Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.
Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.
Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.
Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.
Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.
Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
Langkah kaki Sarah dan ibunya yang baru saja hendak terayun menuju pintu keluar seketika membeku. Suasana di dalam ruang tamu yang sudah tegang itu mendadak semakin mencekam saat sebuah tepukan tangan pelan namun sarat akan intimidasi terdengar dari arah belakang mereka.
Tak.. Tak... Tak...
"Mau ke mana kalian? Terburu-buru sekali," suara dingin Papa tiri Hanif menginterupsi, menghentikan gerakan panik kedua wanita yang mengincar jalan keluar tersebut.
Sarah menoleh dengan tubuh bergetar hebat. Wajahnya yang beralaskan maskara luntur menatap pria paruh baya itu dengan tatapan memohon. Sementara sang ibu, cengkeramannya di lengan Sarah semakin mengerat, seolah-olah ketakutan bahwa mereka akan ikut diseret ke dalam jurang kehancuran yang sedang dihadapi keluarga Hanif.
"Langkah kalian terlalu cepat untuk ukuran orang yang baru saja mengacaukan rumah tangga orang lain," lanjut Papa tiri Hanif. Beliau berjalan perlahan, mendekati Sarah dan ibunya dengan tatapan mata yang begitu menusuk. "Tadi, anak ini... siapa namamu? Sarah?" Beliau menunjuk Sarah dengan dagunya secara kasar. "Kamu begitu bangga merangkul lengan Hanif saat masuk ke sini. Kamu merasa sudah memenangkan pangeran kaya raya, bukan?"
Sarah hanya bisa menunduk, air matanya menetes satu per satu ke atas lantai marmer yang dingin.
"Jangan hanya mau enaknya saja," cecar Papa tiri Hanif, nadanya mendatar namun bertenaga. "Kamu yang memilih untuk masuk ke dalam kehidupan Hanif saat pria ini masih berstatus sebagai suami orang. Kamu yang merebut posisinya, dan kamu juga yang bersekongkol dengan Rahma untuk merebut fasilitas di sini. Sekarang, saat badai datang dan semua topeng kekayaan ini terkelupas, kamu ingin pergi begitu saja dan meninggalkan Hanif sendirian?"
"Pa-Pak... saya tidak tahu apa-apa..." Ibu Sarah mencoba membuka suara, bibirnya gemetar. "Kami hanya menerima lamaran Hanif karena dia bilang dia pria mapan yang berhak menikah lagi..."
"Diam!" potong Papa tiri Hanif dengan satu bentakan tegas yang membuat Ibu Sarah seketika mengatupkan mulutnya rapat-rapat. "Jangan berlagak menjadi korban di rumah saya. Kalian berdua tahu persis apa yang kalian lakukan. Kalian tergiur dengan harta yang sebenarnya bukan hak kalian."
Pria paruh baya itu kemudian mengalihkan pandangannya kepada Hanif yang masih berdiri seperti patung bernyawa, lalu kembali menatap Sarah. "Bawa dia," perintah Papa tiri Hanif dengan nada mutlak. "Bawa suamimu ini pergi bersama kalian. Bukankah kalian menikah atas dasar cinta? Sekarang buktikan cinta itu di saat dia tidak punya sepeser pun uang di dompetnya, tidak punya mobil mewah untuk mengantarmu, dan tidak punya rumah untuk tempatmu berteduh. Bawa laki-laki pecundang ini keluar dari hadapan saya!"
Mendengar perintah itu, Sarah merasa dunianya benar-benar runtuh. Dia menatap Hanif dengan pandangan yang kini berubah drastis bukan lagi pandangan penuh cinta atau kekaguman, melainkan pandangan penuh penyesalan dan kebencian. Dia telah salah memilih sandaran hidup. Laki-laki yang dia kira bisa mengangkat derajatnya ternyata hanyalah seorang parasit yang baru saja kehilangan inangnya.
Melihat situasi yang benar-benar berada di titik nadir, di mana semua harta, harga diri dan fasilitas hidup mereka akan dicabut dalam sekejap, benteng kesombongan Ibu Rahma akhirnya hancur total. Ketakutan akan kembali hidup melarat seperti masa lalunya sebelum dipungut membuat urat malunya putus.
Bruk!
Ibu Rahma menjatuhkan kedua lututnya ke atas lantai marmer, tepat di hadapan suaminya. Wanita tua yang beberapa jam lalu begitu angkuh mencaci-maki Hanum di taman, kini bersimpuh dengan tubuh gemetar, air mata kebingungan dan ketakutan mengalir deras menghapus sisa-sisa bedak di wajahnya yang keriput.
"Mas... Mas, aku mohon... maafkan kami..." ratap Ibu Rahma, tangannya bergerak gemetar mencoba meraih ujung celana kain suaminya, namun dengan cepat pria itu mundur selangkah, menolak untuk disentuh.
"Mas, tolong jangan usir kami. Jangan cabut semua ini, Mas. Ke mana kami harus pergi kalau rumah ini diambil? Hanif tidak punya apa-apa lagi, Mas..." Ibu Rahma menangis histeris, suaranya memenuhi ruang tamu yang luas itu, terdengar begitu menyedihkan namun tidak memancing rasa iba sedikit pun dari dua pria di hadapannya.
"Aku berjanji, Mas. Aku berjanji akan memperbaiki ini semua," ucap Ibu Rahma terbata-bata, mencoba memberikan penawaran terakhirnya. "Besok... tidak, sore ini juga! Sore ini juga aku dan Hanif akan datang lagi ke rumah Hanum. Kami akan berlutut di depan Hanum, Mas. Kami akan meminta maaf dengan tulus sampai Hanum mau memaafkan Hanif. Aku akan paksa Hanif untuk merayu Hanum kembali. Hanum itu anak yang baik, Mas, dia pasti tidak akan tega melihat mertuanya mengemis maaf..."
Hanif yang melihat ibunya berlutut seperti itu merasa hatinya tersayat, namun ego dan rasa takutnya sendiri jauh lebih besar. Dia ikut melangkah maju, berdiri di belakang ibunya yang bersimpuh. "Iya, Papa... Hanif akan minta maaf pada Hanum. Hanif khilaf, Pa. Hanif berjanji akan membujuk Hanum agar tidak menggugat cerai..."
Tian, yang sedari tadi berdiri menyilangkan tangan dengan ekspresi dingin di samping papanya, hanya mengeluarkan dengusan sinis yang sangat merendahkan. Tatapan matanya yang tajam menatap Ibu Rahma dan Hanif bergantian seperti sedang melihat pertunjukan komedi yang gagal.
"Meminta maaf?" Tian membuka suara, suaranya yang berat dan kaku memotong ratapan Ibu Rahma seketika. "Setelah semua makian yang kalian lontarkan di wajahnya? Setelah kalian menginjak-injak harga dirinya di rumahnya sendiri dengan membawa wanita ini?" Tian melirik Sarah. "Kalian pikir hati Hanum itu terbuat dari tanah liat yang bisa kalian bentuk kembali setelah kalian hancurkan?"
Papa tiri Hanif menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan kekecewaan yang teramat mendalam kepada wanita yang telah dinikahinya selama bertahun-tahun itu. Beliau menatap Ibu Rahma yang masih menengadah dengan wajah penuh air mata.
"Rahma..." Papa tiri Hanif berbicara dengan suara yang sangat pelan, namun justru nada pelan itulah yang terasa paling menyakitkan. "Kamu tahu apa filosofi dari sebuah gelas?"
Ibu Rahma terdiam, napasnya tersengal-sengal menahan tangis.
"Gelas yang sudah pecah berantakan di atas lantai, tidak akan pernah bisa tersusun kembali menjadi gelas yang utuh, bagaimanapun kerasnya kamu mencoba mengelem setiap kepingannya," ucap Papa tiri Hanif dengan tatapan mata yang dingin dan kosong. "Bahkan jika kamu memaksanya untuk bersatu kembali, kepingan-kepingan itu hanya akan melukai tangan orang yang mencoba menyentuhnya."
Beliau menjeda kalimatnya, memberikan penekanan pada setiap kata berikutnya. "Begitupun dengan hati Hanum saat ini. Hati menantuku sudah kalian pecahkan hingga menjadi serpihan terkecil. Luka yang kalian torehkan hari ini terlalu dalam, terlalu kotor. Jadi, jangan pernah bermimpi bahwa dengan modal berlutut dan kata maaf yang keluar karena kalian takut miskin, Hanum akan luluh dan menerima kalian kembali. Hati Hanum sudah mati untuk anakmu, Rahma."
"Tapi Mas... Hanif itu Ayahnya Kayla dan Kenzie..." Ibu Rahma masih mencoba menggunakan kartu anak-anak untuk melunakkan hati suaminya.
"Dan dia adalah Ayah terburuk yang pernah ada di dunia ini!" bentak Papa tiri Hanif kembali meninggi. "Seorang Ayah tidak akan membawa pelacur ke rumah di mana anak-anaknya tinggal! Seorang Ayah tidak akan membiarkan ibunya menghina ibu dari anak-anaknya sendiri!"
Papa tiri Hanif memalingkan wajahnya, tidak sudi lagi melihat pemandangan menjijikkan di bawah kakinya. Beliau memberikan isyarat mata kepada Tian.
"Tian, urus berkas pengosongan rumah ini dengan pengacara kita. Pastikan sore ini tidak ada satu pun barang milik mereka yang tersisa di sini. Dan untuk mobil yang dipakai Hanif, cabut kuncinya sekarang," perintah Papa tiri Hanif dengan tegas.
"Baik, Papa," jawab Tian patuh. Laki-laki berkarisma itu langsung melangkah mendekati Hanif, mengadahkan tangan kanannya di depan dada Hanif tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tatapan matanya yang dingin sudah cukup menjadi perintah yang tidak bisa ditolak.
Dengan tangan yang gemetar hebat dan hati yang dipenuhi rasa penyesalan yang terlambat, Hanif meraba kantong celananya yang masih agak basah. Dia mengeluarkan kunci mobil sedan mewah yang selama ini menjadi kebanggaannya saat bertemu dengan teman-temannya, lalu meletakkannya di atas telapak tangan Tian.
Tian menerima kunci itu, lalu memasukkannya ke dalam saku jasnya dengan gerakan elegan. "Sekarang, silakan keluar dari properti milik papa saya. Sebelum saya memanggil petugas keamanan untuk menyeret kalian secara paksa dari sini."
Ibu Rahma perlahan berdiri dengan tubuh yang lemas tak bertulang. Dia menatap suaminya yang sudah membalikkan badan membelakangi mereka, tanda bahwa keputusan itu sudah mutlak dan tidak ada lagi ruang untuk negosiasi. Kemewahan, uang bulanan yang melimpah, dan status sosial yang selama ini dia banggakan lenyap dalam hitungan jam hanya karena kebodohan anak kesayangannya yang tergiur oleh pesona Sarah.
Sarah dan ibunya, tanpa menunggu lebih lama lagi, langsung berbalik dan berjalan cepat keluar dari pintu rumah, tidak ingin lebih lama lagi berada di dalam ruang tamu yang terasa seperti pengadilan berdarah dingin itu. Hanif, dengan langkah kaki yang terasa begitu berat seolah dirantai oleh dosanya sendiri, berjalan mengekor di belakang bersama ibunya yang terus terisak pelan.
Saat pintu utama rumah itu tertutup di belakang mereka, Hanif mendongak menatap langit sore yang mulai menggelap. Di dalam dadanya, rasa sesal itu kini berubah menjadi rasa sakit yang amat sangat nyata. Dia telah kehilangan istana megah milik Hanum, dan kini dia juga kehilangan rumah bernaung milik papanya. Yang tersisa baginya hanyalah selembar pakaian basah di tubuhnya, seorang ibu yang terus menangis, dan seorang istri baru yang kini menatapnya dengan penuh rasa benci. Penyesalan itu datang, menggerogoti jiwanya, menyadari bahwa badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Tusuk niiih 🤺🤺🤺🤺🤺 ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....