setelah mengatakan itu, Nawang menaikkan kembali kacanya sampai rapat. Dia menatap lurus ke depan, menolak untuk melirik spion yang menampilkan bayangan Timy yang berdiri sendirian di tengah parkiran yang mulai sepi.
Rendy mulai menginjak pedal gas, membawa Civic tua itu membelah jalanan luar sekolah. Suasana di dalam kabin mobil mendadak hening, hanya diisi oleh suara pendingin ruangan dan lagu instrumental beraliran lo-fi yang berputar pelan dari radio.
Nawang menyandarkan kepalanya ke jok mobil, memejamkan mata sesaat. Napasnya yang tadi sempat memburu kini mulai teratur.
"Lu oke?" tanya Rendy setelah semenit mereka menembus jalan raya. Tangan kirinya tetap santai di setir, sementara tangan kanannya meraih botol air mineral dingin dari cup holder dan menyodorkannya ke arah Nawang.
Nawang membuka mata, menerima botol itu. "Oke. Makasih, Ren. Dan maaf, lu jadi harus terseret drama gak penting barusan."
Rendy terkekeh pelan, matanya tetap fokus pada jalanan di depan. "Drama itu bagian dari dinamika lapangan, Wang. Anggap aja itu simulasi menghadapi vendor yang rewel saat hari H festival nanti. Kalau sama mantan aja lu bisa setegas itu, gue makin yakin pilihan gue gak salah buat narik lu jadi Koordinator Acara."
Nawang menoleh, menatap samping wajah Rendy yang diterpa cahaya jingga matahari terbenam. Cowok ini benar-benar tidak pernah membahas hal-hal emosional dengan cara yang cengeng. Rendy selalu menariknya kembali ke realitas, ke logika, dan ke produktivitas.
"Gue emang gak punya waktu lagi buat lebay, Ren," sahut Nawang, membuka tutup botol airnya. "Energi gue mahal. Mending gue pakai buat mikirin gimana caranya target penonton festival kita tembus dua ribu orang."
"Nah, itu baru Nawang yang gue kenal," Rendy tersenyum tipis, rasa bangga tersirat jelas dari caranya mengangguk kecil. "Sekarang, buka laptop lu. Kita punya waktu dua puluh menit sebelum nyampe rumah lu buat ngerapihin konsep opening ceremony."
Nawang tersenyum—kali ini sebuah senyuman yang benar-benar sampai ke matanya. Dia meraih laptop di dalam tasnya dan membukanya di atas pangkuan.
......................
...****************...
Tbc,