Karena terlalu lelah dengan urusan skripsi, Ayara pingsan dan saat terbangun Ayara mendapati dirinya berada dikehidupan dimasa depan.
Dimasa depan Ayara menikah dan bahkan sudah memiliki seorang anak laki-laki tampan, tetapi yang membuat Aya ingin pingsan kembali adalah Ayara menikah dengan musuhnya saat di bangku kuliah, pria tampan bernama Guzelar adalah suaminya dimasa depan.
Guzelar pria tampan yang suka menghinanya dan mengatainya wanita tidak benar karena saat di bangku kuliah Ayara suka gonta-ganti pacar hampir setiap hari, bagaimana bisa dimasa depan Guzelar menjadi pria yang lembut dan manja serta bucin padanya?.
Bagaimana Ayara bisa mengatasi semuanya dimasa depan? Menghadapi Guzelar versi bucin dan menerima fakta jika mereka sudah memiliki anak? Ikuti terus perjalanan Ayara dimasa depan! Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debat Ayah dan Anak
Gabriel masih merapatkan dekapannya pada tubuh Ayara, seolah tidak mau melepaskan wanita itu barang sedetik pun karena takut sesuatu yang buruk kembali terjadi. Bocah cilik itu menyimpan memori pahit di masa lalu, ia pernah beberapa kali melihat sang mama mengalami serangan trauma parah ketika papanya sedang dinas ke luar kota. Saat-saat menegangkan itu selalu berhasil diatasi karena para pelayan di mansion Maximilian sangat sigap dan kooperatif memanggil Dokter Josh seketika.
Melihat putranya yang terus-menerus menempel dan seolah memonopoli sang istri, rasa cemburu yang aneh mendadak menyeruak di dada Guzelar. Pria itu menghela napas panjang, menatap jengah ke arah tengah ranjang tempat Gabriel kini duduk bergeser di antara dirinya dan Ayara.
"Mau sampai kapan kamu terus menempel di kamar Papa dan Mama, hm?" tanya Guzelar dengan nada protes halus, duduk di pinggiran ranjang sambil melipat tangan di dada.
Mendengar pertanyaan itu, Gabriel menoleh dengan dagu terangkat menantang. "Apaan sih, Papa! Aku kan lagi ingin sama Mama!" balas Gabriel tajam tanpa rasa takut sedikit pun. Bocah itu menyipitkan mata menatap sang ayah.
"Kalau Papa keberatan, mending Papa keluar saja sana! Jangan ganggu aku sama Mama!" omelnya blak-blakan.
Guzelar langsung tertegun, mendadak kehilangan kata-kata mendengar keberanian putranya. Sementara itu, Ayara yang berada di sebelah Gabriel mati-matian menahan tawanya agar tidak pecah.
"Ya ampun... keturunan siapa sih anak ini? Mulutnya tajam banget kalau ngomong, mirip sekali denganku waktu kuliah," batin Ayara geli, merasa terhibur di tengah sisa-sisa ketegangan yang masih mengganjal di dadanya.
Tak mau kalah gengsi dengan bocah lima tahun, Guzelar mendengus pelan. "Hei, asal kamu tahu, dia itu istriku, anak muda! Jadi berhenti memonopolinya untuk dirimu sendiri!" balas Guzelar dengan nada kekanakan yang sengaja ia buat-buat.
Gabriel tidak gentar sama sekali. Bocah itu malah semakin merapatkan tubuhnya pada Ayara.
"Ini Mama-ku! Kalau Papa mau, cari saja istri yang lain sana!" celetuk Gabriel polos tanpa menyaring kata-katanya terlebih dahulu.
Deg!
Mendengar ucapan itu, mata Ayara langsung melotot lebar kaget. Di sisi lain, urat di pelipis Guzelar mendadak berkedut menahan amarah dan rasa tidak percaya. Apa katanya tadi? Cari istri lain?!
Yang benar saja! Lebih baik Guzelar dikubur hidup-hidup di halaman belakang daripada harus disuruh mencari wanita lain di dunia ini. Lagipula, otak cerdas Guzelar langsung bekerja menebak siapa dalang di balik ajaran sesat yang meracuni pikiran putranya. Pasti ini ulah kembarannya yang hobi merusak otak polos keponakan! Tunggu saja pembalasan Guzelar pada Hera nanti malam.
"Gabriel Justin Maximilian! Tidak boleh berkata seperti itu pada papa!" tegur Ayara dengan nada tegas, mencoba meluruskan adab putranya.
Meskipun Ayara secara pribadi masih merasa canggung dan belum sepenuhnya menerima Guzelar sebagai suaminya akibat ingatannya yang campur aduk, urusan etika dan rasa hormat kepada orang tua tetap nomor satu. Apalagi Gabriel adalah anak kandung mereka, tidak sepantasnya bersikap kurang ajar pada ayahnya sendiri.
Mendapat teguran telak dari mamanya, Gabriel langsung mengerucutkan bibirnya kesal. "Tapi kan, Mama... Papa jahat, suka ngusir Iel," adu Gabriel dengan nada manja yang dibuat-buat, matanya melirik sekilas ke arah sang ayah dengan tatapan sinis ala anak kecil.
"Tetap saja, tidak boleh berkata begitu! Sekarang, ayo minta maaf sama Papa," perintah Ayara mutlak, menatap putranya dengan sorot mata tidak bisa dibantah.
Gabriel menoleh ke arah Guzelar. Dilihatnya sang papa justru sedang melipat tangan di dada dengan senyuman sombong yang menyebalkan, seolah bangga karena merasa dibela oleh sang istri.
Dengan wajah ditekuk sedemikian rupa tanda keterpaksaan yang nyata, Gabriel akhirnya melepaskan pelukannya dari Ayara. Bocah itu mengulurkan sebelah tangannya dengan lesu ke hadapan Guzelar.
"Maafkan Iel, Papa..." gumam Gabriel lirih sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Guzelar menyipitkan mata, sengaja ingin menjahili putranya lebih jauh. "Hmm? Apa kamu bilang? Papa kurang dengar, coba ulangi yang keras!" pinta Guzelar dengan nada mengejek.
Wajah Gabriel langsung memerah menahan gemas dan kesal. Bocah itu mendongak, lalu berteriak kencang di depan wajah ayahnya.
"MAAFKAN IEL, PAPA!"
"Lho? Kok malah marah-marah begitu?!" balas Guzelar tidak kalah sengit, terkekeh geli.
"Tidak ikhlas banget sepertinya minta maaf sama Papa."
Mendengar ledekan itu, pertahanan Gabriel runtuh seketika. Pelupuk matanya langsung berair, bibirnya bergetar hebat seolah sebentar lagi ia akan menangis meraung-raung karena terus-menerus digoda oleh papanya sendiri.
"Papa nyebelin banget!" protes Gabriel dengan suara serak menahan tangis.
"Iel kan sudah minta maaf dengan benar, kenapa Papa malah begitu terus sih?! Kata Mama, kita tidak boleh mempermainkan atau mengejek seseorang secara berlebihan, nanti bisa-bisa kena karma lho!" cerca Gabriel dengan nada serius dan tegas layaknya orang dewasa.
Ucapan polos nan telak dari mulut putranya itu sukses membuat Ayara terpaku seketika di tempatnya.
Bagaikan disambar petir di siang bolong, kata-kata Gabriel barusan seolah menampar keras kesadaran Ayara. Gadis itu merasa tertohok dan sangat tersindir oleh ucapan putranya sendiri.
Di dalam lubuk hatinya, Ayara mendadak teringat pada kehidupannya di masa lalu, masa di mana ia sangat hobi mengejek, mempermainkan, dan merendahkan perasaan orang lain tanpa pernah peduli seberapa besar luka yang ia tinggalkan pada hati seseorang, hingga ia tidak menyadari bahwa perbuatan buruk itu pada akhirnya berbalik menghancurkan hidupnya sendiri lewat karma yang mengerikan.
Bersambung...
Inimah buah jatuh sepohon-pohonnya nggak sihh?😭
tapi dari orang yg paling dia cintai .
yg dikira jadi pelindung dia
😔🥹🥹🥹
sayang akal sehat selalu mengalah. Karena jajan nya aku banyak. kalau kabur susah ntar jajan nya🤣🤣🤣🫣
nanti suaminya marah besar itu istri kesayangan nya main ditarik ajaa🫣🫣🤣
seenggaknya dia inget akyu
eh ..kok cyiin nya kebawa lagi thor🤣🤣
biar trauma nya terputus
anak pertama mereka??🥹🥹🥹
meminta pertolongan adalah langkah pertama kita mau sembuh
jadi ga usah takut dan malu...
ayo kita sembuh bersama