[SEASON 2]
Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'
"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Gerbang Baru dan Ingatan yang Tersesat
"Kita sudah sampai di tempat barumu, White!"
Lucas menarik tali les kendali, menghentikan kereta kuda tuanya tepat di depan gerbang besi tinggi Akademi Vespera. Bangunan tempat menuntut ilmu itu tampak begitu megah dengan arsitektur kastil batu yang menjulang, sangat kontras dengan suasana pedesaan tempat tinggal mereka di bukit Arcania.
"Maaf Ayah tidak bisa mengantarmu sampai ke dalam gerbang. Ayah harus segera membawa barang-barangmu ke kediaman Kakek Buyut, dan Ayah tidak bisa berlama-lama di kota ini," ujar Lucas sambil menatap putrinya dengan tatapan hangat sekaligus khawatir.
White mengangguk paham. "Iya, Ayah. Tidak apa-apa. Kasihan juga kalau Ayah meninggalkan Ibu terlalu lama sendirian di rumah kayu kita. Aku takut jika Ibu terbangun dan mendapati rumah kosong. Jam segini Bibi Calipso pasti masih sibuk mengurus anak-anaknya yang berangkat ke akademi, tidak mungkin dia bisa langsung datang menjaga Ibu."
Sambil berbicara, White merogoh tas kulitnya. Dengan gerakan terampil, ia melepas wig rambut pendeknya, menyingkap rambut aslinya yang indah seputih salju. Sesuai janjinya pada sang ayah, ia tidak akan menyamar dengan rambut palsu saat berada di area akademi. Ia melipat wig itu dan memasukkannya ke dalam tas selempangnya.
"Semoga di tempat ini kamu mendapatkan banyak teman, White. Jangan lupa kirimkan pesan lewat merpati pos jika ada sesuatu. Bila perlu, sesering mungkin. Oke!" pesan Lucas.
"Hmm... baiklah, Ayah. Hati-hati di jalan!" jawab White sembari turun dari bak kereta kayu. Ia berdiri di pinggir jalan berbatu, melambaikan tangannya hingga kereta kuda sang ayah hilang di balik kelokan jalanan kota yang ramai oleh kereta kencana lain.
****
Di tempat lain, suasana mencekam menyelimuti sebuah kastil kuno yang megah. Damian baru saja melangkah melewati pintu aula utama yang menjulang tinggi. Langkah sepatunya yang tegas bergema di lantai marmer, namun ia segera menyadari ada yang aneh.
Para pelayan yang sedang membersihkan guci dan para penjaga berkuda yang berdiri kaku dengan tombak di tangan, semuanya serentak berhenti bekerja. Mereka memberikan tatapan yang sangat aneh—perpaduan antara syok, takjub, dan ingin tertawa namun takut.
Mereka terkejut melihat sang Raja yang telah lama menghilang kini tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Namun, yang membuat mereka kehilangan kata-kata adalah penampilannya.
Sang Raja Demon yang biasanya terlihat dingin dan mengintimidasi, kini berdiri gagah mengenakan selembar jubah bertudung kain rajut berwarna merah muda dengan hiasan menyerupai telinga kelinci. Karismanya yang kuat seolah bertabrakan dengan kesan menggemaskan dari pakaian yang ia kenakan.
"Raja Damian! Ke mana saja Anda selama ini? Apa Anda baik-baik saja?"
Langkah kaki Dominic terdengar terburu-buru, menggema di atas lantai marmer aula yang dingin. Pria vampir itu langsung berlari menghampiri Damian dengan raut wajah yang merupakan campuran antara kelegaan luar biasa dan rasa penasaran yang membuncah.
Ia berdiri tepat di depan Damian, matanya menyisir setiap inci wajah pria itu, berusaha memastikan bahwa sosok di depannya benar-benar sang penguasa yang selama ini ia cari hingga ke ujung benua.
Namun, Damian justru menatap Dominic dengan kening berkerut dalam. Ia merasa asing dengan tatapan memuja dan penuh hormat dari para penjaga, apalagi saat Dominic—sosok vampir senior yang ia kenal—memanggilnya dengan gelar setinggi itu.
"Raja? Kenapa Paman memanggilku dengan sebutan Raja?"
Damian bertanya balik, suaranya terdengar bingung sekaligus sangsi. "Memangnya apa yang sudah terjadi denganku selama ini?"
Dominic tersentak. Matanya membulat sempurna, nyaris tidak percaya saat mendengar sang penguasa memanggilnya dengan sebutan 'Paman'. Ia mundur selangkah, menatap Damian seolah pria itu baru saja menumbuhkan kepala kedua.
"Kenapa Anda menjadi sangat aneh sekali, Raja?" suara Dominic bergetar.
"Anda memanglah Raja Demon, satu-satunya pemimpin sah dari ras Demon di benua ini. Dan asal Anda tahu, Anda sudah menghilang tanpa kabar selama tujuh belas tahun. Selama itu pula saya mengerahkan seluruh tenaga untuk mencari keberadaan Anda ke setiap sudut gelap benua ini, namun tidak ada satu pun pencarian yang membuahkan hasil. Seluruh pasukan berkuda terbaik Anda telah saya kerahkan, tetapi mereka semua kembali dengan tangan hampa, Raja Damian."
Mendengar penjelasan yang terdengar dramatis itu, Damian justru terkekeh hambar. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, seolah sedang mendengarkan sebuah dongeng konyol.
"Sudahlah, Paman. Berhenti memanggilku dengan sebutan Raja seperti itu. Panggil saja aku Damian!" tukasnya. "Yang menjadi Raja itu adalah ayahku, bukan aku! Meskipun beliau sudah tidak ada, dia tetaplah pemimpin ras Demon yang agung dan pemilik sah kastil ini. Dan... apakah Paman serius? Aku benar-benar telah menghilang selama tujuh belas tahun?"
Dominic menggeleng tegas, ekspresinya mengeras. "Saya tidak mungkin berani memanggil Anda hanya dengan nama, dan benar sekali bahwa Anda sudah lama hilang—bahkan seluruh dunia bawah pun tahu itu. Jadi, tolong katakan pada saya, apa yang sebenarnya terjadi? Ke mana saja Anda selama ini?"
Dominic menuntut penjelasan, rasa penasaran yang terpendam belasan tahun kini menumpuk di ujung lidahnya.
Damian menghela napas panjang, bahunya yang terbungkus jubah merah muda bertudung telinga kelinci itu tampak merosot lesu.
"Aku juga tidak tahu, Paman. Aku tidak ingat sama sekali dengan apa yang sudah terjadi kepadaku selama belasan tahun ini. Aku sendiri sangat terkejut saat pertama kali tersadar di tepi sungai itu... karena tiba-tiba saja tubuhku sudah sebesar dan setinggi ini."
Dahi Dominic semakin berkerut, menciptakan garis-garis dalam di wajah pucatnya. "Apa maksud Anda, Raja? Tiba-tiba sebesar ini?"
Damian tidak langsung menjawab. Ia melirik ke sekeliling aula, menyadari telinga para pelayan dan penjaga mulai condong ke arah mereka, haus akan informasi. Ia tidak mau pembicaraan sepenting ini menjadi konsumsi publik, sekalipun itu adalah penghuni kastilnya sendiri.
"Sekarang lebih baik Paman ikut denganku ke halaman belakang!" perintah Damian sambil memutar tubuhnya.
"Di sana, di gazebo batu, aku akan menceritakan semuanya kepadamu dari awal hingga aku bisa pulang dengan selamat."
Damian melangkah pergi menuju pintu kayu besar yang mengarah ke taman belakang, meninggalkan Dominic yang masih terpaku sejenak sebelum akhirnya bergegas mengikuti langkah kaki sang Raja yang tampak "berbeda" tersebut.
Langkah kaki mereka membawa mereka ke halaman belakang kastil yang luas. Di sana, sebuah gazebo tua berbahan batu pualam hitam berdiri kokoh di tengah taman yang sunyi.
Suasananya tampak suram namun memiliki keindahan yang magis; tanaman rambat berduri dengan bunga ungu gelap melilit tiang-tiang gazebo, sementara kabut tipis merayap di atas permukaan rumput yang dipangkas rapi. Di sinilah, jauh dari telinga-telinga yang ingin tahu, Damian menghentikan langkahnya dan bersandar pada pilar batu yang dingin.
Cahaya matahari pagi yang pucat menyinari wajah Damian, menonjolkan ekspresinya yang tampak lelah sekaligus bingung. Ia menatap lurus ke arah hutan pinus yang membentang di luar tembok kastil.
"Aku tersadar di tepi sungai yang dikelilingi ladang dan juga hutan," Damian memulai ceritanya dengan suara rendah yang sedikit bergetar.
"Aku tidak tahu kenapa aku bisa ada di sana dan kenapa aku bisa tumbuh sebesar ini dengan begitu cepat. Aku tidak mengingat satu pun kejadian yang pernah menimpaku, Paman. Aku hanya ingat... jika aku ini masih berumur sepuluh tahun."
Dominic tertegun. Pria vampir itu terdiam cukup lama, tubuhnya mematung dengan tatapan yang begitu heran sekaligus bingung. Ia memperhatikan Damian dari ujung kepala hingga ujung kaki; melihat seorang pria dewasa dengan fisik yang kuat dan bahu yang lebar, namun memiliki sorot mata yang mencerminkan kepolosan seorang anak kecil.
"Apakah Anda serius?" tanya Dominic dengan suara yang nyaris berbisik, seolah-olah ia takut kenyataan ini hanyalah mimpi buruk.
"Iya Paman, aku sangat serius," jawab Damian sambil menunduk, memperhatikan kedua telapak tangan manusianya yang kini sudah jauh lebih besar dari yang ia ingat.
"Sepertinya aku jatuh ke sungai dan terseret arus sampai ke tempat itu. Semua memori antara umur sepuluh hingga sekarang seperti terhapus begitu saja."
Dominic menarik napas dalam, wajah pucatnya tampak semakin kuyu. Ia merasa sesak membayangkan sang pemimpin yang selama ini ia agungkan ternyata terjebak dalam tubuh pria dewasa tanpa tahu apa yang telah dilewatinya.
"Saya tidak menyangka jika Anda selama ini kehilangan ingatan dan terombang-ambing oleh arus sungai," ujar Dominic dengan nada penuh penyesalan.
Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai bentuk rasa hormat sekaligus rasa bersalah. "Saya sudah berusaha selama ini untuk mencari keberadaan Anda ke seluruh penjuru benua, Raja..."
Mendengar gelar itu lagi, Damian mengembuskan napas pendek dengan sedikit jengkel. Ia memijat pangkal hidungnya, merasa kepalanya mulai pening dengan segala kerumitan identitas ini.
"Paman, berhenti memanggilku dengan sebutan Raja seperti itu!" tegas Damian.
Ia menatap Dominic dengan tatapan memohon, seolah hanya ingin diakui sebagai anak lelaki yang ia ingat di memorinya tujuh belas tahun yang lalu.
"Aku belum siap dengan semua tanggung jawab ini, apalagi jika aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa menjadi seperti sekarang."
Dominic mendongak, melihat kesungguhan dan ketakutan di mata Damian. Ia menyadari bahwa meski raga di depannya adalah seorang penguasa Demon yang perkasa, jiwa di dalamnya masihlah seorang pangeran kecil yang sedang tersesat dalam waktu.