Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8 - Air yang Mengubah Segalanya
Mimpi itu begitu indah. Alangkah baiknya kalau kenyataannya bisa sama seperti itu.
Dalam keadaan mengantuk, Intan merasakan seseorang memanggilnya. Begitu terlintas keinginan untuk bangun, ia segera membuka mata. Sesaat ia tertegun.
Ibu sudah berdiri di ambang pintu kamarnya. "Jangan tidur terus. Kalau terus tidur, nanti malam kamu tidak bisa tidur. Ibu keluar membeli sayur. Cuci muka dulu, bangun."
Intan mengangguk kosong. Hatinya masih berdebar-debar sampai Ibu benar-benar keluar.
Setelah pintu tertutup, ia masih duduk di tepian kasur beberapa saat, menatap lembayung pagi di balik gorden. Hati yang semalam gelisah kini terasa tenang, seolah sebuah janji lama yang tidak pernah sempat ditepati akhirnya mulai digenapi.
Begitu pintu tertutup, ia duduk dan merobek plester di jarinya. Jemarinya putih mulus tanpa cacat. Luka goresan yang kemarin masih mengucurkan darah kini tidak menyisakan apa pun — bahkan bekas luka pun tidak ada.
Intan membalik telunjuknya berkali-kali, sampai matanya tidak bisa mempercayai apa yang mereka lihat. Kulit di ujung jarinya utuh seperti tidak pernah tergores seumur hidup. Ia mengusapnya dengan ibu jari, merasakan permukaan yang halus, lalu perlahan senyum mengembang di wajahnya — bukan sekadar rasa lega, melainkan sebuah keyakinan yang mulai berdiri sendiri.
Intan menarik napas dalam-dalam. Ia masih diam sejenak, lalu memusatkan pikiran pada warisan dalam kotak kayu ukiran itu. Air. Ia menyebut air mustika dalam hati.
Ia belum benar-benar mengerti caranya. Catatan dalam mimpi hanya menyebutkan tanah yang dilarutkan dalam air, bukan cara menarik air dari ketiadaan. Tetapi jika warisan itu memilihnya, ia percaya tubuhnya akan mengerti, sama seperti air yang tahu bagaimana caranya mengalir.
Butir-butir air halus tiba-tiba mengembun di ujung jemarinya, dingin dan jernih, seakan ditarik dari udara. Ketika ia mengingatkannya berhenti, butir-butir itu lenyap tanpa jejak.
Intan menahan napas, tidak berani menggerakkan tangan. Air itu terasa dingin dan jernih, seperti mata air yang ia rasakan di dalam mimpi semalam dan yang masih membekas di kulitnya. Selama beberapa saat ia hanya berdiri di tengah kamar, membiarkan butir-butir itu menggelinding pelan di atas telapak tangannya, sebelum akhirnya bercerai kembali menjadi udara.
Kejadian itu membuat napasnya yang tertahan keluar. Ia mengangkat telapak tangannya ke arah jendela, memeriksa setiap lekukan pada kulit, lalu mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu hanya mimpi. Karena tidak ada yang berubah, ia mengulang perintahnya dalam hati. Kali ini butir-butir air muncul lebih cepat, bahkan sampai membentuk tetesan kecil yang menggantung di ujung jemarinya.
Tidak mungkin lebih nyata dari ini.
Intan menangis keras-keras, memeluk bantal dan selimutnya seperti anak kecil. Ia menangis lama sampai akhirnya bisa tenang kembali.
Ia menangis bukan karena takut, melainkan karena beban selama bertahun-tahun akhirnya menemukan pintu kecil untuk keluar. Sejak memutuskan mengulang kehidupan ini, ia menyimpan semua rahasia sendirian; kini ada satu hal yang tidak dapat dijelaskan siapa pun, dan rahasia kecil itulah yang justru membuatnya merasa tidak lagi sendiri.
Mengingat Ibu tidak boleh mencurigai apa pun, ia segera masuk ke kamar mandi dan sekalian membersihkan diri.
Di dalam kamar mandi, ia memandang pantulan wajahnya di kaca — wajah lima belas tahun yang baru saja memulai ulang segalanya. Ia membasuh sisa air mata, menyisir rambutnya, menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan keluar dengan langkah yang berbeda dari sebelumnya.
Saat Ibu kembali, tangannya penuh kantung plastik. Ia berkata gembira, "Biasanya Ibu belanja pagi-pagi. Ini pertama kalinya belanja menjelang sore. Ternyata barangnya lebih murah daripada pagi, dan uangnya bisa dihemat beberapa ribu."
Pasar yang dimaksud Ibu adalah pasar baru yang sudah direncanakan. Dua tahun belakangan ini, kota kecil seperti Cilacap mulai ikut menata pasar. Rumah-rumah dibongkar dan diperbaiki di sana-sini; warung-warung yang dulu berjubel sembarangan dipindahkan ke dalam gedung pasar yang baru dibangun. Sewa los naik, harga sayur pun ikut melonjak banyak. Ibu orang yang hemat, tidak heran ia begitu girang mendengar kabar itu.
Bagi keluarga sebesar ini, menunggu sampai menjelang sore demi selisih beberapa ribu rupiah adalah kebiasaan yang jujur; sayur yang dibeli menjelang tutup memang tidak lagi segar-segar amat, tetapi harganya jauh lebih bersahabat. Sejak menikah, Ibu terbiasa memalu setiap sen.
Hati Intan justru mencelos. Ia teringat kehidupan sebelumnya.
Di kehidupan itu, orang tuanya membanting tulang untuk melunasi utang. Mereka berhemat, menabung pelan-pelan, sampai akhirnya cicilan selesai. Ia sendiri ikut menanggung beban keuangan keluarga yang berat, karena ketika itu ia masih anak ingusan yang bersikeras masuk sekolah swasta. Lalu pada tahun pertama Intan berkuliah di Ibu Kota, Ibu divonis menderita penyakit ginjal kronis — PGK.
Intan teringat jelas hari ketika dokter menyebut nama penyakit itu di ruang periksa yang pengap. Bapak diam menunduk, Ibu tersenyum tipis mencoba terlihat kuat, dan kakak menahan tangis sampai di luar pintu. Nama itu menempel di benaknya seperti luka yang tidak mau mengering.
Dari situlah tekad pagi itu tumbuh: bukan sekadar tidak ingin jatuh miskin, tetapi ingin melihat Ibu tertawa di hari tuanya nanti — sehat, jauh dari dinginnya lorong rumah sakit, dan tidak perlu menelan obat yang harganya selalu membuat alisnya berkerut.
Kemiskinan keluarga kala itu bertambah parah. Ibu cemas memikirkan biaya cuci darah dan obat-obatan setiap bulan. Setahun kemudian ia menyerah dan menolak ke rumah sakit lagi, hanya bertahan dengan obat-obatan rutin. Keluarga masih menanggung utang ke sana ke mari. Karena itulah Ibu semakin tertekan. Kondisinya tidak pernah membaik, justru makin parah dari hari ke hari.
Mengingat semua itu, Intan ingin menampar telinganya sendiri. Dalam hati ia bersumpah: di hidup yang sekarang, ia harus membiarkan orang tuanya hidup berkecukupan dan menikmati kebahagiaan. Tidak boleh ada lagi alasan menangis di keluarga kecil ini.
"Bu, biar aku saja yang masak. Intan maju mengambil barang belanjaan. Ibu sudah seharian lari-lari, pasti lelah. Ibu istirahat saja."
Kalimat itu meluncur sendiri tanpa direncanakan. Di kehidupan sebelumnya, Intan hampir tidak pernah menawarkan diri memasak untuk Ibu — rumah selalu penuh pekerjaan, dan ia selalu menunda sampai segalanya terasa terlambat. Kali ini ia tidak menunda apa pun; ia ingin melakukan satu hal baik hari ini.
Ibu tidak menolak. Ia hanya berpesan agar Intan mengutamakan pelajaran. Meskipun bicaranya berat, bibirnya tak kuasa menahan senyum. Ia mengikuti Intan ke dapur, tanpa mau tidur lebih dulu, penasaran ingin melihat apa yang akan dilakukan anaknya.
Intan tidak berdalih apa-apa. Ia mengenakan celemek yang menggantung di balik pintu dapur, menyingsingkan lengan baju, dan menatap setumpuk belanjaan di meja dengan mata yang terang. Masakan pertama dari kehidupan barunya tidak harus sempurna — cukup untuk menjadi alasan Ibu tersenyum hari itu. Dan ketika Ibu menyusul dari belakang, Intan tahu keduanya sedang menginjak awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sepiring lauk.
dia udh bisa memahami kehidupan saat di masa depan, bu...