Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.
Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.
Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Milikku
**
"A, boleh tanya gak?"
Reyhan yang sedang bermain gitar mendongak, untuk melihat siapa yang barusan bertanya karena kebetulan saat ini dia sedang berkumpul dengan para pemuda di kampung yang sedang nongkrong di depan rumah paman Ayana. Katanya, memang biasa jika ada yang menikah, para pemuda akan berkumpul untuk bergadang menjaga rumah calon pengantin semalaman.
"Tanya aja Cok," jawab Reyhan kepada pria muda yang berkepala plontos.
"Emmmm ... maaf yah, kejadian waktu itu beneran, pas awal mau nik-- aw ... nyeri Ahmad, kunaon gebug aing? (sakit Ahmad, kenapa pukul aku?)"
"Teu sopan sia Ucok, nanya anu kitu. (Gak sopan kamu Ucok, nanya kaya gitu)." Ahmad lelaki muda yang terlihat alim dengan peci yang tidak pernah lepas dari kepalanya serta sarung yang selalu dia pakai. "A maaf, gak usah didengerin."
"Ih ... kan urang (aku) penasaran," sanggah Ucok kemudian tersenyum tak enak ke arah Reyhan. "Maaf A.'
"Gak papa Ucok, gak papa juga Ahmad," jawab Reyhan saat akan melihat Ahmad akan memukul Ucok lagi. "Mungkin ini saatnya, aku harus kasih tahu kebenarannya. Bukan untuk aku, tapi untuk nama baik Ayana dan keluarganya di sini."
"Gak papa, gak usah diceritakan kalau tidak mau mah."
"Tapi aku mah penasaran A, sok lah cerita!"
"Aku juga. Soalnya selama ini banyak sekali euy versi ceritanya, jatuhnya kita selama ini bisa jadi fitnah."
"Padahal selama ini kita kenal neng Ayana baik, beda atuh sama kelakuan sepupunya yang mau nikah. Eh ... keceplosan urang," ujar cowok menutup mulutnya. "Tapi salila ieu (selama ini) ceritanya naudzubillahimindalik."
"Garaneng sia, tuh A Reyhan arek carita. Sok mangga A, bilih bade carita mah!" (Berisik kalian, itu A Reyhan mau ceritain, silahkan A, kalau mau cerita!
"Jadi gimana, A?" tanya lelaki lain yang memakai hoodie hitam, Reyhan lupa namanya siapa karena saking banyaknya. Mungkin, ada sekitar belasan orang di sana.
"Waktu itu, aku lagi jalan-jalan ke air mancur yang ada di hutan. Kalian tahu, gak?" Melihat respon semuanya yang mengangguk, Reyhan kembali bercerita. "Terus, pas lagi jalan aku mendengar suara minta tolong, terus aku ikutin eh ... Aku lihat Ayana mau digitu."
Reyhan membuat tanda kutip dengan tangannya yang sepertinya membuat semua orang langsung paham. Sebenarnya, dia merasa tidak nyaman untuk menceritakan hal ini, apalagi dia merasa tidak enak jika ini memang menyangkut hal sensitif tentang Ayana. Tapi, dia harus menceritakan semuanya untuk kembali memulihkan nama wanita itu yang sudah tercoreng, sebab tadi Reyhan mendengar desas-desus ibu-ibu yang bercerita tentang kejadian waktu itu dengan versi mereka yang jatuhnya seperti karangan yang merugikan pihak Ayana.
"Saha (siapa) yang melakukannya, A?"
Reyhan tersenyum. "Suatu hari nanti, mungkin kalian akan tahu. Sekarang, aku gak bisa kasih tahu."
"Terus, lanjut A?" tanya yang lain.
"Aku tolongin, terus menghajar orang sialan itu sampai dia berlari kabur, lalu saat mau kasih Ayana kemejaku karena baju dia sudah berantakan, pak RT datang. Terus begitulah, kita bisa menikah sampai sekarang. Aku harap, tidak ada lagi yang memandang dia rendah. Dia memang gadis baik-baik, bukan gadis nakal seperti yang dirumorkan. Dia hanya korban yang juga tidak mau mengalami kejadian buruk seperti ini. Untung Tuhan masih menjaganya saat itu."
Entah kenapa, entah untuk alasan apa dia merasa lega setelah menceritakan ini semua. Dari Tadi, dia merasa sangat marah saat selalu melihat Ayana terlihat murung saat harus mendengar semua perkataan jahat orang-orang terhadap dirinya.
Setelah itu, obrolan berganti ke hal lain yang lebih random. Membicarakan hal apa saja yang tidak penting sambil menikmati rokok dan secangkir kopi.
"Eh, itu neng Ayana sama si Alif, kan? Belum move-on itu anak kayaknya."
"Heh!" Ahmad kembali memukul mulut Ucok.
Reyhan juga melihat arah pandangan semua orang, dimana ada Ayana yang sedang berjalan dengan seorang lelaki muda seumurannya. Mereka terlihat akrab, berbicara sambil sesekali tertawa. Memang ada hal lucu apa yang mereka bicarakan sampai harus tertawa seperti itu? Lucu? Selucu apa?
Tanpa sadar, Reyhan berdecih keras yang membuat beberapa orang sadar.
Ucok tertawa mengejek. "Cemburu yah, A? Mereka itu deket dulu udah kaya Romeo dan Juliet, terpisah karena nikah sama Aa aja. Kita semua bahkan nyangkanya mereka pacaran dan akan nikah suatu hari nanti."
"Heh, sia mah ngomong sambarangan wae." Ahmad kembali memukul Ucok, mungkin hobinya memang memukul pemuda plontos itu. "Tidak usah didengar A, itu hanya rumor masa lalu. Sekarang mah, kan masa depannya udah sama Aa."
Reyhan tertawa canggung. "Santai aja. Saya ke sana dulu, yah."
"Iya A, sok dijemput atuh istrinya "
"Mangga, bisi bade berduaan di kamar oge, mangga (silahkan, mau berduaan di kamar juga, silahkan)."
"Cepat ambil A, takut dibawa kabur lelaki masa lalu. Aw ... ai si Ahmad ngebug aing wae, belegug sia! (Ahmad mukul aku terus, goblok kamu)!"
"Ganeng maneh, tong ngomong sambarangan wae! (Diam kamu, jangan bicara sembarangan terus)!"
Setelah itu, Reyhan tidak lagi mendengar obrolan para pemuda itu yang sebagiannya dia tidak paham artinya apa karena sekarang langkahnya semakin mendekati dua sejoli yang sedang tertawa ria itu.
"Kayaknya lucu banget obrolannya."
"Ay!" panggil Reyhan yang entah kenapa semakin marah saat melihat tangan lelaki itu mengusap kepala Ayana. "Milik gue."
"Rey, barusan kamu ngomong apa?" tanya balik Ayana saat Reyhan tiba-tiba sudah merangkul pinggangnya.
Reyhan menggeleng, tapi tatapannya tajam ke arah Alif. "Enggak. Dia siapa?"
"Oh iya, kenalin Rey, ini Alif temen lamaku di sini, Lif kenalin ini Reyhan, emm ... suamiku."
Tiba-tiba, Reyhan mencium pipi Ayana yang membuat semua yang ada di sana terkejut, termasuk Ayana. "Reyhan."
Alif mengangguk, tersenyum sopan. "Alif, A."
"Udah kan, ayo masuk udah malam!" ajak Reyhan seolah mengabaikan Alif.
"Iya, Alif duluan yah, makasih udah anter, besok ketemu di sana, kan?"
"Iya Aya, mari A pamit." Alif sudah undur diri.
"Hati-hati!" Ayana sedikit berteriak.
"Ayo, mau lihatin Romeo sampai mana lagi?"
"Apaan sih? Rey, kenapa kamu cium aku?" Ayana menatap tajam Reyhan, sambil mengikuti langkah lelaki itu yang membawanya masuk ke dalam rumah.
"Emang cium pipi istri sendiri gak boleh?"
Entah kenapa, Ayana bisa merasakan aura dingin Reyhan yang tiba-tiba membuat dia resah. "Bu-bukan gitu, kan malu ada banyak orang."
"Oh ... malu dicium pipi sama suami di depan banyak orang." Reyhan mengangguk paham tapi terlihat dingin. "Tapi gak malu diusap kepala sama temen di depan suami dan banyak orang?"
Ayana tiba-tiba jadi tahu kenapa Reyhan marah. "Enggak gitu, tadi tuh tiba-tiba spontan gitu aja kaya dulu ke temen. Aku gak sempat menghindar."
Ayana baru tahu, jika Reyhan bisa terlihat seseram ini tapi kenapa dia harus semarah ini? Ok, Ayana akui mungkin dia memang tidak sopan saat diusap kepala oleh lelaki lain, tapi marah Reyhan ini berlebihan seolah terlihat seperti Ayana telah melakukan dosa yang sangat besar saja.
Brukkkk
Reyhan mendorong Ayana ke atas kasur, setelahnya cowok itu menutup dan mengunci pintu. Untuk situasi ini, Ayana bersyukur paman telah memasangkan pintu di kamarnya, bukan gorden seperti dulu lagi.
"Rey, kamu mau ngapain?"
Ayana jelas terkejut, saat Reyhan tiba-tiba menindihnya kemudian menciumi lehernya yang membuatnya merasa geli. Dia jadi teringat kejadian waktu itu, setelah malam itu mereka tidak pernah melakukannya lagi karena Reyhan tidak pernah meminta dan mana mungkin dia juga bersikap murahan untuk menawarkan dirinya sendiri.
Tapi tidak mungkin kan, Reyhan akan melakukan hal itu sekarang? Di tempat dengan ramai orang di luar.
"Rey, enggak!" Ayana menahan tangan Reyhan yang sudah meremas salah satu dadanya. "Diluar banyak orang, Jangan aneh-aneh."
Reyhan mendongak dari leher Ayana, sehingga tatapan mereka bertemu. "Selama ini aku nahan diri Ay, karena aku tahu bukan binatang buas yang isi otaknya harus kawin mulu. Aku menghargai kamu, pernikahan ini dan berusaha tidak melakukan apa yang aku mau seenak hati karena aku mau menjaga dan menghargai kamu."
"Rey ...."
Ayana melihat tatapan terluka Reyhan, tapi kenapa?
"Aku terbiasa merelakan apa yang aku punya untuk orang lain. Dari kecil, aku sudah merelakan perhatian orang tuaku untuk semua adikku, merelakan jatah makan lebih sedikit dari keluargaku, uang jajan tidak diberi karena agar adik-adikku bisa jajan di sekolah. Bahkan, saat dewasa aku harus merelakan banyak prestasi yang aku punya diberikan kepada orang yang ber-uang." Reyhan tertawa kecil. "Beberapa kali juga, beberapa pacarku harus lari kepelukan orang beruang. Sekarang, kamu? Mau berlari juga ke masa lalu kamu itu? Kamu milik aku, sepertinya aku harus membuatmu sadar jika kamu ini milik aku. Buat dia sadar juga, kalau kamu memang milik aku."
"Rey ka--"
Belum selesai Ayana berbicara, Reyhan sudah kembali mencium bibirnya lebih tak sabar dari tadi. Jujur, untuk pertama kalinya dia merasa takut akan sosok Reyhan yang seperti ini. Terlihat terluka tapi menjadikan Ayana miliknya entah dengan arti apa, itu terasa menyesakan.
Ayana menggeleng, lelaki ini yang selalu menjadi suami baiknya. Mereka memang sudah menikah, jadi arti milik itu, arti sebuah pernikahan bukan?
"Ah ...."
Ayana kembali merasakan kedua dadanya teremas. Lehernya kembali diciumi, berharap tidak meninggalkan bekas apapun karena besok mereka akan menghadiri acara pernikahan.
Entah dia yang memang terlalu terbuai atas semua perbuatan Reyhan di tubuhnya, sampai dia baru sadar saat dirinya sudah tidak memakai apa-apa, termasuk lelaki yang saat ini tengah melakukan sesuatu di atas dadanya dengan mulutnya.
"Rey .... ah ...."
Reyhan mendongak, kemudian mensejajarkan wajah mereka, lalu lelaki itu kembali mencium bibirnya lagi tak kalah terburu-buru seperti tadi.
"Ay ...," panggil Reyhan, setelah menjauhkan sedikit wajahnya. "Kamu milik aku."
Setelah itu, Ayana merasakan sesuatu yang kembali menerobos masuk ke bagian bawahnya. Sekarang, dia kembali merasa penuh seperti waktu itu. Ah, dia jadi terbuai lagi, hanya bisa menikmati dan mengikuti irama yang Reyhan berikan di tubuhnya.
"Ah ....."
Reyhan bangkit dari tubuh Ayana, kemudian membaringkan diri di samping tubuh wanitanya. Memeluk wanita itu dari belakang karena Ayana sudah memiringkan tubuhnya.
Reyhan mencium puncak kepala Ayana. "Kamu milik aku, selalu milik aku, Ay. Jangan pernah deket dia lagi!'
"Dia siapa?"
"Lelaki masa lalu kamu itu."
Ayana menghela napas berat. "Dia cuman temen, Rey. Tidak lebih."
"Terserah, aku gak suka kamu deket dengan temen atau apapun jenis lelaki itu."
"Kenapa kamu gak suka?"
"Karena kamu milik aku."
"Milik dalam artian?" Ayana menoleh, untuk melihat wajah Reyhan, kembali menatap dalam lelaki itu berharap akan mengucapkan sesuatu kalimat yang sekarang tengah memenuhi isi pikirannya.
"Aku suami kamu." Setelah itu kembali memeluk Ayana erat. "Ayo tidur, udah malam!"
Ayana kecewa. Apa dia yang terlalu berharap jadi kecewa itu berasal dari harapannya yang tak terwujud.
Rey, apakah kamu sayang aku? Apa aku hanya istri kamu saja?
"Tidur, Ay."
"Iya."
##