Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.
Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.
Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.
Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.
"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Rencana
Situasi di ruang tengah sangat suram dan tegang. Mereka merasa ada yang aneh dengan sikap Meng Lin hari ini.
Selama 9 tahun tinggal di rumah itu, Meng Lin tidak pernah membantah atau protes dengan perlakuan mereka kepadanya.
"Ada apa dengannya?" tanya Paman Meng Lin yang bernama Meng Hao. Dia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi. Semuanya terjadi begitu mendadak.
"Aku juga tidak tahu. Hari ini, dia bertingkah aneh. Wan wan, apa kamu melakukan sesuatu kepadanya?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.
"Ibu.. Aku tidak melakukan apapun. Aku tidak pernah menyinggungnya." balas Meng Wan dengan cepat.
"Lalu apa yang membuatnya seperti ini?" gumam Bibi Lin bertanya-tanya. Dia sama sekali tidak rela jika Meng Lin tidak memberi uang lagi kepadanya.
Belum lagi rumah yang di tempati anak sulungnya. Kalau Meng Lin kembali ke rumah itu, anaknya mau tinggal di mana?
"Sudahlah... Besok kita bahas lagi, kita tanya apa sebenarnya yang dia inginkan!" kata Paman Lin sambil beranjak.
Mereka akhirnya masuk ke kamar masing-masing dengan perasaan campur aduk.
***
Di dalam kamar Men Lin duduk dengan diam. Dia sedang memikirkan cara untuk mengambil uang dan rumah peninggalan orang tuanya kembali. Apalagi uang sebanyak itu pasti di simpan di Bank.
"Kalau begitu mari kita buat keributan.. Aku tidak yakin, mereka tidak mau mengembalikan uang dan rumah itu.!"
"Besok aku harus pergi ke kantor urusan pemuda. Kemana saja wilayah yang dituju. Sebenarnya dengan ilmu dan pemahamanku dari masa depan, sangat mudah untuk mendapat pekerjaan. Apalagi, pemilik tubuh selalu mendapat peringkat 1 di kelas!"
"Tapi aku tidak ingin tinggal di kota ini lagi. Aku ingin pergi ke Desa, dan kembali ke kota saat pendaftaran universitas dibuka kembali.!"
"Aku sudah S2 di bidang Sains. Pekerjaan apa yang bagus? Aku memang ingin ke Desa, tapi bukan berarti aku ingin turun langsung ke sawah. Itu sangat melelahkan.
"Haaah.. Nanti kita lihat bagaimana situasi di sana!"..
Setelah kembali ke kamar, Meng Lin berbaring di atas tempat tidurnya. Pikirannya masih mengingat pertengkaran dengan paman dan bibinya tadi.
Tangannya tanpa sadar meraih kalung yang tergantung di leher. Kalung peninggalan orang tuanya itu terasa hangat di telapak tangan.
Detik berikutnya, pandangannya berubah.
Meng Lin tertegun. Ia tidak lagi berada di kamarnya. Di hadapannya terbentang sebuah ruang yang asing.
Tanah kosong yang cukup luas membentang sejauh yang bisa dilihat matanya. Tidak ada rumah, tapi di salah satu sisi terdapat sebuah gudang sederhana.
Meng Lin berdiri diam beberapa saat. Kemudian matanya membesar. “Ini...”
Ia melihat sekeliling. Ingatan tentang berbagai novel yang pernah dibacanya langsung muncul di kepalanya.
Ruang.
Dimensi.
Kalung.
Meng Lin tiba-tiba tertawa kecil. “Benar-benar ada.” Ia akhirnya mendapatkan sesuatu yang hampir selalu dimiliki tokoh penjelajah waktu dalam novel yang pernah dibacanya.
Meng Lin berjalan mengelilingi tempat itu dengan rasa penasaran yang jauh lebih terkendali dibandingkan sebelumnya.
Tidak lama kemudian, ia menemukan sesuatu yang menarik. Di dekat salah satu sudut tanah terdapat dua batu besar yang saling berhimpitan.
Dari celah di antara kedua batu itu, setetes air perlahan muncul.
Tik.
Setetes air jatuh ke dalam sebuah mangkuk kayu yang diletakkan di bawahnya. Meng Lin memperhatikan.
Lima puluh detik...
Satu menit...
Dua menit...
Tik.
Setetes lagi jatuh. Meng Lin menghitung beberapa kali. “Sekali dalam tiga menit?” Ia berjongkok di depan mangkuk.
Air di dalamnya masih sangat sedikit. Meng Lin memandangi tetesan itu dengan serius.
“Jangan-jangan... air spiritual?” Pertanyaan itu membuat matanya berbinar. Namun ia tidak langsung meminumnya. Bagaimanapun, dia tidak tahu apakah air tersebut aman.
Setelah berpikir sejenak, Meng Lin akhirnya mengambil sedikit air menggunakan ujung jarinya.
Ia menyentuh bibirnya. Manis, rasa manis yang sangat alami memenuhi mulutnya. Meng Lin terdiam, kemudian ia meneguk sedikit lagi.
Sesaat kemudian, tubuhnya terasa hangat. Rasa lemas yang selama ini menempel pada tubuhnya perlahan berkurang. Perutnya yang sering terasa kosong tidak lagi terasa begitu menyakitkan. Bahkan tubuhnya terasa lebih ringan.
Meng Lin menatap kedua tangannya. “Benar-benar berkhasiat...”
Senyum perlahan muncul di wajahnya. Mata Meng Lin berbinar. “Ini harta karun.”
Namun ketika melihat mangkuk kayu yang hampir kosong, senyumnya sedikit menghilang.
Ia kembali menghitung. Satu tetes setiap tiga menit. Kalau dibiarkan begitu saja, entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi satu mangkuk.
“Pelan sekali.” Meng Lin menopang dagunya.
Namun ia tidak terlalu kecewa. Setidaknya, sekarang ia memiliki sesuatu yang bisa membantunya memperbaiki kondisi tubuh, tanpa harus mengeluarkan banyak uang.
Ia kemudian berdiri dan menatap tanah kosong yang terbentang di hadapannya. Tanah itu sangat luas, tidak ada apa-apa di sana.
Meng Lin berjalan beberapa langkah, lalu berjongkok dan mengambil segenggam tanah.
Tanahnya terasa nyata.
Ia meremasnya perlahan. "Kalau bisa ditanami..." Tatapannya berubah serius.
Jika ruang ini benar-benar memiliki tanah yang bisa digunakan, maka nilai tempat ini jauh lebih besar daripada sekadar gudang penyimpanan.
Meng Lin mulai membayangkan berbagai kemungkinan.
Sayuran.
Gandum.
Jagung.
Buah-buahan.
Bahkan tanaman obat.
Ia mengangkat kepala dan memandang tanah kosong itu. “Kalau aku bisa menanam di sini...”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia ini, Meng Lin merasa bahwa masa depannya mungkin tidak seburuk yang tertulis dalam novel.
" Tapi jika benar bisa. Tidak bisa digunakan secara terang-terangan. Jual beli secara pribadi juga adalah sebuah pelanggaran.!"
"Bukan masalah.. Ada banyak solusi.!" Dia sudah banyak membaca novel. Dan tahu, kemana mereka biasanya pergi untuk hal seperti itu.
Meng Lin kembali terdiam, dengan adanya ruang penyimpanan, dia bisa membawa banyak barang ke Desa tanpa harus mengirimnya.
"Di dalam alur novel. Kalung ini tidak pernah disebutkan. Biasanya kan, pasti diambil oleh karakter utama.!" gumam Meng Lin.
"Tidak..! Aku tidak boleh terlalu memikirkan alur itu. Pasti ada banyak sesuatu yang tidak jelaskan. Sekarang alurnya pasti sudah berantakan, aku tidak sudi jadi batu loncatan. Mari kita lihat, apa kalian bisa sukses tanpa Uangku?"
Meng Lin tidak tahu sudah berapa lama dia di dalam ruang itu. Apakah waktunya sama? Dia berharap tidak, agar dia bisa lebih lama di dalam sana.
Meng Lin keluar, dan menuang segelas air panas dari termos dan memasukkannya ke dalam ruang, dia ingin lihat apakah air itu akan jadi dingin atau tidak.
"Tidur saja. Besok pagi banyak yang harus diurus..!
Air yang dia minum tadi benar-benar membuat tubuhnya sangat rileks.Tidak adalah lagi drama terbangun di tengah malam, dia tidur pulas. Tidur yang sangat nyaman selama dua kehidupannya.
.
.
next double up ya Thor 😁
update nya kurang banyak Thor 😀👍
gift ☕ biar semangat 🥰🥰