NovelToon NovelToon
Teror Arwah Ci Sepi

Teror Arwah Ci Sepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.

Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!

Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.

Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. TABRAKAN DI PANGKUAN

"Sepertinya saya kurang sreg sama kamu, Salsa. Sekali lagi saya minta maaf!"

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut dari mulut Salsa, Rahsya langsung melesat pergi berlari meninggalkan restoran bintang lima itu, menyisakan Salsa yang hanya bisa melongo sendirian di meja dengan sendok stroberi yang masih menggantung kaku di udara.

****

Kencan ketiga. Kali ini Rahsya sengaja memilih medan pertempuran sosial di sebuah kafe elite milik Kurniawan Aji Gemilang, alias Aji, sobat kentalnya sejak zaman SMA dulu. Rahsya membuang napas kasar, memantapkan hati dan raganya sekuat beton cor.

'Pokoknya kali ini kencannya harus berhasil gol!' batinnya fanatik penuh tekad.

"Tumben lo datang ke sini, Bro?" sapa Aji yang datang sendiri mengantarkan pesanan minuman Rahsya ke meja, sekadar ingin bernostalgia singkat dengan sang sahabat dokter.

"Gue lagi ada urusan darurat yang penting banget," jawab Rahsya pendek sambil sesekali melirik jam tangan mahalnya dengan gelisah.

"Kayaknya serius banget mukanya. Lagi nunggu cewek ya?" Aji menggoda sambil menepuk pundak Rahsya penuh dukungan.

"Oke kalau begitu, semoga sukses kencannya, Bro!" Aji pun melenggang kembali berjalan ke area barista depan.

Tidak lama kemudian, wanita yang dinanti-nanti akhirnya muncul di balik pintu kafe.

Penampilannya harus diakui sangat menyejukkan mata memandang; mengenakan hijab syar'i, berwajah anggun, dan memancarkan aura ketenangan religius yang mendalam. Namun anehnya, Rahsya merasakan hatinya tetap terasa datar seperti jalan tol tanpa hambatan, padahal ia yakin insting lelakinya masih berfungsi normal.

"Assalamu’alaikum, Mas Rahsya," sapa wanita itu dengan suara lembut.

"Wa’alaikumussalam. Silakan duduk, Rahmi," jawab Rahsya sesopan mungkin.

Wanita di hadapannya saat ini adalah Rahmi Asmirandah, seorang dokter spesialis anak lulusan dari sebuah pondok pesantren ternama. Rahsya berusaha keras menjaga pandangan matanya, tidak berani menatap terlalu lama apalagi nekat menyentuh tangan Rahmi. Ia tahu betul batasan fikih sebelum status mereka muhrim.

Obrolan di antara mereka mulai mengalir meskipun sesekali diselingi oleh kecanggungan yang kentara. Rahsya sempat merasa sangat lega karena sejauh ini belum ada penampakan makhluk halus yang muncul mengganggu. Ia menduga aura positif dan doa-doa yang mungkin dipanjatkan oleh Rahmi membuat para setan desa kota lari terbirit-birit ketakutan.

Namun, ekspektasi indahnya sirna seketika saat sebuah tangan kecil pucat manusia tiba-tiba saja mencuat keluar dari kolong meja makan, lalu dengan santainya mencelupkan jari-jari pendeknya yang kotor ke dalam gelas minuman milik Rahsya.

Rahsya meremas kuat lutut kakinya sendiri di bawah meja. Ia merasa kesal setengah mati sampai ke ubun-ubun.

'Anak kecil setan ini lagi yang datang!' umpatnya emosi di dalam hati.

Tanpa memiliki keberanian untuk menundukkan kepala ke bawah meja—takut dikira sedang tidak sopan mengintip bagian kaki Rahmi yang tertutup kain gamis panjang—Rahsya hanya mengandalkan insting petarungnya. Ia mulai menggerakkan kaki kanannya di bawah meja, mencoba menginjak tangan atau tubuh hantu cilik yang sedang asyik bermain air di dalam gelas minumannya itu.

Si hantu kecil seolah-olah sedang sengaja mengajak dr. Rahsya bermain petak umpet gaib. Setiap kali kaki Rahsya mencoba menginjak tubuhnya, bayangan pucat itu melesat cepat menghindar ke arah samping. Karena sudah telanjur emosi tingkat dewa dan tidak ingin kencan ketiganya ini gagal lagi gara-gara gangguan makhluk halus, Rahsya mengerahkan seluruh tenaga penuh di kakinya. Ia menghentakkan kaki kanannya dengan kecepatan kilat ke arah bawah yang ia yakini sebagai lokasi persembunyian si hantu.

DUG!

"Awss! Mas... sakit! Kenapa kaki saya diinjak keras begitu?!" pekik Rahmi tertahan sambil menarik cepat kakinya dengan wajah yang meringis kesakitan menahan nyeri di tulang.

Rahsya tersentak hebat, wajah tampannya mendadak berubah pucat pasi karena bersalah. "Maaf! Maaf banget, Rahmi! Saya... saya benar-benar tidak sengaja, tadi ada... ada seekor semut besar banget lewat di bawah!"

Sial benar nasib asmara Rahsya hari ini. Di saat ia sedang sibuk meminta maaf, ia justru melihat si hantu kecil itu mendadak muncul keluar dari balik sandaran kursi Rahmi. Makhluk itu menjulurkan lidahnya mengejek ke arah wajah Rahsya, lalu menghilang gaib begitu saja sambil tertawa tanpa mengeluarkan suara.

"Saya sudah memaafkan kok, Mas. Tapi sepertinya sampai di sini saja pertemuan kencan kita hari ini," ucap Rahmi dengan nada suara yang tetap terdengar tenang namun mengandung ketegasan yang mutlak.

Sebenarnya, sedari tadi ia memang sudah merasa kurang nyaman; instingnya sebagai dokter anak mengatakan ada sesuatu yang tidak beres dengan kondisi psikologis pria di hadapannya ini. Ia menganggap Rahsya adalah tipe laki-laki aneh yang tidak stabil, meskipun ia akui Rahsya tetap mampu menjaga sopan santun dan tidak mengeluarkan kata-kata kasar.

"Tapi Rahmi... jangan langsung pulang begini dong... eh... tunggu dulu!" seru Rahsya panik mencoba menahan.

Namun, alih-alih melangkah mengejar, tubuhnya malah mematung kaku di tempat dengan tangan yang masih menggantung pasrah di udara. Ia hanya bisa menatap lesu punggung Rahmi yang berjalan menjauh dengan anggun di antara meja kafe.

Rahmi sama sekali tidak menolehkan wajahnya lagi ke belakang, langsung menghilang di balik pintu kaca depan kafe.

Sementara itu, Rahsya merasa seluruh energi kehidupannya baru saja disedot habis sampai kering oleh keadaan. Ia merasa sangat lelah lahir batin karena terus-menerus dipaksa menjadi sasaran empuk gangguan gaib yang merusak reputasi sosialnya di depan wanita.

Dengan langkah kaki yang gontai dan sepasang bahu yang merosot lunglai, Rahsya tidak memilih untuk langsung pulang ke rumah. Ia melangkah lebar menuju ke arah toilet kafe yang bernuansa monokrom bersih tersebut. Sesampainya ia di depan wastafel toilet, ia menatap lekat-lekat pantulan wajahnya yang tampak sangat frustrasi di dalam kaca cermin besar.

'Persetan dengan segala macam bumbu dapur jalang milik Geheng!' umpatnya murka di dalam hati.

Tanpa menaruh rasa ragu sedikit pun lagi di pikirannya, ia menyalakan keran air dingin wastafel lebar-lebar menggunakan tangannya.

Byurrr!

Rahsya membasuh mukanya berkali-kali. Ia menggosok kulitnya dengan sabun cair yang tersedia di sana hingga aroma jahe-lengkuas dari Geheng luntur tidak bersisa. Ia tidak peduli lagi soal pantangan seminggu itu; toh, tadi wajahnya sudah "terbaptis" air selang Bi Karni secara tidak sengaja.

Rahsya mendongak, menyeka sisa air yang menetes dari bulu matanya. Pantulan di cermin toilet kafe itu menampakkan wajahnya yang kian kuyu.

"Gue harus gimana lagi? Apa menyerah saja?" gumamnya frustrasi. Ia benar-benar bimbang.

Ada rasa takut yang luar biasa untuk melanjutkan kencan selanjutnya, membayangkan gangguan gaib apa lagi yang akan muncul di depannya. Namun di sisi lain, bayangan omelan Marsel dan desakan Miranti jauh lebih mengerikan daripada hantu mana pun. Pulang dengan tangan hampa bukanlah pilihan jika ia masih ingin diakui sebagai anak.

Dengan langkah berat, Rahsya terpaksa melanjutkan estafet kencannya. Tinggal tiga orang tersisa untuk hari ini, sementara besok masih ada "gunung" tugas berupa 14 kencan buta lainnya.

Dan benar saja, dewi fortuna seolah-olah sedang mogok kerja. Kesialan demi kesialan terus menghampiri. Para hantu, mulai dari bocah ingusan yang suka menarik-narik taplak meja sampai nenek-nenek yang hobi meniup tengkuk para wanita itu, sukses menggagalkan semua acara kencan Rahsya. Semuanya berantakan.

Tidak ada satu pun wanita yang sudi berlama-lama dengannya; mereka semua lari tunggang langgang karena menganggap Rahsya menderita gangguan jiwa akut.

Akhirnya, Rahsya memutuskan pulang dengan tangan hampa dan hati yang remuk redam. Namun, saat mobil Tesla merahnya sedang berhenti di pinggir jalan yang agak remang, takdir berkata lain. Tiba-tiba, seorang gadis misterius ber-hoodie hitam dan bermasker senada langsung nyelonong masuk ke kursi penumpang belakang tanpa permisi.

"Mas, jalan Mas! Cepetan!" perintah gadis itu dengan nada suara mendesak.

Rahsya hanya diam membeku. Ia tidak menoleh, pandangannya lurus menatap aspal di depan. Ia seolah-olah mengalami déjà vu; suara cempreng itu terasa sangat akrab di telinganya, mirip seseorang yang ia kenal di masa lalu.

"Sayang, aku enggak mau putus! Jangan tinggalin aku!" teriak seorang pemuda tampan yang berlari dari arah samping mobil, mencoba menggedor-gedor kaca jendela.

"Mas, kenapa diam saja? Jalan!" teriak gadis itu makin panik. Karena sang pengemudi tak kunjung bergerak, gadis itu kehilangan kesabarannya.

Dengan gerakan nekat, ia langsung melompat melewati kursi depan, pindah ke kursi kemudi, dan duduk tepat di atas pangkuan Rahsya!

Gadis itu tidak sempat melihat wajah pria yang dipangkunya. Fokusnya hanya satu: menjauh sejauh mungkin dari mantan kekasihnya yang baru saja ketahuan selingkuh selama seminggu terakhir. Tanpa aba-aba lagi, ia langsung menginjak pedal gas Tesla itu dalam-dalam.

Citttt!

Vroom!

Mobil melesat ugal-ugalan membelah jalanan kota. Body depan Tesla mahal itu berkali-kali menyenggol kendaraan lain hingga menimbulkan suara gesekan logam yang memilukan.

Rahsya yang terjepit di bawah tubuh gadis itu hanya bisa melotot kaku. Jantungnya serasa mau copot melihat cara menyetir yang lebih ekstrem daripada simulasi hari kiamat.

"Mbak! Mbak! Ini mobil mahal, Mbak! Nyawa saya juga mahal!" teriak Rahsya yang suaranya tertahan karena terhimpit beban tubuh sang gadis.

Saat mobil itu akhirnya berhenti mendadak di sebuah lampu merah, gadis itu baru berani menoleh ke bawah untuk melihat siapa "korban" yang ia duduki. Maskernya sedikit melorot, menampakkan wajah yang membuat mata Rahsya nyaris keluar dari kelopaknya.

"AMEL!" teriak Rahsya menggelegar, suaranya sampai memantul keras di dalam kabin Tesla yang sempit itu.

"Turun kamu!"

Dengan sisa tenaga dan emosi yang sudah di ubun-ubun kepala, Rahsya mengangkat tubuh gadis itu seolah sedang memindahkan karung beras, lalu menghempaskannya ke kursi penumpang di samping. Napas Rahsya memburu, bukan karena suasana romantis, melainkan karena jantungan melihat mobil mahalnya diperlakukan seperti wahana bom-bom kar.

"Eh... Kak Rahsya?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!