"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sah
Acara lamaran yang seharusnya digelar, berakhir menjadi pernikahan. Aluna berada di kamar milik Bibi Tari untuk dirias wajahnya oleh Mama Mila. Setidaknya wajah Aluna tidak terlalu berminyak dan pakaian yang digunakan juga sedikit bagus untuk acara pernikahan. Bibi Tari sedari tadi mendampingi Aluna yang tengah dirias oleh Mama Mila. Matanya sedari tadi berkaca-kaca karena melihat Aluna akhirnya menikah. Bahkan Mama Mila sama sekali tidak merendahkan kekurangan Aluna dari awal bertemu.
"Tante, mengapa harus dirias segala? Kan nanti cuma akad nikah saja," tanya Aluna dengan wajah lurus ke depan.
"Walaupun cuma akad, tapi ini tetap pernikahan. Kamu berhak mendapatkan treatment dan pernikahan yang layak,"
"Kalau perlu setelah nanti pernikahan sah secara negara, kita gelar resepsi besar-besaran." ucap Mama Mila dengan antusiasnya.
"Oh ya... Jangan panggil Tante. Panggil Mama saja karena kamu sudah jadi anak perempuan Mama," lanjutnya membuat Aluna menitikkan air matanya.
"Ma... Mama..." ucap Aluna dengan suara tersendat karena sudah lama dia tak memanggil seseorang dengan panggilan itu. Bahkan Mama Maya saja tak pernah dirinya panggil seperti itu.
"Iya, ini Mamamu sekarang. Jadi Mama akan mengusahakan yang terbaik untuk kamu. Kekuranganmu itu, jangan dihiraukan. Kita tutup semuanya pakai kelebihanmu," ucap Mama Mila memberikan semangat.
Mama Mila langsung memeluk Aluna dari samping untuk memberikan kekuatan. Walaupun tidak bercerita, tapi Mama Mila tahu bahwa Aluna memiliki banyak kekecewaan dan luka. Bibi Tari langsung mengalihkan pandangannya karena begitu terharu dengan perlakuan Mama Mila. Padahal Mama Mila baru saja bertemu dengan Aluna, tapi sikapnya begitu baik.
"Aku ingin merasakan pelukan ini selamanya, Tuhan. Boleh kan aku egois sedikit saja?" gumam Aluna dalam pelukan Mama Mila.
"Udah jangan nangis. Nanti make upnya luntur. Udah ditunggu kita sama Ustadz dan lainnya," ucap Mama Mila yang langsung melepaskan pelukannya.
"Bi Tari juga ikutan nangis. Habis ini bedakan ya, Bi. Biar cantik saat mendampingi Aluna," lanjutnya saat melihat Bibi Tari.
"Nggak usah, Nyonya. Bedakan kaya mau kemana aja. Lagian nanti Bibi ada di dapur," ucap Bibi Tari sambil menghapus air mata yang mengalir pada kedua pipinya.
"Nanti Bibi dampingi Aluna saja. Aluna kan udah nggak ada orangtua," ucap Aluna membuat Mama Mila dan Bibi Tari langsung terdiam.
Tak mau membahas tentang hal ini, Mama Mila langsung melanjutkan merias wajah Aluna. Kulit Aluna yang bagus dan cantik, membuat Mama Mila tak kesusahan dalam meriasnya. Cukup hanya dengan riasan tipis saja sudah membuat Aluna terlihat cantik. Setelah selesai, Aluna dituntun oleh Mama Mila dan Bibi Tari untuk keluar kamar. Sebenarnya mulut Mama Mila terasa gatal ingin tahu mengapa meriasnya di kamar Bibi Tari. Padahal seharusnya kamar Aluna jauh lebih luas daripada kamar milik pembantu. Namun Mama Mila memilih diam dulu agar acara sakral ini segera berlangsung.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aluna Savira Velove binti Riko Fathurrahman dengan mas kawin uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah dan perhiasan dua puluh gram. Dibayar tunai," ucap Bian dengan lantangnya.
Bagaimana saksi?
SAH...
Raut wajah penuh syukur dan lega tercipta setelah Bian mengucapkan ijab kabul dengan lantang. Kecuali Ayah Riko, Salsa, dan Mama Maya yang terkejut dengan mahar pernikahan. Ternyata tadi Mama Mila langsung mengeluarkan perhiasan dari dalam tasnya saat diputuskan Bian akan menikah dengan Aluna. Salsa pun sempat mengomel pada Ayah Riko agar uang mahar itu diberikan kepadanya. Namun Ayah Riko hanya diam karena dia juga kaget melihat apa yang disiapkan Bian dan keluarganya.
"Mulai sekarang, kamu adalah istriku. Ikuti aturan mainku, maka kamu akan selamat." bisik Bian tepat pada telinga Aluna.
"Walaupun tidak ada cinta di antara kita, tapi aku akan berusaha untuk bertanggungjawab. Cukup jadi Ibu untuk anak-anakku, maka hidupmu aman." lanjutnya.
"Ibu?" tanya Aluna dengan pelan.
"Ya, aku ini duda anak dua. Setelah ini kita bertemu dengan anak-anakku," ucap Bian membuat Aluna menganggukkan kepalanya.
"Aku pikir setelah ini akan diceraikan, malah jadi pengasuh untuk anak-anak." gumam Aluna sambil menghela nafasnya pelan.
Padahal Aluna berencana untuk bercerai dengan Bian setelah keluar dari rumah ini. Ternyata tidak bisa, Bian tetap akan menjadikan Aluna sebagai istrinya dan Ibu bagi anak-anaknya. Salsa dan Mama Maya terlihat kesal melihat cincin yang dipasangkan oleh Bian kepada Aluna. Namun mereka tak mungkin merebut cincin dan semua perhiasan itu. Masih banyak orang di rumahnya, dia bisa langsung diteriaki maling.
"Kalian sudah sah sebagai suami istri. Besok pagi, urus dokumen agar pernikahan kalian resmi secara negara." ucap Ustadz Ramzi memberitahu.
"Baik, Pak Ustadz." jawab Bian dengan yakin.
"Jaga Nak Aluna, Pak Bian. Dia orang baik, tapi sayang... Keluarganya sedikit miring," bisik Ustadz Ramzi pada Bian sebelum berpamitan. Bian hanya menganggukkan kepalanya dengan kaku karena dia pun belum mengenal semua tentang keluarga dari Aluna dan Salsa ini.
Srtttt...
"Ini milikku," seru Salsa sambil menarik kotak perhiasan di atas meja yang digunakan Bian untuk mahar pernikahan. Kejadian itu setelah semua yang hadir keluar dari rumah. Di sana hanya tinggal keluarga inti saja.
"Kembalikan perhiasan itu, Salsa. Itu mahar pernikahan untuk Aluna," seru Bian dengan tatapan tajamnya.
"Tidak. Ini milikku. Seharusnya kamu tadi memberikan perhiasan ini padaku kan? Kenapa kamu nggak bilang kalau mau membuat surprise?" seru Salsa dengan raut wajah kesalnya sambil mendekap kotak perhiasan berwarna merah itu.
"Dasar cewek matre, tidak tahu malu." ucap Mama Mila dengan ucapan pedasnya.
Bugh...
Brakk...
Aaaaa...
Aluna...
Tiba-tiba saja Aluna menggerakkan tongkat kayunya dan memukul lengan tangan Salsa dengan kencang. Salsa sampai berteriak kesakitan membuat kotak merah itu jatuh ke lantai. Bibi Tari segera mengambil perhiasan yang jatuh untuk diamankan. Mama Maya dan Papa Riko sampai memelototkan matanya melihat apa yang dilakukan Aluna kepada Salsa. Namun Aluna tak peduli, apalagi dia tak melihatnya. Walaupun dia merasakan aura kemarahan di sekitarnya.
"Itu milikku dari Mas Bian dan orangtuanya. Jangan harap mengambilnya dariku," ucap Aluna dengan nada datarnya.
"Itu seharusnya milikku, Aluna. Ingat ya, kamu itu hanya perempuan pengganti karena aku sudah membuang Mas Bian." seru Salsa menyadarkan Aluna tentang statusnya sebagai pengganti.
"Aluna memang pengganti, tapi sekarang statusnya istri sahku. Barang itu untuk istriku." seru Bian membuat Salsa menatapnya tak percaya. Apalagi Bian langsung merangkul bahu Aluna, seakan gadis itu adalah perempuan yang dicintainya.
"Aluna, bereskan semua barang-barangmu. Kita pindah dari sini," lanjutnya.
"Baik, Mas."
"Aku boleh bawa Bi Tari sekalian?" tanya Aluna dengan harap-harap cemas.
Boleh. Nanti biar Bi Tari yang bantu kamu selama di rumah,
Terimakasih, Mas.
🙏💪😍