Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dermaga Karang Kelabu & Jejak Kegelapan Daratan
Gelombang air laut di sekitar Palung Cincin Api perlahan-lahan kembali tenang. Gejolak lahar cair yang tadinya mengancam menelan apa saja di dasar kawah kini telah terbungkus rapi di dalam lapisan kristal obsidian dan kaca es purba. Dari kedalaman kawah yang gelap, kapal Bahari Purba membelah lautan bawah air, membumbung tinggi naik menuju permukaan samudera dengan kibaran layar melengkung gagah diterpa arus bawah.
Saat kapal akhirnya muncul menembus permukaan air, sinar matahari senja menyiram geladak kayu purba dengan pendar keemasan yang hangat. Angin laut yang segar berembus kencang, menggantikan bau belerang dan uap magma membara yang selama beberapa hari terakhir menyiksa paru-paru mereka.
Di bagian anjungan kapal, Hiraisin berdiri tegak seraya memandangi cermin air laut. Ia mencabut Pedang Kilat Purba dari sarungnya beberapa inci.
HUMMMMMM!
Tiga ukiran Runa di sepanjang bilah baja purba itu bergetar dalam harmoni yang sempurna. Runa Petir memancarkan kilatan ungu-keemasan yang tajam, Runa Es membiaskan pendar kristal biru bersuhu dingin, dan Runa Api—yang baru saja menyatu dari Jantung Kawah—membara dengan kobaran emas merah yang anggun namun mematikan.
"Penguasaan elemenmu semakin dalam, Hiraisin," ucap Liora halus. Gadis tabib itu berjalan mendekat dengan nampan berisi teh herbal hangat, menyerahkannya kepada Hiraisin.
Hiraisin menerima cangkir tersebut dan tersenyum tipis. "Sinergi tiga elemen ini sangat luar biasa, Liora. Namun, dampaknya terhadap meridian tubuhku juga bertambah berlipat ganda. Tanpa alur Qi Seroja Kehidupan dari Mutiara Es yang kau salurkan, api dan petir di dalam pedang ini mungkin sudah merusak pembuluh darahku sendiri."
Liora duduk di tepi geladak, menatap memandangi garis cakrawala. "Mutiara Es Jiwa Samudera kini telah menyatu penuh dengan tenagamu. Selama kita saling menopang, aku yakin tubuhmu sanggup menahan beban dari seluruh pecahan artefak itu."
Kapten Roderick memutar kemudi kristal dengan tawa terbahak-bahak dari balik anjungan atas. "Haha! Kalian berdua ini memang pasangan tempur yang tiada tandingannya! Tapi simpan dulu tenaga kalian. Berdasarkan peta pelayaran kita, dalam dua jam lagi Bahari Purba akan membuang buang jangkar di Dermaga Karang Kelabu."
Pendengaran Hiraisin bergetar. "Dermaga Karang Kelabu... pintu gerbang utama menuju wilayah daratan bagian barat?"
"Tepat sekali," jawab Roderick seraya meredupkan pendar Runa kapal. "Kota pelabuhan itu adalah pusat perdagangan terbesar sebelum memasuki wilayah pegunungan gundul. Jika kita ingin melanjutkan pencarian ke daratan, kita harus mengisi ulang perbekalan dan mencari informasi di sana."
Dua jam kemudian, bayang-bayang daratan utama mulai terlihat di balik kabut tipis senja. Dermaga Karang Kelabu yang biasanya dipenuhi oleh ratusan kapal dagang dan celoteh riuh para nelayan kini tampak membisu secara tak wajar.
Bangunan-bangunan batu di tepi pantai tertutup oleh jelaga hitam pekat. Benteng pertahanan dermaga terlihat runtuh meretakkan sudut batu gampingnya, sementara pilar-pilar asap tebal membubung tinggi ke udara dari balik bukit yang mengelilingi kota.
"Ada yang tidak beres," gumam Kapten Roderick pelan. Matanya yang berpengalaman menyipit menembus kegelapan dermaga. "Sinyal suar pelabuhan mati total. Tidak ada penjaga dermaga yang menyambut kita."
Bahari Purba merapat perlahan di salah satu dermaga kayu yang setengah terbakar. Hiraisin melompat turun terlebih dahulu, menapakkan kakinya di atas tanah daratan setelah sekian lama berpetualang di lautan. Bau hangus kain terbakar dan bau amis darah samar-samar tercium oleh penciumannya yang tajam.
"Hati-hati," bisik Hiraisin seraya memegang hulu pedangnya.
Mereka menyusuri lorong-lorong batu Karang Kelabu yang sepi. Kereta dagang terguling di tengah jalan, toko-toko bahan makanan hancur terjarah, dan pintu-pintu rumah warga terkunci rapat dari dalam. Di beberapa sudut jalan, tumpukan zirah prajurit kerajaan tergeletak hancur dengan bekas tebasan energi hitam yang sangat akrab di mata Hiraisin.
"Serangan ciptaan Abyss..." cetus Liora prihatin seraya memeriksa salah satu bekas tebasan di dinding batu. "Energi pembusuk ini masih sangat baru. Serangan ini terjadi tidak lebih dari dua hari yang lalu."
Tiba-tiba, suara denting rantai besi dan erangan lemah terdengar dari balik reruntuhan kedai minuman di ujung jalan.
CLANG-CRASH!
Hiraisin bergetar hilang bagaikan kilat, muncul tepat di balik barisan kayu kedai yang hancur. Di sana, seorang prajurit veteran berzirah perak yang penuh luka tergeletak bersandar pada pilar kayu yang patah, menggenggam erat sebuah tombak retak.
"Jangan mendekat! Monster-monster iblis..." jerit prajurit itu gagap seraya mengarahkan tombaknya dengan tangan bergetar hebat.
"Tenanglah, kami bukan musuh," ucap Liora lembut seraya melangkah maju. Tanpa ragu, Liora berlutut di samping prajurit itu, mengalirkan Qi Seroja Kehidupan dari telapak tangannya untuk menyembuhkan luka bakar membara di dada prajurit tersebut.
Rasa dingin yang sejuk menetralkan racun Abyss di dalam luka prajurit itu seketika. Menghembuskan napas lega, raut wajah prajurit veteran itu berangsur membaik dan matanya membelalak menatap zirah dan pedang Hiraisin.
"Pendar petir... keberadaan yang murni... Apakah... apakah kalian Utusan Serikat Pemburu Kerajaan?" tanya prajurit itu penuh harapan.
"Aku Hiraisin," jawab pemuda itu tenang. "Apa yang sebenarnya terjadi di Dermaga Karang Kelabu ini? Di mana pasukan pertahanan kota?"
Prajurit itu menggertakkan giginya rapat-rapat, matanya dipenuhi ketakutan yang mendalam. "Dua hari lalu... gabungan pasukan iblis Abyss yang dipimpin oleh Jenderal Valthor si Pembawa Bayangan menyerbu pantai ini. Mereka tidak berniat menduduki kota ini... mereka hanya membantai pertahanan kami untuk membuka jalan menuju utara!"
"Ke utara?" potong Kapten Roderick seraya mengernyitkan dahi. "Apa yang dicari oleh Jenderal Abyss di wilayah pegunungan mati itu?"
"Lembah Tengkorak..." bisik prajurit itu bergidik ngeri. "Valthor membawa ribuan monster tengkorak dan ksatria bayangan menuju reruntuhan kota purba di dasar Lembah Tengkorak. Kabarnya, mereka mendirikan altar ritual raksasa di sana untuk membongkar segel ghaib kuno!"
Hiraisin dan Liora saling berpandangan. Dada Hiraisin berdesir kencang; denyut resonansi di dalam Pedang Kilat Purba-nya mendadak bergetar halus saat nama Lembah Tengkorak disebutkan.
"Pecahan Keempat..." gumam Hiraisin mantap. "Pecahan Jiwa Purba berada di dalam reruntuhan Lembah Tengkorak."
Prajurit itu menatap Hiraisin dengan cemas. "Anak muda... jika kau berniat pergi ke sana, berpikirlah ribuan kali! Lembah Tengkorak kini telah berubah menjadi lautan kabut racun pembusuk. Seluruh tanah di sana dikuasai oleh kutukan kematian Valthor. Siapa pun yang mati di lembah itu akan langsung bangkit kembali sebagai tentara bangkai yang melayani Abyss!"
"Kita tidak punya pilihan lain," sahut Hiraisin tegas, membantu prajurit itu berdiri dan menyandarkannya di tempat yang lebih aman. "Jika Jenderal Valthor berhasil mengambil atau mencemari pecahan artefak keempat itu dengan sihir kegelapan, seluruh daratan ini akan jatuh ke dalam kegelapan abadi."
Kapten Roderick menepuk bahu Hiraisin seraya tertawa terkekeh, meski matanya menyorotkan kewaspadaan tinggi. "Yah, sepertinya petualangan laut kita harus berganti menjadi pendakian gunung bangkai. Bahari Purba akan kusembunyikan di teluk rahasia dekat sini. Aku tidak akan membiarkan kalian berdua bersenang-senang sendirian bertarung melawan iblis-iblis itu!"
Liora mengangguk pelan, memperketat ikatan jubah penyembuhnya dan menggenggam Mutiara Es Jiwa Samudera yang melayang anggun di sisinya. "Kabut racun kematian tidak akan bisa menembus aura pemurni Mutiara Es. Kita harus bergerak sebelum ritual Valthor selesai."
Hiraisin menatap jauh ke arah jalur pegunungan di utara. Dari kejauhan, kabut kehitaman yang dipenuhi awan petir merah membumbung tinggi melingkupi puncaknya, bagaikan raksasa kegelapan yang siap menelan siapa saja yang berani mendekat.
Dengan tiga elemen purba yang kini bergolak di dalam Pedang Kilat Purba, Hiraisin melangkah maju memimpin rombongannya, menembus kegelapan malam menuju Lembah Tengkorak.