Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Mendengar permintaan Anya itu, Arhan mengangguk.
Permintaan itu terdengar sederhana, tapi bagi Arhan rasanya aneh. Dari 30 bunga yang ramai dan warna-warni, Anya justru ingin memisahkan satu bunga putih sendirian di vas yang berbeda. Satu bunga yang paling bersih, paling tenang.
"Iya, An. Satu vas lagi buat yang putih sendirian ya," kata Arhan dengan suara pelan.
Anya mengangguk sambil mengelus kelopak lily putih itu yang masih basah karena sisa hujan.
"Iya, Han. Aku mau yang putih ini sendirian aja. Jangan dicampur," jawab Anya.
Arhan mengangguk lagi, dia masuk ke kamar dan mengganti baju. Kaos oblong yang ia pakai setelah mandi tadi masih agak lembab di bagian leher karena rambutnya yang masih basah dan belum kering sempurna.
Di dalam kamar sambil mengganti baju, ia melihat ke arah dapur dari pintu kamar yang terbuka sedikit. Anya masih berdiri bersandar di meja, menatap lily putih itu dengan mata yang sayu tapi ada senyum kecil di bibirnya.
Setelah selesai mengganti baju, ia keluar lagi. Rambutnya sudah ia keringkan dengan handuk, meski masih agak lembab di ujungnya.
"Tunggu ya An, aku ke gudang dulu. Ambil Vas bunga," kata Arhan. Anya mengangguk, matanya masih tertuju ke bunga lily itu.
Setelah selesai, Arhan mengambil vas bunga, di dalam gudang, tergeletak di sudut ruangan. Agak kotor dan berdebu. Ia mengambil sehelai kain di dalam gudang, membersihkan debu itu terlebih dahulu.
Sebelum memberikan kepada Anya. Arhan mencucinya di wastafel. Dan mengisinya dengan sedikit air. Vas itu lebih kecil, dari kedua vas bunga yang sebelumnya.
"Nih, An. Vasnya. Sudah aku cuci," kata Arhan sambil memberikan vas itu kepada Anya. Ia sudah mencucinya di wastafel dan mengisi air bersih setengahnya, tidak penuh, pas untuk satu batang bunga.
"Terima kasih, Han," kata Anya sambil menerima vas itu dengan kedua tangannya yang kurus.
Anya langsung memasukkan lily putih itu ke dalam vas kecil itu dengan sangat hati-hati. Ia mengatur batangnya agar tegak lurus, tidak miring ke kiri atau ke kanan. Ia memutar vas itu sedikit agar posisi bunganya pas menghadap cahaya dari jendela.
Anya masih berdiri dan tangannya sedikit gemetar menahan vas itu, Arhan duduk di kursi, menatap Anya.
"An, makan dulu ya. Buburnya nanti keburu dingin. Bunganya nanti lagi, sudah cantik kok," kata Arhan.
Dia membuka bubur itu dan menumpahkannya ke dalam mangkuk. Ia mengambil dua bungkus bubur tanpa kacang dengan telur rebus yang tadi ia gantung di kursi roda dan ia bawa masuk.
Plastiknya masih hangat, uapnya masih keluar sedikit. Ia membuka satu bungkus dengan gunting, lalu menumpahkan bubur putih yang lembut itu ke dalam mangkuk kaca bening yang ada di meja.
Aroma bubur ayam yang gurih langsung naik, mengisi dapur yang lembab karena hujan.
Sambil memasukkan bunga lily putih itu ke dalam vas kecil dan merapikan kelopaknya yang agak menekuk, Anya mengangguk. Ia meletakkan vas kecil itu di tengah-tengah meja, di antara dua vas besar yang berisi 29 bunga lainnya yang warna-warni. Jadi sekarang ada tiga vas di meja makan kayu itu, dua besar ramai, satu kecil sepi dengan satu bunga putih.
"Iya, Han. Aku makan sekarang," jawab Anya sambil menarik kursi dapur dan duduk pelan, menahan napas sebentar karena pindah posisi.
Arhan menawarkan untuk menyuapi Anya. Ia mengambil sendok dan duduk di samping Anya, sangat dekat.
"Sini, An. Aku suapin ya, biar cepat dan kamu pasti capek," kata Arhan sambil mengaduk bubur itu sedikit agar tidak terlalu panas dan uapnya hilang.
Anya menolak, dia ingin makan sendiri. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum, senyum yang menahan.
"Tidak usah, Han. Aku mau makan sendiri aja. Aku masih bisa kok. Tangan aku masih kuat," kata Anya. Ia mengambil sendok dari tangan Arhan dengan lembut. "Kamu makan juga, Han. Kamu belum makan dari pagi."
Arhan mengangguk. "Iya, An. Pelan-pelan aja makannya, jangan buru-buru."
Anya mulai menyendok buburnya sedikit demi sedikit. Bubur tanpa kacang dengan telur rebus itu ia makan dengan pelan, tidak terburu-buru, ia nikmati setiap suapannya.
Lalu Anya melihat laptop Arhan yang ada di meja kecil sudut dapur. Laptop itu tertutup, di atasnya ada tumpukan kertas coretan yang berantakan dan pulpen yang tergeletak.
"Han, kamu lagi nulis apa di laptop? Dari kemarin malam aku lihat kamu ngetik terus sampai ketiduran," tanya Anya sambil menyendok buburnya.
Arhan menumpahkan bubur untuk dirinya ke dalam mangkuk. Bubur keduanya ia tuang ke mangkuk yang agak besar. Ia mengaduknya pelan sebelum menjawab, agak gugup.
"Aku lagi nulis cerita, An. Cerita baru," jawab Arhan.
"Cerita apa, Han? Judulnya apa? Boleh aku lihat?" tanya Anya lagi, matanya menatap Arhan dengan penasaran dan ada binar kecil.
Arhan lalu mengambil laptopnya dan menyalakannya. Layar laptop yang hitam itu menyala, memunculkan cahaya putih di dapur yang agak redup karena hujan di luar masih rintik-rintik dan jendela tertutup.
Arhan duduk kembali di samping Anya, membuka file dokumen. Di sana tertulis satu kata besar di atas halaman, baru beberapa paragraf di bawahnya. Tulisannya belum selesai, masih menggantung dan belum ada konflik.
Arhan pun menjelaskan isi novel itu.
"Judulnya Bunga, An," kata Arhan dengan suara pelan, agak ragu. "Isinya hanya tentang seorang gadis yang menyukai bunga."
Anya berhenti menyendok buburnya. Ia menatap layar laptop itu, mencoba membaca tulisan yang agak kecil itu.
"Gadis yang menyukai bunga? Seperti apa gadisnya, Han?" tanya Anya.
"Iya," jelas Arhan sambil menggulir tiga paragraf awal itu dengan pelan. "Seorang gadis periang, cantik, lembut dan bahagia. Setiap pagi dia bangun dan merawat bunga di halamannya. Dia suka sekali sama bunga, dia rawat setiap hari."
Arhan tidak bilang kalau gadis itu adalah Anya. Ia hanya membacakan deskripsi gadis itu apa adanya, sesuai yang ia tulis. Deskripsi tentang gadis yang tertawa lepas, yang rambutnya panjang, yang tangannya lembut saat menyentuh kelopak bunga, yang hidupnya ringan tanpa beban.
"Novel itu baru beberapa paragraf dan belum selesai, An. Aku baru nulis pembukanya aja tadi malam. Masih berantakan," kata Arhan lagi sambil menutup sedikit layar agar Anya tidak silau.
Anya tersenyum, sambil menggeser vas-vasnya. Ia menggeser vas kecil berisi lily putih itu sedikit lebih dekat ke arahnya, lalu menggeser dua vas besar berisi 29 bunga lainnya sedikit menjauh, agar ia bisa melihat layar laptop Arhan dengan jelas tanpa terhalang bunga.
Senyum Anya terlihat tulus, ada rasa haru yang dalam di sana, seperti ia mengenali gadis itu.
"Tentang gadis yang menyukai bunga, Han? Gadis periang? Yang cantik dan lembut?" tanya Anya lagi, suaranya lebih pelan dan hampir berbisik.
"Iya, An. Gadis periang, cantik, lembut dan bahagia," jawab Arhan mengulang kalimatnya.
Anya mulai makan lagi. Satu suapan, dua suapan. Bubur tanpa kacang itu ia makan sambil bersandar pelan di bahu Arhan yang hangat dan agak basah bekas handuk.
Sambil bersandar di bahu Arhan, dia ingin melihat isi novelnya. Kepalanya bersandar di bahu Arhan, rambutnya yang sudah kering menyentuh leher Arhan. Matanya membaca tiga paragraf pembuka di layar laptop yang menyala itu. Paragraf tentang seorang gadis yang bangun pagi dan memetik bunga di halaman dengan senyum.
Lalu Anya berkata.
"Han," panggil Anya pelan, masih bersandar di bahu Arhan, sendok di tangannya berhenti di udara. Matanya masih menatap tulisan di layar, tapi pikirannya ada di tempat lain.
"Iya, An?" jawab Arhan sambil menahan napas.
"Di dalam novel itu, gadisnya diceritakan sakit enggak, Han?".